Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kamu Hanya Milikku


__ADS_3

Netra gelap kepemilikan Ibra kembali menatap wajah istrinya yang sedari tadi menunggu penjelasannya lagi.


"Ayo, yah. Terusin..."


Ibra mengangguk pelan. "Pada saat aku dan Jihan menikah, Kasih tidak hadir. Ia mengurung diri dikamar dan mencoba bunuh diri."


"Hah? Sampai segitunya?" Fatih menggeleng tidak percaya.


"Iya, Bun. Kasih dilarikan ke Rumah Sakit karena ia sempat melukai pergelangan tangannya, namun akhirnya selamat. Di saat itu lah hubunganku, Jihan dengan Kasih menjadi terputus. Jihan jarang kembali kerumah orang tuanya, tentu karena tidak enak hati dengan Kasih."


"Hemm ...." Fatih terus menyimak.


"Sampai dimana ketika empat tahun pernikahanku dengan Jihan. Kasih kembali memintaku untuk menikahinya. Ia datang karena hamil, menjadi korban pemerkosaan."


"Astagfirullahaladzim, Yah. Kasian banget nasib Kasih."


Ibra menghela nafasnya lagi. Ada sesakan dada akibat penyesalan yang masih menghantui fikirannya sampai saat ini.


"Jihan marah besar waktu itu, dia tidak terima kalau Kasih ingin memintaku untuk menikahinya juga. Memang sih waktu itu dia memintaku untuk menikahinya hanya sampai lahiran. Biar tidak malu dengan orang-orang, kalau hamil tanpa suami."


"Wajar, Yah. Kalau Mba Jihan marah, walaupun kita iba dengan Kasih. Ya tapi enggak logis dong kalau dia minta kamu yang bertanggung jawab!"


Ibra mengangguk dan tersenyum melihat istrinya yang ikut cemburu.


"Kamu cemburu ya aku bahas Kasih?"


"Ya iya lah---Pakai nanya, uh!!"


"Ya udah kalau gitu, stop aja ya. Ayo kita tidur--" Ibra mulai bersiap untuk memperat pelukannya.


"Et, et! Enggak, yah. Kamu udah janji sama aku, buat jelasin sampai ke dasar-dasarnya! Ayo, ah. Terusin!" Fatih meronta-ronta seperti bayi.


"Iya----iya."

__ADS_1


"Nah, gitu dong."


"Akhirnya Kasih melahirkan tanpa dinikahi oleh siapapun. Tapi ..."


"Tapi, apa, Mas?"


Ibra kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia keluarkan dengan kasar. Mungkin sudah saatnya Fatih tahu tentang hal ini.


"Ibu mertua ku menelpon ketika Kasih sudah melahirkan. Tanpa sepengetahuan Jihan, aku datang kesana untuk menjenguknya. Namun ia malah jadi stress, anak yang dilahirkan hampir saja ia bunuh. Kasih malu kalau memiliki anak dari hasil pemerkosaan. Maka dari itu... Aku mengambil anaknya, lalu aku urus dan aku jadikan adik untuk Irsyad."


"Jadi Iffat, bukan anak kamu, Yah?"


Ibra mengangguk. "Bukan, Bun. Tapi Ayah selama ini sudah menganggap dia seperti anak sendiri. Selama 4 tahun, aku tetap berikan kasih sayang yang adil seperti kepada Irsyad."


"Mba Jihan setuju?"


"Awalnya enggak, tapi karena aku memaksa. Dan dia juga sayang sama Kasih serta orang tuanya. Mau tidak mau, ia harus menerima kehadiran Iffat."


"Lalu setelah itu, Kasih bagaimana?"


"Ya Allah ..." desah Fatih. "Gimana perasaan dia ketika tau anaknya meninggal, Yah?"


"Biasa aja. Malah sepertinya ia senang. Melihat Jihan, anakku dan anaknya meninggal. Ia leluasa untuk mendapatkanku lagi. Dari awal kan, Kasih memang tidak menyukai Iffat lahir. Jadi tidak ada penyesalan baginya jika Iffat meninggal."


"Benar-benar, Kasih. Ibu macam apa dia!" Fatih berdecak sebal.


