DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 143 PERTARUNGAN KAKAK ADIK


__ADS_3

EPS 143 PERTARUNGAN KAKAK ADIK


Butir-butir salju seputih kapas jatuh dari langit bagaikan serbuk-serbuk kapur yang menggumpal. Menyentuh lembut dedaunan sebelum bergulir dan jatuh ke bumi, memberi pertanda baik akan hilangnya segala sesuatu yang bersifat api berubah menjadi sifat air. Segala kemarahan dan dendam akan segera dituntaskan menjadi kedamaian dan saling memaafkan.



Tapi turunnya salju di atas bukit Kethileng bukan merupakan hal yang biasa. Hamparan warna putih yang sekarang menutupi hutan Kecipir adalah pengaruh dari kekuata Tirtanala sejati yang dimiliki Arya Janu. Bayi yang tersimpan dalam rahim Miryam selama lebih dari limaratus tahun, diselubungi oleh kekuatan Tirtanala, Geni Sawiji dan Anugerah Mata Dewa. Bahkan kekuatan Arya Janu melebihi kekuatan Miryam sendiri. Dan ini diluar perkiraan Ken Darsih.



Pertempuran antara Ken Darsih dan Miryam itu terus berlangsung dengan sengit. Hampir seharian kedua bidadari kembar itu saling menyerang dengan jurus-jurus yang mematikan. Tubuh keduanya tertutup kabut berwarna abu-abu tua yang membuat bulu kuduk merinding. Terbawa dendam dan rasa amarah, gadis setengah siluman mengeluarkan segenap kemampuannya untuk membunuh musuhnya.



Dia yang awalnya begitu percaya diri dengan kekuatannya setelah di gembleng langsung oleh Kanjeng Ratu Laut Kidul, mulai berhati-hati. Ternyata kekuatan Miryam juga bertambah berlipat-lipat dari yang dia ketahui sebelumnya. Serangan-serangannya seperti membentur tembok baja yang sangat tebal dan keras.



“Trang! Trang! Trang!”


‘Heyaa!”


“Keluarkan semua kemampuanmu Ken Darsih! Aku akan meladeni keinginanmu!” teriak Miryam.


“Besar mukut saja!”


Heyaa!


“Trang! Trang! Trang!”



Suara berdentang terdengar dan percikan api kemana-mana, saat kuku-kukunya yang sekeras baja dan sangan beracun itu menyentuh kulit Miryam yang lembut. Tapi tak seperti harapan Ken Darsih. Jangankan membuat kulit mulus itu terluka, membekas saja tidak. Perempuan berjuluk jadul tapi mempesona itu sungguh semakin tangguh. Siraman sinar mata dewa dari Eyang Karangkobar telah membuat tubuh Miryam kebal dari segala racun.



Ken Darsih mundur beberapa langkah. Lalu dia mencabut seruling mustikanya dan melemparkannya ke udara. Seruling itu berputar sangat cepat, menimbulkan putaran angin yang sangat dahsyat. Mendorong tubuh Miryam dengan kekuatan angin yang dahsyat. Namun lagi-lagi Ken Darsih terkejut. Tubuh perempuan itu sama sekali tak bergeming. Lalu gadis itu mengangkat tangan kanannya, seruling terbang kembali kepada pemiliknya.

__ADS_1



Tututtuttuiiit tuttuuut…..! Tututuittuttuuuut….!



Suara seruling itu begitu menggema dan menusuk telinga. Bagi manusia biasa, suara seruling bisa merusak syaraf pendengaran mereka. Karena suara seruling sudah diisi dengan kekuatan tenaga dalanm tingkat tinggi. Bahkan Nagaraja dan para siluman lainnya langsung menutup jalan pendengaran mereka.



Tututtuttuiiit tuttuuut….! Tututuittuttuuuut….!



Ken Darsih meniup serulingnya sambil terbang berputar mengitari tubuh Miryam. Mencoba menyerang perempuan itu dari segala arah dengan suara serulingnya. Miryam sempat terpengaruh dan sedikit goyah. Namun dia langsung menggunakan kain yang digunakan menggendong Arya Janu untuk menyumpal lubang telinganya.



Hrrr…!




Lalu awan hitam seperti berkumpul, membuat langit di atas bukit Kethileng menjadi gelap. Angin badai bertiup kencang disertai gemuruh petir dan kilat berulang-ulang. Gumpalan api sebesar bola basket itu tiba-tiba melesat keluar dari gendongan Miryam, lalu meluncur cepat menyerang Ken Darsih.


