DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 138 CEO BARU


__ADS_3

EPS 138 CEO BARU


Seperti seekor kura-kura yang mengalahkan kelinci dalam lomba lari karena kesombongannya sehingga dia lalai. Dengan lompatannya yang cepat, kelinci mampu meninggalkan kura-kura dibelakangnya. Melihat jarak yang begitu jauh dan langkah kura-kura yang begitu lambat, kelinci merasa sudah pasti dia akan menang. Tapi dia mempunyai rencana lain. Menjelang garis finis si Kelinci berhenti.



“Aku akan memberi kesempatan kura-kura untuk mendahuluiku. Biarkan dia merasakan kemenangan yang hampir didapatkannya sebelum aku merebut impiannya,’ katanya dalam hati.


Maka duduklah dia di bawah sebuah pohon yang rindang sambil menunggu kura-kura mendahuluinya. Tapi rupanya butuh waktu yang lama bagi kura-kura untuk sampai di tempat itu. Sambil menunggu lawannya , si Kelinci menyenderkan kepalanya sambil menimati hembusan angin yang sepoi-sepoi. Tak terasa kantukpun datang dan dia pun tertidur lelap. Ketika bangun dia mendapati sang kura-kura sudah sampai di garis finish.


“Itulah gambaran orang yang sombong sehingga menyia-nyiakan peluang yang sudah ada di dalam genggamannya,” ucap Subrata mengakhiri ceritanya.


Suasana di pagi itu lain dari biasanya. Hari ini dia kedatangan tamu yang sangat penting dalam hidupnya saat ini. Marcon Allpanigard, mantan CEO Mexican Viscom Media, yang sekarang menjadi pemilik seluruh saham Megapolitan Intercorp. Didampingi lawyernya yang cantik, Susan Feguson dari Firma Hukum Susan See, mereka datang menemuinya. Dengan kepala tertunduk Marcon meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


Kepada kedua orang tamunya, Subrata bercerita tentang kesombongan yang mengakibatkan peluang untuk mendapatkan hasil yang besar. Manusia harus selalu belajar dari kebodohannya dan berkembang dari keberhasilannya. Kegagalan adalah pengalaman yang sangat berharga untuk evaluasi, introspeksi dan menata diri.


“Pengalaman memberikan kita ruang untuk selalu berpikir tenang, mempelajari, menyusun rencana lalu bergerak pada waktu yang tepat. Dan kapasitas membuat kita bisa menggerakkan setiap potensi untuk bergerak agresif melindungi diri dan melakukan serangan balik yang mematikan,” ucap Subrata.


Marcon terdiam membeku mendengar kata-kata yang penuh makna itu. Sungguh dalam hatinya dia menyesali tindakannya yang bodoh. Kekayaan dan kecerdasan yang dimilikinya telah membuatnya lupa, bahwa di dunia yang selalu berputar ini orang bisa berada di atas tapi dengan cepat dia akan berada di bawah, kalau dia tidak mempelajari ritmenya. Kesombongan hanyalah racun yang meracuni pikiran kita.


“Kau tidak perlu minta maaf dan aku juga tidak perlu memaafkanmu Marcon,” sambung Subrata. “Dalam dunia bisnis, apa yang kau lakukan bukanlah kesalahan untukku, tapi kesalahan itu adalah untukmu sendiri.”


“Bagaimanapun, apa yang telah aku lakukan telah mengganggu perjalanan bisnismu Subrata,” ujar Marcon. “Dan aku bisa menerima kalau kau marah kepadaku.”


Subrata tersenyum lebar. Dia berdiri, lalu berjalan menghampiri Marcon. Diusapnya ujung kepala pemuda itu dengan lembut. Marcon merasakan ada ketulusan dari sikap taipan dunia itu. Hanya saja dia tidak memahami mengapa Subrata malah bersikap begitu baik kepadanya.


“Aku akan mengembalikan Mexican Viscom Media dan Allpanigard Castle kepadamu,” ujar Subrata tiba-tiba.


Marcon langsung menengadahkan wajahnya menatap Subrata.


“Apa!?”


“Aku akan mengembalikan semuanya kepadamu, ditambah lagi kau juga boleh memiliki Megapolitan bila kau mau.”


Kata-kata Subrata begitu tegas dan jelas, tanpa keraguan.


“Ap.. Apa maksudmu Subrata?”


Subrata menghela nafas panjang. Pandangan matanya dibuang jauh ke luar jendela.


“Aku punya putera yang seusia denganmu.”.

__ADS_1


Marcon mengernyitkan dahinya. Sebelumnya dia tidak pernah mendengar kalau Subrata memiliki seorang putra. Dia hanya tahu isteri Subrata yang sering muncul di media sosial namanya Vania Subrata. Jadi Subrata memiliki seorang anak seusiaku? Kok, tidak pernah muncul di media-media? katanya dalam hati.


