DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 123 APA YANG TERJADI, REN?


__ADS_3

EPS 123 APA YANG TERJADI, REN?


Drrt..Drrt…!


Min Ho membuka ponselnya, dilihatnya wajah Seong Jun di layarnya. Dia lalu berhenti di sudut jalan yang sepi agar suara Seong lebih jelas terdengar.


“Ada apa Seong Jun?”


“Sutradara dan Produser mengatakan kalau proses editing film pertama Ryung Nae bersamamu sudah selesai. Paling lama tiga minggu lagi, kalian bisa berkeliling Asia Tenggara untuk mempromosikan film ini.”


Bibir Min Ho tersenyum lebar dan wajahnya terlihat bersemangat.


“Eh, apa dokter sudah memberitahumu apa yang terjadi dengan Ren?” tanya Seong Jun, manajer NJ Entertainment kepada Min Ho.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya.


“Ya. Dugaan sementara dia terkena asam lambung. Mungkin karena pola makannya yang tidak teratur. Beberapa hari ini, dia sama sekali tak menyentuh makanan yang aku sediakan.”


“Dugaan sementara? Maksudmu dokter masih melakukan diagnosa lebih jauh?” tanya Seong lagi.


Min Ho menganggukkan kepalanya.


“Dokter sudah mengambil sampel darahnya. Dibutuhkan waktu paling tidak satu minggu untuk mengetahui hasil tesnya di laboratorium.”


Seong Jun terdiam. Rasanya aneh, dugaan sementara asam lambung? Selama ini Ren tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia terkena asam lambung. Dia tidak pernah mengeluh mual atau muntah, atau sakit di bagian ulu hatinya. Hal-hal yang biasanya dijumpai pada penderita asam lambung.


“Kau yakin keadaannya baik-baik saja?”


“Aku meninggalkannya di rumah sakit tadi dalam keadaan masih belum sadar.”



Seong Jun menatap wajah Min Ho dalam-dalam. Ada keraguan yang begitu besar meggelayuti hatinya. Dia tahu tiga minggu lagi Ren, Min Ho, bersama beberapa krew dan bintang pendukung akan pergi tour promosi film ke Asia Tenggara. Dan dia tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkannya pada diri Ren, bintang debutan yang dia yakini akan bersinar terang.



“Aku harus memastikan dia baik-baik saja,” batinnya.

__ADS_1


“Baiklah Min Ho, kau boleh meneruskan perjalananmu ke rumah sakit. Terus awasi Ren dan tolong beritahu setiap saat tentang keadaannya,” pinta Seong Jun dengan penuh harap.


Min Ho menganggukkan kepalanya. Lalu menutup ponselnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Ren dirawat. Rasanya sudah tidak sabar mengetahui keadaan gadis yang dicintainya itu saat ini. Apakah Ren sudah sadar dari pingsannya apa belum ya? batinnya. Lalu dia terkejut saat mendengar suara tawa yang cukup keras dari kamar yang sedang ditujunya. Terdengar mirip dengan suara Ren? batinnya lagi.


Suara tertawa kedua sahabat karib Ren and Song terdengar kemana-mana. Min Ho yang masih berjalan di tengah lorong rumah sakit mempercepat langkahnya. Sepertinya dia mengenali suara Ren yang sedang tertawa bersama sahabatnya. Rupanya Ren sudah siuman. Hati Min Ho menjadi lega mendengar suara tawa gadis itu. Suaranya begitu renyah, pertanda hatinya sedang bahagia. Apa Ren sudah tahu berita yang ku bawa?


Zrrgh..!


Min Ho menggeser pintu ruang perawatan. Song dan Ren langsung menghentikan tawanya. Menoleh ke arah pintu dan tersenyum lagi begitu melihat wajah tampan itu muncul dari balik pintu. Song segera bangkit dan menghampiri Min Ho.


“Hai. Min Ho! Kau sudah kembali?” tanya Song.


Tapi pemuda itu seperti tak melihatnya. Dia malah berjalan menghampiri Ren, lalu memberikan sekuntum mawar merah untuknya. Ren jadi tak enak hati. Walaupun Song tetap tersenyum, tapi Ren jelas melihat rasa kecewa di wajah sahabatnya itu.


“Berikan mawar itu pada Song, biar dimasukkan ke dalam vas,” kata Ren.


Min Ho terdiam, tampak ragu.


“Min Ho, kau tahu kan aku belum boleh banyak bergerak?”


“Baiklah. Biar aku yang akan menatanya sendiri,” ujarnya.