“Apa!?”


Gadis siluman itu nampak kaget, dia langsung melemparkan seruling mustikanya, menyambut datangnya gumpalan api biru itu.


“Blar! Blar!”


Terdengar suara ledakan hebat. Sesaat gerakan bola api biru itu terhenti. Kekuatan panasnya perlahan membakar habis seruling mustika Ken Darsih. Tapi setelah itu, gumpalan api biru itu melesat lagi menyerang tubuh gadis siluman itu. Bahkan kecepatannya semakin bertambah.



“Tameng Nagapercala!”

__ADS_1


Kedua tangan Ken Darsih mendorong kedepan. Lalu diputar seratus delapanpuluh derajat. Terlihat sinar emas membentuk tameng untuk melindungi tubuhnya. Gadis setengah siluman itu menyambut gumpalan api biru jelmaan adiknya sendiri, Arya Janu, dengan perisai siluman naga yang keluar dari kedua tangannya.


Blar!


Dentuman hebat terdengar ketika gumpalan api biru itu membentur perisai sang Naga. Bumi bergoncang hebat, gunung-gunung berguguran, dan benda-benda beterbangan ke segala arah. Pengaruh benturan itu sungguh dahsyat. Kilatan cahaya menyilaukan mata, disusul kobaran api yang sangat panas. Sepertiga pepohonan di alas Kecipir langsung hangus terbakar. Tubuh Ken Darsih dan Arya Janu sama-sama mundur ke belakang.


Ken Darsih mengatur nafasnya. Sementara api biru yang menyelubungi tubuh Arya Janu menghilang. Anehnya, tubuh bayi itu berdiri melayang di udara. Bibirnya tertawa lucu, dan kedua matanya mengeluarkan sinar merah terang.


‘Wekekek…oe oe..!”


“Anak kecil mencari mati! Jemputlah mautmu sekarang!”


Dari kedua mata Ken Darsih melesat sinar berwarna abu-abu tua yang mengandung racun paling tinggi. Siapapun yang terkena sinar beracun ini akan langsung mati dengan tubuh melepuh karena panas dan penuh racun. Arya Janu tak mau kalah, dari kedua matarnya keluar sinar berwarna biru terang.


“Anugerah Mata Dewa!”


Mendadak dari belakang Arya Janu melesat sinar biru muda lainnya. Rupanya Miryam juga tak tinggal diam. Melihat puteranya di serang dengan sinar yang mengandung racun tingkat tinggi, dia juga mengluarkan kekuatan yang sama dengan Arya Janu, Anugerah Mata Dewa. Dua larik sinar berwarna abu-abu tua bertemua dengan empat larik sinar biru muda.


“BUM!”


Terdengar ledakan yang sangat keras disertai bias cahaya menerangi semesta. Di susul oleh gelombang besar elektromagnetik menggulung dan menghancurkan pepohona besar dan benda-benda apapun dalam radius seratus meter persegi. Luluh lantak menjadi debu. Tubuh Ken Darsih terpental jauh kembali ke belakang. Menghantam kumpulan batu sebesar gubuk yang ada di belakangnya. Sesaat terjadi kegaduhan.


Buk! Bum! Dug! Aargh!



Lalu hening. Asap yang mengepul mulai hilang. Nampak Miryam anggun berdiri, sementara Arya Janu sudah berada di dalam gendongannya lagi. Ken Darsih mencoba bangkit. Tubuhnya mengalami luka dalam yang sangat hebat hebat. Jaringan darah dan urat-uratnya hancur walaupun tubuh luarnya masih nampak utuh. Dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tapi tidak berhasil. Tubuh gadis setengah siluman itu jatuh kembali dan terdiam berkalang tanah. Hanya desah nafasnya yang masih terdengar lemah.



“Nyai!”



Teriak Nagaraja dan siluman lainnya serentak. Mereka tak menyangka, junjungan mereka yang sangat sakti dapat dikalahkan oleh seorang bayi setelah melalui pertarungan dahsyat dengan ibunya. Mereka hanya tertegun saat tubuh Miryam berjalan mendekati tubuh Ken Darsih. Setelah dekat, dia mengangkat kedua tangannya untuk mengakhiri perlawanan mushnya itu. Namun mendadak ada suara yang mencegahnya.


__ADS_1


“Miryam! Jangan kau bunuh dia! Gadis itu adalah anakmu sendiri!”


__ADS_2