“Itukah alasanmu mengembalikan MVM dan Kastil milikku?”


“Ya,” Subrata mengangguk lagi.” Itulah alasanku.”


“Tapi mengapa?” Marcon penasaran."Ada apa dengan puteramu itu?"


“Namanya Andika. Dia seorang dokter yang tinggal jauh dari keramaian dunia bersama kakeknya dan juga sahabatku. Sejak dia kecil, aku selalu mencemaskan kehidupannya. Itulah sebabnya aku bekerja keras membangun bisnis ini hingga berkembang kemana-mana.”


“Dan kau berhasil melakukannya. Lalu, apa yang kau cemaskan Subrata?”


“Puteraku tidak tertarik dengan bisnisku. Dia lebih suka menenggelamkan dirinya dalam dunia pesantren daripada urusan bisnis.”


Marcon mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mulai paham kata-kata Subrata.


“Lalu, apa hubungannya denganku?”


Subrata terdiam beberapa saat, menatap wajah Marcon dalam-dalam.


“Sudah lama aku mengamati sepak terjangmu. Mempelajari langkah-langkahmu, kecerdasan dan intuisi bisnismu yang mengagumkan. Kau muda, cerdas, berani berspekulasi, dan tidak mengenal belas kasihan. Karena itulah aku telah menentukan pilihanku kepadamu.”


Sekali lagi Marcon terkesiap kaget. Dia masih belum memahami maksud Subrata.


“Apa kau masih menginginkan Mexican Viscom Media dan Allpanigard Castle?” Subrata malah balik bertanya.


“Tentu saja. Keduanya adalah simbol martabat keluarga besarku. Kastil itu adalah warisan leluhurku, seorang Ksatria yang sangat setia kepada kerajaan Inggris,” sahut Marcon dengan tegas.


“Aku akan mengembalikan semuanya kepadamu. Dan apapun yang kau minta, aku pasti akan memberikannya kepadamu.”


Marcon tercengang. Rasanya dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Untuk beberapa saat dia tidak mampu berkata apa-apa.


“Kau akan mengembalikan semuanya kepadaku?”


“Ya.”


Marcon menatap wajah Subrata. Dan dia melihat Subrata bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Tapi dia tahu, ada harga yang harus dibayar untuk semua itu.


“Apa syaratnya?”


Subrata tersenyum. Sementara jantung Marcon berdegup kencang. Hatinya diliputi ketegangan. Dia sudah berpengalaman dengan muslihat Subrata.

__ADS_1


“Syaratnya kau harus mau menjadi CEO di Subrata’s Holding Company.”


“Whoaat!!!”


Bagaikan mendengar petir di siang bolong, tubuh Marcon sampai tersentak ke belakang saking kagetnya. Matanya membulat sempurna, ditatapnya wajah Subrata bulat-bulat.


“Kau ingin aku menjadi CEO di perusahaan milikmu?”


Subrata menganggukkan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Marcon.


“Karena aku yakin kepadamu,” ujar Subrata. “Dan juga kekasihmu.”


Marcon menoleh ke arah Susan. Perempuan cantik itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Marcon merasa genggaman tangan Susan semakin erat, seolah sedang meyakinkan dirinya untuk menerima tawaran Subrata.


“Kau sudah tahu rencana ini Susan?”


“Ya. Makanya aku memintamu menemui Subrata.”


Marcon menoleh ke arah Subrata lagi. Wajahnya terlihat bimbang.


“Aku percaya kepadamu Marcon. Jagalah perusahaanku demi puteraku. Besarkan terus sampai ada keturunanku yang tertarik di dunia bisnis.”


Wajah Marcon masih saja ragu.


“Apakah ini bukan tipu muslihatmu yang lain Subrata?”


Subrata menggelengkan kepalanya.


“Semua yang aku lakukan sudah sepengetahuan penasehat hukummu.”


Marcon menganggukkan kepalanya. Perlahan senyumnya mulai mengembang. Di cubitnya hidung Susan dengan lembut.


“Hm, ternyata kau terlibat persekongkolan ya?”


Susan tertawa.


“Bagaimana Marcon, apa kau menerima tawaranku? Kau menjadi CEO dan Andika menjadi Owner Subrata’s Holding Company. Dan aku akan pensiun.”


Marcon mengangguk mantap. Dia memeluk tubuh Subrata erat.

__ADS_1


“Maafkan kata-kataku yang kasar kepadamu, orang tua,” ujarnya.


Hahaha…akhirnya mereka tertawa bersama.


__ADS_2