EPS 60 ALLPANIGARD CASTLE
Allpanigard Castle merupakan sebuah kastil peninggalan leluhur Marcon yang terletak di jantung kota Blenheim. Kastil yang dibangun pada masa Duke of Marlborough pada tahun 1713 hingga 1719 adalah sebuah istana kecil dengan pemandangan yang indah karena terletak persis di bibir pantai. Arsitektur bangunan yang dibuat dengan corak Inggris abad ke-dua puluh terlihat megah.
Secara keseluruhan jika dilihat dari udara bangunan Allpanigard Castle berbentuk kura-kura. Bangunan kastil ini dipenuhi ornamen-ornamen cantik khas Eropa yang menggambarkan kejayaan pemerintahan Kolonial Inggris saat itu. Siapapun yang dating ke tempat ini pasti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Susan membuang pandangannya mengitari bangunan kastil yang megah itu tatapan mata yang takjub.
“Indah sekali kastil peninggalan leluhur Allpanigard ini,” ujar Susan.
Marcon tersenyum sambil terus mengamati setiap detil wajah Susan yang begitu mempesona hatinya. Kemudian Susan mengernyitkan dahinya.
“Dimana Pramono?” ujarnya.
“Apa?” Marcon tergagap. “Owh, Pramono? Dia ada di…”
Belum sempat Marcon menjawab, tiba-tiba terdengar suara beberapa mobil yang berdecit di luar pintu gerbang. Puluhan orang berbadan tegap dan bersenjata lengkap turun dari mobil dan segera menyebar. Pasukan pengawal Marcon langsung siap siaga. Mereka membidikkan senjatanya, tapi Marcon mengangkat tangannya.
“Tahan senjata kalian!” teriaknya.
Mereka langsung menurunkan senjatanya. Tapi mereka tetap memegang senjata yang telah terkokang itu erat-erat. Susan sedikit panik. Tapi setelah melihat logo yang tertempel di mobil mereka, dia paham, kalau yang barusan datang adalah tentara bayaran pengawal Pramono. Sayangnya dia tidak melihat sosok yang dulu menjadi kepercayaan Subrata itu.
“Marcon! Dimana Pramono?” dia mengulangi pertanyaannya dengan nada ketus.
Lagi-lagi Marcon belum sempat menjawab pertanyaan Susan karena mendadak terdengar suara gemuruh di udara. Sebuah helikopter Apache terlihat berputar-putar di atas kastil. Menimbulkan debu dan asap yang membumbung tinggi. Lalu perlahan turun dari langit dan mendarat di tepat di halaman kastil. Dan Susan langsung menebak kalau orang dibalik helikopter tempur itu adalah salah satu bos dunia hitam yang paling ditakuti di dunia, Pramono Hanung Dwi Atmaja.
Baling-baling raksasa helicopter ini belum juga berhenti. Namun sosok laki-laki tinggi tegap yang baru saja turun dari helikopter itu berlari membungkuk menembus tebalnya debu yang ditinggalkan. Kemudian badannya berdiri tegak begitu keluar dari zona pesawat helikopter itu. Marcon menyambutnya dengan penuh antusias. Di peluknya tamu yang baru datang itu dengan hangat.
“Selamat datang, brother Pramono,” ujar Marcon.
Pramono tersenyum datar. Dibalik kacamata hitamnya, matanya yang nakal langsung melirik wajah Susan dan pakaian seksi yang menunjukkan belahan dadanya. Marcon langsung mengajak keduanya untuk saling berkenalan. Pramono mengulurkan tangannya kepada Susan, dan gadis itu menyambut sekilas dan langsung menariknya sebelum tangan Pramono meremasnya.
“Mr. Pramono, please meet Susan See, my lawyer,” ujar Maron. “Susan, please meet Mr. Pramono.”
“Hi, Susan nice to meet you. How’s life?”
“Hi Pramono nice to meet you too,” sahut Susan.
Sekilas Pramono dapat membaca ketidaksukaan gadis itu kepadanya. Namun dia berusaha untuk mengabaikannya. Karena dia memiliki rencana terselubung di dalam hatinya. Dia tahu kalau Marcon tergila-gila dengan penasehat hukumnya itu.
"Pantas, Marcon begitu memujanya. Dia sangat seksi dan cerdas, cocok bermain denganku," batinnya sambil tersenyum sinis.
