DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 34 SISI KELAM


__ADS_3

EPS 34 SISI KELAM


Waktu terasa merambat pelan di Padukuhan Somawangi. Suasana di Rumah Joglo kediaman Pemimpin Besar Trah Somawangi juga terasa sepi. Sudah tiga hari Panembahan Mbah Iro hampir tidak keluar dari biliknya. Sesuai permintaan Kyai Badrussalam dia sedang mempelajari kitab-kitab kuno dan tulisan diatas tumpukan daun lontar peninggalan Eyang Senthir yang ditemukan di dalam peti batu bersama tubuh Miryam dan Santika.


Pikirannya seperti tenggelam menyelami dunia kasat mata yang menjadi inti daripada isi Serat Dewa Ruci. Hidup adalah perjalanan mencari guru sejati atau jalan kembali kepada sang Pencipta. Jiwanya serasa terbang mengarungi perjalanan hidup dari alam atmara rajya atau alam sebelum kelahiran menuju alam kehidupan Jībanera prakr̥ti, lalu alam kematian Mr̥tyura kṣetra dan berakhir di alam keabadian, Anantakalera rajya. Di alam inilah jiwa akan kembali kepada Sang Maha Pencipta, atau istilahnya manunggaling kawula Gusti.


Dalam pengembaraannya Panembahan Mbah Iro juga melihat cahaya tunggal yang gemerlapan bak permata, yang mengandung delapan warna: hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, cokelat, ungu dan satu warna emas.


“Warna-warna itu melambangkan ajaran serat Dewa Ruci. Yakni supaya kita suka menuntut ilmu dan bekerja keras, hidup rukun, jujur, ikhlas tak mengharap pujian, selau sadar, taat kepada guru; tidak ambisius, teguh dalam pendirian; dan sikap hormat kepada sesama dan alam semesta,” ujar Panembahan Mbah Iro pada malam kelimanya.


Didepannya Eyang Penatus, Raden Mas Parto, Pranaja dan Andika mengangguk-anggukan kepalanya. Hanya Kyai Badrussalam yang terdiam tanpa bereaksi apa-apa.


“Bagaimana dengan kitab kedua kakek? Apa kau juga sudah selesai membacanya?” ujar Pranaja.


“Kitab yang kedua adalah Jamus Kalimasada, sebuah kitab mustika yang dapat memberikan kekuatan Robyong Mustakawarih. Kekuatan paling tinggi di alam semesta. Makanya kekuatan ini tidak boleh jatuh kepada sembarang orang,” sahut Panembahan.


“Jamus Kalimasada?” tanya Raden Mas Parto.


“Iya. Orang yang boleh menguasai kekuatan Robyong Mustakawarih haruslah manusia yang tidak mepunyai musuh, derajat keluhurannya setara dengan Dewa, pandai memerangi ***** pribadi, santun dalam memilih kata, memiliki rasa hormat kepada orang lain seperti diri sendiri,” jawab Panembahan Mbah Iro. “Dia juga memiliki sifat adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi.”


Begitu Panembahan menyelesaikan kata-katanya, hampir semua mengalihkan pandangannya kepada Andika, kecuali kyai Badrussalam.


“Kenapa kalian memandangku begitu?”

__ADS_1


Mereka hanya terdiam, tidak ada yang menjawab pertanyaan Andika. Namun dalam hati mereka sepakat, sepertinya semua sifat yang disebutkan dalam Jamus Kalimasada dimiliki oleh Andika. Diantara mereka semua hanya Andika yang masih polos, tidak memiliki ilmu kanuragan apapun. Tidak mempunyai musuh, ramah, selalu siap membantu, sampai-sampai teman-temannya menjulukinya manusia berhati malaikat.


“Apa kelebihan Robyong Mustakawarih Panembahan?” tanya Eyang Penatus.


“Dia memiliki kekuatan batin untuk meredam kemarahan siapapun, hanya dengan mengusap kepalanya. Namun kalau sudah sampai pada ambang batas kesabarannya, dia pun seketika itu berubah menjadi raksasa besar yang berkulit putih bersih.”


Semua terlihat takjub mendengar cerita Panembahan.


“Sosok makhluk terkuat di alam semesta. Dia dapat membunuh musuhnya hanya dengan menginjak bayangannya.”


‘Wow! Membunuh orang hanya dengan menginjak bayangannya?’


“Itulah sebabnya Robyong Mustakawarih harus dikuasai manusia-manusia suci yang tingkat kesabarannya tinggi. Tidak mudah marah dan mengumbar emosi. Hatinya harus bersih dari rasa benci, dan tidak memihak. Sebab kalau dia memihak, itu tidak adil bagi pihak yan tidak dibelanya."


