
Hari ini tepat satu bulan pernikahan mereka, dan Ibra semakin saja menjadi-jadi dengan ketakutannya. Apalagi jika Fatih tengah kambuh dengan sakitnya, Ibra berubah menjadi orang yang sangat overprotektif.
Lelaki sabar itu jadi tidak menentu dengan akal sehatnya. Setiap hari Fatih harus ikut ke kantor, menemaninya bekerja. Dengan begitu Ibra tidak akan ketakutan kalau harus meninggalkan Fatih sendirian dirumah.
Belum lagi, setiap tengah malam. Ibra akan membangunkan Fatih yang sedang tertidur pulas. Dalam pandangan alam bawah sadarnya Fatih terlihat bukan sedang tertidur, melainkan seperti orang yang tidak sadarkan diri, atau kadang ia menyimpulkan kalau Fatih meninggal.
"Lebih baik lo pake cctv aja dirumah, jadi bisa mantau terus bini lo, Bra! Kasian kan Fatih, diajak terus kesini, seharian pula. Hanya untuk duduk nemenin lo kerja!" pungkas Tomi setelah mereka selesai rapat dengan klien.
"Gue takut, Tom! Waktu itu dia kesakitan, dan gue lagi di kantor. Karena takut ganggu gue, dia lebih memilih pergi sendiri bersama Fara pakai taxi ke Rumah Sakit!" jawab Ibra dengan raut ketakutan.
"Mau sampai kapan lo kayak gini? Yang ada lo yang sakit! Lo nggak denger kemarin kata dr Vera? Lo bisa kambuh lagi, Bra! Fatih pasti sembuh, asal lo terus semangatin dia, bukannya ikut-ikutan sakit!"
Sudah satu minggu ini, Ibra menenggak kembali obat penenang untuk mengatasi masalah kejiwaannya. Ia meminta Tomi untuk menemaninya konsul ke dokter, karena ketidak tenangan, kecemasan dan ketakutan yang terus saja membelenggu hati dan jiwanya.
Tentu semua ini luput dari ketidaktahuan Fatih. Ia tetap merasa suaminya baik-baik saja, walau sedikit terlihat aneh, karena Ibra masih bisa untuk bersandiwara menjadi baik-baik saja jika sudah di hadapan sang istri.
"Kasian Fatih, harusnya dia bisa istirahat di rumah."
"Tapi diruangan gue kan ada kamar, Tom. Fatih tiap siang gue suruh tidur di sana kok."
"Gue nggak bis ngebayangin, kalau Fatih tau, lo kambuh lagi, Bra."
Ibra menggeleng cepat. "Jangan sampai Fatih tau, Tom. Nanti dia stress!"
"Nah itu elo tau, Bra. Kenapa lo enggak coba untuk berfikir realistis sedikit? Jangan mau kalah sama setan-setan yang ada didalam diri lo!"
Ibra hanya terdiam, ia tergugu dengan ucapan Tomi. Memang betul, karena sikapnya yang seperti ini telah membuat semua orang menjadi repot. Begitupun dengan Fara, anak kecil itu terkadang ikut menemani sang Mama ke kantor.
Namun tiga hari belakangan ini, anak itu merajuk karena bosan. Ia merasa ruang lingkupnya sempit tidak seperti dirumah. Maka Ibra menitipkannya dulu di rumah Neneknya. Karena ada anaknya Niken yang lebih tua setahun dari Fara, juga dititipkan di sana. Fara merasa senang, karena mempunyai teman main di sana.
Awalnya Fatih keberatan karena setiap hari ia harus rindu dengan sang anak. Tidak bisa menyuapinya makan atau menemaninya tidur siang. Fatih hanya bertemu Fara dari sore hari menjelang malam, lalu besok pagi terpisah kembali. Ia tidak bisa membantah kemauan suaminya yang selalu bisa memberikan alasan-alasan jitu.
"Ya udah, Tom. Gue akan pasang semua cctv di rumah." jawab Ibra, Tomi hanya mengangguk dan tersenyum. Ia mengelus bahu Ibra untuk terus menyemangati.
"Lo kuat, Bra. Fatih pasti sembuh.
****
__ADS_1
"Bunda mau makan apa?" tanya Ibra yang sedang duduk ditepian kasur memunggungi Fatih, Ibra terlihat memunguti pakaian dan celana kerjanya yang begitu saja tercecer diatas lantai. Mengenakannya kembali dengan rapih seperti semula.
Setiap siang Ibra akan menjamahi Fatih di ruang kerjanya. Karena jika melakukannya di malam hari, Ibra kembali menjadi sosok yang tidak tenang, belum lagi ia takut jika Fara akan memergoki mereka, dan Fatih percaya dengan alasan Ibra.
"Bun ...?" dirasa tidak ada jawaban, Ibra pun menoleh ke belakang. Ia kaget melihat Fatih tengah meringkuk didalam selimut yang masih menutupi tubuh polosnya. Fatih terlihat mengigit bibir bawahnya karena menahan sakit.
"Ya Allah, sayang ..." seru Ibra beringsut untuk mendekati istrinya.
"Sakit lagi?"
Fatih mengangguk, dan kini tubuhnya terasa dingin dan wajahnya begitu pucat.
"Kita ke dokter ya." Ibra meraih pakaian istrinya untuk ia kenakan lagi tubuh Fatih.