Marcon juga menangkap gelagat itu. Raut wajah Susan begitu masam dan terlihat jelas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Pramono. Tapi dia merasa karena Susan belum mengenalnya saja. Belum mengerti arti keuntungan besar saat berkongsi dengan pebisnis ulung macam Pramono.
__ADS_1
“Ehm! Silahkan masuk mister Pramono,” ujar Marcon.
“Oke! Aku selalu senang berpartner dengan orang-orang muda yang jenius dan memiliki jiwa petarung seperti mu Marcon,” puji Pramono.
Lalu keduanya berjalan masuk ke dalam kastil, diikuti Susan See dibelakangnya. Pramono banyak memuji kastil Allpanigard yang begitu mewah, indah dan klasik. Banyak ornament-ornamen dan relief buatan manusia yang membuatnya takjub. Dia bahkan sempat mengambil gambar di beberapa sudut kastil tua itu.
Setelah beberapa saat berjalan mengitari kastil itu, akhirnya mereka duduk diatas balkon sambil menikmati pemandangan pantai dan kawasan lembah Marlborough yang sangat indah. Beberapa hidangan khas kuliner Blenheim yang lezat sudah tersaji disana, lengkap dengan anggur merah yang sudah tersimpan lebih dari seratus tahun.
“Oke, sekarang kita langsung ke poinnya Marcon. Jadi apa rencanamu selanjutnya?” tanya Pramono kemudian.
“Aku mengucapkan terimakasih, karena kerjasama kita mendatangkan keuntungan yang luar biasa, mister Pramono. Saham Megapolitan terus mengalami kenaikan. Dan aku tahu di dalam otakmu masih tersimpan rencana hebat lainnya.”
Pramono tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Apa kau siap untuk langkah selanjutnya?”
“Rebut Megapolitan dari tangan Subrata!”
Walaupun sudah memperkirakan kemungkinan itu, tetap saja wajah Marcon terkesiap saat Pramono menyatakan dengan tegas rencananya untuk mengambil alih Megapolitan. Karena dia tahu itu bukan hal mudah, apalagi berhadapan dengan taipan besar macam Subrata.
“Oke. Aku siap mempertimbangkannya. Apa rencanamu?”
“Ambil alih semua saham milik Subrata, dan jadikan itu milikmu.”
“Ya. Aku tahu itu. Masalahnya Subrata tidak mungkin tertarik dengan uangku. Kau tahu, Megapolitan hanyalah salah satu perusahaan miliknya diantara ratusan perusahaan lainnya.”
Pramono menghela nafas.
“Kau benar Marcon, Subrata memang tidak tertarik degan uang. Manusia licik macam dia, lebih memilih asset daripada uang.”
__ADS_1
“Hm. Jadi, apa maksudmu Pramono?”
“Tawarkan Mexican Viscom Media kepada Subrata, sebagai gantinya kau akan mendapatkan seluruh Megapolitan.”
“Apa?”
Setengah berteriak, Marcon dan Susan See merespon kata-kata Pramono? Melepas Mexican Viscom Media warisan kakeknya kepada Subrata? Itu adalah hal yang mustahil. Marcon membayangkan betapa keluarga besar Allpanigard akan memusuhinya kalau dia berani melakukannya. Sesaat mereka terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Pramono menatap Marcon dengan wajah datar. Sementara Marcon berusaha tersenyum tenang.
“Tentu saja itu bukan ide yang bagus, Mister Pramono,” sahut Susan tiba-tba.
Pramono mengalihkan perhatiannya memandang Susan.
“Alasannya?”
“Mexican Viscom Media adalah perusahaan media dan telekomunikasi terbesar di seluruh kawasan Amerika, dan akan terus berkembang. Dan itu jauh lebih menguntungkan daripada bisnis properti.”
Pramono tertawa terkekeh.
“Iya. Tapi tetap saja tidak ada artinya bila kau memiliki bongkahan emas sebesar Rocky Mountain yang terkandung sepanjang perbukitan Kethileng.”
Susan memandang wajah Pramono tak mengerti. Lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Marcon dengan tatapan mata yang tajam.
“Apa ada yang kau sembunyikan padaku Marcon?” tanya Susan penuh selidik.
Marcon hanya mengangkat bahunya.
“Mungkin aku belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakannya denganmu Susan. Itu saja, tidak ada maksud lainnya.”
Susan masih memandang wajah Marcon tak percaya. Tapi, paling tidak, sekarang dia tahu alasan Marcon begitu ngotot menguasai Megapolitan. Bongkahan emas sebesar Rocky Maountain?
Hm…
__ADS_1