Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Flashback Ibra dan Jihan ( 3 )


__ADS_3

Haii pagii, aku kembali.


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Terlihat Ibra terjungkal ke lantai karena dorongan Jihan yang terlalu kuat. Jihan dengan mudah menggandeng kedua anaknya menuju pintu utama.


Ibra pun segera bangkit untuk mengejar Jihan.


"Lepas Pah! Mama mau bawa anak-anak!"


"Jangan Mah, kamu mau bawa anak-anak kemana?"


"Kemana aja, yang penting hidup kami tenang tanpa kamu!!"


Kedua anaknya pun menangis karena Ibra dan Jihan kembali ribut. Sudah cukup mereka sering melihat pertengkaran kedua orang tuanya yang tidak pernah kunjung padam.


Ibra menarik kedua tangan anaknya.


"Kalau kamu mau pergi, pergi lah! Jangan bawa anak-anak saya!!"


"Papah!!" Seru Jihan. Hatinya semakin remuk, niatnya hanya ingin menggertak Ibra, namun Ibra yang terlihat sudah letih mau begitu saja melepas Jihan.


"Jadi kamu ingin menceraikan aku, Pah?"


"Papa tidak pernah berucap seperti itu, yang mau pisah kan KAMU?"


"Pah, Mah?" Desah Irsyad yang terlihat takut mendengar kata- kata perceraian.


"Kamu ya Pah, dasar suami nggak berguna!" Jihan kembali mendorong tubuh suaminya dan melepas tangan Irsyad dari Ibra.


"JIHAN-----?"


Ada suara yang muncul dari arah lain. Semua pun menoleh ke ambang pintu. Terlihat Intan sudah berdiri disana menyaksikan keributan yang tengah terjadi.


"Kak?" Ucap Ibra.


Ia begitu malu ketika sang Kakak mengetahui keadaan rumah tangganya yang seperti ini.


Intan pun melangkah dan mendelikan matanya dengan tajam.


"Apa tadi kamu bilang? Adikku tidak berguna? Ada juga kamu, istri yang tidak berguna!"

__ADS_1


"...Hanya bisa membuat suami dan anak-anak menderita! Harusnya saya tidak mendukung Ibra untuk menikah dengan kamu!"


"Harusnya saya tetap mendukung Ibra menikah dengan wanita jodohan ibu---!"


"Hahahahhaa, lalu kenapa tidak kalian jodohkan saja wanita itu dengan dia---" Jihan mengarahkan jari telunjuknya untuk menunjuk ke arah Ibra.


"Karena wanita itu usianya masih terlalu dini! Saya tidak mau adik saya telat menikah!"


"Telat menikah seperti Kakak ya?" Jihan semakin berani ia terus tertawa meledek Intan.


"MAMA CUKUP! Jangan kamu hina Kakakku!"


"Memang kenyataan, kan? Kakakmu ini memang tidak punya kesibukan selain hanya menganggu rumah tangga kita!" Balas Jihan terus menatap Kakak iparnya dalam-dalam.


"Kurang ajar KAMU!" Intan melayangkan telapak tangannya dan mendaratkan di kedua pipi Jihan secara bergantian. Hatinya terasa panas.


"Kakak berani tampar aku! Dasar perawan tua, aku doakan Kakak tidak akan pernah menikah!"


"KAMU---"


Dengan kecepatan kilat, Ibra merengkuh tubuh Kakaknya agar tidak lagi menampar istrinya.


"Ibra lepaskan! Istrimu ini harus diberikan pelajaran!! Kakak nggak terima dengan ucapannya!"


"Cih!" Jihan membuang ludahnya ke lantai. "Aku ingin kita bercerai Mas, menikah denganmu hanya membuang-buang waktuku dan anak-anak!"


Jihan meraih Irsyad dan Iffat yang sedari tadi sudah menangis melihat pertengkaran ini. Jihan meraih kunci mobil yang Ibra letakan di meja ruang tamu.


Ia bergegas cepat masuk kedalam mobil. Mendorong suaminya keberbagai arah ketika ingin menghentikan keinginannya untuk pergi.


