EPS 78 LAST AMERICAN VIRGIN
Malam telah larut. Hawa dingin terasa menusuk kulit. Toti mengarahkan pandangannya ke langit yang cukup cerah walaupun bulan hanya seperempat. Tampak ribuan titik-ttik gemerlap yang tidak lain adalah bintang-bintang. Menurut para ahli astronomi, ada sembilan ribu bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang, tanpa bantuan teleskop.
Secara sekilas pemandangan bintang-bintang di langit selalu sama setiap malam. Padahal sebenarnya bintang-bintang itu berubah. Setiap saat lahir bintang-bintang baru, dan bintang-bintang yang telah habis masa edarnya lenyap atau dihapuskan. Dan bintang –bintang yang mati itu akan tersedot ke dalam lubang hitam. Tekanan yang kuat dari putaran ini akan mendorong gas dan partikel gas untuk bersatu.
Tekanan gas dan partikel yang semakin kuat mengakibatkan ledakan bintang masif yang dikenal sebagai ledakan supernova. Saat terjadi ledakan supernova, materi akan mendapat tekanan yang kuat sehingga terkumpul dan membentuk bintang baru!
Di Presidential Suite Room Ritz Carlton Hotel, San Fransisco, yang terletak di lantai paling atas, Susan See masih berbincang hangat dengan Subrata. Pembicaraan mereka semakin intens seiring malam yang semakin dingin dan sepi. Susan See masih takjub dengan pesona Subrata yang begitu karismatik, berwibawa dan tampan. Jalan pemikirannya pun sungguh susah ditebak ke mana arahnya. Pantas dia menjadi konglomerat dunia.
“Untuk apa kau mengundangku malam-malam datang ke sini Subrata? Apakah kau menginginkanku?” tanya Susan terus terang.
Subrata tersenyum datar, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi apapun.
“Apakah kalau aku menginginkankmu, kau bersedia melakukannya?”
Susan menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Tidak? Apakah aku tidak cukup menarik bagimu?”
Susan tersenyum tipis.
“Kau bahkan laki-laki paling keren yang pernah aku temui selama hidupku.”
“Terus. Apa alasanmu menolakku?”
Susan menatap wajah tampan itu dalam-dalam.
“Karena kau juga tidak benar-benar menginginkan aku.”
“Oh ya?”
Susan menganggukkan kepalanya.
“Aku kenal beberapa tipe lelaki. Setiap pria yang kenal denganku, pasti menginginkan tubuhku, kecuali kau Subrata.”
Subrata tertawa tergelak. Kepalanya digeleng-gelengkan sambil memandang Susan dengan tatapan takjub. Hanya Susan yang sanggup membaca isi dalam kepalanya.
“Kau benar Susan. Mungkin aku laki-laki kolot yang hidup di dalam dunia Hedon. Aku tidak pernah menginginkan perempuan melebihi isteriku sendiri,” ucapnya kemudian.
Lalu suasana menjadi hening. Susan memegang lembut tangan Subrata.
__ADS_1
“Bukan hanya kau Subrata. Aku juga perempuan kolot yang hidup di alam kapitalis. Maybe I’m the Last American Virgin.”
“What?”
Wajah Subrata terkesiap. Sepertinya dia masih belum mempercayai ucapan Susan.
“Maksudmu, kau belum pernah berhubungan badan satu kalipun?”
Susan menganggukkan kepalanya, lalu tertunduk malu.
“Kenapa? Kau takut tersakiti?”
“Tidak. Tapi karena aku hanya ingin memberikan keperawananku kepada laki-laki yang menikahiku kelak.”
Sejenak suasana menjadi hening, Wajah Subrata seperti tersihir beberapa saat. Kemudian…
“Hahaha…!
Tawa Subrata langsung meledak lebih keras, Tubuhnya bahkan sampai terguncang-guncang saking takjubnya. Rasanya ini pertama kali dia bisa tertawa begitu hebohnya.
“Owh! What a world! I can’t believe this!” katanya kemudian. “Aku tidak bermimpi kan Susan? Malam ini aku berbincang berdua di kamar hotel dengan perawan terakhir di Amerika? Hahaha…! Dasar orang-orang kolot!…hahaha…!”
Susan masih memandang Subrata dengan senyumnya. Dia juga tidak menyangka, ternyata Subrata adalah laki-laki yang sangat setia dengan isterinya.
Subrata masih menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian dia mengusap wajah dan ujung kepalanya dengan kedua tangannya. Lalu diam menunduk. Lalu mereka terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing.
