
Hati Fahmi kembali tersentak dengan ucapan mantan istrinya itu. Ia memiringkan bibirnya karena merasa tidak suka dengan pembelaan yang terlontar dari bibir Fatih.
Walau tidak dipungkiri wajah Fatih seketika memerah karena menahan kesal. Sejurus ia menatap Ibra yang masih berbincang dengan Kasih. Sedikit senyuman yang mengalir diantara mereka pun begitu saja membuat dada Fatih menyesak.
"Sebelumnya mereka pasti ada hubungan, tidak mungkin kan baru berkenalan langsung akrab?" si iblis Fahmi terus saja mendoktrin Fatih. Lagi-lagi Fatih mendelik tajam ke arah Fahmi.
"Tutup mulut kamu!" suara itu membuat Fahmi terkesiap dan mengangguk dengan wajah mencibir.
"Lihat saja nanti, kita buktikan sebaik apa suamimu yang sudah tua itu!" sambung Fahmi kembali.
"Diam, kataku!" suara Fatih terdengar keras sambil menghentakkan kepalan tangannya dimeja. Membuat beberapa orang yang sedang menatap kedepan menjadi hingar bingar melihat mereka. Ibra dan Kasih pun ikut menoleh ke arah Fatih dan Fahmi.
"Fat..." bisik Fahmi pelan, memberi kode bahwa mereka sedang menjadi tontonan publik.
"Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya Mc yang akan memulai jalannya acara.
Fatih menoleh dan menggelengkan kepalanya. Ia kembali mengubah pandangannya untuk menatap wajah suaminya lalu bergantian kepada Kasih.
"Kenapa wanita itu? Mengapa melihatku dengan tatapan seperti itu?" batin Kasih menggema ketika dua bola matanya bersinggungan dengan dua netra gelap milik Fatih.
"Kamu harus memberikan penjelasan kepadaku, setelah ini, Mas!" ucap Fatih dalam hatinya, ia sedikit menekan napasnya yang mulai berat karena pergerakan Fara yang sedari tadi tidak mau diam didalam perut Bundanya.
Fatih mencoba untuk memperbaiki ritme nafasnya lalu mengusap-usap perut buncitnya yang teralingi oleh meja dihadapannya. Ibra pun menangkap basah perangai Fatih sekarang, ia terlihat khawatir.
"Dipersilahkan kepada Ibu Fatih Medina untuk kedepan podium!" Mc meminta Fatih untuk memberi kata sambutan sebagai pemegang saham tertinggi di kantor ini. Wanita itu pun mengangguk dan melangkah menuju podium. Semua direktur yang hadir terus saja memandang kecantikannya. Walau ia beberapa kali berpidato sambil mengelus-elus perutnya. Kata sambutan yang ucapkan begitu bagus, energic dan berbobot. Membuat Fahmi terus saja menatapnya dalam kerinduan.
"Kenapa setelah kita bercerai, ku terlihat sangat cantik sayang, bahkan ketika tubuhnya sudah semakin berisi! Seharunya saat ini kamu mengandung anak kita, bukan anak dari lelaki tua itu!" Fahmi menoleh menatap Ibra yang masih tersenyum mendengarkan istrinya berpidato.
Ibra pun tidak lupa mengabadikan momen ini, ia meraih ponsel dari kantong celananya lalu mengusap icon kamera untuk mengambil foto istrinya beberapa kali. Membuat Kasih memicingkan matanya ketika melihat Ibra mengambil gambar Fatih berkali-kali. Sesudah gambar itu didapat, Ibra akan menatap kembali foto yang baru saja ia tangkap. Kadang di perbesar untuk menatap jelas wajah Fatih yang sedang memegang mikrofon.
"Tumben banget padahal Mas Ibra enggak pernah se-genit ini sama perempuan!" batin Kasih tidak suka. Ia tidak akan menyangka jika wanita cantik yang tengah hamil besar itu sekaligus Direktur dan pemegang saham tertinggi adalah Istrinya Ibrahim.
__ADS_1
****
Acara rapat tahunan pemegang saham pun berjalan lancar dan sudah selesai dua puluh menit yang lalu. Kini para Direktur tengah menikmati makanan yang sudah disuguhkan oleh PT. Anugerah.
