Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Sejuta Kebahagiaan (END)


__ADS_3

Lima tahun sudah berlalu, pasca kejadian titik puncak antara hidup dan mati untuk Fatih Medina. Wanita yang sudah berjasa di hidup Ibra setelah Ibu Hanum. Fatih sudah sehat, tidak merasakan sakit seperti dulu, tidak lagi melakukan proses cuci darah sebanyak tiga kali dalam seminggu. Ia semakin cantik, segar dan awet muda.


Malah belakangan ini sikap cemburu Ibra mulai tampak dan lebih dari biasanya. Ia takut dengan Fatih yang semakin cantik akan dilirik oleh lelaki yang sepantar dengan istrinya. Ibra merasa umurnya semakin bertambah dan menua, padahal itu hanya perasaannya saja.


Ibra hanya tua diumurnya, namun perangainya masih seperti pemuda tiga puluh tahunan. Begitupun dengan keperkasaannya di ranjang, masih kuat berjam-jam, terbukti sekarang bisa membuat Fatih mengandung anak kembali.


Lalu bagaimana dengan kondisi Ibu Hanum?


Wanita paru baya itu memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya kepada Fatih sebagai persembahan cinta untuk Ibrahim sekaligus permintaan maaf kepada sahabatnya yang sudah berpulang, yaitu Mama Tari.


Ibu Hanum tidak ingin melihat anak lelakinya hancur untuk ketiga kali. Sudah cukup Ibra merasakan perih ditinggal Jihan, Irsyad dan Iffat. Ia tidak mau lagi Ibra menderita karena harus ditinggal oleh Fatih.


Biarlah dirinya yang berkorban, toh ia merasa umurnya sudah menua. Ia akan pergi dengan tenang kalau semua anak-anak nya sudah berbahagia, dan ia fikir Fatih berhak mendapatkannya, karena sang menantu masih muda, bisa terus mengurus anak dan cucu-cucunya.


Setelah Ibu Hanum mendonorkan ginjalnya, Fatih dan Ibra selalu memperhatikan kondisi kesehatan wanita itu. Menjaga pola makan dan menkonsumsi makanan dan minuman yang bernutrisi. Fatih meminta Ibu Hanum untuk tinggal bersama mereka. Wanita itu pun menyetujuinya, karena ia merasa dirumah Fatih ramai akan suara anak-anak.


Hubungan Fatih dengan Niken pun sudah membaik. Hari dimana Fatih siuman pasca operasi transplantasi ginjal dari sang Ibu Mertua, Niken datang dan bersimpuh di kaki Fatih. Memohon belas kasih untuk mau memaafkan dirinya.


Fatih pun sadar, ia dan Niken sudah menjadi satu keluarga, tidak mungkin harus terus menanam benci sampai mati. Apalagi Ibu Mertua sudah berbaik hati memberikan kelayakan hidup padanya.


Bukannya seorang pendosa masih bisa diberikan kesempatan kedua untuk bertobat? Bahkan Allah saja mau mengampuni dan memberikan kehidupan yang lebih baik setelahnya. Apalagi Fatih yang hanya manusia biasa? Maka setelah kejadian itu, Fatih ikhlas memaafkan Niken, walau sepertinya susah untuk bersahabat seperti dulu lagi.


"Makasih ya, Nak." terlihat Ibu Hanum menyodorkan segelas susu yang isinya sudah habis ia minum. Fatih pun meraihnya dan meletakkan di atas nakas.


"Masih keram perutmu, Nak?" tanya Ibu Hanum kembali.


"Tadi aja setelah makan, Bu. Mungkin Fatih kekenyangan." ucapnya tertawa sambil mengelus-elus perut yang sudah membuncit.


"Sudah 6 bulan, jaga si kembar baik-baik ya." Ibu Hanum ikut mengelus perut Fatih. Terasa kedua cucunya didalam sana sedang bergerak-gerak.


"Ya udah Ibu sekarang tidur ya." Fatih meraih Al-Quran yang ada digenggaman tangan Ibu Mertuanya untuk diletakan di atas nakas. Membentangkan selimut untuk mentutup tubuh wanita itu agar terhindari dari udara dingin.


"Istirahat ya, Bu." Fatih mengecup pipi Ibu Hanum, sang mertua pun melakukan hal yang sama. Mencium balik pipi menantunya, sungguh pemandangan yang harmonis antara menantu dan mertua.