Namun lagi-lagi semua orang mengalihkan pandangannya kepada Andika. Pemuda tampan berkulit seputih susu itu pun menjadi jengah. Wajahnya langsung bingung dengan pandangan Pranaja dan para kakeknya itu. Apa maksudnya sih mereka memandangku begitu rupa?


Kali ini giliran Kyai Badrussalam yang menjadi pusat perhatian mereka.


“Aku tahu kalian ingin Andika yang mempelajari Jamus Kalimasada, tapi kita tidak bisa melakukannya sebelum ada izin dari si empunya kitab.”


Mereka semua terdiam. Bermain dengan pikirannya masing-masing. Apakah Miryam dan Santika sudah menguasai Jamus Kalimasada? Alangkah hebatnya kekuatan mereka.


“Baik Miryam maupun Santika tidak menguasai kekuatan itu. Miryam adalah perempuan yang hatinya dipenuhi dendam kepada takdirnya sendiri. Dia merasa kehidupan cintanya dipelakukan dengan kejam oleh takdir yang harus dijalaninya,” ujar Kyai Badrussalam lagi seperti bisa membaca arah pikiran mereka.

__ADS_1


Pranaja tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Seberapa besar kekuatan dari Kyai Badrussalam sendiri? Bahkan dia bisa membaca kemampuan orang lain.


“Kau hebat sekali kakek. Kemampuanmu benar-benar mengejutkanku,” ujar Pranaja.


“Sebaiknya kita tunda dulu pembicaraan tentang Jamus Kalimasada,” potong Panembahan Mbah Iro. “Ada hal yang lebih mengejutkan yang tertulis dalam catatan eyang Senthir di atas daun-daun lontar ini.”


“Iya. Silahkan Panembahan,” kata Raden Mas Parto.


Semua terdiam lagi. Rupanya mereka sangat penasaran dengan isi catatan Eyang Senthir itu.


“Catatan di atas lontar itu menceriterakan tentang Miryam dan hubungannya dengan Santika, Ken Darsih dan leluhur Trah Somawangi yaitu Eyang Panembahan Somawangi.”


Apa? Pranaja, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto tampak terkejut.


“Miryam adalah gadis paling cantik yang pernah terlahir di dunia. Kecantikannya abadi, hingga menarik perhatian siluman naga bernama Badranaya untuk menotok tubuhnya hingga pingsan dan merudapaksa dirinya. Tapi Miryam tidak pernah menyadarinya. Benih siluman itu langsung berkembang menjadi janin hanya dalam waktu tiga hari. Lalu saat tubuh gadis malang itu sedang menjalani perawatan di tempat Eyang Senthir, Panembahan Somawangi melihatnya dan langsung jatuh hati kepadanya.”


Panembahan Mbah Iro menghentikan ceritanya. Bagaimanapun Panembahan Somawangi adalah sosok yang paling dihormati dan leluhur Trah Somawangi. Mereka sama sekali tidak pernah berpikir kalau leluhur mereka itu juga memiliki sisi kelam dalam hidupnya. Pranaja, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto langsung menundukkan kepalanya.


“Panembahan Somawangi mengetahui janin manusia setengah siluman yang masih tersimpan di dalam Rahim Miryam. Kemudian dia memindahkan janin itu ke dalam Rahim seorang cantrik Eyang Senthir bernama Daningrum. Janin itu tumbuh berkembang di dalam rahim Daningrum, kemudian lahir dan diberi nama Ken Darsih.”


Panembahan Mbah Iro berhenti kembali. Menarik nafas dalam-dalam. Terlihat tubuhnya bergetar menahan perasaan di dalam hatinya.


“Miryam kemudian diperisteri oleh Panembahan Somawangi. Lalu dibimbingnya menjadi pendekar sejati. Dengan kekuatan Tirtanala, Miryam menyerang balik Panembahan Somawangi, dan kembali ke Jalatunda dengan kekasihnya Santika. Lalu mereka dinikahkan oleh Eyang Senthir. Kisah cinta yang begitu berliku dan menyakitkan sebelum mereka mendulang kebahagiaan.”

__ADS_1


Panembahan Mbah Iro mengakhiri ceritanya dengan penuh emosi. Tak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang sudah keriput di makan usia.


Perjalanan hidup adalah romantika. Selalu ada sisi kelam, apalagi menyangkut masalah cinta.


__ADS_2