
"Harusnya Papa tetap bersikap baik kepada saya sekarang."
Papa Faris mulai menegap kan tubuhnya, walau telapak tangan kanannya masih memegangi dada bagian kiri. Lelaki paru baya itu menyerengit bingung, ia tidak mengerti mengapa Fahmi berkata seperti itu.
"Pulanglah, saya tidak mempunyai kepentingan dengan kamu lagi, Fahmi! Untuk masalah saham yang sudah kamu tarik, saya sudah tidak perduli. Ada menantu saya yang akan berjuang sekuat tenaga untuk memulihkan perusahaan kami." jawab Papa Faris dengan nada bangga.
Fahmi tertawa dengan raut nyeleneh. "Benar, Pah, Ibra bisa melakukannya?" ucap Fahmi dengan suara menantang.
"Ya saya yakin sekali. Bahkan saya menyesal mengapa baru sekarang saya menikahkan Fatih dengan Ibra. Mengapa kamu yang lebih dulu menikahi Fatih dan terus menyiksanya!" nada bicara Papa Faris semakin terdengar tidak enak. Bahkan lelaki itu malas menatap wajah Fahmi sekarang.
"Pulanglah sekarang! Saya tidak mau melihat wajah kamu lagi di sini!" Papa Faris tetap menatap lurus foto pernikahan Fatih dengan Ibra yang tergantung meninggi dinding. Tangan kanannya menjulur ke arah pintu keluar, seraya kode agar Fahmi dengan cepat melangkah kesana untuk angkat kaki dari istananya.
Fahmi semakin tersulut emosi, ia yang sedari tadi duduk kini bangkit untuk berdiri. Menatap laki-laki itu dengan delikan mata tajam yang cukup lama. Terlihat urat-urat muncul di punggung tangan Fahmi yang sedang mengepal. Napas lelaki itu memburu dengan hebat.
"Saya sudah mencoba untuk berdamai, tapi Papa selalu menyulut emosi saya! Harusnya Papa berterima kasih kepada saya sebentar lagi, dan mengiba atas kebaikan yang akan saya berikan kepada perusahaan Papa!"
Papa Faris pun menoleh, menatap legam dua netra gelap milik mantan menantunya itu.
"Apa maksud kamu!" Papa Faris membalas delikan mata tajam yang sedang diberikan oleh Fahmi kepada dirinya.
"Papa dengar ucapan saya baik-baik! Ibrahim Attar, menantu Papa itu.." Fahmi menunjuk ke arah gambar Ibra yang tengah merangkul Fatih ketika mereka selesai melakukan akad nikah.
"Dia sudah sangat berani menyerahkan setengah aset perusahaan milik kalian kepada saya!" jawab Fahmi di akhiri dengan gelak tawa yang membahana.
Jag.
Deru napas Papa Faris semakin terasa berat, ia menatap keji wajah Fahmi tanpa mengedip sama sekali.
__ADS_1
"Apa?" Papa Faris teriak histeris. Jika saja ada Mama Tari di sini, wanita itu pasti sudah menutup telinganya karena terasa tersentak dalam bunyi yang begitu nyaring.
"Dua jam lalu, Ibra memberikan setengah saham Facorp kepada England dengan percuma. Saya malah sangat berterimakasih karena Ibra sudah membantu England yang sedang berada di ujung kehancuran untuk bisa kembali naik ke daratan dengan bantuan dari Facorp. Padahal tadinya saya ingin menutup England. Sekarang saya jadi setuju dengan perkataan Papa, bahwa Ibra memang benar-benar baik, hahahaha." Fahmi kembali tertawa dengan puas. Menumpahkan segala kekesalan yang sedari tadi ia tahan.
"Tadinya saya ingin mengembalikan saham itu kembali kepada Facorp, tapi melihat Papa angkuh seperti ini, membuat saya memilih untuk membuat kalian masuk kedalam lubang kebangkrutan!" kelakar Fahmi dengan ancaman.
"Apa kamu bilang?" suara lain yang begitu saja masuk ke dalam sela-sela percakapan mereka terdengar nyaring dan menguasai udara. Fahmi dan Papa Faris menoleh, ada Fatih yang baru saja datang berada di ambang pintu. Seketika itu pula bungkusan yang tengah ia bawa di genggaman tangannya begitu saja jatuh dan mengampar di atas lantai. Fatih menutup mulutnya tidak percaya. Ibu hamil itu tertohok hebat, sama seperti Papa Faris yang masih saja tercengang tidak percaya. Kembali meremas dadanya dan sakit itu kembali datang lebih kuat dua kali lipat dibandingkan tadi.
"Sayang, Fatihku." desah Fahmi dengan wajah berbinar. Ia tidak akan menyangka melihat Fatih dihadapannya sekarang. Ia pun melangkah dengan blingsatan untuk meraih tubuh Fatih yang sebentar lagi akan terhuyung karena lemas.
