DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 135 SELALU ADA MAAF


__ADS_3

EPS 135 SELALU ADA MAAF


Hidup adalah perjalanan mencari guru sejati atau jalan kembali kepada sang Pencipta. Jiwa serasa terbang mengarungi perjalanan hidup dari alam atmara rajya atau alam sebelum kelahiran menuju alam kehidupan Jībanera prakr̥ti, lalu alam kematian Mr̥tyura kṣetra dan berakhir di alam keabadian, Anantakalera rajya. Di alam inilah jiwa akan kembali kepada Sang Maha Pencipta, atau istilahnya manunggaling kawula Gusti.


Jamus Kalimasada, adalah sebuah kitab mustika yang dapat memberikan kekuatan Robyong Mustakawarih. Kekuatan paling tinggi di alam semesta. Kekuatan yang tidak terkalahkan, karena berasal dari kekuatan inti kehidupan itu sendiri. Makanya kekuatan ini tidak boleh jatuh kepada sembarang orang.


“Orang yang boleh menguasai kekuatan Robyong Mustakawarih haruslah orang yang tidak mepunyai musuh, derajat keluhurannya setara dengan Dewa, pandai memerangi nafsu pribadi, santun dalam memilih kata, memiliki rasa hormat kepada orang lain seperti diri sendiri,” jawab Panembahan Mbah Iro. “Dia juga memiliki sifat adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi.”


Semua orang terdiam, memandang takjub wajah Andika.


“Robyong Mustakawarih hanya bisa dikuasai manusia-manusia suci yang tingkat kesabarannya tinggi. Tidak mudah marah dan mengumbar emosi. Hatinya harus bersih dari rasa benci, dan tidak memihak. Sebab kalau dia memihak, itu tidak adil bagi pihak yang tidak dibelanya. Karena pertempurab sudah bisa ditebak siapa pemenangnya sebelum dimulai."


Baru saja Panembahan selesai berkata, tiba-tiba terlihat bayangan putih berkelebat sangat cepat. Lalu memeluk tubuh Andika dari belakang. Semua yang ada disitu serentak terkejut bukan kepalang.


“Miryam?” kata mereka bersamaan.


“Kalian benar, kakang Santika memang memiliki hati yang baik,” bisik Miryam hampir tak terdengar.


Dugdug! Dugdug! Dugdug!


Detak jantung Andika terdengar jelas di telinga Miryam. Sambil merengkuh tubuh Andika dari belakang, dia merebahkan kepalanya di punggung pemuda itu. Memeluknya dengan erat sepenuh hatinya. Melampiaskan kerinduan kepada kakang Santikanya. Terdengar detak jantung suaminya yang berada di dalam tubuh Andika berdegup semakin keras.


Dugdug!.. Dugdug!… Dugdug!


Air matanya mengalir, tapi bibir ranumnya tersenyum lebar. Rupanya dia mendengar percakapan mereka yang sedang memuji Andika. Dan bagi Miryam, pujian kepada Andika adalah pujian terhadap Santika, suaminya. Karena jantung dan mata Andika adalah milik suaminya. Bukankah kebaikan itu berasal dari mata lalu turun ke hati? Artinya kalau Andika bisa menguasai kekuatan Robyong Mustakawarih, Santika juga pasti bisa.


“Kau benar Miryam. Walaupun kami tidak mengenal suamimu, tapi kami yakin Santika adalah lelaki berhati mulia, persis seperti Andika,” ujar Kyai Badrussalam.


“Aku juga punya keyakinan yang sama,” sambung Panembahan Mbah Iro.


Miryam melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya. Senyumnya semakin lebar mendengar kata-kata pujian untuk suaminya itu. Ah, semakin hari dia semakin merasa dekat dengan mereka. Apalagi melihat penampilan Panembahan Mbah Iro dan kedua pengikutnya, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto, yang masih mempertahankan tradisi masyarakat Somawangi yang dia kenal. Dia merasa kembali ke masa limaratus tahun yang lalu.


“Setelah urusan ini selesai, aku ingin berkunjung ke rumahmu Iro,” ujarnya.

__ADS_1


Wajah Panembahan Mbah Iro tampak sumringah.


“Rumah kami adalah rumahmu juga. Tapi, benarkah Eyang Miryam sudi berkunjung ke Somawangi?”


Miryam menganggukkan kepalanya.


“Tidak semua kenangan itu buruk. Aku juga memiliki kenangan indah di sana. Sepuluh tahun aku hidup di Somawangi, tentu saja ada kerinduan untuk menyambanginya lagi.”


