DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 110 PELAMINAN UNTUK PRANAJA


__ADS_3

EPS 110 PELAMINAN UNTUK PRANAJA


Pranaja terhenyak, rasanya tidak percaya dengan barusan dia dengar. Dia yang tengah membuntuti jejak kaki gadis-gadis aneh yang dijumpainya di tengah sawah, tiba-tiba terjebak dalam pintu portal menuju ala lain. Dan jatuh tertidur di sebuah kamar yang sangat besar dan indah. Dan saat pintu itu terbuka, dia melihat beberapa prajurit pengawal, dayang dan pelayan istana sedang menunggunya.


“Selamat pagi pangeran. Air hangat untuk mandi sudah siap. Hari ini pangeran akan dimandikan dan dirias oleh juru rias istana,” kata kepala dayang.


“Hah? Dirias? Untuk apa?” tanya Pranaja heran.


“Hari ini Pangeran akan duduk di pelaminan bersanding dengan puteri tercantik, Dewi Nawangwulan,” sahut kepala dayang.


Tubuh Pranaja sampai terloncat ke belakang mendengar kata-kata si kepala dayang. ‘Hah? Duduk di pelaminan…?’ batinnya.


“Maksudmu aku akan dinikahkan?”


Kepala dayang tersenyum menganggukkan kepalanya.


“Lebih tepatnya dikawinkan.”


Pranaja terdiam sambil berpikir. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang salah.


“Tidak!” ucapnya tegas. “Aku tidak mengenal kalian, kenapa aku harus menikahi puteri junjunganmu?”


Kepala dayang menengok ke belakang, memandang para dayang di belakangnya dengan wajah penasaran. Baru kali ini ada manusia yang menolak dinkahkan dengan Dewi Nawangwulan. Apakah mantera-mantera pengasihan yang diarahkan kepada Pranaja semalaman tidak berhasil mempengaruhi hati dan pikirannya?


“Tidak Pangeran! Pernikahan ini harus tetap dilaksanakan!” tegas kepala dayang lagi.


Para dayang berpakaian serba putih tadi bergerak mengurung dirinya. Lalu mereka berlari berputar megitari tubuhnya, sementara para pelayan istana menaburkan kembang kantil dan kembang melati ke arahnya. Gerakan mereka semakin lama semakin cepat sambil membaca mantera-mantera dengan suara keras.



“Ebumnobim bu iji ahihia ocha, ghara ikwe ka uwa gbawa, ghara ikwe ka ugwu daa. Ntutu m bụ ọkụ, akpụkpọ ahụ m bụ ọkụ, ọbara m bụ ọkụ, ọkpụkpụ m bụ ọkụ, ụmị m bụ ọkụ.”


Pada puncaknya, saat tubuh mereka tak terlihat dalam putaran yang begitu cepat, mereka menjerit dengan keras sambil meniupkan asap berwarna merah jambu ke arah pemuda gempal tapi imut itu.

__ADS_1


“Anọ m ọdụ n'etiti ụwa, ịnyịnya na-ama jijiji na-amụmụ ọnụ ọchị. Mou dhar!”


Wush!


Asap tebal menyelubungi tubuh Pranaja. Pemuda itu langsung menutup jalan nafasnya. Lalu melindungi tubuhnya dengan kekuatan dinding bayangan.


“Dinding Bayangan!” teriaknya.


Tangannya diputar dari belakang ke depan dengan sepenuh tenaganya yang menjadi berlipat karena pengaruh baju pelindungnya. Dinding angin setebal satu meter menyelubungi tubuhnya dan melindunginya dari serangan asap berwarna merah jambu tadi. Seketika kepulan asap itu buyar dan berbalik menyerang lawan-lawannya.


“Eeerrkkk!”


Begitu terkena asap pengasihan itu, hawa siluman para dayang itu langsung tercium oleh Pranaja. Wajah para dayang yang tadinya terlihat cantik, langsung berubah dengan wajah yang mengerikan. Penuh dengan lubang-lubang berwarna merah darah, bola mata berwarna putih semua, lidah terjulur dengan gigi taring yang cukup panjang, dan butiran darah yang terus menetes dari ujungnya. Mereka benar-benar berubah menjadi monster!


“Dasar iblis terkutuk!” teriaknya. “Terima kematian kalian. Anugerah Mata Dewa!”


Slap! Slap! Slap! Slap!