“Hm, Subrata, kau belum menjawab pertanyaanku? Untuk apa kau mengundangku ke kamarmu?” tanya Susan.
“Maafkan aku Susan. Tadi aku hanya menguji kesetiaanmu,” sahut Subrata.
Wajahnya sudah kembali seperti semula, dingin tanpa ekspresi.
“Menguji kesetianku?”
“Ya. Aku dapat melihat dari matamu, kalau sesungguhnya kau memyukai Marcon.”
“Oh ya? Bagaimana kau bisa yakin begitu Subrata?”
“Dari caramu melindungi Marcon. Kau begitu takut aku akan menghancurkannya.”
Susan terdiam. Dalam hati dia membenarkan kata-kata Subrata.
“Apakah kau akan benar-benar menghancurkannya?”
Subrata menganggukkan kepalanya. Wajah Susan berubah sedikit tegang.
__ADS_1
“Aku memang akan menghancurkan kesombongannya, tapi bukan orangnya.”
Susan memandang wajah Subrata penuh tanda tanya.
“Apa maksudmu Subrata?”
“Marcon adalah pemuda yang memiliki intuisi bisnis yang brilliyan. Penciumannya tajam, dimana ada timbunan uang, dia langsung bisa mendeteksinya. Tapi dia tidak punya etika, terlalu angkuh dengan apa yang dia punya.”
“Apakah karena itu kau ingin menghancurkan hidupnya?”
Subrata menggelengkan kepalanya.
“Sudah kukatakan, aku tidak akan menghancurkannya.”
“Tapi kalau kau meminta Mexican Viscom Media dan Aplpanigard Castle, sama saja kau akan menghancurkan hidupnya, Subrata.”
“Apa kau tidak sadar Susan. MVM dan Allpanigard Castle adalah simbol keangkuhannya. Karena itulah aku merebutnya untuk membuat Marcon kembali menjadi manusia.”
Susan semakin tak mengerti.
“Kau ingin merubah Marcon kembali menjadi manusia? Apa alasannya?”
Subrata tersenyum simpul.
“Yang pertama karena aku menghargai perasaanmu terhadap dia. Aku selalu menghormati orang-orang yang selalu menjaga cinta sejatinya. Termasuk kau dan Marcon, karena rasa cintanya kepadamu tak akan pernah berubah seiring waktu.”
“Yang kedua?”
“Yang kedua karena aku membutuhkannya.”
Susan terkesiap kaget.
“Kau membutuhkan Marcon? Untuk apa?”
Subrata menghela nafas panjang. Dia menuang minumannya kembali ke gelas Susan.
“Minumlah dulu Susan, untuk meredakan kegelisahanmu.”
Susan menganggukkan kepalanya, lalu meminum air di dalam gelasa sampai habis.
“Kau ingat ceritaku tentang kematian bintang yang sudah kehabisan energi dan kelahiran bintang-bintang baru?”
“Iya. Seperti sebuah siklus hidup. Dimana ada kematian dan ada juga kelahiran untuk menjaga kehidupan tetap berlangsung.”
“Kau benar Susan. Untuk menjaga keberadaannya menerangi kegelapan alam raya, bintang-bintang juga mengalami kematian dan kelahiran yang berlangsung secara terus menerus. Demikian juga makhluk hidup.”
“Lalu apa hubungannya dengan Marcon?” tanya Susan.
Rasa penasaran di dalam hatinya membuatnya tidak sabar menunggu Subrata menyelesaikan kata-katanya.
“Aku membangun kerajaan bisnisku dari nol. Hanya bermodalkan keinginan untuk memperbaiki hidup, aku bekerja keras setiap waktu membangun bisnisku sedikit demi sedikit. Aku bahkan meminta isteriku untuk menunda memiliki momongan agar tidak mengganggu waktuku. Setelah hampir limebelas tahun menikah, barulah kami diberi momongan. Itupun setelah kami mempertimbangkan bisnis kami yang terus berkembang.”
“Apa? Kau punya anak Subrata? Kenapa tidak pernah muncul beritanya di media dan jurnal internasional?” tanya Susan sedikit terkejut. “Eh, anakmu perempuan apa laki-laki?”
“Dia laki-laki. Namanya Andika. Sekarang dia hidup di sebuah pesantren milik sahabatku sendiri Kyai Badrussalam.”
__ADS_1
Susan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak pernah menyangka, ternyata Taipan terkaya nomer empat dunia ini memilki seorang putra yang luput dari sorotan media. Kalau mereka tahu, pasti akan menghiasi headlines-headlines media masa di seluruh dunia.
IT’S A SURPRISINGLY SURPRISE!