EPS 103 FATAMORGANA
Malam semakin larut. Sepi pun kian memagut. Tak ada lara yang surut, meski waktu membuatmu bertahan. Saat rasa tak lagi bertaut, dendam ini membunuhmu perlahan. Maka bicaralah hati yang terluka. Pandanglah cinta sebagai buluh perindu. Karena seringkali sengketa terjadi karena kesalahpahaman dan bukan karena ketidak sepahaman.
Pranaja berdiri pada titik keraguan. Dia memang tidak begitu paham dengan dunia astral meski menguasai ilmu kanuragan. Sebagian besar ilmu yang dikuasainya memang bersifat fisik, hanya Anugerah Mata Dewa yang berkaitan dengan metafisik. Pandangan matanya tidak menemukan apa-apa, tetapi indera keenamnya menyiratkan keberadaan makhluk-makhluk astral yang baru saja berkunjung ke tempat itu.
“Apa saja yang kau lihat Mukhsin?” tanya Andika kepada Mukhsin Bae.
Mukhsin melihat ke sekeliling kolam untuk memastikan keadaan baik-baik saja.
“Aku hanya melihat tujuh sosok bayangan hitam masuk ke dalam kolam,” jawabnya.
“Apa kau melihat mereka keluar dari kolam ini?” tanya Andika lagi.
Mukhsin menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Tapi aku pikir mereka adalah gerombolan orang yang hendak mencuri ikan.”
“Kau lihat sendiri kan? Tidak ada ikan yang hilang atau kolam yang dirusak?” Pranaja menimpali.
Mukhsin mengamati keadaan kolam sejenak, lalu mengangguk, membenarkan kata-kata Pranaja. Memang tidak ada bagian kolam yang rusak, ikannya juga masih banyak dan terlihat di permukaan.
“Anehnya, ada beberapa jejak kaki yang meninggalkan kolam ini, tapi tidak ada jejak kedatangannya,” sambung Alimin sambil menunjukkan jejak-jejak kaki dengan senternya.
Semua orang langsung terdiam. Mereka mengamati dengan seksama, jejak-jejak kaki itu. Diam-diam bulu kuduk mereka menjadi merinding. Hanya Pranaja yang terlihat tenang.
“Bagaimana menurutmu Pranaja?” tanya Andika.
“Mungkin yang datang adalah makhluk astral, masuk ke dala kolam , lalu keluar dalam wujud manusia. Makanya meeka meningalkan banyak jejak.,” sahut Pranaja.
Mukhsin Bae dan Alimin saling berpandangan. Mereka tak menyangka kalau makhluk yang dulihatnya adalah siluman.
“Hi, untung mereka tak melihatmu,” kata Alimin sambil menggamit tangan Mukhsin.
__ADS_1
Mukhin menganggukkan kepalanya, Ia bahkan tak bsa membayangkan tidur di rumah depan sendirian nanti.
“Alimin.” bisik .Mukhsin Bae,” Malan ini aku boleh tidur di kamarmu ya??
“Apa? Tdak boleh! Memang mas Andika mau ditaruh dimana?”
“Please, sekali ini saja,” Mukhsin masih memohon.
“Tidak! Yang ada adalah malam jum’at yang tidak membahagiakan.”
“Kenapa?
“Karena ngorokmu itu lho yang membuat orang-orang tak tahan,” sahut Alimin tegas.
Tak ada lagi belas kasihan. Semuanya harus dijalani sendiri, hehe..
“Sudah. Tidak apa-apa, tidurlah dengan Alimin malam ini, Mukhsin,” ucap Andika.
Wajah Mukhsin berubah cerah. Tapi keputusan Andika mendapat protes keras dari Alimin.
“Tapi, bagaimana dengan mas Andika send..”
Dugdugdug!
Jantung Alimin langsung berdetak kencang. Tidur di kamarnya Miryam? Mas Andika mau bebuat dosa? Matanya langsung membulat sempurna.
“Kenapa Alimin, kalau aku ke kamar Miryam, terus tidur kan tidak apa-apa? Yang berbahaya itu kalau aku tidak tidur bersama tapi melek bersama, itu bahaya.”
Alimin dan Mukhsin Bae menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar kata-kata lelucon Andika. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mereka pun kembali ke pesantren. Hanya Pranaja yang masih terlihat diam terpaku di tempat itu. Dan Andika tidak mempedulikanna. Dia sudah tahu jika Pranaja sedang merasakan sesuatu.