Namun pandangan itu berbanding terbalik dengan kejadian yang sedang terjadi dikamar Ibra dan Fatih sekarang.


"Aa--yyah!!" seru Irsyad yang sedang guling-guling di pusaran ranjang. Anak lelaki berusia lima tahun itu terus saja meronta-ronta dan menangis.


"Coba sini Ayah lihat, mana yang sakit?" tanya Ibra lalu meneliti ubun-ubun sang Anak.


"Adek nakal, aku kesal sama dia!" Irsyad menelungkupkan kepalanya ke bantal, sambil menunjuk ke arah Iqbal yang saat ini berusia tiga tahun.


"Iqbal kan masih kecil, dia belum ngerti." sambung Fara yang sedang menggendong Iqbal.


Adik bungsu yang sebentar lagi menjadi Kakak, hanya memandang sendu Irsyad yang tengah menangis. Iqbal mengalungkan kedua tangannya dileher sang Kakak. Fara berusaha menenangkan Iqbal untuk tidak ikut menangis.


"Adek jangan nangis ya." Fara mengecup pipi adiknya.


"Kakak ..." seru Iqbal menatap Fara lalu menunjuk ke arah Irsyad.


Anak ketiga dari Fatih dan Ibra ini pun menangis, ia merasa bersalah kepada Kakaknya, Irsyad. Tadi, ketika Iqbal sedang bermain lempar-lemparan bola dengan Fara, tidak sengaja ia melemparkan bola itu ke arah Irsyad yang sibuk sendiri dengan permainan gundam nya.


"Cengeng banget sih kamu. Iqbal kan enggak sengaja!" ucap Fara, anak sulung mereka yang sekarang sudah menginjak usia sembilan tahun.


"Tuh kan, Yah. Kakak lebih belain Iqbal dari pada aku!" seru Irsyad tidak mau kalah.


"Aku bukan belain kamu, Dek. Tapi apa salahnya kalau kamu ngalah aja sama Iqbal!" jawab Faradisa.


"Ada apa ini, kok ribut-ribut. Udah malem loh." suara Fatih terdengar setelah ia menutup pintu kamarnya.


"Ini Bun, Irsyad lagi ngambek sama adiknya." jawab Ibra.


Fatih menghampiri Ibra dan Irsyad yang sedang ada di atas kasur, sambil melihat Fara yang tengah menggendong Iqbal disamping tempat tidur.


"Kak, bawa sini Adek nya." titah Fatih meminta Fara menghampiri untuk menyerahkan Iqbal. Bumil cantik itu lalu menggendong Iqbal dan sekilas menciumnya.


"Kamu ngapain Kakak, Nak?"


Iqbal menatap sendu sang Bunda, anak itu hanya diam dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Fatih. Fatih pun duduk ditepian ranjang lalu mengusap tubuh Irsyad. Anak lelaki itu masih meronta kesal dalam dekapan sang Ayah.


"Maafin adiknya ya. Iqbal kan masih kecil, dia belum ngerti apa-apa. Karena Irsyad kan lebih besar usianya dari Iqbal, jadi harus mengalah." ucap Fatih lembut, ia terus meminta Irsyad untuk mau memaafkan sang Adik.


"Aku enggak mau punya Adek lagi ah, Bunda! Nanti kaya Iqbal nakal!"

__ADS_1


Dua bola mata Ibra membola sempurna. Ia tersentak kaget dengan ucapan Isryad. Bagaimana tidak mau mempunyai adik lagi, padahal sekarang saja, istrinya tengah mengandung anak kembar. Anak ke lima mereka.


"Kamu jangan gitu dong, dek." ucap Fara lembut, sang Kakak tidak suka jika Irsyad terus saja keras kepala dan tidak mau memaafkan Iqbal.


"Tapi tadi dia udah mukul aku, Kak." jawab Irsyad.


Ibra masih saja mendengarkan keluh kesah dan unek-unek Irsyad sebelum akhirnya ia yang berbicara.


"Irsyad adalah Kakak lelaki, yang dimiliki Iqbal dan calon adik-adik kamu nanti. Kamu harus menjadi Kakak yang baik, bisa menjaga adik-adik ketika Ayah, Bunda dan Kak Fara tidak bisa menjaga mereka."


