DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 134 RINDU DENDAM


__ADS_3

EPS 134 RINDU DENDAM


Rindu dan dendam datang beriringan. Berkolaborasi dalam sifat yang kontradiktif. Mengharubirukan rasa dan kebimbangan. Sehingga pikiran ragu untuk memutuskan, dan kaki takut salah melangkah. Maka tanyakan pada hatimu dan lihatlah ke dalam dirimu, maka kau akan menjadi kuat. Dan kau akan menemukan jiwa seorang ksatria yang menunjukkan jalan ke arah yang benar.



Suasana di Megapolitan berubah mencekam. Suasana tegang langsung menyelimuti, begitu kabar kedatangan pasukan tak dikenal sedang berjalan menuruni bukit Kethileng. Mereka adalah pasukan yang terdiri dari tentara bayaran didikan Blade Muller dan pasukan terlatih yang menjadi pengawal Ron Muller. Tapi misinya sama, menghancurkan Megapolitan demi membalaskan dendam kematian sang mahaguru mereka, Blade Muller.



Sementara di Megapolitan, pasukan pengawal Pramono juga mempersiapkan dirinya. Firman, Komandan Keamanan Megapolitan, menempatkan pasukannya di beberapa titik yang saling berkaitan. Sistem keamanan yang dulu di rancang oleh Pramono sendiri untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka dilengkapi senjata-senjata militer paling modern yang dibeli dari pasar gelap.



Di ruang keamanan, Pramono memantau situasi lewat sebuah monitor besar di ruangannya. Lewat citra satelit dia dapat mengamati pergerakan pasukan Ron Muller yang semakin mendekati kaki bukit Kethileng. Setelah itu mereka akan melewati medan terbuka tanpa pepohonan yang membatasi Megapolitan dengan bukit Kethileng. Area terbuka yang dipersiapkan untuk membangun hunian elite Megapolitan City.



“Ada berapa orang yang terpantau satelit kita, Lex?” tanya Pramono.


“Sekitar dua ratus orang bos,” sahut Alex, operator komputer di ruang keamanan. Tapi kemudian mengoreksi kata-katanya sendiri “Mungkin lebih.”


Pramono mengerutkan keningnya.


“Kenapa Lex?”


“Sebentar bos.”



Alex nampak menajamkan pandangannya. Kamuflase yang dilakukan pasukan elit Ron Muller benar-benar menyulitkan pandangannya. Dengan kostum yang dipakai, mereka seperti menyatu dengan alam. Ditambah lagi kondisi hutan Kecipir yang begitu lebat dengan pepohonan hutan yang belum terjamah manusia. Membuat mereka semakin tersembunyi bahkan tidak tertangkap citra satelit.



“Pasukan penyapu sudah sampai di kaki bukit bos. Sekitar limapuluh orang. Mereka menyebar dan bersembunyi dibalik pepohonan dan semak-semak.” sambungnya.


Pramono menganggukkan kepalanya. Lalu menoleh ke arah Firman yang berdiri dibelakangnya.


“Berapa personel kekuatan kita, Man?”


“Tiga peleton pasukan utama dan satu peleton pasukan cadangan bos.”


__ADS_1


“Pasukan cadangan?”


Firman menganggukkan kepalanya.


“Pasukan pendukung dengan kendaraan tempur paling canggih bos. Ada Avenger Weapon System buatan Amerika yang kita datangkan dua bulan yang lalu. Avenger menjadi senjata pilihan yang bisa mobile dari satu titik ke titik lainnya. Kendaran militer ini mampu membawa delapan rudal Stinger yang bisa menembak jatuh helikopter atau pesawat tempur yang terbang rendah.”



“Ada yang lainnya?”


“Tank T-14 Armata, kendaran lapis baja generasi terbaru buatan Rusia. Ini bahkan belum muncul di pasaran resmi bos.”


“Prototypenya?”


“T-14 Armata dilengkapi meriam smoothbore 2A82-1M 125 mm yang dapat menembakkan proyektil armour-piercing (APFSDS), peluru berdaya ledak tinggi dan sistem proteksi aktif Afghanit yang mampu menahan gempuran senjata anti tank.”



Senyum Pramono terbuka lebar. Pandangannya lurus menerawang jauh ke depan, seolah-olah dunia ada dalam genggamannya. Dia begitu yakin dapat menangkis serangan pasukan terlatih yang dibawa Ron Muller bersama para pengawalnya. Dengan dukungan tentara bayaran dan senjata serta kendaaan militer paling canggih, dia siap menerima kedatangan Ron Muller, lalu menghabisinya seperti dulu dia membantai kakaknya, Blade Muller.


