DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 133 CINTA SEJATI


__ADS_3

EPS 133 CINTA SEJATI


Buih di laut terhempas ke pantai. Angin bergemuruh liar mengaduh. Matahari tenggelam di garis cakrawala. Memberi tanda malam kan segera datang. Membawa selimut mimpi yang menghangatkan hati. Karena kehidupan yang terus berjalan, membutuhkan waktu untuk berhenti. Singgah sejenak untuk rehat, melepas kepenatan dalam pelukan. Atau menghempaskan gairah setelah seharian terpanggang panasnya godaan dunia.



Diam membeku terkungkung sepi. Hati membatu tanpa gairah lagi. Seolah dunia baru saja berakhir, padahal kemarin Marcon Allpanigard begitu jumawa menunjukkan keperkasaannya. Menunjukan kepada semua orang kalau dunia dan seisinya ini seolah miliknya. Dan kini kesombongannya dihancurkan oleh kelalaiannya sendiri.



“Aku memang bodoh dan tolol,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.


Susan yang duduk di depannya itu tak bereaksi, tapi matanya terus menatap tubuh yang sedang kehilangan seluruh harga dirinya itu.


“Pergilah Susan. Kebersamaan kita mungkin harus berakhir mulai hari ini.”


Susan membulatkan mata dan mengerutkan dahinya.


“Ada apa Marcon?”


“Aku akan mengirim gajimu yang terakhir. Mungkin setelah ini aku tidak akan mampu membayarmu sebagai penasehat hukumku lagi.”



Susan terdiam beberapa saat, lalu menghela nafas panjang.


“Serendah itukah kau memandangku?”


Perlahan kepala pemuda gagah itu terangkat. Manik matanya menatap lurus ke depan. Lalu tertunduk kembali.


“Maafkan aku,” ujarnya. “Aku hanya tidak ingin melihatmu menderita.”


Susan tersenyum lembut.


“Siapa yang menderita? Apa kau lihat hidupku menderita? Tatap aku Marcon.”



Kepala itu terangkat kembali. Kali ini pandangannya lurus menatap wajah Susan See. Gadis yang selalu ada di dalam hatinya. Satu-satunya perempuan yang sangat dicintainya dalam hidupnya. Tidak ada perempuan lain di hati Marcon, kecuali Susan. Hanya saja Susan tidak pernah menanggapinya karena tidak ingin merusak hubungan profesional antara lawyer dengan clientnya.



“Katakan Marcon, apa kau sudah tidak membutuhkanku lagi?”


Marcon tidak tahu harus menjawab apa. Jelas dia masih membutuhkan kehadiaran gadis itu di sisinya, kalau bisa untuk selamanya.


“Katakan Marcon, apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?”


Marcon masih terdiam. Tapi kedua matanya terlihat berembun. Dan Susan melihatnya. Menangkap getar cinta yang begitu dalam di mata pemuda itu.



“Katakanlah kalau kau masih mencintaiku.”


Tapi Marcon menggelengkan kepalanya dengan berat.


“Aku tidak sanggup. Aku tahu aku tidak layak mendapatkanmu.”

__ADS_1


Susan mendekatkan wajahnya di depan wajah Marcon. Kedua mata mereka saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat. Susan bahkan bisa merasakan desah nafas pemuda itu yang memburu.


“Apa alasannya?”


“Aku akan jatuh miskin. Aku tidak punya apa-apa lagi.”


“Apa kau pikir orang miskin tidak memiliki harga diri? Apa kau pikir orang miskin tidak berhak mendapatkan kebahagiaan cinta?”



Wajah Marcon seperti berubah. Dia tidak memahami kata-kata Susan. Mengapa Susan mendesaknya untuk menyatakan cintanya?


“A..Aku selalu mencintaimu Susan, tapi…”


Susan buru-buru meletakkan jari telunjuknya di bibir Marcon agar tidak meneruskan kata-katanya.


“Cukup Marcon. Tidak perlu diteruskan,” ucapnya. “Aku juga mencintaimu.”



Wajah Marcon terkesiap kaget. Seandainya ada petir di siang bolong pun, belum tentu dia sekaget ini. Susan membalas cintanya? Apa dia tidak salah dengar.


“A..apa maksudmu Susan? Kau juga mencintaiku?”


Susan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Digenggamnya jari jemari lelaki gagah itu.


“Ya, Aku mencintaimu Marcon, dengan segenap hatiku. Apa kata-kataku kurang jelas?”



