
Haiii kasih-kasihku, aku kembali guyss
Selamat membaca yaa
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Pagi ini adalah Pagi terindah untuk Fatih dan Ibra. Mereka memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, masih saling berpeluk diatas ranjang. Ibra kembali mendapatkan haknya semalam. Malam pengantin kembali terulang.
Jika disini Fatih dan Ibra masih saling memadu kasih dalam kebahagiaan, namun berbeda hal disana. Di kediaman orang tua Ibra. Ibu Hanum, terlihat sangat depresi. Ia terus memikirkan kondisi Ibra dan rumah tangganya.
Semenjak kejadian itu, Ibu Hanum mendadak sakit. Ia terkena stroke ringan, jiwanya begitu tertohok ketika mengetahui kebiadaban cucu nya. Bukan hanya merusak rumah tangga Ibra namun juga mempermalukan keluarga besar mereka.
Sejak kejadian itu, Ibu Hanum mengecam cucu nya untuk tidak menemui Ibra. Niken dan Gading harus menjauh dulu dari kehidupan anaknya.
"Ibu sudah habis makannya?" Tanya Intan kepada Kakaknya yang baru sampai di meja makan. Terlihat Ibu Hanum masih duduk dikursi roda taman belakang.
"Seperti biasa nggak habis, Ntan. Ibu kayaknya masih kecewa sama Anakku!" Cicit Ira sendu.
"Sabar Kak, Niken memang keterlaluan. Dia pantas untuk diberi pelajaran--" Intan terlihat geram. "Aku terus memikirkan adik kita, bagaimana pernikahannya sekarang." Desah Intan, ia terus memikirkan Ibra.
"Tapi sampai sekarang, Ibra nggak mengadukan hal apapun tentang hubungannya dengan Fatih. Aku yakin mereka pasti baik-baik aja, Ntan."
"Semoga, aku juga terus mendoakan mereka."
Ibra adalah anak lelaki satu-satunya. Ia mempunyai dua orang kakak perempuan yaitu Irawati dan Intan.
Ira adalah Kakak pertama Ibra yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Ibu Hanum. Ia hanya mempunyai satu anak yaitu Niken. Hidupnya terbilang mapan, karena suaminya seorang pelayar. Entah mengapa Niken bisa salah arah, tentu Ira sangat menyesalkan dengan sikap sang anak.
Intan adalah Kakak kedua Ibra. Sampai saat ini ia masih tinggal bersama orang tua mereka. Umur Intan hanya berjarak tiga tahun diatas Ibra. Namun sayang di umurnya yang sudah cukup, ia belum juga mendapatkan pasangan hidup. Intan bekerja disebuah perusahaan property.
Karena rumah menjadi sepi, maka dari itu setiap hari Ira akan selalu datang untuk menemani Ibu dan Bapaknya.
"Tapi Ibu sakit kayak gini apa Ibra masih nggak boleh dikasih tau, Ntan? Aku ingin bertemu dengannya dan juga Fatih. Meminta maaf atas nama anakku!" Ira kembali berucap. Membuat Intan berpaling dari layar ponselnya. Ia kembali menatap wajah Ira dalam-dalam.
"Kakak tau kan kalau Ibra sendiri yang bilang, kalau Ibu, Bapak dan kita semua jangan dulu datang kerumah mereka? Ibu juga bilang untuk merahasiakan sakitnya dari Ibra. Ibu sama Bapak masih cemas memikirkan adik kita, Kak. Sudah masalah karena Niken ditambah keadaan Ibu yang seperti ini--"
Mendengar ucapan Intan, seketika membuat hati Ira menjadi menciut dan mengerut. Ia terus merasa bersalah dan menyesal.
"Biar aku yang bicara sama Ibu. Untuk menenangkan hatinya! Kakak kalau mau pulang nggak apa-apa. Aku hari ini cuti nggak masuk kerja!"
__ADS_1
"Ya udah Ntan, Kakak pulang ya. Hati-hati dirumah, titip Ibu sama Bapak--"
Intan mengangguk dan membiarkan Ira berlalu untuk kembali pulang kerumah. Intan menatap sosok ibunya yang masih terdiam di kursi roda menatapi beberapa bunga peliharaannya.
"Bu?" Sapa Intan mengelus bahu sang Ibu.
Merasa kehadiran Intan datang, ia langsung menyeka air matanya.
"Ibu memangis?" Intan mengambil bangku untuk bisa duduk disamping Ibunya.
