
Haii aku balik lagi.
Selamat baca yaa🤗🤗
***
11:00 Wita di Cabang SUAM Bali
Terlihat kedua mata Ibra terus bergantian menatapi beberapa file dokumen yang ada di kedua tangannya. Seraya membandingkan apakah ada kesalahan dalam pembuatannya. Ia terus bergumam tidak jelas.
Lalu
Ada suara hak sepatu yang sedang melangkah ke arah mejanya.
"Pak Maaf mengganggu." ucap Ana salah satu staff cabang SUAM di Bali.
"Iya, An. Ada apa?" Kedua mata Ibra masih terus melihati dokumen.
"Ada yang ingin bertemu dengan Bapak. Tamu nya sudah menunggu di ruang meeting."
"Siapa?" tanyanya
Sebelum Ana menjawab, Ibra dengan cepat berucap kembali. "Ya Baik lah, saya akan kesana, makasi ya, An.." Ibra mulai membereskan beberapa dokumen yang berserakan di meja.
"Iya Pak sama-sama, saya permisi.."
Kening Ibra kembali berkerut, ia terus bertanya-tanya siapa yang ingin menemuinya. Jelas saja di Bali ia tidak punya teman atau kerabat. Di sini, ia hanya sebentar karena masih mengawasi jalannya pembangunan cabang.
Ibra pun melangkah menuju ruang meeting. Tidak sabar mencari tahu siapakah yang sedang menunggunya.
Kemudian
Seketika kedua matanya membulat lalu melebar lurus menatapi lelaki yang kini tengah duduk dengan lagak penguasa.
"Anda??" Ibra kaget ketika melihat mantan suami Fatih sudah ada dihadapannya. "Bagaimana bisa anda ada disini?"
"Anda harus sopan dengan saya. Walau saya tahu anda lebih tua dari pada saya! Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda!"
"Jelaskan bagaimana bisa anda ada disini? Lalu apa yang anda ingin bicarakan? Saya merasa tidak punya kepentingan apa-apa dengan anda." tukas Ibra.
"Ada! Sangat penting. Tapi sebelum saya menceritakan maksud dan tujuan kedatangan saya. Saya akan menjelaskan kepada anda, mengapa saya bisa ada disini!"
"...Saya adalah pemegang saham terbesar di SUAM. Siapa saja bisa saya hempaskan, termasuk anda!"
Ada rasa kaget menerpa di hati Ibra.
__ADS_1
"Anda datang kemari hanya untuk berbangga diri dan mengancam saya?" Ibra mengubah nada suaranya menjadi sedikit meninggi.
"Posisi anda akan aman, jika anda mau mengikuti kemauan saya! Silahkan duduk.." Fahmi menegakkan posisi tubuhnya, ia mempersilahkan Ibra untuk duduk.
"To the poiny saja, apa keinginan anda?" Ibra mulai geram. Ia tidak mau duduk.
Kedua mata mereka saling menatap. Ibra terus menunggu apa yang ingin dikatakan oleh lelaki yang tidak tahu malu itu.
"Tinggalkan Fatih! Ceraikan dia! Anda tidak pantas bersanding dengan istri saya--"
"Lebih tepatnya sudah menjadi MANTAN ISTRI ANDA!" selak Ibra dengan tekanan nada tinggi.
Fahmi menghentakkan kepalan tangannya di meja. Ia pun bangkit dan berdiri. Ibra dan Fahmi saling bertatap dalam ketidaksukaan. Terus mengumpat dalam memperebutkan satu orang wanita.
"Jelas-jelas, saya dan Fatih sudah menikah secara SAH! Lalu apa yang ingin Anda lakukan? Fatih sudah menutup masa lalu nya! Kehadiran anda hanya sebagai penyakit untuk istri saya!"
"Tutup mulut anda!"
Seketika Ibra menepis tangan Fahmi yang akan menarik kerah kemejanya. Fahmi terusik, hatinya pedih. Tersirat bola mata api tengah memancar dari nya.
"Fatih hanya mencintai saya! Anda terlalu tua untuknya, apa yang anda bisa kasih untuk Fatih? Jika anda di tendang dari SUAM, maka anda bukanlah apa-apa!!"
