DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 33 KONSPIRASI


__ADS_3

EPS 33 KONSPIRASI


Marcon meneguk gelas anggurnya dengan penuh kepongahan. Rasanya dia sudah memenangkan separuh pertempuran. Apa yang terjadi dengan Megapolitan saat ini, bahkan melebihi ekspektasinya. Dia tak menyangka apa yang dilakukan Pramono bisa dengan cepat merubah nilai Megapolitan. Semudah membalikkan telapak tangan, tiba-tiba kau merasa akan mendapatkan segala yang kau inginkan tanpa menghabiskan energi terlalu banyak.


Susan See, mantan model yang pernah memenangkan ratu kecantikan dunia, tapi merubah jalan hidupnya menjadi ahli hukum, hanya menatapnya dalam diam. Tidak ada reaksi apapun dari wajahnya. Mungkin karena di belum mengerti masalahnya atau bisa juga tidak yakin dengan langkah Marcon kali ini.


“Kenapa kau terdiam Susan? Jangan bilang kalau kau tidak menyukainya,” ujar Marcon.


Susan tersenyum tipis.


“Tentu saja aku gembira, melihat wajahmu yang begitu bahagia. Aku hanya tidak mengerti, mengapa kau begitu senang padahal kau belum mendapatkan apa-apa.”


“Kau melihat berita bisnis hari ini sayang? Hancurnya nilai saham Megapolitan di bursa-bursa efek dunia?”


“Tentu saja. Tapi itu hal yang biasa kan? Sampai masalah dapat teratasi, harga saham akan menguat kembali.”


“Selama aku tidak turut campur di dalamnya, itu memang hal yang biasa. Hehehe..”


“Berarti benar apa yang terjadi di Megapolitan itu adalah perbuatanmu? Atau kau bekerjasama dengan orang dalam?”


Marcon menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak melibatkan diri secara langsung. Tapi aku berperan dalam gerakan penghancuran Megapolitan ini. Kau mengerti kan?”


Susan See bangkit dari duduknya. Melangkah pelan menghampiri meja besar Macon di tengah ruangan. Meletakkan bokong yang seksi itu di atasnya, lalu menatap tajam CEO tampan itu dalam-dalam. Marcon sampai menelan ludahnya berkali-kali menahan desiran-desiran halus yang begetar dari bawah perutnya.


“Apa yang kau harapkan Marcon?” Susan malah balik bertanya. “Maksudku mengapa kau mengusik singa yang sedang tidur lelap?”


“Hahaha!” Marcon tertawa penuh percaya diri. “Hanya seekor singa tua, sayang. Dan aku akan merubahnya menjadi seekor kucing jalanan.”


Susan menggelengkan kepalanya.


“Subrata bukan singa tua Marcon. Dia adalah singa lapar yang siap melahap siapapun, termasuk kau.”


“Kau meragukan aku?”


“Hm, aku selalu mengagumi keberanianmu Marcon, tapi tidak dengan kecerdasanmu.”


Marcon terdiam. Ditatapnya wajah Susan dengan tajam. Ada kemarahan yang merambat perlahan ke ujung kepalanya. Dan wajahnya mulai memerah menahan rasa amarah yang seharusnya sudah meledak. Tapi siapa sanggup meledakkan rasa amarah didepan senyum cantik Susan See, yang sanggup melumerkan lapisan salju di puncak gunung Fujiyama yang eksotik?


“Jangan salah paham Marcon. Aku adalah partner bisnismu, dan aku selalu mendukungmu. Hanya menurutku apa yang kau pikirkan tentang Megapolitan itu salah. Kau belum mengenal Subrata dengan baik.”

__ADS_1


Marcon tersenyum sinis. Kemarahannya sedikit mereda.


“Aku tidak perlu mengenal Subrata, karena aku sudah mendapatkan Pramono.”


“Pramono? Tangan kanannya Subrata?”


“Ya. Mantan.”


“Mantan?”


“Subrata dan Pramono sudah pecah kongsi. Dan buah keberuntungannya jatuh kepadaku. Hahaha!”


Susan membuang pandangannya jauh keluar. Menatap garis cakrawala dari ruang kaca milik Marcon di lantai sembilan puluh sembilan gedung pencakar langit Mexican Vision Medcom. Wajahnya tidak bisa ditebak. Dia memang belum tahu apa yang diincar Marcon sebelumnya, tapi instingnya mengatakan kalau Marcon menempatkan dirinya dalam bahaya besar, karena telah berani membangunkan singa yang sedang terlelap dan melukainya.