Semua yang mendengarkan termenung dan tersihir akan ucapan Ibra yang begitu bijak, berkarisma dan penuh wibawa. Lelaki itu tidak pernah mengeluarkan urat ketika sedang berbicara kepada anaknya yang dirasa sedang keras kepala.


Irsyad mempunyai perangai seperti Bundanya, anak itu memang keras kepala. Sepertinya sifat dan sikapnya lebih condong ke Fatih, berbeda dengan Fara dan Iqbal yang lebih mirip dengan sifat dan sikap sang Ayah. Entah bagaimana perangai si kembar nanti, akan lebih memilih Fatih atau Ibra.


Irsyad sejenak terdiam, ia pun menjadi sedikit tenang karena sang Ayah sudah menasehatinya.


"Jadi Kakak mau maafin Adek?" tanya Ibra lagi, sambil mengelus tubuh Irsyad.


Samar-samar anak tampan itu pun mengangguk, membuat Fatih dan Ibra tersenyum menatapnya.


"Adek sini, Nak."


Iqbal pun menurut ketika sang Ayah memanggilnya untuk mendekat.


"Karena Adek juga salah, jadi harus minta maaf sama Kakak." titah Ibra.


"Kakak maafin adek ya." cicit Iqbal polos. Irsyad pun mengangguk.


"Ayo dong peluk Kakaknya, Dek." titah Fatih.


Iqbal pun memeluk sang Kakak, dan Irsyad menyambutnya dengan hangat. Ibra pun beringsut untuk memeluk mereka berdua, Fatih dan Fara juga tidak mau kalah, mereka pun menubruk para lelaki itu dengan pelukan melingkar.


****


"Sudah sampai rupanya?" Fatih menoleh ketika mendengar suara suaminya sudah tiba di ruangan.


Setelah menutup pintu, Ibra pun melangkah menghampiri Fatih yang masih berdiri di kaca jendela sambil memperhatikan para karyawan yang sedang bekerja diluar gedung. Wanita hamil itu tersenyum lalu menyesap lagi susu kotak di genggaman tangannya.


"Ayah sudah selesai rapatnya?" tanya Fatih sambil menyalami tangan Ibra.


Selama lima tahun ini, Fatih kembali kepada karirnya yang sempat terhenti. Ia kembali menjadi Direktur di Facorp. Berkat kegigihan suaminya beberapa tahun lalu, Facorp bisa kembali di rintis dan sekarang kembali ke tangan Fatih. Ibra dan Fatih sama-sama mengelola perusahaan masing-masing sekarang.


"Hari ini Bunda memang sengaja mengosongkan waktu untuk meeting, Yah." jawab Fatih.


Wanita itu melangkah ke arah meja dan meletakkan susu yang tinggal setengah diatas sana. Ia kembali berjalan menghampiri suaminya yang masih terpaku di posisi awal.


Fatih menatap genit Ibra dengan seringai wajah manja yang penuh menggoda. Ia lepaskan jas kantor yang melekat ditubuhnya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sexy dengan dress hamil bermotif bunga.


Terlihat area dada Fatih menyembul dan mengencang, maklum ia tengah hamil enam bulan, otomatis tubuhnya sedikit membengkak. Tidak seperti dulu sedang mengandung Irsyad, begitu layu dan kurus.


Ibra hanya tersenyum melihat Fatih yang sedang genit kepadanya. Mengalungkan kedua tangannya dileher Ibra, dan menyesap kulit leher suaminya. Fatih terus memancing suaminya untuk mengimbangi permainan yang ia berikan.


"Bunda lagi mau nih, Yah. Udah seminggu." bisik Fatih dengan nakal ditelinga Ibra. Lelaki itu tertawa dan semakin hanyut dalam belaian yang diberikan oleh istrinya.


"Ayah juga, tapi hanya bisa nahan." jawab Ibra, sepertinya inti miliknya sudah berdenyut. Ibra dan Fatih akhir-akhir ini susah untuk melepas hasrat bersama, karena Iqbal dan Irsyad dalam seminggu ini ingin terus tidur bersama mereka jika malam hari.


"Ya udah sekarang aja yuk." ajak Fatih tidak sabar.


