EPS 52 MERINDU DI BATAS WAKTU
Malam sudah larut. Bulan purnama bersinar begitu terang dalam bentuknya yang bulat sempurna. Setelah sholat Isya, Pranaja duduk termangu memandang bulan. Hatinya merasa begitu rindu tapi entah kepada siapa.
“Apakah aku rindu kepada ayah dan ibu? Rasanya tidak. Mereka setiap pagi dan malam selalu menelponku. Menanyakan keadaannya, sudah makan apa belum, makanannya keasinan atau kemanisan,” batinnya. “Jadi, kepada siapa rasa rindu ini harus aku labuhkan?”
Lalu dia teringat dengan teman-temannya yang sudah lama tidak bertemu, terutama Miracle dan Tong Pi. Dua orang agen rahasia M16 yang mengisi hari-harinya saat menempuh pendidikan di London. Dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan keselamatan keduanya, karena teringat dengan dirinya yang sering ditugaskan di tempat-tenpat yang sangat berbahaya. Apalagi Tong Pi yang memiliki kemampuan traspotter, memindahkan suatu benda ke tempat lain dalam satu kerjapan mata.
Sejak dia mengundurkan diri dari M16, hubungannya dengan kedua sahabatnya itu langsung diputus total. Itulah kebijakan M. siapapun yang mengundurkan diri dari Badan Intelijen Rahasia Inggris, langsung dianggap sebagai orang asing, Semua akses dan saluran komunukasi ditutup. Pranaja memahami kebijakan itu karena mereka memang harus menjaga semua kegiatan mereka yang super rahasia.
“Semoga mereka baik-baik saja. Lindungi lah sahabat-sahabatku Miracle dan Tong Pi ya Alloh,“ doanya dalam hati.
Hatinya juga rindu berpetualang seperti dulu, Menempuh perjalanan panjang yang penu tantangan ke negeri-negeri yang jarang dikunjungi. Disamping pengalaman yang banyak membantunya melalui proses pendewasaan, Pranaja juga banyak mendapatkan sahabat-sahabat baru.
Ada puteri Xenara dari Mongolia, ada Edelweiss si puteri salju dari negeri dataran tinggi Himalaya, Alisher dan kakek Zyed Ustmanov dari negri Asia tengah yang terkenal dengan kecantikan para gadis mudanya. Dia juga teringat dengan kakek Kim Mon Soo, Ryong Bae dan terutama adiknya Ryung Nae atau Ren. Satu diantara dua gadis yang pernah mengisi ruang hatinya. Satunya lagi? Tentu saja kembarannya si Maudy Ayunda, Anastassya Pramono.
Pranaja tersenyum sendiri, Apa kabarnya mereka semua ya? Suatu saat aku akan mengunjungi kalian satu persatu, menjalin kembali tali persahabatan yang terputus. Mengisi kembali ruang hatinya dengan cinta yang sudah lama putus kontak. Diantara gadis-gadis itu, Ren adalah gadis yang memiliki ikatan batin paling kuat dengannya. Karena dia tahu, bagi Ren, dia adalah cinta pertama dan satu-satunya dalam hidupnya.
“Sudah lebih dari dua tahun kita berpisah Ren. Saatnya aku mencarimu,” batinnya.
Dia teringat dengan janji M dulu, bahwa dia bisa menemui Ren setelah dua tahun gadis itu menjalani proses asimilasi di Korea Selatan. Tapi hubungannya dengan bos M16 itu telah putus kontak. Dia tidak tahu lagi bagaimana menghubungi M. Pranaja tidak tahu kalau ternyata Ren hanya mengalami proses itu lima bulan saja. Dan sekarang dia tengah mengawali karirnya sebagai bintang film.
Angannya masih melayang-layang, saat menyadari keadaan sekitarnya yang mendadak menjadi gelap. Cahaya bulan semakin meredup, dan sinarnya yang tadinya berwarna putih terang berubah menjadi merah. Hawa dingin juga terasa menusuk kulit di atas bumi Padukuhan Somawangi.
Segera dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar menu ruang pendopo. Suasana betul-betul gelap. Ada getaran aura mistis yang menegakkan bulu kuduknya. Dia terus berjalan melewati ruang pendopo menuju pelataran rumah. Sesampainya di halaman, dia melihat langsung wajah bulan yang semerah darah. Lebih terkejut lagi saat melihat Panembahan Mbah Iro yang sedang berdiri gagah dipucuk kerimbunan pohon beringin di depan rumah Joglo.
