EPS 09 YANG DI RINDUKAN
Istana kediaman Dewi Suryakanti sungguh megah. Dibandingkan istana-istana milik kerajaan manusia, istana yang terletak di bawah laut ini jauh lebih luas dan lebih besar. Istana bernama Karang Bolong ini terlihat mewah luar dalam, terdiri dari lima gedung utama. Bangunan yang paling besar adalah kediaman Dewi Suryakanti sendiri, bersama para dayang-dayangnya. Bangunan paling kecil adalah garasi yang berisi 8888 kereta kencana berlapis emas, berukir intan permata. Angka delapan adalah simbol istana Karang Bolong.
Di bagian luarnya, istana ini memiliki beberapa kubah besar yang dibentuk seperti cangkang keong emas raksasa. Ada sebuah taman raksasa kira-kira seluas danau Kerinci dengan air mancur raksasa di tengahnya. Dikelilingi air mancur-air mancur yang lebih kecil dengan penataan yang begitu eksotik dan menenangkan. Di hiasi terumbu karang yang berwarna-warni serta tumbuhan laut yang menjuntai bergoyang-goyang.
Bagian dalamnya lebih mewah lagi. Ruang tamunya dipenuhi nuansa emas dan warna merah. Tempat duduk para tamu pun terbuat dari tulang rangka ikan paus yang dihancurkan kemudian di cetak ulang menjadi ornament berwarna kuning gading dengan lapisan emas pada setiap ukiran- ukirannya. Lantainya di lapisi karpet tebal berwarna merah yang disulam dengan benang emas.
Tahta Dewi Suryakanti juga benuansa emas serta warna merah dan sedikit hijau. Singgasananya begitu megah terbuat dari campuran nikel hitam dengan butiran-butiran intan yang menonjol disana-sini. Dilapisi juga dengan ukiran-ukiran warna emas yang memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
Di atas Singgasana ada lukisan besar Ratu Pantai Selatan bersama suaminya Pangeran Suta Dananjaya yang dikenal sebagai Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Senapati Ing Ngalaga. Ada juga lukisan yang lebih kecil Nyai Blorong serta lukisan Dewi Suryakanti sendiri. Secara hirarki menunjukkan istana ini berada di bawah kekuasaan Ratu Pantai Selatan.
Sang Dewi sendiri sebagai pemilik Istana Karang Bolong duduk anggun di atas singgasananya. Dengan pakaian kebesarannya, jubah bewarna hijau dengan sulaman benang emas yang membungkus intan permata di dalamnya. Wajahnya cantik sekali, bersinar terang seindah rembulan. Di depannya berdiri gagah, Ken Darsih yang terlihat tidak perduli dengan semua kemewahan yang mengelilinginya.
“Duduklah Ken Darsih, tenangkan hatimu,” ujar Dewi Suryakanti.
Wajah Ken Darsih tak berubah, tetap sedingin batu karang.
“Tidak perlu basa basimu Dewi. Katakan saja dimana orang tuaku berada, biar aku bisa berbicara langsung dengan mereka.”
Dewi Suryakanti tersenyum. Wajahnya begitu tenang.
“Duduklah Ken Darsih,” perintahnya lagi.
Tatapan matanya tajam, seperti ada kekuatan yang menekan gadis itu untuk duduk. Seorang Dayang menghampiri Ken Darsih dan mempersilahkan gadis setengah siluman itu untuk duduk di salah satu kursi yang kosong. Kali ini Ken Darsih menurutinya. Di atas sebuah kursi kencana yang indah dia duduk dengan tenang.
__ADS_1
Dewi Suryakanti menepuk kedua tangannya, memberi tanda kepada pengawal untuk membawa Tusin dan Daningrum masuk ke Balairung Istana. Sesaat kemudian terdengar langkah kaki beberapa orang dan suara benda berat yang bergeser perlahan menggema masuk ke ruang balairung. Dan wajah Ken Darsih terlihat menegang dengan bola mata melotot seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ibu..” gumamnya.
Bibirnya terlihat bergetar dan rahangnya mengeras. Dengan matanya sendiri dia melihat Daningrum berjalan perlahan. Dari leher, tangan dan kedua kakinya diikat dengan rantai logam yang begitu besar dan berat. Tubuh Ken Darsih berkelebat seperti bayangan menjemput tubuh ibunya. Lalu dengan sekali pukul rantai-rantai besi itu hancur berantakan.