***


Sudah tujuh hari, sejak pertempuran Miryam melawan Banaspati, keadaan di pesantren Ksatriyan Santri nampak normal kembali. Sisa-sisa pepohonan dan rumah yang terbakar api, sudah dibersihkan dan di perbaiki. Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro juga sudah kembali. Kecuali Pranaja yang berpamitan pergi ke Jakarta, semua dalam keadaan siaga mengantisipasi serangan lanjutan dan Ken Darsih dan para siluman pengikutnya.




“Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba tubuh Andika melesat tinggi melewati dinding tembok pesantren dan mendarat di tengah hutan yang sedang terbakar,” ujar Raden Mas Parto.


Andika mengerutkan dahinya. Wajahnya terlihat bingung mendengar kata-kata Raden Mas Parto itu.


“Benarkah kakek? Aku malah tidak merasa mampu melakukannya,” ujarnya.



“Apa yang sedang kau lakukan saat itu, Andika?” tanya Kyai Badrussalam.


“Maksud Abah, saat kebakaran terjadi?” Andika balik bertanya.


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Andika terdiam, berpikir sejenak, mengingat-ingat kejadian malam itu.


“Hm, saat itu aku sedang duduk di ruang pringgitan membaca kitab Serat Kalimasada. Lalu Alimin masuk memberitahu kalau di luar pesantren ada api yang membakar hutan.”

__ADS_1


“Lalu?”


“Ya, aku keluar lalu mengkoordinir para santri untuk bersiap memadamkan api.”



“Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh, Andika?” tanya Panembahan Mbah Iro.


Andika menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada kek.”


“Sama sekali?” tanya mbah Iro lagi. “Coba kau ingat lagi.”


“Ya, aku hanya kaget saja, kok ada kebakaran? Padahal aku tidak merasakan panas sama sekali. Bahkan tubuhku serasa berada di atas pegunungan yang sejuk dan nyaman.”



Panembahan Mbah Iro dan Kyai Badrussalam saling berpandangan, lalu tersenyum lagi.


“Rupanya kitab Jamus Kalimasada berjodoh denganmu Andika. Kekuatan Robyong Mustakawarih sedikit demi sedikit mulai mengalir ke dalam tubuhmu,” ujar Panembahan Mbah Iro.



Andika tertunduk diam mendengar kata-kata kedua kakeknya yang tidak masuk daya nalarnya. Dia adalah seorang dokter yang biasa mempelajari ilmu-ilmu eksak, dan sekarang harus mempercayai kekuatan supranatural di dalam tubuhnya.


“Dengan kekuatan Robyong Mustakawarih, kau memiliki kekuatan batin untuk meredam kemarahan siapapun, hanya dengan mengusap kepalanya. Namun kalau sudah sampai pada batas kesabaranmu, kau bisa berubah menjadi raksasa besar yang berkulit putih bersih.”


Semua terlihat takjub mendengar cerita sang Panembahan.


“Sosok makhluk terkuat di alam semesta. Dia dapat membunuh musuhnya hanya dengan menginjak bayangannya.”


‘Wow! Membunuh orang hanya dengan menginjak bayangannya?’ batin Andika. ‘Aku tidak akan pernah melakukannya.’


“Hal itu juga semakin menunjukkan kebersihan hatimu Andika. Robyong Mustakawarih hanya bisa dikuasai manusia-manusia suci yang tingkat kesabarannya tinggi. Tidak mudah marah dan mengumbar emosi. Hatinya harus bersih dari rasa benci, dan tidak memihak. Sebab kalau dia memihak, itu tidak adil bagi pihak yang tidak dibelanya."


Baru saja Panembahan selesai berkata, tiba-tiba terlihat bayangan putih berkelebat sangat cepat. Lalu memeluk tubuh Andika dari belakang. Semua yang ada disitu serentak terkejut bukan kepalang.


“Miryam?” kata mereka bersamaan.


“Kalian benar, kakang Santika memang memiliki hati yang baik,” bisik Miryam hampir tak terdengar.


Dan jantung Andika berdegup kencang, seperti menyambut kedatangan perempuan yang dirindukannya, tanpa batas waktu.

__ADS_1


‘Dugdug! Dugdug! Dugdug!’


__ADS_2