“Kakek? Apa yang sedang dia lakukan?” batinnya.
Dengan kekuatan ilmu ringan tubuhnya yang sempurna, tubuh gempal dan berotot milik Pranaja melayang ringan dan hinggap di belakan tubuh Panembahan Mbah Iro. Tanpa suara, hanya getaran angina yang membuat Panembahan Mbah Iro tahu siapa yang baru dating dan berdiri dibelakangnya. Tapi dia tak memedulikannya, pandangannya terus tertuju pada wajah bulan yang tertutup awan tebal berwarna merah darah.
“Apa yang terjadi kakek?” tanya Pranaja.
__ADS_1
Kedua matanya ikut memandang wajah bulan yang tidak berwarna seperti sebelumnya. Pranaja memandang takjub dan sama sekali tidak berkedip.
“Mengapa ada gugusan awan berwarna merah yang menutupi bulan purnama?” tanyak Pranaja lagi.
Panembahan Mbah Iro masih berdiri tegak. Dia tidak banyak bereaksi untuk menjawab pertanyaan Pranaja.
“Itu bukan gugusan awan,” ucapnya singkat.
Pranaja mengangkat kedua alis matanya.
“Apa? Bukan gugusan awan? Kenapa begitu banyak dan mampu menutupi wajah bulan?”
“Itu berasal dari kekuatan supranatural yang hanya dimiliki bangsa jin dan siluman yang dikuasai oleh manusia.”
“Astaga!”
Tanpa sadar Pranaja hampir berteriak. Kekuatan Jin dan Siluman yang dimiliki Manusia?
“Apa urusannya menutupi wajah bulan?”
“Aku menangkap aroma dendam dan amarah. Itulah makna dari simbol warna merah.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bolehkah aku menyelidikinya kakek?”
Panembahan menggeleng cepat.
“Tidak! Kita tidak boleh mencampuri urusan hati orang, selama itu tidak membahayakan keselamatan dan jiwa orang lain.”
“Owh begitu. Jadi ini alasan kakek berdiri disini dan mengawasi awan merah itu? Untuk mengawasi jika tiba-tiba awan hitam itu mengganggu keselamatan manusia?”
Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu aku akan menemani kakek berdiri disini,” ujar Pranaja.
__ADS_1
Lalu kedua tubuh manusia sakti itu terdiam. Namun mata mereka terus mengawasi pergerakan gugusan awan hitam itu. Hingga beberapa saat kemudian, gugusan awan hitam itu bergerak pergi dan menghilang. Dan wajah bulan kembali seperti semula, kembali memancarkan cahaya putih yang lembut menerangi bumi. Namun ada getaran kekuatan lain yang hanya dirasakan oleh Pranaja dan membuat wajahnya terkesiap kaget.
“Kekuatan Tirtanala?”
Panembahan kembali menoleh kea rah Pranaja.
“Apa yang kau ucapkan anakku?”
“Apa kakek tidak merasakannya?”
Panembahan memejamkan matanya, mencoba menangkap getaran yang dimaksud Pranaja. Tapi dia tidak merasakan apa-apa.
“Merasakan apa Pranaja?”
Pranaja memandang wajah Panembahan dengan tegang.
“Kakek, ada kekuatan Tirtanala lain. Dan ini lebih kuat daripada yang dimiliki eyang Miryam. Jauh lebih kuat!”
Panembahan mengernyitkan keningnya. Hatinya lebih terkejut lagi.
“Apa? Maksudmu ada orang lain lagi yang meguasai Tirtanala?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Siapa lagi?”
Mereka saling berpandangan dalam ruang misteri yang penuh teka-teki.
“Kakek, maaf, mungkinkah Eyang Panembahan Somawangi mepunyai isteri simpanan selain eyang Miryam? Dan dia juga diwarisi kekuatan Tirtanala?”
“Hush! Jangan semabarang bicara kamu!” hardik Panembahan Mbah Iro.
Pranaja terdiam. Tapi indera keenamnya terus memantau kekuatan Tirtanala baru ini. Sampai azan subuh terdengar memecah suasana dini hari, barulah kekuatan itu menghilang. Pranaja memejamkan matanya, berusaha mencari sumber kekuatan Tirtanala itu, tapi tak ditemukan.
“Misteri apalagi yang dimiliki kakek Panembahan Somawangi?”
__ADS_1