Sementara tempat itu menimbulkan sejuta tanda tanya di hati Pranaja. Kemana makhluk-makhluk astral itu pergi setelah berujud manusia? Apakah mereka memilki maksud buruk terhadap Pesantren Ksatriyan Santri. Aku harus waspada, batinnya. Perasaannya mengatakan akan ada peristiwa besar yang melibatkan dirinya. Dan dia yakin itu bukan fatamorgana.
***
Suasana malam di pesantren begitu sunyi dan damai. Para santri baru saja terlelap setelah hampir seharian menekuni kitab Safinah dan Tanbikhul Ghofilin. Hanya beberapa santri senior dan ustadz-ustadz muda yang masih terjaga. Sebagian sedang bertugas menjaga keamanan pondok, sebagian lainnya sedang asyik ngobrol menunggu rasa kantuk datang. Di tempat lainnya beberapa ustadz muda juga sedang melitih olah fisik mereka dengan berbagai macam ilmu kanuragan warisan para leluhur.
Sang Kyai sendiri sedang asyik terpekur dalam pertapaan segala jiwa. Melafadzkan dzikir, menyenandungkan doa dan melantunkan ayat-ayat suci dalam sebuah nada getar yang menyayat hati. Menafikkan fakta betapa begitu banyak manusia yang tenggelam dalam urusan duniawi, sehingga melupakan kepentingan yang hakiki. Membalikkan kenyataan seolah kehidupan akhirat hanya menjadi kebutuhan pelengkap manakala kehidupan dunia terpenuhi.
__ADS_1
Mengagungkan kehidupan dunia yang palsu dan menganggap kehidupan akhirat hanyalah Fatamorgana. Mengejar-ngejar dunia yang tidak ada puasnya, dan mengalihkan perhatian dari jalan Tuhan. Lalu sang Kyai seperti melihat gambaran itu. Meski samar namun terlihat jelas dan tegas, akan ada banyak pertumpahan darah, tapi entah dimana. Dan itu semua melibatkan dirinya.
“Hm, pertanda apa ini?” batinnya.
Dia bangkit dari duduknya, lalu berdiri di depan jendela. Pandangannya menatap jauh menembus kepekatan malam yang selalu menghadirkan misteri. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di balik kegelapannya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam alunan yang panjang dan menggelisahkan.
“Salam saudaraku Badrussalam,” sapa Panembahan Mbah Iro lewat bahasa batinnya.
Dalam keadaan diam membisu kyai Badrussalam menjawab salam itu dengan bahasa batin juga.
“Semoga kesejahteraan selalu menyelimuti dirimu, saudaraku Iro.”
“Apakah kau baru saja memimpikan sesuatu yang aku impikan?”
“Ya. Benar. Tapi aku belum jelas tentang tempat dan waktunya.”
“Hm. Ada yang sudah sampai di sekitar kita. Rupanya mereka hendak menyerang secara diam-diam.”
Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.
“Ya. Aku juga bisa merasakan kehadiaran mereka, meski masih terlihat begitu samar.”
“Kalau begitu kita tunggu saja apa yang akan mereka lakukan.”
“Terimakasih Iro, aku akan membentengi wilayah Pesantren dari penyusup-penyusup yang mencoba masuk menggunakan kekuatan iblis.”
Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro menghentikan pembicaraan. Malam itu juga tubuhnya melesat cepat menuju empat titik yang menjadi batas wilayah Pesantren ‘Ksatryan Santri’. Di tiap titik sudut itu, dia membaca doa keselamatan, seperti membuat garis perlindungan yang menghubungkan keempat titik itu. Inilah kekuatan yang dikenal orang sebagai pagar gaib, dan kyai Badrussalam membuat pagar gaib tingkat paling tinggi.
Pagar gaib tingkat paling tinggi berwarna kuning keemasan, yang bisa digunakan sebagai benteng untuk melindungi sesuatu dari hal-hal yang bersifat gaib seperti kiriman ilmu hitam maupun bersifat makhluk nyata dan makhluk ghoib, misalkan maling ataupun siluman. Pagar gaib berwarna kuning emas seperti cahaya matahari di ufuk timur biasanya memiliki energi yang tenang dan membuat suasana rumah kondusif seperti biasanya.
“Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin."
__ADS_1
"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."