Panembahan Mbah Iro langsung duduk bersimpuh di depan Miryam, diikuti Eyang Penatus dan Raden Mas Parto.


“Terimakasih Eyang,” sahut Panembahan.


Miryam tersenyum. Lalu membalikkan tubuhnya.


“Maaf Eyang!” ucap Mbah Iro ragu.


Miryam berbalik kembali.


“Ada apa lagi Iro?”


Miryam terdiam. Menatap tajam wajah Panembahan Mbah Iro. Suasana menjadi tegang. Namun, mendadak senyuman indah itu kembali menghiasi wajah Miryam.


“Kakang Somawangi adalah suamiku. Aku juga banyak berhutang budi kepadanya. Tentu saja aku sudah memaafkannya, bahkan sebelum aku menghukumnya.”


Wajah Panembahan Mbah Iro terlihat lega.


“Terimakasih Eyang Miryam. Maturnuwun,” ucapnya dalam bahasa Jawa Krama.


“Ya. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku, sebelum menyelesaikan urusanku.”


Miryam membalikkan tubuhnya kembali, lalu meneruskan langkahnya. Tubuhnya seperti melayang ringan tidak menapak lantai. Menunjukkan betapa tingginya ilmu ringan tubuhnya. Semua orang membeku di tempatnya masing-masing. Seperti terpesona, mereka hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.


“Kakek. kenapa kau tidak menanyakan kemana Miryam akan pergi?” tanya Andika.

__ADS_1


Panembahan Mbah Iro menepuk jidatnya. Dia sampai lupa, mungkin karena saking gembiranya mendengar Eyang Miryam telah memaafkan leluhur trah Somawangi.


“Kenapa Andika?” tanya Eyang Penatus.


“Aku khawatir dia akan pergi ke bukit Kethileng untuk menyelesaikan urusannya dengan Ken Darsih,” sahut Andika.


“Eh, betul juga,” sahut Raden Mas Parto.


Panembahan Mbah Iro menoleh ke arah Kyai Badrussalam yang dari tadi hanya terdiam.


“Bagaimana pendapat Kyai?”


“Andika benar. Memang Miryam sangat ingin menyelesaikan urusan ini secepatnya. Setelah itu dia akan memusatkan perhatiannya untuk merawat puteranya Arya Janu.”


“Nah, berarti dugaanku benar kan?” kata Andika.


“Apa yang harus kita lakukan Kyai? Apakah kita harus mencegahnya?”


Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.


“Seperti kata Miryam, urusan ini memang harus segera diselesaikan,” ujarnya. “Bersiaplah kalian. Kita akan segera menyusul Miryam menemui Ken Darsih di Kethileng.”


***


Tangis angin merintih di sela-sela pepohonan alas Kecipir yang angker. Mendirikan bulu roma bagi siapa saja manusia yang mendengarnya. Hanya orang-orang dengan mental baja yang mampu menatap ke depan. Menebas dingin yang menyelimuti. Menembus kegelapan hutan yang penuh dengan misteri, karena kita tidak tahu bahaya apa yang ada dibalik warna hitamnya.


Ken Darsih masih mengamati gerak-gerik Ron Muller dan anak buahnya. Melihat mereka membawa senjata pembunuh yang bisa menghilangkan nyawa manusia. Mengamati wajah-wajah dendam lewat kaca benggala raksasa, yaitu permukaan sendang Kumitir. Yang mampu menampilkan wajah-wajah manusia, bagaikan layar monitor pada sebuah komputer, yang mendapatkan kiriman gambar dari citra satelit.


“Kau lihat Nagaraja? Rupanya mereka hendak berperang,” ucap Ken Darsih.


“Ya. Aku juga melihatnya Nyai. Tapi siapa musuhnya?” ujar Nagaraja.


Ken Darsih tak menjawab pertanyaan raja siluman naga itu. Pandangannya terfokus pada barisan manusia yang hendak bertempur itu. Mengapa mereka berpakaian aneh begitu? Wajah, lengan mereka dicoret-coret dengan warna lumpur dan warna daun, sehingga mereka terlihat seperti sebuah semak belukar kalau sedang diam. Dan senjata mereka mirip senjata milik Blade Muller yang berisi butiran-butiran besi untuk melukai manusia dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


“Senjata yang tidak berguna. Sama bodohnya dengan manusianya,” batinnya sambil tersenyum lebar.


Rupanya dia ingat waktu menangkap peluru yang ditembakkan senjata Blade Muller dengan mudahnya. Hehehe…


__ADS_2