Lalu pemuda tampan itu mengambil vas bunga di atas meja. Terlihat sekuntum mawar kuning yang sudah layu. Min Ho membuang mawar kemarin itu ke tempat sampah, Lalu dia mengelap dan membersihkan vas bunga itu. Setelah bersih dan mengkilap, dimasukkannya batang mawar merah itu ke dalamnya. Lalu diisi air secukupnya. Ketika hendak menaruh kembali vas bunga itu di atas bunga, Song kembali menghampirinya.


“Biar aku bersihkan dulu mejanya Min Ho,” kata Song.


Dia mengambil kain penutup meja itu, lalu dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam boks cucian. Setelah itu mengambil taplak meja baru dan di gelar diatas meja.


“Sekarang kau bisa meletakkan vas bunga itu di atasnya Min Ho.”


Tapi Min Ho sudah duduk di depan Ren. Vas bunga yang tadi dia pegang ditaruhnya diatas almari kabinet yang ada di sudut ruangan. Dan Song sekali lagi hanya bisa menahan perasaannya. Dia tahu dia tidak memiliki hak menyalahkan Min Ho atau marah kepada pemuda itu yang tak menganggapnya sama sekali. Ingat Song, cinta itu anugerah, jadi nikmatilah. Cinta tidak datang tiap hari, jadi buat hidupmu selalu happy.


“Kau sudah sadar Ren? Apa yang kau rasakan?” tanya Min Ho.


Ren melirik Song sekilas. Terlihat sahabatnya duduk di kursi sudut di samping almari kabinet. Ada kesedihan di matatnya, walaupun Song berusaha selalu terlihat bahagia.


“Ren? Kau mendengarkan aku kan?” tanya Min Ho. “Kenapa kau malah terdiam?”

__ADS_1


Ren terkesiap. Kedua matanya kenbali menatap Min Ho.


“A..Aku? Aku baik-baik saja Min Ho,” ucapnya. “Asam lambungku sudah normal kembali. Hanya hatiku yang sedikit sakit.”


“Baguslah,” kata Min Ho tersenyum lega. “ Itu artinya kau sudah siap.”


Ren mengernyitkan keningnya.


“Siap? Untuk apa?”


Min Ho malah tersenyum penuh msteri.


“Ada apa Min Ho? Apa yang dikatakan sutradara dan produser kepadamu?”


“Proses editing film kita sudah selesai. Dua bulan lagi film kita mulai tayang.”


Min Ho tersenyum lebar. Berharap itu adalah sebuah kejutan bagi Ren. Lalu gadis itu akan memeluknya sambil tertawa gembira. Tapi itu semua tidak terjadi. Wajah Ren terlihat basa-biasa saja. Min Ho jadi berhenti tersenyum sambil melihat gadis itu.


“Kau tidak bahagia Ren?”


“Hah? Tentu saja aku bahagia,” jawab Ren dengan wajah datar.


“Dan mulai minggu depan kita akan tour keliling Asia Tenggara. Kau tahu apa itu artinya? Artinya kita akan pergi ke Indonesia” ujarmya panjang lebar


Kedua mata Ren langsung berbinat dan membulat sempurna. Min Ho masih menungggu gadis itu akan memeluknya. Tapi sekali lagi Ren berhasil membuatnya kecewa. Jangan memeluk, Ren bahkan bangkit dan hendak keluar dari ruangan rumah sakit tersebut, tapi Min Ho berhasil menahannya bersama Song.


***


Malam sudah sangat larut. Hawa dingin terasa menyelimuti bumi. Sebagian besar manusia sudah bergelung dengan mimpinya masing-masing. Menyembunyikan dirinya dibalik selimut tebal untuk menghangatkan tubuh. Walau tidak bisa menghalau dinginnya hati yang sedang galau.


"Ah...sakit sekali," Ren mengerang.


Tubuhnya berguling-guling di tempat tidurnya. Entah mengapa seluruh tubuhnya terasa ngilu semuanya. Apa yang terjadi denganku? batin Ren dengan wajah menyeringai menahan sakit. Tidak ada orang yang tahu kalau sesungguhnya dirinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dia merasa pernafasannya sesak, dan ulu hatinya terasa sangat sakit.



Tapi dia harus diam karena tidak ingin mengecewakan orang-orang disekitarnya yang sudah bekerja keras mewujudkan mimpinya untuk mempromosikan filmnya ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Walaupun tidak yakin, tapi Ren ingin agar apa yang dirasakannya saat ini cepat berlalu dari tubuhnya. Dan dia bisa datang mengunjungi negeri tempat kekasihnya berasal, Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2