EPS 115 KELOMPOK KRIMINAL BERSENJATA
Balas dendam hanya menghasilkan kepuasan semu, menutup banyak pintu, dan mengungkungmu pada satu tujuan tertentu. Tapi cinta menawarkan kebahagiaan sejati. Seperti udara yang tak pernah habis walau dihirup jutaan hati. Jadi jangan kau habiskan waktumu untuk membenci dan membalaskan dendammu. Karena kau hanya akan mendapatkan karma dari sebab perbuatanmu.
Kapal pesiar mewah itu memang mulai memasuki batas Zona Ekonomi Esklusif pada jarak duabelas kilometer dari batas terluar wilayah laut Indonesia. Tidak ada patroli penjaga perbatasan dari TNI Angkatan Laut. Rupanya mereka telah mempelajari dengan seksama pergerakan kapal patroli perbatasan dengan seksama. Beruntung juga karena situasi sedikit ada badai, sehingga banyak nelayan yang tidak melaut.
Kedatangan Ron Muller, membawa amarah dan dendam atas kematian kakaknya, Blade Muller, mantan instrutur pasukan Elit Tentara Kerajaan Iggris, SAS. Dia tewas dengan mengenaskan karena keterlibatannya dalam persaingan bisnis narkotika cair Exqua Y-Blue di Indonesia. Bersamanya datang ratusan pasukan tentara bayaran dari seluruh penjuru dunia untuk membantu Ron menuntaskan dendamnya. Mereka menyamar sebagai penumpang kapal mewah milik Ron sendiri.
Tugasnya satu, menghancurkan Megapolitan dan menghabisi orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan kakaknya. Karena itulah banyak foto orang-orang yang akan menjadi sasaran dendamnya. Yang pertama adalah kasatreskrim polda metro AKBP Simson Hutapea, AKP Dandung, Iptu Frida, Bripka (Alm) Edhik Haryadi, Pramono, Lucra Venzi hingga Rich Pranaja yang belum ada gambarnya.
“Sebentar lagi kalian akan merasakan malaikat maut mencabut nyawa kalian dengan keji!” geramnya.
Slap!
Sebuah pisau yang tajam melewati Pranaja dan menempel di gambar AKP Dandung.
***
Pagi yang kelabu, sekusut wajah Dandung. Sesampai di ruang kerjanya, Dandung mengumpulkan semua anak buahnya untuk menangani kasus Hipnotheraphy. Tapi ada sesuatu yang aneh, hari ini Frida datang ke kantor dengan membawa kado spesial. Rupanya hari ini adalah hari kelahiran kekasih sekaligus atasannya itu, hari yang jarang diingat oleh Dandung.
“Selamat ulang tahun Ndan! Semoga sehat selalu dan tetap semangat menjaga marwah Kepolisian dari setiap ancaman kejahatan yang bisa datang sewaktu-waktu,” ujar Frida.
Anggota kepolisian lainnya yang hadir di tempat itu juga megucapkan selamat secara serempak. Beberapa saat mereka larut dalam pesta kecil yang dipersiapkan oleh Frida. Selain kue ulang tahun, Frida juga memesan makanan dan minuman dari restaurant terdekat. Semua tertawa gembira dalam keriuhan pesta. Hanya Dandung yang terlihat gelisah. Pikirannya selalu teringat Ken Darsih yang ingin membalas dendam kepada Miryam.
Diam-diam Frida mendekati Dandung dari belakang dan mencium telinga perwira tampan itu. Gigitan kecil dari bibir ranum itu membuat tubuh lelaki itu bergetar. Ada desiran halus dari bawah perutnya, yang membuat sesuatu yang lembek mendadak menjadi mengeras.
“Mas Dandung ingin hadiah apa?” bisiknya manja.
Lajang berpengalaman itu berusaha keras menahan konaknya. Dipandangnya wajah Frida dalam-dalam. Bagaimanapun dia pernah menyatakan cintanya kepada Polwan tercantik di Polda Metro itu, dan hubungan mereka sedang hangat-hangatnya sebelum dia bertemu Ken Darsih. Dan kini perasaan itu tumbuh kembali melihat ketulusan Frida.
__ADS_1
“Ehm!” Dandung pura-pura terbatuk. “Saya kira cukup ya pestanya. Sekarang saya minta kalian semua masuk ruangan rapat. Saya tunggu dalam waktu lima menit.”
Dandung berjalan ke ruang rapat dengan langkah tegas. Meninggalkan senyum tipis buat Frida yang juga tengah memandangnya. Dan itu cukup membuat hati gadis itu bahagia meskipun dia merasa perhatian Dandung kepadanya sedikit berkurang. Setelah membereskan semua sampah dan sisa makanan, dia segera menyusul masuk tepat ketika rapat baru akan dimulai.