"Di saat aku sedang terpuruk. Dia datang menemui ku lagi, masuk kedalam kehidupanku, Bun. Memakai nama Iffat untuk membuatku merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya. Setiap hari ia datang kerumah untuk mengurus dan merawatku. Tapi demi Allah, Kasih tidak pernah menginap dirumah. Aku tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Dia memang suka datang ketika aku berangkat kerja, untuk memasak, mencuci pakaianku dan membereskan rumah."


"Mungkin anggapan para tetangga sudah jauh menilai Kasih. Aku pun salah karena tidak bisa tegas kepadanya, di saat itu fikiran ku masih belum jernih. Serasa duniaku terhenti begitu saja, kejadian mengerikan tentang Jihan dan anak-anak, membuat aku kehilangan keseimbangan dalam berfikir."


"Lalu bagaimana dia bisa pergi dari hidup kamu, Yah?"


"Pada saat itu hari minggu, aku sedang nonton tv dan Kasih baru saja datang, seperti biasa ia akan memasak untukku. Aku sudah berkali-kali melarang, namun Kasih tetap memaksa. Dan disaat itu pula Ibu, kedua kakakku dan Niken datang kerumah."

__ADS_1


Mendengar nama Niken, membuat dada Fatih kembali linu. Ia terdiam sebentar.


"Masih mau dilanjut ceritanya?"


Fatih mengangguk cepat. "Iya, Yah. Ayo lanjut!"


"Mereka semua marah, mengganggap kami selama ini tinggal seatap dan berzinah. Niken bertengkar dengan Kasih. Ia tidak suka melihat aku dekat dengan keluarga Jihan lagi. Wajar kalau mereka marah, keluargaku kecewa sikap Jihan yang dulu sudah semena-mena padaku."


"Hari itu juga Kasih diusir oleh Niken. Semua keluarga menolak kehadirannya. Ibu bilang kepada Kasih, kalau ia akan menjodohkan ku dengan anak temannya, yaitu kamu."


Ibra menatap lekat bola mata Fatih yang sedang berbalik menatapnya. Fatih terlalu tercengang sampai ia sulit untuk bernafas. Tentu dengan kejadian ini, setidaknya ia harus berterima kasih dengan Ibu mertuanya dan juga Niken. Karena keberanian mereka lah membuat Kasih terhempas dan membuat Ibra menikahi dirinya sekarang.


"Setidaknya aku berhutang jasa dengan Niken ..." gumam Fatih.


"Sejak kejadian itu, aku diminta oleh keluarga untuk tinggal dirumah Ibu dan Bapak. Tentu dengan masalah yang terjadi dalam rumah tanggaku menjadi suatu pelajaran. Jadi aku hanya menurut ketika Ibu ingin menjodohkan kita. Aku fikir mungkin saatnya mengikuti kemauan orang tua, pasti ada keberkahan disetiap munajat dan doanya. Dan benar, saat ini aku bahagia sama kamu, Fat."


Ibra mengelus lembut pipi istrinya. Membuat ia terus menatap wajah Fatih yang cantik, tentu membuat hasratnya naik.


"Kamu percaya kan sekarang sama aku?"


Entah mengapa kelegaan belum mau berpihak dihati Fatih. Wajah wanita itu masih terlihat gamang. Ada sesuatu ganjalan yang masih ada dalam jiwanya.


"Aku takut, kalau Kasih kembali untuk merebut kamu, Mas." Batin Fatih menyeruak. "Aku takut!" dadanya sedikit terasa berat.


Fatih terus termenung dan terdiam, beda hal dengan Ibra yang makin leluasa untuk menciumi wajah dan lehernya. Ia takut Kasih belum benar-benar pergi dari hidup Ibrahim. Mengingat bagaimana kegigihan Kasih selama ini untuk memiliki Ibra, tentu tidak semudah itu ia melepaskan.


"Aku akan tetap bertahan untuk mempertahankan kamu, Mas. Kamu hanya milikku, milik Fara! Tidak ada wanita lain yang bisa mengambil kamu dari kami!"


"Bun ...." rintihan Ibra ketika ia berhasil membuka kancing piyama istrinya. Melolong kan tangannya untuk masuk kedalam piyama dan menyentuh bagian pucuk sintal yang sangat ia sukai.


"Ayah mau, Bunda." suara Ibra terdengar ketika ia masih menyesap kulit leher istrinya.


"Iya sayang, ayo..."

__ADS_1


****


__ADS_2