Wajah Fahmi menyeringai, ia begitu menyakiti hati Ibra. Seketika Ibra memundurkan langkahnya, karena ia sedikit terguncang.
Ibra memajukan langkahnya untuk menghentak menja. "Anda salah! Saya bercinta dengannya setiap malam. Kami bahkan tidur saling memeluk!"
Ibra mencoba untuk menelan dusta nya. Bahkan semalam ia telah bersikap bodoh dan membangkitkan amarah sang istri.
Salah satu alis Fahmi naik ke atas. Wajahnya mengerang tidak suka. Seketika memerah dan menegang.
"Kalau begitu mulai malam ini tidak akan lagi! Karena setelah ini saya akan menyusul Fatih ke Jakarta!"
"Apa?" Suara nyaring terdengar dari Ibra
"Menurut anda?" Fahmi tertawa.
"Jangan macam-macam anda!"
"Saya hanya menginginkan Fatih pulang ke Jakarta, dan ia menuruti apa perintah saya!"
Seketika Ibra meraih ponselnya untuk menelpon Fatih. Lalu ia sedikit memaki dirinya, karena teringat mereka belum bertukar nomor handphone. "Sial!!"
"Bagaimana bisa dikatakan bercinta setiap malam, kalau nomor ponsel istri saja, anda tidak punya! Jangan bohongi saya! Selesaikan tugas anda sampai selamanya disini, hahahaha!!"
Fahmi berjalan menghampiri Ibra, tubuh mereka menjadi sejajajar, tatapan kebencian pun semakin bergelora.
__ADS_1
"Jalankan perintah saya! Sebelum anda menyesal!!" Fahmi menepuk bahu Ibra dan berlalu dari hadapannya.
Ibra menjadi panik. Bukan hanya cemas memikirkan ucapan Fahmi, namun ia khawatir dengan keadaan Fatih sekarang. Apa betul istrinya telah berangkat menuju Jakarta.
Ibra mengambil langkah seribu untuk kembali ke hotel. Ia begitu saja berlalu meninggalkan kantor cabang. Fikirannya kalut dan emosi, entah mengapa kata-kata Fahmi begitu menusuk jiwanya.
Tak berapa lama kemudian, dengan bantuan supir kantor. Ibra sudah kembali lagi ke hotel, bahkan ia terlihat berlari-lari setelah keluar dari lift untuk mendapati istrinya di dalam kamar.
Semoga saja Fahmi hanya menggertak dan berbohong. Kartu hotel sudah ditempel, handle pintu pun dibuka.
Trang.
Sebelum ia berucap memanggil Fatih, kedua matanya harus menatap kenyataan kalau memang istrinya sudah pergi dari sini.
Mas, maaf aku harus pulang mendadak ke Jakarta hari ini. Ada masalah dikantor. Kamu teruskan saja pekerjaanmu disini, jangan khawatir. Aku baik-baik saja.
Sepucuk tulisan rapih dari Fatih ada di selipan kaca cermin. Ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang sambil terus menggenggam sepucuk kertas itu. Ia merasa lemas tidak berdaya, menoleh ke arah sisi kasur yang kosong. Mengingat sosok Fatih yang sudah dua malam ini menemaninya untuk tidur.
"Ini pasti ulah Fahmi!"
Ibra mulai geram. Ia terus menghela nafasnya dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya tiba-tiba terasa berat. Ketakutan kembali datang menerpa. Tubuh dan tangannya seketika bergetar. Wajahnya pucat dan panik.
Ia pun bangkit untuk membuka lemari. Menurunkan koper dan membuka kantung kecil di dalamnya.
Diraihnya sebuah bungkus obat lalu di ambilnya satu untuk di minum sampai ke dasar lambung. Agar obat itu langsung bekerja menenangkan jiwa dan fikirannya.
"Ya Allah.." desahnya parau. Ia kembali bangkit untuk membawa tubuhnya berbaring di ranjang. Menatap bola lampu yang menyinari kamar ini. Mengusap-usap bantal yang semalam dipakai oleh istrinya.
"Masalah saya dengan Fatih saja belum kelar, di tambah lagi dengan masalah Fahmi.."
"Tapi, saya nggak akan gentar! Kamu istri saya, Fat! Saya akan terus memperjuangkan hak saya !"
***
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
3.Jangan Berhenti Mencintaiku
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1