Ibra pun mengangguk dan mulai menggandeng Fatih ke dalam kamar khusus yang ada diruangan kerja Ibra. Di kamar ini pulas proses pembuatan Irsyad lima tahun yang lalu.


"Ayo, Bun. Buka bajumu, Ayah udah enggak sabar." jawab Ibra.


Malah dirinya yang tidak bisa menahan sekarang. Berkat pancingan Fatih, Ibra sudah semakin tersulut dengan gairah yang begitu menggelora di tubuhnya.


Sesaat kemudian, mereka berdua pun sudah polos tanpa busana. Ibra memulai permainnya dengan doa terlebih dulu. Lalu berjongkok untuk mencium perut buncit Fatih. Ada Faeyza dan Ifdhal, bayi kembar zigotik yang Insya Allah akan lahir tiga bulan lagi.


"Ayah jenguk kalian ya." Ibra berdecis geli, Fatih pun ikut tertawa ketika suaminya bersikap nyeleneh.


"Pelan-pelan ya, Yah." pinta Fatih.


"Siap, Insya Allah."


Dan di menit setelah itu, mereka kembali berbahagia dalam menyelami fatamorgana keindahan duniawi. Tidak ada pahala yang indah bagi seorang istri, apabila ia bisa menyenangkan hati suami, baik dari penampilan, agama, urusan ranjang dan perut.

__ADS_1


*****


Setelah menjalani ritual melepas cinta dengan dua kali ronde, lalu mandi besar bersama di kantor. Ibra dan Fatih memutuskan untuk pulang cepat dari sana. Tapi bukan untuk pulang kerumah melainkan mereka akan bertandang ke suatu Mall. Mengingat hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima, setelah empat tahun berpisah. Ibra menjanjikan istrinya untuk nonton film di bioskop hari ini.


"Jangan yang horor, Bun. Nanti kamu kontraksi." Ibra mengingatkan kembali pilihan istrinya yang ingin menonton film horor beternak dalam kubur.


"Ayah rewel deh, kan Ayah udah mau tadi."


Ibra tidak punya pilihan selain menurut, bisa bahaya dia jika membangunkan macan yang sedang hamil itu, eh! Karena selama mengandung si kembar, kecerewetan dan kebawelan Fatih bertambah dua kali lipat.


"Iya-iya." Ibra menjawab pasrah.


Setelah mendapat tiket nonton VIP dan membawa bungkusan yang berisikan dua popcorn rasa karamel, sosis dan kentang goreng serta premium iced blend chocolate untuk mereka nikmati berdua ketika film horor diputar.


Terlihat raut wajah Ibra sudah menegang sedari ia menunggu pintu teater dibuka sampai ia duduk dikursi penonton. Untung saja mereka memilih tester eksekutif yang bisa duduk berselonjor dengan selimut yang bisa mereka pakai untuk melindungi kulit dari udara dingin, namun itu hanya berlaku untuk Fatih karena Ibra memakai selimut itu untuk menutup pandangannya dari layar bioskop. Lelaki itu takut, sebenarnya Ibra tidak punya nyali untuk nonton film setan seperti ini.


"Harusnya yang kamu ajak nonton itu Irsyad, bukan aku, Bun." gerutu Ibra pelan, sambil meringkuk. Karena Irsyad lebih sering menemani sang Mama kalau tengah malam ingin menonton film hantu di laptop.


"Mas, kok tidur sih!" Fatih berdecak, lalu menarik selimut yang sedang Ibra pakai untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Kayak jenazah tau gak! Ini mah sereman lihat kamu dibanding lihat setannya." Fatih terus menggerutu, sebisa mungkin ia menarik selimut itu, agar Ibra juga mau mengikuti jalan cerita film seperti dirinya.


Sesekali orang-orang yang sedang menonton akan menoleh ke arah Ibra. Karena lelaki tampan itu terus saja berteriak-teriak histeris.


"Ngapain teriak? Setannya aja belum muncul, Yah. Hadeuhhh." Fatih mencubit perut Ibra, karena sedari tadi lelaki itu berisik dan tidak mau diam.


"Aku ke toilet dulu ya, mau pipis."


"Udah lima kali kamu bolak-balik ke kamar mandi terus!" jawab Fatih, ia tahu suaminya ini hanya beralasan saja.