Keributan itu langsung memancing perhatian penghuni istana peri lainnya. Satu laksa prajurit langsung mengepung dengan senjata terhunus. Ujung tombak mereka terlihat mengeluarkan sinar buram dan asap hitam yang penuh dengan racun. Begitu mereka bergerak serempak menyerang Pranaja, mendadak ada suara yang menghentikan gerakan mereka.


“Tunggu! Hentikan serangan kalian!”


Suara itu terdengar lembut dan tidak terlalu keras, tapi terdengar oleh seantero penghuni istana yang super luas itu. Mereka langsung menghentikan serangan dan mengalihkan pandangan ke arah suara itu.


“Mengapa kalian tidak menaruh hormat pada tamuku?” ujar suara tadi.


Pranaja melirik kesana kemari mencari sosok yang berbicara. Lalu dari atas langit-langit istana yang tinggi, turun tujuh orang peri yang sangat cantik. Setiap peri itu memakai selendang dengan warna yang berbeda. Merah, Hijau, Biru, Ungu, Cokelat, Hijau dan Kuning. Peri yang berselendang kuning, yang paling cantik di seluruh istana peri, maju mendekatinya. Dengan tangan ditangkupkan di depan dada, dia berjongkok di depan Pranaja.


“Maafkanlah kami Pangeran,” ucapnya.


Gerakannya langsung diikuti penghuni istana peri lainnya. Mereka ikut berjongkok dan menyembah Pranaja.


“A..Apa yang kalian lakukan?” tanya Pranaja tergagap.

__ADS_1


Dia jadi sedikit salah tingkah disembah ribuan makhluk berujud manusia didepannya.


“Hukumlah aku bila ada pengawalku yang berbuat salah kepadamu,” kata si peri berselendang kuning.


Dia menyilangkan pisau di lehernya. Sisi tajamnya yang putih bersinar itu sempat menggores kulit sang peri yang begitu lembut. Terlihat darah keluar dari luka itu. Dengan gerakan sangat cepat Pranaja merebut pisau itu. Lalu membersihkan darah yang ada di ujung pisau dengan tangannya. Tanpa dia sadari, darah itu meresap cepat melalui pori-pori kulitnya, dan masuk ke dalam aliran darahnya. Mendadak ada rasa simpati di dalam hatinya.


“Jangan berbuat bodoh di depanku, tuan puteri,” katanya.


Direngkuhya tubuh tinggi semampai itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menarik tubuh itu untuk berdiri.


“Sekarang katakan kepadaku, siapa namamu dan apa keinginanmu,” kata Pranaja.


Puteri itu tersenyum lembut penuh kemenangan.


“Nama hamba Dewi Nawangwulan. Sejak pertama melihatmu aku sudah jatuh cinta denganmu. Jadi kawinilah aku dan buat diriku bahagia,” kata Dewi Nawangwulan tanpa basa-basi.


Pranaja yang sudah berada di bawah pengaruh sang Dewi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan lembut dia mencium kening peri cantik itu.


“Tentu saja aku akan mengabulkan keinginanmu,” kata Pranaja.


“Silahkan kakang. Pelaminan kita sudah terlalu lama menunggu pemiliknya,” sahut Nawangwulan dengan suara yang semakin merajuk.


Nawangwulan menggandeng tangan Pranaja, lalu diajaknya menuju pelaminan yang telah dipersiapkan di ruang Pelaminan Agung. Sebuah singgasana besar dengan warna kuning gading dengan ukiran-ukiran emas yang sangat indah. Diselimuti permadani berwarna merah yang diatasnya terhampar sekumpulan bunga mawar dan melati.


“Apakah itu yang namanya pelaminan?” tanya Pranaja.


“Benar kakang. Singgasana itulah kursi pelaminan kita,” sahut Nawangwulan.


Pranaja mengangkat tubuh Nawangwulan dengan kedua tangannya. lalu dengan satu kali hentakan kedua tubuh pemuda tampan dan peri cantik itu melayang di udara. Nawangwulan memeluk erat leher Pranaja sambil memejamkan matanya. Sesaat kemudian kedua tubuh itu mendarat lembut diatas kursi pelaminan yang terletak di lantai yang paling tinggi di ruangan itu.


“Upacara Perkawinan segera dilaksanakan!” ucap satu-satunya peri berwajah tua dan jelek di istana itu.


Pranaja memandang peri tua itu dengan tatapan kosong…

__ADS_1


__ADS_2