“Baik teman-teman, hari ini ada perkembangan terbaru terkait kasus Hipnotheraphy. Tadi malam saya mendapat laporan dari bagian unit reaksi cepat kejahatan digital,” kata Dandung membuka rapat. “Salah satu hal yang penting adalah tertangkapnya salah satu anggota mereka yang ternyata adalah pegawi sipil di Mabes Polri.”
Mereka saling berpandangan satu sama lain. Salah satu pelakunya adalah orang dalam sendiri?
“Boleh tahu identitasnya Ndan?” tanya Briptu Wawan.
Dandung menggelengkan kepalanya.
“Semua akan dijelaskan secara lengkap oleh Iptu Haedar. Silahkan Haedar.”
Haedar kemudian berdiri ke depan, lalu menjelaskan tentang kasus pembunuhan yang modusnya menghipnotis korbannya sehingga dia mati dibunuh tapi wajahnya terlihat bahagia. Kasus itu telah menyebabkan banyak anggota kepolisian yang meninggal dunia, salah satunya adalah Bripka Edhik. Ada indikasi pelakunya adalah kelompok yang sama.
“Kalau tindak kejahatannya melalui suara Ponsel, berarti mereka tahu dong nomer ponsel calon korbannya. Darimana mereka mendapatkan informasi itu?” tanya Iptu Budiman dari reserse.
“Dari seorang perempuan pegawai sipil di bagian administrasi Polda Metro. Dia membocorkan ratusan identitas rahasia anggota Polri, termasuk nomor ponselnya.”
“Inisialnya SK dan sudah diamankan tadi malam,” sambung Dandung.
Haedar membeberkan beberapa petunjuk video-video pembunuhan yang sempat terekam. Dan juga orang dalam Mabes Polri yang terlibat.
“Diduga kuat pembunuhan itu dilakukan oleh kelompok dengan kemampuan tinggi, ahli hipnotis dan sangat terlatih. Dan mereka adalah pembunuh yang sangat berbahaya. Mereka memanfaatkan jaringan telekominikasi untuk mempengaruhi korbannya lewat suara ponsel. Tetap waspadai dan jangan biarkan ponsel anda jatuh ke tangan anak anda.”
Banyak orang terpana mendengar penjelasan Haedar. Mereka baru menyadari kalau pembunuhan itu diawali dari suara ponsel. Tanpa sadar mereka memegang ponsel masing-masing dan siap mematikannya. Sebab para pembunuh itu memang mengincar anggota-anggota kepolisian yang dulu membongkar sindikat kejahatan mereka.
Drrrt…Drrrttt…
__ADS_1
Terdengar ponsel milik Dandung bergetar. Pemuda itu mengangkatnya. Frida memandangnya dengan penuh rasa penasaran. Siapa yang menelpon mas Dandung? batinnya. Ah, lalu kenapa aku menjadi terlalu ingin tahu? Bukankah itu hal biasa saja karena mas Dandung sering mendapat telepon dari siapa saja? batinnya.
“Selamat pagi pak Simson,” sapa Dandung kepada atasannya.
“Selamat pagi Ndung. Ada informasi dari Interpol tentang masuknya ratusan anggota kelompok criminal bersenjata ke wilayah Indonesia. Coba kau periksa,” sahut AKBP Simson Hutapea.
Dandung terhenyak. Kelompok kriminal bersenjata? batinnya.
“Siap pak!”
“Ada indikasi mereka akan bergabung dengan puluhan rekan mereka yang sudah lama masuk ke wilayah NKRI, dan telah melakukan teror khususnya kepada aparat keamanan. “
“Apakah mereka cukup terlatih?”
“Ya. Mereka tentara bayaran yang sangat terlatih baik secara fisik, senjata dan tekhnologinya. Berhati-hatilah!”
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Siap Ndan!”
Simson menutup teleponnya. Dandung terdiam dalam pikirnya.Teror kepada aparat keamanan? Apa ada hubungannya dengan sindikat Hipnotherapi yang telah memakan korban puluhan aparat kepolisian? Sejak awal Dandung memang tidak yakin kalau pelakunya adalah criminal biasa, karena modus mereka terlalu canggih. Makanya membutuhkan waktu lama untuk mengungkapnya.
“Ada berita apa Ndan?” tanya Frida.
Dandung memandang Frida sejenak, lalu beralih memandang Ipda Haidar yang duduk di depannya.
“Haidar, aku perlu bertemu dengan terduga sindikat pelaku kejahatan Hinotherapi yang ditangkap tadi malam.”
“Maksudnya SK, pegawai sipil di bagian administrasi Mabes Polri?” tanya Haidar memastikan.
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Bawa dia ke villa milikku di daerah puncak nanti malam.”
__ADS_1
“Siap Ndan!”