Mata Marcon langsung membulat sempurna. Mulutnya terbuka tanpa kata-kata. Ingin rasanya berteriak sekerasnya, tapi tenggorokannya seperti tercekat. Rasanya dia tidak percaya dengan kata-kata yang didengarnya. Jantungnya berdegup kencang dan dadanya seperti mau meledak. Ternyata Susan menyimpan perasaan yang sama denganku?



Tubuh Marcon membeku. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan dia juga tidak tahu perasaannya sendiri pada saat seperti ini.


“Kenapa kau diam Marcon?”


“Bo..bolehkah aku memelukmu?”


“Ya.”



Marcon meraih tubuh ramping itu dengan kedua tangannya, lalu dipeluknya erat sekali. Susan diam membeku. Merasakan getaran-getaran rindu yang begitu membuncah. Merasakan desah nafas Marcon yang menghembus pipinya Merasakan cinta yang tersumbat di seluruh jaringan darah dan urat-urat syarafnya. Merasakan kehadiran kekasih hatinya untuk pertama kalinya. Merasakan pernyataan cinta yang akhirnya terucapkan dari bibirnya.



“Apa kau bahagia Marcon?” tanya Susan.


Marcon menganggukkan kepalanya. Diciumnya rambut Susan dengan lembut.


“Lebih dari apa yang kau tahu tentang arti bahagia itu sayang,” sahut Marcon.


Susan tersenyum. Marcon memang romantis, hanya emosinya saja yang kadang tak terkendali. Lalu Marcon melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah cantik itu dengan penuh bahagia.


__ADS_1


“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, sayang?” ucapnya.


“Apa maksudmu?”


“Kenapa kau baru mengatakannya di saat aku sedang terpuruk?”


Susan menggelengkan kepalanya.


“Mungkin karena aku takut tidak bisa membedakan antara mencintai dan mengagumi. Kau tampan, cerdas, berkuasa dan memiliki segalanya. Kau adalah pemilik perusahaan media terbesar di Amerika Selatan. Banyak gadis yang ingin memiliki cintamu, termasuk aku,” sahut Susan. Wajahnya memerah kembali.



“Itulah sebabnya kau selalu menolakku?”


Susan menganggukkan kepalanya.


“Justru saat melihatmu terpuruk, aku baru benar-benar yakin kalau aku mencintaimu.”


Marcon menatap Susan dengan wajah takjub. Lalu tubuh gadis cantik itu dipeluknya kembali dengan erat, seolah tidak akan dilepaskan selamanya. Kali ini dia tida bisa menahan air matanya. Ah, hatinya begitu bahagia. Diantara kepalsuan yang selalu mengelilinginya, akhirnya dia menemukan cinta sejatinya.



“Bangkitlah Marcon. Tunjukkan padaku kalau adalah Marconku yang dulu,” bisik Susan.


Marcon mengusap kedua matanya yang berair. Lalu menganggukkan kepalanya.


“Tentu sayang. Aku akan bangkit berdiri untuk melawan Subrata. Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan kepadaku.”



Tapi Susan menggelengkan kepalanya.


“Jangan kau turuti amarahmu Marcon. Kau akan kehilangan segalanya, bahkan kehilangan aku.”


“Apa?” Marcon terkesiap. “Apa aku harus menyerah begitu saja? Membiarkan Subrata mengambil semua milikku sampai habis tak bersisa?”


“Saat ini mudah saja bagi Subrata mengambil semuanya bila dia mau. Tidak ada yang bisa melawannya. Kita harus memiliki strategi baru.”



Marcon membelalakkan matanya, dahinya tampak berkerut. Kata-kata Susan benar-benar di luar daya nalarnya. Strategi baru untuk menghadapi Subrata? Perlahan bibir Marcon tersenyum. Strategi baru berarti langkah baru, kenapa tidak? Ah, rasanya sudah saatnya dia lebih banyak mendengarkan kata-kata Susan.



“Katakan Susan, apa rencanamu?”


“Kau harus menemui Subrata dan minta maaf kepadanya.”


Lagi-lagi Marcon terkejut. Strategi macam apa itu? Menemui Subrata dan meminta maaf kepadanya? Tidak! Jelas itu hanya akan membuat Subrata menjadi besar kepala dan mentertawakannya.



“Kalau kau ingin menang, kau harus mendekatinya. Mempelajari strateginya, menyadap pengetahuannya, mengenali kelemahannya. Dari situ kau akan tahu bagaimana cara mengalahkannya,” sambung Susan lagi.



Tiba-tiba gadis itu menggenggam tangannya erat-erat, seolah sedang memberinya semangat baru.

__ADS_1


“Hilangkan egomu, buang jauh-jauh amarahmu, cintaku. Aku akan menemanimu.”


__ADS_2