"Udah di sini aja, duduk yang bener, terus nikmatin filmnya!" titah Fatih. Wanita gendut itu kembali menatap layar bioskop sambil memasukan pop corn kedalam mulutnya.


"Gimana mau nikmatin sih, orang serem kaya gitu filmnya. Masa ada setan keluar dari panci." dengus Ibra, ia hanya bisa menurut untuk menatap film horor itu kembali.


Lalu


Drrt drrt drrt


[ Bra, Fahmi meninggal di sel-nya. Dia overdosis]


Dua manik mata Ibra melotot tajam ketika membaca pesan singkat dari Tomi. Ia kaget setengah mati.


[ Nanti aja bahas nya, gue lagi sama Fatih]


Setelah Ibra mengirim balasan pesan itu kepada Tomi. Buru-buru ia memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana. Walau hatinya bergetar dan menyesalkan perbuatan Fahmi yang tidak pernah beres dari dulu. Menghancurkan rumah tangga mereka tanpa ampun. Kini, Semesta tengah menghukumnya dengan balasan yang lebih setimpal.


Ibra beringsut untuk memeluk istrinya dengan pelukan romantis.


"Lagi kenapa nih? Ini kan film setan bukan film romantis!" Fatih membidikkan pangkal bahunya karena geli.


"Mau peluk Bunda aja." jawab Ibra dengan wajah bahagia. Ia sudah tenang sekarang, tidak ada lagi Fahmi yang akan mengganggu kenyamanan rumah tangganya. Karena jika Fahmi keluar dari sel atau masih hidup, lelaki itu pasti akan kembali menggereyangi rumah tangga mereka.


Begitu bahagianya Ibra sekarang, setelah melewati banyak ujian hidup yang diberikan oleh Allah SWT. Dulu ia pernah hancur disaat Jihan dan kedua anaknya meninggal dalam kecelakaan maut, lalu bercerai dengan Fatih dan terpisah dengan Fara selama empat tahun.


Walau akhirnya dipersatukan untuk hidup kembali, namun Semesta memberinya lagi ujian hidup, dengan penyakit yang hampir saja menghilangkan nyawa istrinya. Sekarang ia sudah bernafas lega, karena Allah sudah menggantinya degan sejuta kebahagiaan.


Bisa bersama dengan Fatih tanpa bayang-bayang ketakutan dan mendapatkan lima orang anak dari wanita itu, setelah sebelumnya pernah direnggut dua anak sekaligus untuk menghadap Illahi beberapa tahun yang lalu.


Tidak hanya hal itu saja yang ia dapat, dari segi rezeki Ibra pun kembali beruntung. Saat ini ia sudah mempunyai tiga perusahaan, dua perusahaan miliknya dan saru perusahaan milik Fatih. Tidak lagi berjibaku dengan macam-macam obat penenang.


Sungguh Indah janji Allah, kepada hambanya yang terus mau bersabar dalam segala ujian dan cobaan. Terus berjuang dan berserah diri tanpa mengeluh berkepanjangan, sejatinya Allah tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan umatnya.


Berbahagialah selalu Fatih dan Ibra dengan kelima anak kalian, jadilah keluarga yang Saqinah Mawaddah Warohmah, Aamiin❤️


TAMAT.


*****


Yah tamat guys, siapa yang sedih? Kalian sedih enggak ditinggal Mas Ibra dan Mba Fatih, sama guys, aku juga sedih💔


Terimakasih untuk kesetiaan hati kalian selalu menanti cerita mereka ya. Enggak tau kenapa, aku selalu baper kalau habis buat cerita mereka. Mungkin para kaum hawa akan bergembira jika lelaki di dunia ini semuanya mirip Ibra.


Dan aku ingin mengucapkan terimakasih kepada suamiku, yang sabarnya, yang baiknya dan perhatiannya seluas samudera❤️, tentu beliau lah inspirasi utama ketika aku membuat karakter Ibra. Hanya saja suamiku bukan CEO guys😂😂.

__ADS_1


Baca juga ceritaku yang masih on going yang lainnya ya. Mungkin nanti ada bonchap, cuman keseruan mereka aja pas Faeyza dan Ifdhal lahir.


Oke deh gitu aja, salam sayang dan rindu dari Ibrahim Attar dan Fatih Medina, babbye😘😘 boleh follow IG aku ya @megadischa


__ADS_2