"Nggak, Nak--" Ibunya menahan agar air mata itu tidak terus keluar.
"Ibu masih memikirkan Ibra?" Intan langsung bertanya ke inti persoalan.
"Ibu rindu sama Ibra?"
Hanya ada tatapan sendu dari wajah sang Ibu yang sedang menahan sakit. Ia pun mengangguk dan pecah kembali air matanya.
"Kasian sekali anak lelaki ku! Aku menjodohkannya dengan Fatih, karena aku fikir ia akan bahagia terlepas dari masa lalu nya bersama Jihan. Nyatanya sekarang lebih menyakitkan!" Ia menangis sesegukan.
"Sabar Bu, mungkin ini adalah takdir hidupnya Ibrahim. Aku yakin Fatih akan menerima ini semua walau tidak semudah itu."
"Rasa sedih Ibu saja jika mengingat perlakuan Jihan kepada Adikmu saja masih belum hilang. Ditambah lagi dengan masalah Niken, bagaimana jika teman ibu tau. Bahwa cucu ibu yang merebut suaminya."
Intan hanya bisa menghela nafasnya. Ia sedikit memejamkan kedua matanya untuk menenangkan fikiran dan memasukan angin segar kedalam otaknya. Ia terus mencari kata-kata untuk menguatkan sang Ibunda.
"Kita pergi kerumah Ibra yuk, Bu? Aku juga kangen sama dia---"
"Tapi Ibra melarang kita untuk mendatanginya dulu, Nak."
"Kalau begini terus mau sampai kapan bu, ibu kan tau Ibra itu tertutup kalau soal masalah pribadi. Masalah seperti Jihan saja baru kita ketahui setelah mereka menikah selama 8 tahun, ibu mau masalah itu terulang lagi?" Intan masih menatap wajah Ibu yang masih melihati dirinya.
"Jika memang Fatih tidak bisa menerima Adikku, biarkan kita jemput saja Ibra dari nya! Aku nggak mau melihat Ibra jatuh kembali seperti dulu!"
Ibu Hanum seketika mendapatkan kekuatan karena rasa optimis yang mengalir dari putri keduanya. "Ibu ingin berbicara lebih dekat dengan Fatih, Nak. Ibu ingin ia terus menemani Ibrahim!"
Intan mengangguk walau ia tidak yakin.
"Iya, Nak. Antar Ibu ya?" Ibu Hanum ingin lebih pasti.
"Iya Bu, kita akan kesana! Aku akan mengantar Ibu--"
***
"Masih mual sayang?" Tanya Ibra yang masih memijiti pundak istrinya.
"Masih Mas---" Fatih langsung menghentikan ucapannya dikala stimulus otaknya bekerja cepat.
"Mas?"
"Hemm..?" Ibra masih membaluri pundak Fatih dengan minyak zaitun agar tangannya lebih luwes dalam memijit.
__ADS_1
"Apa aku---"
"...Hamil?" Celetuk Ibra. Membuat kedua bibir Fatih terkatup begitu saja, ia pun menoleh dan membuat Ibra berhenti memijitnya.
"Masa sih, Mas?"
Lalu mereka berdua hening dan terus berfikir.
"Mas, tapi aku belum siap!"
"...Tapi aku siap sayang."
"Maksud nya nih aku yang belum siap, Mas! Aku masih trauma, kejadian ketika aku sedang di kuret itu selalu terbayang-bayang sampai sekarang!
Ibra langsung memeluk tubuh Fatih dari belakang. Menaruh kepalanya diceruk sang istri.
"Ada aku sayang, kamu nggak usah takut!"
"Mari hapuskan rasa trauma yang masih bertahta di jiwa kita! Aku sama kamu pasti bisa!"
Kening Fatih terlihat mengerut mendengar penuturan Ibra yang begitu saja mudah terucap.
Trauma yang bertahta di jiwa kita, Mas? Apa maksud kamu? Bukan disini hanya aku yang sakit?
Batin Fatih terus mengusik, ia terus bertanya-tanya apa yang masih disembunyikan oleh suaminya.
Semoga saja Fatih tidak kecewa jika suatu saat nanti, ia tahu bahwa Ibra masih berbohong tentang kesehatan jiwanya. Yang Fatih tahu Ibra adalah lelaki yang hebat dan bisa tenang dalam segala hal, tanpa ia sadari bahwa lelaki ini juga mempunyai trauma mendalam dan masih sering mengkomsumsi obat-obat penenang seperti Fatih.
****
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
3.Gifali dan Maura
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️
__ADS_1