"Fatih." Fahmi berhasil merengkuh tubuh mantan istri yang masih ia cintai sepenuh jiwa.
"Lepaskan anakku, brengsekk!" Papa Faris yang baru saja tersadar dari lamunannya, begitu saja menghardik Fahmi.
"Apa benar yang kamu katakan, Mas?" tanya Fatih dengan napas yang sudah berantakan. Kaca-kaca di bola matanya sudah mengembang sempurna di sana.
"Aku tau suamiku! Mas Ibra tidak akan pernah membohongiku seperti ini! Dia mencintai aku dan keluargaku!" Fatih memaki Fahmi. Papa Faris berjalan tertatah untuk mendekati putrinya.
"Pergi kamu Fahmi! Tidak cukup kah dulu, kamu menyakiti hati anak saya? Menyiksa mental dan batinnya?" Papa Faris ikut memaku Fahmi. Ia merangkul putrinya yang sudah menangis.
"Biarkan aku hidup dengan tenang, Mas. Lupakan aku! Lihat sekarang, bahkan aku sedang mengandung anak Mas Ibra!"
"Aku ingin kamu tetap kembali. Aku tidak masalah dengan anak itu, dengan segenap jiwa aku akan menyayanginya, Fat!" jawab Fahmi dengan segala kejujurannya.
"Dasar tidak tau malu!" Papa Faris mendaratkan telapak tangannya di permukaan pipi Fahmi. Begitu kencang dan kuat, menyebabkan Fahmi terhuyung sedikit untuk terjerembab jatuh ke atas lantai.
Papa Faris melayangkan satu jarinya untuk menunjuk ke arah Fahmi. "Kamu sengaja melakukan ini untuk memisahkan anak saya dari suaminya kan? Dengar Fahmi, sampai mati pun saya tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk merenggut kebahagiaan putri saya! Ayo cepat pergi, sebelum saya meminta polisi untuk menangkap kamu!"
__ADS_1
Fahmi tertawa kembali. Ia pun bangkit dan menatap dua orang yang kini sedang berada dihadapannya.
"Yang harusnya Papa laporkan polisi itu Ibra! Lihat ini---" Fahmi membuka layar ponselnya dan menunjukan foto Ibra tengah berada di England untuk menyerahkan beberapa saham dari Facorp.
"Lihat baik-baik, kalau perlu perjelas lah wajah lelaki yang tengah kalian bangga-banggakan sekarang!"
Fatih dan Papa Faris kembali tercengang. Kedua mata mereka melotot drastis. Tidak akan menyangka jika apa yang tengah dibicarakan, oleh Fahmi adalah sebuah kebenaran. Fahmi sekilas tertawa, melihat guratan kehancuran mulai melekat diantara wajah Papa dan Anak itu.
"Mas Ibra membohongi kita, Pah?" desah Fatih tidak percaya, air matanya semakin pecah.
"Ya Allah Ibra ... Kamu betul-betul keterlaluan!" rintih Papa Faris, sebelum akhirnya lelaki itu terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Papa bangun! Papa!!"
****
Suasana genting pun saat ini sedang terjadi dirumah Ibu Hanum. Wanita paru baya itu masih saja terduduk di sofa sambil menangis. Mama Tari pergi dari rumahnya dengan rasa terluka amat dalam. Ibu Hanum tidak akan menyangka kejujuran yang begitu saja ia ucapkan kepada sahabatnya, malah menuai makian serta kutukan tanpa ampun dari Mama Tari. Ibu Hanum berfikir, besannya itu akan mau menerima kesalahan Niken yang tak lain adalah cucunya sendiri.
"Sungguh keterlaluan kamu, Hanum! Kamu membiarkan Fatih untuk ikut membohongi saya! Kamu racuni apa otak anak saya, sehingga begitu saja menerima kebiadaban cucu kamu untuk hidup berdampingan dengan Fatih? Kamu tau, Fatih sangat membenci Niken, tidak akan semudah itu ia memberi ampun kepada wanita yang pernah merebut Papanya dan membuat hidup kami menderita! Saya akan segera mengurus perceraian antara Fatih dan Ibrahim!"
Kata-kata umpatan itu terus saja terngiang-ngiang di benak Ibu Hanum. Ia terus menangis di dalam dekapan Kak Intan.
"Bagaimana dengan nasib adikmu sekarang, Ntan? Sebentar lagi ia akan punya anak, tapi dipaksa untuk bercerai. Adikmu pasti akan trauma lagi seperti dulu!"
Kak Intan yang ikut menangis hanya bisa diam dan termenung. Ia tidak bisa berfikir sekarang.
****
__ADS_1
Gimana guys? Aku jahat ya udah buat Ibra sengsara lagi? 🔥🔥