Kasih masih saja menatap Ibra dari kejauhan sambil menyesap air teh di gelasnya. Lelaki itu terlihat sedang sibuk berbincang-bincang dengan para direktur yang ia kenal. Begitupun Fatih tetap ada disamping Ibra ikut nimbrung dengan para rekanan.
"Kenapa setiap Mas Ibra ada, wanita itu pasti ada. Apakah mereka ada hubungan?" Kasih menerka-nerka.
"Wanita itu terlihat masih muda dan sedang mengandung, apa mungkin Mas Ibra bermain hati dengan istri orang?" ia kembali curiga. Kedua rahangnya mengeras, tatapan matanya lurus, menatap dengan emosi.
Dan wajah Kasih kembali melotot ketika Fatih bergeliat manja di lengan Ibra, dan lelaki itu pun merangkulnya untuk keluar dari ruang rapat.
Bukan hanya wajah Kasih yang memanas, Fahmi yang baru tiba dibelakangnya pun merasakan hal yang sama.
****
"Kenapa kamu diam? Sedang memikirkan sesuatu?" suara itu membangunkan lamunan Kasih yang masih duduk terdiam dikursi nya. Ia pun menoleh menatap Fahmi yang masih fokus menyetir.
"Kamu kenal dengan Ibrahim?"
Fahmi sekilas melirik Kasih yang kembali menoleh ke arahnya. "Maksud Bapak, lelaki yang tadi duduk disebelah saya?"
"Iya."
"Bapak mengenalnya?" Kasih malah balik bertanya.
"Yang tanya duluan kan saya, kenapa kamu balik bertanya?" decak Fahmi.
Kasih menundukkan kepalanya. "Oh iya, Pak, maaf kan atas kelancangan saya."
Fahmi memiringkan sudut bibirnya. "Sejauh mana kamu mengenalnya?"
__ADS_1
"Dia hanya mantan suami dari sepupu saya, Pak."
"Oh..." Fahmi membentuk bibirnya menjadi huruf o dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi apa kamu tau dia sudah menikah lagi?"
"Baru tau, Pak. Karena kami baru bertemu lagi dan baru tadi juga Mas Ibra menceritakan kalau ia sudah menikah."
"Jadi kamu sudah tau siapa istrinya?"
Kerutan aneh berlipat-lipat di kening Kasih. Pertanyaan terbesarnya adalah apa yang pernah terjadi antara Fahmi dengan Ibra.
"Sepertinya Pak Fahmi sangat tertarik dengan Mas Ibra, apakah sebelumnya mereka sudah saling mengenal?" terkaan batin itu terus saja merancau di benaknya.
"Saya tidak tau, Pak." jawab Kasih singkat.
Fahmi tertawa sarkas. "Kamu ingat wanita cantik yang tadi berpidato untuk memberi kata sambutan?"
Netra gelap Kasih membulat sempurna. Ia menoleh ke arah Fahmi dan memberi anggukan kepala. "Iya, Pak, saya ingat. Beliau adalah Ny. Fatih Medina, direktur perusahaan yang mempunyai saham tertinggi di perusahaan Anugerah."
"Dia adalah mantan istri saya! Dan Ibrahim sudah merebutnya dari tangan saya!"
"Hah? Apa?" suara Kasih terdengar begitu nyaring terlepas begitu saja tanpa saringan. Wajahnya melongo, tidak percaya.
"Jadi wanita itu istrinya?" desahnya dengan telapak tangan menekan dada yang terasa begitu tertekan.
"Iya! Dan saya akan merebut Fatih kembali. Bagaimanapun caranya, ia harus kembali menjadi istri saya! Akan saya hancurkan Ibra!"
Kasih mendelikan matanya dengan tajam ke arah Fahmi. Mendengar lelaki yang dicintai akan disakiti, membuat Kasih tidak suka. Ia benci perkataan Fahmi. Namun, hatinya kembali bergejolak.
"Apa betul, Mas Ibra telah merebut istri orang? Apa karena wanita itu kaya, cantik dan muda, Mas Ibra rela melakukan hal se-keji itu? Memisahkan istri dari suaminya? Aku tidak menyangka dengan perubahan kamu, Mas!"
__ADS_1