"Biar saja dia pergi! Dia istri durhaka buat kamu, Dek!" Intan tetap memegangi Ibra yang mulai frustasi.


"Papa..Pah..Papa!!" Suara kedua anaknya terus merancau memanggil namanya.


"Jihan buka! Kamu jangan naik mobil ini, bahaya! Kamu belum lancar mengendarainya!!"


"Jihan, ayo buka!"


Ibra terus mengingatkan, tapi Jihan tetap dalam pilihannya. Ia tetap memutar kunci menghidupkan mobil dan menekan pedal gas agar berlalu dari rumah.


Ibra terus mengejar sampai ke depan pintu gerbang. Ia terus melihati bayangan mobil itu yang melaju dengan sangat kasar.


"Kak aku pinjam mobilmu!"


"Aku ikut..."


Ibra dan Intan pun mengejar Jihan yang semakin kencang dalam melajukan mobil.


"Lihat itu Kak, kencang sekali ia membawa mobilnya! Aku takut kalau---"


Lalu


Tanpa menunggu lama


Duarrrrrr


Mobil yang Jihan bawa menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Terlihat asap sudah mengebul disana.


"Ya Allah---" Seru Ibra dan Intan secara bersamaan, mereka pun dengan cepat menepikan mobil yang jaraknya tidak jauh dari mobil Jihan.

__ADS_1


"Kak bagaimana ini?" Desahnya kepada Intan.


Dengan kedua langkah kaki mereka yang lemas terus melangkah untuk mendekati mobil.


Dan


Duarrrr


Bunyi nyaring ledakan terdengar kembali dari mobil Jihan. Mobil seketika terbakar, api terus membesar.


Ibra dan Intan mundur tak kala api sudah melahap abis mobil itu dengan cepat.


"TOLONG...TOLONG!!!"


"Mas, Mas! Ayo bangun---" Fatih terlihat menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Ibra terlihat mengigau dalam tidurnya. Fatih bergegas berlari dari dapur karena mendengar suara Ibra yabg terus berteriak-teriak.


Kedua mata Ibra terbuka cepat, ritme nafasnya naik turun. Terlihat baju nya basah semua karena keringat. Padahal AC kamar sudah menyalah. Ia kembali bermimpi buruk.


Ia bangkit lalu memeluk Fatih dengan erat. Ia pun menangis terisak-isak. Sesekali suara teriakan begitu saja mencuat dari mulutnya.


"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa---" desahnya panjang dan berulang-ulang.


Entah mengapa kejadian 4 tahun lalu itu membuat Ibra selalu merasa bersalah dan menyesal. Jika saja ia memilih untuk diam, mungkin Jihan tidak akan emosi dan membawa anak-anak mereka pergi.


"Kamu kenapa sayang?"


Fatih terus mengunci tubuh suaminya yang terus merancau karena depresi. Ibra hanya menangis dan menangis, sulit untuk berkata bahwa saat ini ia membutuhkan obat penenang untuk menenangkan dirinya dari mimpi buruk yang kembali datang.


"Makanya kalau mau magrib jangan tidur, begini kan jadinya. Suka mimpi yang aneh-aneh!"


Adzan Magrib pun sudah berkumandang, terdengar sampai ke daun telinga mereka.


"Ayo cuci mukamu dan berwudhu lah, abis itu kita siap-siap shalat jamaah!"


Ibra terlihat semakin tidak tenang, tubuhnya menagih obat itu. Dadanya terasa sesak dan berat. Tidak ada jalan lain, ia pun melepas pelukan dari Fatih kemudian bangkit dari ranjang untuk berjalan mengambil tas kerjanya.


Ia mencari-cari kaplet obat yang sudah lama sekali tidak pernah ia jamah. Merobek dua kapsul untuk memasukan obat itu kedalam tenggorokannya dengan cepat.


"Mas? Obat apa itu?"


****


.


.


.


.


.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


3.Gifali dan Maura

__ADS_1


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️


__ADS_2