“Heyaa!”
Brak! Prang!
Tubuh Daningrum jatuh menggelosoh ke bawah. Sebelum mencapai permukaan lantai istana, kedua tangan Ken Darsih langsung memeluknya. Di angkatnya tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu dengan cepat. Dengan lidahnya yang bercabang, dia menjilati dan membersihkan darah yang membasahi wajah sang ibunda.
“Si..siapa kamu?” tanya Daningrum dengan suara terbata.
Ken Darsih menatap wajah ibunya dengan penuh kerinduan. Perempuan yang dulu selalu melindunginya dari gangguan orang-orang yang membencinya. Satu-satunya perempuan yang mencintainya dengan sepenuh hatinya. Perempuan yang selalu menyelimuti tubuhnya dengan doa-doa dan tembang sebelum tidur. Tanpa terasa air matanya menetes, jatuh ke wajah Daningrum.
“Ke..kenapa kau menangis anak cantik,” ucap Daningrum lagi.
“Si..siapa kau anak cantik. Kenapa kau memelukku begitu erat,” Daningrum menatapnya penuh terimakasih.
“Ibu,” kata Ken Darsih.
Daningrum menatap wajah Ken Darsih dalam-dalam. Suara itu begitu di kenalnya. Perlahan bola matanya membesar.
“Kau..memanggilku ibu?” tanya Daningrum seperti tak percaya.
Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.
“Ah, tidak mungkin,” ucapnya membantah kata hatinya sendiri.
“Kenapa ibu?” tanya Ken Darsih.
__ADS_1
“Suaramu mengingatkanku pada puteriku. Tapi tidak mungkin.”
Air mata Ken Darsih semakin deras mengalir. Bahkan terdengar dia mulai terisak. Nampak dia berusaha menahan perasaannya sekuat tenaga.
“Tidak, ibu tidak salah,” kata Ken Darsih lirih.
Terlihat bola mata Daningrum membulat lagi.
“Maksudmu, kau benar puteriku?”
Ken Darsih menganggukkan kepalanya.
“Siapa namamu nak?”
“Ken …Darsih bu.”
Seperti ada kekuatan yang merasuki tubuhnya, Daningrum duduk tegak lalu menatap wajah Ken Darsih dalam-dalam. Dengan tangan gemetar dirabanya wajah gadis bidadari itu perlahan. Tangan yang masih berlumur darah itu memegang erat kedua pipi Ken Darsih. Perlahan air matanya yang telah lama kering mengalir kembali.
“Ken Darsih anakku!” jeritnya.
Suaranya begitu nyaring menggema memasuki setiap sudut istana. Membuat bergidik setiap hati yang mendengarnya. Bahkan Dewi Suryakanti sebagai salah satu ratu siluman pun merasa merinding mendengarnya. Di peluknya anak yang telah ratusan tahun dirindukannya itu, namun kini hadir di hadapannya dengan wujud yang sama sekali tak dikenalnya.
Saat kecil wajah Ken Darsih begitu jelek dan mengerikan. Kepalanya hampir gundul karena hanya memiliki rambut enampuluh helai, dan mulutnya hampir ompong karena hanya ada dua yang tumbuh. Orang-orang pun memanggilnya Widakro, rambute sewidak (enampuluh) dan untune loro (giginya dua). Jangankan manusia, setan pun takut melihat rupanya. Orang-orang menjauhinya karena dia senang sekali berteman dengan ular. Setiap dia lewat, dipastikan banyak ular yang mengikutinya.
“Maafkan ibu Ken Darsih. Maafkan ibu..” ujar Daningrum sambil menangis sesenggukkan.
Berulang kali kalimat permintaan maaf itu keluar dari mulut ibunya. Seolah wanita itu telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
“Maafkan ibu Ken Darsih. Maafkan ibu…”
Ken Darsih memeluk tubuh ibunya erat sekali. Di belainya punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang. Memberikan sugesti dan kekuatan imajiner kepada ibunya agar hatinya menjadi kuat dan tidak selalu menyalahkan dirinya sendiri. Namun sudut matanya mengerling tajam, ke arah Dewi Suryakanti yang masih duduk tenang di atas singgasananya.
__ADS_1
Dan api kemarahan itu seperti hendak membakar habis istana Karang Bolong.