DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 87 TONGKAT MUSTIKA DANDUNG (2)


__ADS_3

EPS 87 TONGKAT MUSTIKA DANDUNG (2)


Angin lembut berputar mengitari ruang jiwa. Api asmara menggelora menjadi cinta. Rasa rindu membuat hati menjadi terbuka. Tapi sejoli yang sedang kasmaran takkan tahu arah jalan pulang. Karena dunia terlalu sempit buat mereka. Lalu kepada siapa hati ini kan kulabuhkan? Pada dia yang telah mengorbankan kesucian atau pada kamu yang telah merubah hari-hariku serasa di surga?


“Pulanglah Dandung! Ini di luar duniamu. Dalam satu purnama, kembalilah kau ke tempat ini. Kita akan kembali bermain bersama menghabiskan waktu di tempat yang indah ini,” ujar Ken Darsih.


Tubuhnya tegak berdiri dengan pakaian penari pemberian Nyai Nagabadra. Ujung serulingnya yang dilapis warna emas nampak berkilau di balik bajunya yang diikat dengan selendang sutera ungu. Rambutnya yang hitam menggumpal dibiarkan tergerai luruh ke bawah. Menyembunyikan sebagian wajah cantiknya yang membuat hati Dandung tak tega untuk meninggalkannya.


“Tidak!” Dandung menggeleng cepat. “Aku memang tidak akan terlibat dalam peperanganmu. Namun aku akan tetap mengawasimu, menjaga keselamatanmu dari kejauhan.”


“Tapi..” belum selesai Ken Darsih berbicara, Dandung sudah meletakan jari telunjuknya menyentuh ranum merah bibirnya.


“Jangan membantah Ken. Ini adalah kewajibanku,” katanya.


‘Lelaki sejati tidak akan meninggalkan kekasihnya berjuang sendirian menempuh marabahaya,’ batin Dandung yang tidak sempat diucapkannya.


Akhirnya Ken Darsih menganggukkan kepalanya. Senyum lebar nampak terlukis di garis bibirnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, gadis itu merasakan kebahagiaan karena kehadiran seorang laki-laki selain Eyang Senthir. Lalu dia menoleh ke arah Nagaraja.


Nagaraja menjulurkan lidahnya keluar, lalu meredupkan matanya. Dia mengerti maksud hati Ken Darsih. Gadis itu ingin agar Nagaraja memberikan kekuatan supranatural ke dalam tubuh Dandung. Walaupun pemuda itu tidak akan terlibat dalam pertempuran, tapi dia akan memiliki kekuatan untuk membela dan mempertahankan diri.


Nagaraja melepaskan salah satu surai yang tumbuh memanjang di atas kepalanya. Surai berwarna merah terang dengan warna kuning menyala diujungnya itu dilemparkannya kepada Dandung. Dengan sigap pemuda itu menangkap rambut naga sepanjang sekitar dua meter itu. Lalu diamatinya dari ujung ke ujung. Seperti cemeti bermotif nyala api, lembut tapi sangat kuat.


“Ikatkan surai itu di pinggangmu. Rasakan kekuatannya,” ujar Nagaraja.


“Selama kau tersambung dengan surai itu, tubuhmu tidak akan terluka walapun terkena senjata yang paling tajam sekalipun,” sambung Ken Darsih.


“Maksudmu, tubuhku kebal dari segala macam senjata tajam?” tanya Dandung.


Ken Darsih menganggukkan keplanya sambil tersenyum.


“Termasuk kebal terhadap peluru?”


“Apapun senjata yang terbuat dari logam, tidak akan mampu melukaimu,” sahut Nagaraja.


Dandung mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia membuka bajunya hingga terlihat kulit perut dan pinggangnya. Lalu surai Nagaraja diikatkan ke pinggang melingkar-linkar. Begitu dia mengikatkan ujungnya, tiba-tiba surai itu menghilang dari pandangannya. Dandung terkesiap kaget. Tapi dia merasakan tubuhnya terasa lebih kuat dan segar. Setelah segala macam kuman penyakit di sedot oleh Ken Darsih, kekuatan apalagi yang dimilikinya?


“Terimakasih Nagaraja,” ucap Dandung.

__ADS_1


“Berterimakasihlah kepada Nyai. Dialah yang memintaku memberikan surai itu kepadamu.”


Dandung menatap wajah Ken Darsih dalam-dalam. Sesungguhnya gadis itu tidak membutuhkan kehadirannya. Tapi entah kenapa dia tidak ingin membiarkan gadis itu pergi sendirian tanpa kehadirannya.


“Terimakasih.”


Tanpa sadar Dandung merengkuh tubuh Ken Darsih dalam pelukannya. Dan kali ini gadis itu hanya diam saja, tidak lagi menolaknya.


***


Dalam cuaca dingin yang membekukan Mobil Mercedes AMG GT 63 S berwarna hijau metalik itu meluncur pelan di dalam tol kota. Suasana ibukota yang sudah larut, membuat jalan tol ini menjadi sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang masih nampak melintas. Tapi tak sesunyi hati Dandung yang masih terdiam gelisah memikirkan dilema cintanya. Kembali ke ibukota mengingatkan kembali kisah cintanya dengan Frida.


