
Selamat baca ya guyss❤️🖤
***
"Saya nggak ingin melihat dia lagi datang ke kantor kamu!"
Ibra menatap serius kedua bola mata Fatih. Menunggu jawaban apa yang akan keluar setelah ini dari mulut istrinya.
"Aku nggak pernah minta dia untuk datang, Mas! Tapi Mas Fahmi yang selalu berusaha untuk bertemu aku, mungkin betul apa katanya. Dia butuh proses dalam perpisahan kami.."
"Tapi kalian sudah bercerai, Fat! Dan sekarang kamu sudah menikah dengan saya, lalu apa kata orang-orang kantor, teman-teman kamu dan keluarga kita, jika mereka tahu kalian masih sering berduaan dikantor. Bisa saja kalian melakukan sesuatu hal yang berujung kekhilafan?"
Seketika raut wajah Fatih mulai menekuk. Guratan emosi memancar dari wajahnya.
"Aku nggak suka, kamu bicara kayak gitu, Mas! Tentu aku perempuan baik-baik, aku bisa menjaga kehormatanku. Aku sadar, aku sudah bersuami saat ini!"
"Bagus, berikanlah ketegasan kepadanya. Saya menunggu kabar baik setelah itu!"
"Menunggu?? Mas! Kamu memang suami aku! Tapi kamu nggak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi ku lebih jauh. Kamu lupa soal pembahasan kita tiga hari yang lalu? Kita hanya orang lain yang tidak sengaja dipertemukan dalam pernikahan ini!"
Ibra terdiam, entah mengapa rasanya begitu sakit mendengar kalimat itu terucap dari kedua bibir Fatih.
Tiga hari yang lalu ia merasa baik-baik saja ketika sudah melakukan kesepakatan itu. Namun kenapa saat ini hatinya begitu berbanding terbalik.
"Iya kamu benar. Saya terlalu terbawa suasana. Harusnya saya tidak mencampuri urusan yang tidak ada manfaatnya dalam hidup saya! Kamu adalah orang lain! Kamu bukan apa-apa untuk saya! Silahkan kamu pilih jalan hidupmu sendiri, saya tidak akan menghalang-halanginya!" ucap Ibra membohongi dirinya. Ia merasa kesal dengan perkataan Fatih barusan. Kemudian ia berlalu meninggalkan Fatih yang masih termenung kedalam kamar.
Deg.
Mendengar kalimat itu, tiba-tiba membuat hati Fatih begitu linu dan sakit. Ucapan Ibra begitu kasar dan menyakiti hatinya.
Ia menjadi teringat akan bayangan ketika ia tengah bertengkar dengan Fahmi. Seluruh caci, makian dan umpatan menembus daun telinganya. Membuat ia shock berkepanjangan sampai saat ini.
***
"Dimana ya? Perasaan kemarin aku letakan disini?"
__ADS_1
Fatih terus mencari-cari benda itu diarea meja makan. Ia susuri lantai takut-takut terjatuh, tempat sampah pun ia geledah untuk mencarinya. Namun hasilnya nihil.
Wajah Fatih seketika memerah, ia terus gusar kesana kemari mencari benda kecil itu. Ia tidak perduli dengan perawakannya yang saat ini sudah rapih untuk berangkat bekerja. Baginya ia akan mati jika tidak menemukannya.
"Kamu cari ini...?"
Fatih pun mendongakkan wajahnya ketika ia melihat Ibra tengah berdiri sambil memegang botol kecil berisikan pil-pil obat penenang kepemilikannya.
Fatih pun bangkit dari posisi jongkoknya ketika sedang menggeledah tempat sampah.
"Sini, Mas.."
Blas.
Tangan Fatih begitu saja terayun bebas ketika Ibra memundurkan tangannya, agar Fatih tidak begitu saja dengan mudah meraih apa yang sedang ia genggam.
"Mas! Tolong, berikan padaku!"
"Obat apa ini?"
"Tolong Mas! Kembalikan---!"
Fatih tetap tidak mau memberikan keterangan apapun. Ia tidak akan pernah berkata jujur kepada siapapun tentang kondisi mentalnya saat ini. Bahkan orang tuanya pun tidak tahu jika selama ini Fatih masih terus datang untuk memeriksakan dirinya ke Dokter Spesialis Jiwa.
Mereka semua tidak ada yang tahu!
"Kembalikan, Mas!" Fatih tetap merancau. Ia terus memohon agar Ibra memberikannya.
"Saya akan kembalikan, jika kamu mau menjelaskan obat apa ini?"
"Mas! Tolong, jangan campuri urusan ku!"
"Saya tidak mencampuri urusanmu! Saya hanya ingin tahu, Fatih. Kamu sakit apa?" Ibra tetap bersikeras memindah-mindah kan botol obat itu dari tangan kiri ke tangan kanan nya tepat diatas kepala Fatih.
"Itu sama aja Mas! Ayo lah tolong kembalikan, Mas! Jangan buat aku marah!" Fatih tetap berjinjit untuk meraih obat yang masih dalam genggaman tangan Ibra.
__ADS_1
"Saya suamimu, saya berhak tahu!"
Karena mereka tidak mau saling mengalah dan terus memperebutkan obat itu. Akhirnya Fatih tetap mencoba untuk meraih paksa dan Ibra tetap bersikeras untuk tidak memberikannya.
Lalu
Brarrrrrrr
Terlihat semua pil-pil obat begitu saja tergeletak berhamburan diatas lantai. Masih terdengar nyaring begitu pekat diantara mereka. Ibra tidak sengaja menjatuhkannya ke bawah.
Kedua bola mata Fatih melebar, ia terperanjat ketika melihat semua obat-obat itu luluh lantah terjerembab. Ia pun berjongkok untuk meraihnya kembali. Obat-obatan itu sudah tersebar ke berbagai arah, tercampur debu dan kuman yang ada dilantai. Fatih hanya bisa memejamkan matanya dan mendesah frustasi.
Ia kembali menatap Ibra, yang masih melihatinya kebawah. Kedua matanya melotot tajam.
Fatih murka!
Ibra pun sama, kedua mulutnya begitu saja tercekat. Ia panik dan merasa sangat bodoh. Tentu jika sedari tadi ia mengalah untuk berhenti dari rasa keingintahuannya, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.
"Fat---" suara pelan penuh penyesalan.
Dengan cepat Fatih bangkit untuk berdiri lalu berteriak histeris. Tampa ampun ia mendorong Ibra dengan kasar untuk mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jahat kamu, Mas!" Fatih menghentak-hentakan kakinya, ia terus memukul-mukul Ibra dengan kekuatannya yang mulai memudar.
"Kenapa kamu jahat sama aku? Padahal aku selalu berusaha baik sama kamu!"
Fatih terus meronta-ronta. Namun terlihat dirinya mendadak lemas.
Lalu
Tak beberapa lama, kedua tangan Ibra dengan cepat menyangga tubuh Fatih yang akan terjatuh.
Kedua matanya terpejam. Ia pingsan begitu saja di dekapan sang suami. Ibra pun dengan sigap meletakan kedua tangannya di ceruk leher dan dibawa paha Fatih, dibawanya tubuh itu yang sudah tidak sadarkan diri untuk kembali kedalam kamar.
***
__ADS_1
Like dan komen ya guys🖤❤️