Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Malam Pernikahan


__ADS_3

Saya terima nikah dan kawin nya Fatih Medina binti Faris Hakim dengan 5 krat Berlian dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.


"SAH!!" semua berseru seusai kalimat ijab qabul di ucapkan oleh Ibrahim Attar dengan suara lantang dan tegas.


Hembusan napas kelegaan terdengar dari semua orang. Terutama Ibu Hanum yang menangkup kan wajahnya dengan kedua telapak tangan seraya bersyukur kepada Allah SWT.


"Alhamdulillah Ya Allah ..." ucap Ibra lalu menoleh untuk menatap istrinya. Mereka pun saling bertatap dalam kemesraan. Cinta telah datang untuk membawa mereka kembali pulang dalam rajut kebersamaan.


Cincin Berlian disematkan di jari manis Fatih, sedikit kelonggaran dan Kasih kikuk karena itu.


"Kenapa bisa longgar?" bisik Tomi kepada istrinya.


"Ya gimana dong, Mas. Namanya juga kan dadakan, Mas Ibra nya sih nggak sabaran." jawab Kasih sedikit merasa bersalah.


Tomi mencolek dagu Kasih. "Udah enggak apa-apa, mereka juga pasti maklum." Kasih pun tersenyum ketika Tomi melingkarkan tangan di pinggangnya. Akhirnya Kasih bisa mencintai Tomi tanpa terbayang-bayang oleh sosok Ibra lagi.


Terlihat Fatih mencium tangan Ibra dengan syahdu. Tangan yang sudah lama tidak menyentuhnya dalam belaian kasih dan sayang selama empa tahun, dan sekarang, Fatih bisa merasakan kehangatan kembali dari tangan halus tersebut.


Kecupan hangat pun mendarat di kening Fatih dari bibir Ibra. Ada doa yang tercurah di sana. Mendoakan kesembuhan dan keselamatan istrinya. Air mata Ibra pun jatuh menetes, membasahi wajah Fatih, lelaki itu masih merasa bahwa ini semua adalah mimpi. Mimpi bisa merengkuh wanita itu lagi.


"Makasih Bunda sudah mau menerima Ayah kembali." Ibra meraih tangan Fatih untuk dicium.


"Bunda yang harusnya berterima kasih, karena Ayah masih mau menunggu Bunda selama ini ..."


Mereka pun saling menatap dalam senyuman. Bertukar kilatan sinar dari pantulan cahaya mata masing-masing. Hati mereka kembali genap, jiwa tidak kosong dan langkah tidak lagi pincang. Mereka akan terus saling menggenggam sampai ajal menjemput.


"Hem ..." terdengar deheman dari para keluarga yang merasa seperti obat nyamuk diantara mereka. Membuat Ibra dan Fatih seketika malu karena sikap bahagia mereka yang sulit untuk dikendalikan.


Semua keluarga saling memberikan pelukan, ciuman dan doa-doa bahagia untuk kelangsungan pernikahan mereka. Serta Fara memilih kembali untuk mendekap erat sang Ayah.


Tomi mengambil foto keluarga mereka dengan kamera mahalnya. Mengarahkan gaya mereka sebisanya. Foto pernikahan yang akan ia upload ke media. Bermaksud ingin menjelaskan kepada para wanita pengagum Ibra, agar tidak lagi mendekat.


"Ibu ..." Fatih memeluk Ibu Hanum yang masih setia berbaring. Wanita itu belum bisa duduk layaknya orang normal. Ibu Hanum menangis kembali karena merasa haru.


Wanita tua itu tak kunjung usai menciumi Fatih lalu bergantian kepada anak bungsunya. "Ingat, Nak. Jangan lagi kamu kecewakan istrimu."


"Ibra janji, Bu ... demi Ibu dan Bapak." jawab Ibra dengan sungguh-sungguh.


"Fatih juga ya, harus bisa menerima Ibra apa adanya." tukas Ibu Hanum kepada Fatih.

__ADS_1


"Insya Allah, Bu. Fatih akan belajar dari pengalaman kami dulu."


Mereka pun bersamaan memeluk Ibu Hanum dan memberikan ciuman hangat kepada wanita itu. Orang tua mana yang tidak akan bahagia melihat sang Anak kembali senang dalam menata hidupnya.


"Alhamdulillah Ya Allah, sungguh baiknya engkau telah mengabulkan doa-doaku selama ini untuk Ibrahim. Engkau berikan kesempatan lagi untuk Anakku berbahagia." bisik Ibu Hanum dengan suar merintih.


Ibra dan Fatih begitu pilu mendengarnya, akhirnya mereka pun menangis kembali karena merasa terharu, lebih utama Ibra yang tergelak kencang dalam isakkan tangisnya.


*****


Lagi dan lagi Fatih melepas perpagutan bibir mereka, dan Ibra akan kembali melummat bibir ranum Fatih tanpa jeda.


"Mas ..." seru Fatih ketika ciuman mereka kembali terlepas.


"Kenapa Fat?" tanya Ibra dengan desahan napas yang sudah membuat permukaan kulit tubuhnya meremang.


Tanpa menunggu Fatih menjawab, Ibra yang terlihat seperti orang sedang haus kembali menyesap rasa gurih di leher Fatih. Menyusuri bagian jenjang itu dengan putaran lidahnya. Membuat Fatih seketika melenguh tanpa mengedip. Jari-jari Ibra sudah melalang buana untuk menyusuri lekukan tubuh istrinya.


"Mas ..." Fatih kembali mengulangi untuk menyudahi sentuhan cinta yang diberikan oleh Ibra.


"Kenapa sayang?" desah Ibra. Wajah Ibra sudah terlihat sangat bergairah, tatapan penuh damba memancar dari raut muka nya.