"Enggak usah, Yah. Kan tiga hari yang lalu baru aja cuci darah. Mungkin efeknya masih terasa sampai sekarang." sergah Fatih.
Ibra pun akhirnya percaya, ia mengangguk perlahan mengikuti kemauan istrinya.
"Ayah akan pesankan makan siang untuk kita. Biar Bunda bisa langsung minum obat dan kembali istirahat."
"Ayah, bisa nggak kalau mulai besok Bunda dirumah aja? Bunda kangen ngurusin Fara, Yah. Kasian anak kita, setiap hari harus dirumah neneknya." pinta Fatih memohon.
Lalu, mau sampai kapan seperti itu?
****
"Bunda, kamu nggak apa-apa?" tanya Ibra sambil mengetuk pintu kamar mandi. Ia kembali ke kamar, ketika pesanan makan siang mereka sudah datang. OB menyajikannya dengan baik di meja.
"Nggak apa-apa, Yah." jawab Fatih yang suaranya bercampur dengan iringan bunyi air di wastafel. Wanita itu muntah beberapa kali di sana, mengeluarkan cairan bening yang membuat perutnya terasa enek dan begah.
"Buka, Bun. Kenapa dikunci segala?" tanya Ibra sambil menggoyang-goyangkan handle pintu kamar mandi.
Dengan cepat, Fatih meraih tisu untuk membasuh wajahnya yang sudah basah. Memutar kran air dan melangkah untuk keluar dari dalam.
"Kamu muntah, Bun?" tanya Ibra. Ia sedikit mendengar kalau Fatih sedang muntah-muntah di dalam.
"Iya, Yah. Sedikit doang kok." jawab Fatih dengan wajah yang dikuat-kuatkan. Ia tidak mau suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya. Fatih merasa apa yang ia rasakan sekarang memang hanya efek pasca Hemodialisa saja.
__ADS_1
"Kita cari Dokter lain aja yuk, Bun. Selama sebulan ini udah 4x cuci darah, kok kamu semakin drop ya?" ucap Ibra sambil membawa istrinya keluar dari kamar. Mendudukan nya di sofa, dan bersiap untuk menyantap makan siang mereka.
Fatih hening sebentar, seraya memikirkan sesuatu. Ia ingin jujur, namun lagi-lagi niat itu diurungkan olehnya. Ginjal Fatih semakin bermasalah, tidak bisa sembuh hanya dengan obat dan melakukan terapi cuci darah. Ia perlu donor ginjal.
"Mau cari pendonor ginjal dimana? Belum lagi biaya yang terlalu mahal. Aku enggak tega sama kamu, Mas." ucap Fatih dalam batinnya sambil melirik suaminya yang sedang menikmati makan siangnya.
"Ayo sayang, buka mulutmu." Ibra menyodorkan daging ikan dori ke dalam mulut Fatih.
Dan
Brr.
Fatih kembali memuntahkan makanan itu di telapak tangannya. Ia pun beranjak dari sofa dan berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan kembali cairan yang ada didalam perutnya.
"Ayo terus keluarin, biar perut kamu lega." Ibra memijat tengkuk leher Fatih.
"Kok lemes banget ya, Yah. Biasanya kalau habis cuci darah, efeknya enggak sampai lemas begini. Rasa mual nya juga agak aneh." ucapan Fatih tentu membuat Ibra kembali khawatir. Terkaan buruk kembali hinggap di kepalanya. Seketika ia menjadi tidak tenang. Ia takut, kondisi Fatih semakin parah.
"Sepertinya, saya harus menemui Dokternya Fatih. Apakah ada cara lain untuk mengobatinya dari penyakit ini." ucap Ibra dalam hatinya.
"Udah enakan, Bun, masih mau muntah?" tanya Ibra, masih mengusap wajah istrinya dengan tissu.
Fatih menggelengkan kepala. "Ayo, Yah. Kita makan lagi." ajak Fatih lalu menggandeng tangan suaminya untuk keluar dari kamar mandi.
Sejenak langkahnya terhenti, matanya melirik sekilas ke arah kalender duduk yang ada dimeja kerja suaminya.
"Sudah tanggal 15, tapi aku kok belum datang bulan ya?"
Kening Fatih berkerut-kerut memikirkannya.
"Bun, kenapa?" Ibra menghentak lembut bahu istrinya. Fatih hanya tersenyum dan menepis terkaan nya.
"Ayo, Ayah makan dulu! Bentar lagi mau ada meeting lagi kan?"
Ibra pun mengangguk dan mulai duduk di sofa, ia memulai kembali melahap makan siang nya yang sempat tertunda beberapa belas menit lalu.
"Apa aku hamil?" desah Fatih, wajahnya terlihat berbinar lalu menatap ke arah perut. Kemudian menoleh ke arah Ibra dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Semoga saja, aamiin. Aku ingin memberi kamu satu anak lagi, Mas. Semoga aja laki-laki, bisa menemani kamu dan juga Fara nantinya." ucap Fatih lirih dalam hatinya, ia pun mengusap lembut punggung Ibra dan mencium pipi lelaki itu.
Ibra hanya tersenyum tanpa berfikir apa-apa. Ia terus melahap makanan yang sedang ia santap. Ia hanya tahu Fatih sedang manja. Karena begini lah sikap Fatih jika mereka habis bercinta, Fatih akan terlihat senang. Wanita itu merasa sangat bahagia, karena Ibra selalu bisa membuat dirinya menuju puncak kenikmatan.