Pukul tiga pagi barulah mobilnya masuk ke garasi apartemennya. Berjalan dengan langkah agak gontai karena rasa kantuk dan lelah. Hampir enam jam dia menempuh perjalanan panjang dari bukit Kethileng untuk kembali lagi ke Jakarta. Sementara Ken Darsih naik ke punggung Nagaraja lalu menghilang menembus alam kasat mata. Katanya dia akan menemui sahabat-sahabatnya dari bangsa jin dan siluman.


Turun dari mobil, Dandung menghempaskan nafas kasar. Lalu berjalan naik ke apartemennya di lantai lima. Baru saja naik ke tangga terakhir, Dandung terkejut. Ada seorang gadis sedang duduk bertekuk lutut didepan pintu apartemennya. Wajahnya tidak kelihatan, karena diletakkan diatas kedua lututnya. Rupanya tertidur.


Pelan-pelan Dandung memutar kunci pintu apartemennya. Klek! Namun cukup membuat gadis itu terjaga.



“Akang Dandung sudah pulang?” sapa gadis itu.


“Eneng?” ujarnya dengan nada terkejut.


“Iya kang. Kaget ya, sengaja Eneng kasih.....Surprise!” teriaknya.


“Hush!” ujar Dandung sambil meletakkan jari telunjuknya diatas bibir.


Malam-malam begini teriak-teriak, kan gak enak sama tetangga. Dandung langsung menarik tangan gadis itu masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk di sofa.


“Eh, darimana kamu tahu apartemen akang?” tanya Dandung.


“Aku tanya kak Lilis, kakaknya Eneng yang pernah main ke sini . Habis aku cari-cari di rumah gak pernah ketemu,” sahut Eneng dengan senyum menggoda.


Eneng dan Lilis adalah keponakan jauh mamanya, jauuuh banget. Jadi dia itu anaknya adik iparnya kakak mama yang di Bandung. Tuh jauh banget kan? Ketemunya juga paling setahun sekali kalau pas ada acara keluarga. Memang diam-diam dulu Dandung juga sering mencuri pandang karena bodi Lilis dan Eneng yang bohai dan wajahnya yang cantik khas gadis priyangan. Tapi pikiran joroknya langsung dibuang jauh-jauh. Kan saudara sepupu.


“Terus kamu datang kesini mau apa?”

__ADS_1


“Hehe, Eneng mau pinjem uang sama kang Dandung.”


“Owh, Eneng butuh uang? Berapa?”


“Limaratus juta.”


Dandung terkesiap kaget.


“Banyak banget, buat apa?”


“Buat operasi plastik kang. Biar hidung Eneng mancung kaya gadis-gadis Eropa”


“Hah? Kamu kan sudah cantik, kenapa operasi plastik segala?”


“Untuk merubah nasib kang. Eneng kan ingin menjadi artis, mirip Cinta Laura gitu?”


Dandung menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mengambil satu lembar ketas cek, menulis angka limaratus juta, terus dikasihkan kepada gadis muda itu.


“Nih. Buat modal kamu menjadi artis. Pakai saja, tidak usah mengembalikan.”


Eneng menggelengkan kepalanya. Lalu membuka bajunya satu persatu. Memperlihatkan asaet-asetnya yang aduhai. Seketika darah kejantanan Dandung langsung naik lagi. Tapi dia masih sadar, pikirannya langsung teringat Ken Darsih dan Frida.


“Eh, kamu mau apa Neng?”


“Aku gak mau hutang budi. Akang sudah baik, jadi Eneng harus servis akang juga.”


Lalu gadis muda itu merangsek maju. Mendorong tubuh perwira muda itu hingga jatuh terduduk di sofa. Bagaikan binatang buas, dia membuka resleting celana Dandung. Meraih ‘tongkat mustikanya’ dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Mulutnya sampai penuh dan matanya melotot takjub, ‘ini sih tiang telpon’ batinnya.


“Mpft..mpft..mpft..(gede banget punya akang),” kata Eneng yang tidak bisa lagi bicara dengan lancar.


Gadis ganas itu mulai menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang secara perlahan. ‘Tongkat Mustika Dandung mulai mengeras dan menyogok-nyogok dinding tenggorokannya. Matanya menatap Dandung dengan pandangan menggoda. Dandung menjadi serba salah. Mau dilarang sepupu sendiri, nggak dilarang…


“Aduh! Neng ingat Neng, ini perbuatan dosa! Nanti kita kena laknat. Auh!”


“Mpft!...Mpft!...Mpft!…”


Eneng gak mau mendengarkan nasehat kakak sepupunya itu. Kepalanya terus bergerak maju mundur. Dandung terus mengerang, wajahnya menyeringai seperti orang tersiksa, matanya merem melek dan kedua tangannya mencengkeram kuat rambut Eneng. Beberapa saat kemudian terasa ada yang mendesak keluar dan tak mampu ditahannya lagi.

__ADS_1


“Aarggh! Eneng! Kamu..keterlaluan!” teriakannya menggelegar memecah kesunyian malam.


__ADS_2