"Udah tidur kok sayang ..." jawab Ibra sambil menurunkan resleting yang ada di bagian depan gamis Fatih. Memasukan kepalan tangannya untuk masuk kedalam, dan memerah juntaian lunak itu dengan tangannya.


"Eugh, Mas!"


Ibra tersenyum melihat Fatih sudah terpancing.


Lalu


"Permisi ... Oh maaf, Pak, Bu."


Fatih dan Ibra bergelinjang kaget. Mereka terkesiap, begitupun Perawat yang saat ini menangkap basah perbuatan mereka di atas sofa. Untunglah Ibra dan Fatih ditemukan masih dalam berpakaian utuh.


Fatih mendorong Ibra agar menjauh dari tubuhnya. Ia pun menatap Perawat dengan wajah amat malu. Fatih kembali menarik resleting bajunya untuk menutup kembali kain berlapis di dadanya.


"Silahkan Sus ..." Ibra mempersilahkan Perawat melanjutkan langkahnya untuk menghampiri ranjang Ibu Hanum. Menggantikan cairan infus yang sebentar lagi sudah mau habis. Malam ini Fatih meminta ingin menjaga Ibu Hanum sampai besok pagi, padahal Ibra sudah mengajaknya untuk pulang dulu agar bisa istirahat.


Tapi Fatih menolak dan Ibra hanya bisa menurutinya. Mengingat anak kecil tidak boleh berlama-lama di Rumah Sakit, akhirnya Fara dibawa pulang oleh kedua Tante-Tantenya. Melihat sang Ibu yang sudah pulas tertidur, membuat Ibra tidak melewatkan kesempatan begitu saja. Ia sudah tidak tahan untuk bercummbu rayu dengan sang istri.

__ADS_1


Fatih mengekor dibelakang Perawat untuk menanyakan kondisi Ibu Hanum, dan Ibra hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Karena dirinya sudah tegang, mau tidak mau, malam ini ia harus tetap mendapatkan Fatih.


"Fat, aku keluar dulu ya. Cari makanan buat kamu."


Tanpa menunggu jawaban dari Fatih, Ibra pun berlalu dari kamar perawatan sang Ibu. Ia ingin mencari angin untuk menyegarkan tubuhnya, apalagi pusat tubuhnya masih saja berdenyut.


Fatih mengerutkan kening, ketika Ibra beralasan keluar untuk membeli cemilan. Karena mereka baru saja makan satu jam yang lalu dalam porsi yang banyak. Ia tahu ini hanya alasan Ibra saja.


Satu jam kemudian, setelah Fatih menitipkan Ibu Hanum yang sedang tidur kepada Perawat jaga. Wanita itu dengan cepat melangkahkan kakinya untuk pergi ke parkiran mobil. Ada Ibra yang sedang menunggunya di sana.


Ibra bersikukuh meminta Fatih untuk turun dan menemuinya di mobil. Lelaki itu bilang, ia sedang pusing tidak tertahan. Fatih yang begitu saja percaya, terlihat khawatir dan cemas langsung mengambil langkah seribu untuk menemui suaminya.


"Kamu pusing, Mas?" tanya Fatih ketika pintu mobil baru saja ia tutup.


Belum saja meluruskan pandangan, Ibra sudah menyergap Fatih dengan tubuhnya. Membekap kedua bibir Fatih yang masih terbuka. Memegang tengkuk Fatih, agar wanita itu tidak banyak bergerak ketika Ibra mulai menginvansi rongga mulutnya. Decitan saliva pun kembali terdengar, dan kali ini lebih berisik dari pada sebelumnya dikamar sang Ibu.


Indera perasa mereka saling bergelut, Ibra dan Fatih sama-sama terlihat sangat haus. Bayangkan mereka sudah berpuasa menahan gelora hasrat selama empat tahun. Dan Ibra akan selalu memperbanyak puasa sunah agar hasratnya bisa diredam selama terpisah dengan Fatih.


Memang hawa nafsunya hanya akan terus berkobar, ketika lawannya adalah Fatih Medina Attar. Sesekali mereka melepaskan perpagutan itu hanya untuk meraup oksigen di udara. Deru napas keduanya saling memburu, bibir Fatih terlihat sudah pucat dan bengkak.


"Kamu cantik kalau lagi kayak gini." bisik Ibra tepat di daun telinga Fatih. Membuat wanita itu semakin bergeliat ingin disentuh lebih dalam.


Fatih yang sudah terpancing dengan permainan Ibra, kembali menyesap rasa manis dari kedua bibir Ibra. Membuat lelaki itu memejamkan kedua matanya kembali, untuk merasakan bagaimana kelihaian Fatih dalam bercummbu.


Pusat inti Ibra tambah berdenyut, dengan cepat ia membaringkan tubuh Fatih dengan merebahkan kursi wanita itu untuk lebih kebelakang. Menaikan kain gamis Fatih agar lebih tinggi sampai ke bagian paha. Jari-jarinya berhasil meloloskan kain renda segitiga dari pusat inti Fatih. Wanita itu sedikit melenguhh dan kembali mendekatkan bibir nya untuk mencium sang suami.


Lalu


Di saat Ibra baru saja ingin melepas gesper dari celananya.


Tok tok tok


Ada suara ketukan dari luar pintu mobil mereka. Seketika itu pula mereka kembali tersentak dan kaget. Mereka berdua kalang kabut setengah mati. Merasa telah diketahui seperti layaknya Abg yang tengah bermesraan di pepohonan yang rindang dan lebat.


Entah bagaimana Ibra setelah ini, tetap memaksa Fatih untuk melakukan malam pengantinnya di mobil atau menunggu sampai hari esok.


🤭🤭


****

__ADS_1


Pengantin baru emang suka gitu, nggak sabaran😂😂😂


__ADS_2