***


Subrata duduk berpangku tangan diatas balkon rumahnya. Menikmati cahaya matahari sore yang menyiratkan warna jingga di tiap sudut rumahnya. Angin semilir membelai wajahnya yang begitu tenang. Matanya terkatup rapat, tapi pikirannya terbang menjelajahi kembali episode demi episode kehidupannya yang penuh romantika. Dan kekuatan cintalah yang membuatnya bisa berdiri dengan tegak walau apapun yang terjadi.


Begitulah hidup, harus dinikmati apapun yang sedang terjadi. Instingnya mengatakan ada konspirasi yang hendak menyerang bisnisnya. Pengalaman memberikan dia ruang untuk selalu berpikir tenang, mempelajari, menyusun rencana lalu bergerak pada waktu yang tepat. Dan kapasitas membuatnya bisa menggerakkan setiap potensi untuk bergerak agresif melindungi diri dan melakukan serangan balik yang mematikan.


“Ada yang sedang kau pikirkan mas?” suara lembut perempuan yang selalu dicintainya terdengar berbisik di telinganya.


Subrata hanya tersenyum tanpa membuka matanya. Isterinya selalu tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya walaupun dia sudah bersikap setenang mungkin.


Vania mengecup ujung kepala Subrata dengan penuh kasih sayang. Dibalik karakternya yang keras dan garang di depan anak buah dan musuh-musuhnya, Subrata adalah suami yang sangat lembut. Tidak pernah sekalipun Vania mendengar kata-kata makian keluar dari bibir Subrata. Makanya istana Subrata selalu dipenuhi kedamaian dan ketenangan.


“Aku tahu mas sedang memikirkan sesuatu. Andika?” tanya Vania menyinggung putera mereka satu-satunya yang tinggal jauh di Indonesia.


Subrata membuka matanya, lalu mengernyitkan keningnya.


“Kenapa tiba-tiba kau menyebut nama puteramu Vania. Apa kau kangen kepadanya?”


Vania melingkarkan kedua tangannya di leher Subrata, lalu meletakkan kepalanya di bahu suaminya yang bidang.


“Memang ada ibu yang tidak kangen dengan puteranya?” gumamnya.


Subrata menghela nafas panjang.


“Apa kau ingin pulang menemui anakmu?”


Vania menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Tidak, kalau kau masih punya kesibukan disini. Aku tidak ingin meninggalkan mas Subrata disini menghadapi masalah sendirian.”


Subrata melingkarkan tangannya ke pinggang Vania. Diangkatnya tubuh ramping itu lalu didudukkan di pangkuannya. Dikecupnya kening isterinya dengan lembut.


“Terimakasih atas pengertianmu Vania. Aku janji akan mengajakmu pulang secepatnya.”


Lalu angin berhembus gelisah, menerbangkan anak-anak rambut wanita separuh baya yang masih terlihat muda itu. Subrata menatap wajah isterinya dalam-dalam. Kecantikan Vania tidak pernah pudar ditelan waktu. Semakin hari malah semakin mempesona.


“Sekarang apa kau mau menceriterakan kepadaku apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Vania lagi.


Subrata menaikkan kedua alisnya, lalu tertawa. Vania terlalu ingin tahu dengan semua urusannya. Di jentiknya hidung lancip seperti sudut bintang itu.


“Hehehe..kau selalu saja ingin tahu dengan urusan-urusanku.”


“Apa kau keberatan mas?”


“Kau memang istimewa Vania.”


“Maksudnya?”


“Saat isteri sahabat-sahabatku sibuk berbelanja ke Italia, Jerman, Singapura, kau malah sibuk mengurus diriku. Di saat mereka sibuk berkumpul membuat acara yang tidak penting, kau malah lebih suka memanjakan diri di rumah.”


“Tidak mas. Sekali-kali aku juga masih berkumpul dengan mereka, saat mas Subrata sedang pergi jauh dan tidak pulang selama beberapa hari.”


Subrata mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan dia lebih sering bepergian dan berkumpul dengan kolega-kolega bisnisnya.


“Kau belum menjawab pertanyaanku Mas?”


“Pertanyaan yang tadi? Oh ya,” ujar Subrata. Wajahnya terlihat berubah serius. “Sepertinya ada konspirasi yang hendak merusak reputasiku lewat Megapolitan.”


“Konspirasi?”


“Ya. Tapi itu baru analisisku Vania?”


“Mas sudah menduga siapa pelakunya?”


Subrata menganggukkan kepalanya.


“Ya. Salah satu pelakunya adalah Pramono.”


“Apa?”

__ADS_1


…….


__ADS_2