
Setengah jam berlalu, Ibra masih terdiam dengan tubuh menyandar di sandaran sofa. Lelaki itu masih memijit-mijit celah pangkal dahinya. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan duduk kesalah fahaman ini kepada sang istri. Dan Fatih, bagaimana keadaan wanita hamil itu sekarang? Ia terus saja memangis.
Ada dua hal yang membuat ia terlalu sensitif saat ini, pertama karena masalah Kasih dan yang kedua, ia kaget karena Ibra tega berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Padahal ia selalu mengenal lelaki itu dengan perangai yang lembut dan sabar. Sepertinya Fatih lupa, kalau Ibra juga lelaki yang punya batas kesabaran, tentu ia akan marah jika istrinya terus saja keras kepala.
Ibra menghela nafasnya lalu beringsut untuk mendekati istrinya lagi. Jauh dari dalam lubuk hatinya ia tidak tega melihat Fatih terisak seperti itu.
"Bun, udah jangan nangis. Aku minta maaf tadi nggak sengaja bentak kamu!" Ia menarik tubuh istrinya untuk direbahkan didada nya.
Tetap saja kan Ibra yang harus meminta maaf? Padahal semua masalah ini berawal dari ketidaktahuannya. Tetapi karena ia tahu saat ini Fatih sedang mengandung, maka tidak ada cara lain, selain untuk mengalah.
Ibra terus memeluk tubuh Fatih yang sedikit membuncang karena menangis.
"Jangan nangis terus, Bun. Kasian Fara, nanti didalam dia nggak bisa tidur, karena Bunda nya nangis terus----" Ibra mengusap lembut perut Fatih. Setidaknya karena mengingat anak, Fatih mulai menghentikan tangis namun masih terdiam. Ia menunggu penjelasan konkrit dari Ibra.
"Udah tenang sekarang? Mau aku cerita sekarang atau besok aj---"
"Sekarang, Mas!" Fatih menyelak.
Ibra mengangguk lalu meninggalkan kecupan di pucuk rambut istrinya sebelum ia berbicara.
"Aku akan berkata sejujur-jujurnya, Bun. Tolong kamu sikapi ini dengan bijak. Dan berikan kepercayaan penuh ke aku. Karena kamu sekarang istriku, hanya kamu yang bisa menerima segala kelebihan dan kekuranganku."
Mendengar suara lembut dan kata-kata mendalam dari sang suami, membuat Fatih tertegun. Jiwanya merasa bersalah, kenapa ia lebih memilih merajuk tanpa alasan, menangis semalam suntuk dan membuat perkara malam terjadi.
"Jelaskan lah, Mas!" jawab Fatih. Ia pun menarik tubuhnya untuk lepas dari dada bidang suaminya. Ia pun merasakan detak jantung Ibra berdegup kencang.
Apakah betul ucapan para tetangga tentang hubungan suaminya dengan Kasih? Bisiknya.
"Wanita itu bernama Kasih Ayuningtyas. Pertemuan tidak sengaja dengannya terjadi 9 tahun yang lalu. Pada saat itu Kasih adalah pacar dari sahabatku, Tommi. Saat itu aku masih belum punya pacar, Tommi bermaksud untuk mendekatkan aku dengan---"
"Dengan pacarnya sendiri? Gila ya si Tommi!" Fatih memotong cepat. Ibra menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Makanya dengerin dulu kalau suami masih menjelaskan, biar kamu faham gimana ceritanya."
Fatih memberikan wajah sendunya. "Iya, Yah, Bunda minta maaf."
Ibra tersenyum dan mengangguk, ia pun mengambil helaian tissu yang ada di meja untuk mengusap keringat dan air mata yang ada di wajah istrinya.
"Di sini, panas ya sayang?" tanya Ibra kepada Fatih. Ruang tamu memang terasa panas karena tidak ada ac di ruangan ini.
Fatih mengangguk.
"Di kamar aja yuk, kita sambil tiduran ceritanya, gimana?" Ibra menawarkan.
"Tapi nanti kamu ketiduran, Mas!" sergah Fatih.
Ia pun tidak memungkiri jika waktu saat ini sudah menunjukan pukul 03:00 dini hari, kedua matanya sudah mengantuk, pun sama dengan suaminya. Namun rasa penasaran dan keingintahuan yang ada, menepis itu semua.
"Enggak kok janji, aku hanya kasian sama Fara. Biar dia bisa tidur enak."
Fatih mengangguk kembali. Melihat sang istri setuju ia pun bangkit dari sofa dan merangkul istrinya untuk masuk kedalam kamar.
"Iya sebentar ...."
Ibra sedang mengatur suhu ac di kamarnya. Ia tidak ingin istrinya merasakan hawa terlalu dingin atau terlalu panas. Dirasa suhu nya netral dan bisa diterima oleh tubuh mereka. Ia pun merangkak naik ke atas ranjang untuk ikut berbaring. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Fatih dan juga tubuhnya.
"Ayo sini rebahkan kepalamu di dadaku!"
Fatih menyetujui perintah itu dan beringsut untuk memeluk dada suaminya.
"Aku ceritain lagi, tapi kamu janji jangan memotong ucapan aku ditengah-tengah!"
"Iya, Yah, Bunda janji---" jawab Fatih yang masih dilanda kecemasan.
__ADS_1
"Pada saat itu Tommi bermaksud untuk mengenalkan aku dengan seorang wanita. Aku enggak tahu kalau wanita yang ingin ia kenali waktu itu adalah adik dari Kasih. Jihan namanya----Wanita itu----Jihan. Mamanya anak-anak."
Kedua bola mata Fatih membulat sempurna. Mulutnya menganga karena merasa tidak percaya. Ingin ia menyanggah, namun dirinya sudah janji untuk tenang dan diam.
"Mungkin itu yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama. Aku menyukai Jihan dan Jihan pun sebaliknya. Perkenalan kami terus saja merambat sampai ke jenjang pernikahan. Aku sering main kerumah nya untuk menemui Jihan. Sambutan hangat dari Jihan dan keluarganya, membuat aku semangat untuk terus menjalani kisah cinta dengan Jihan."
Mendengar sang suami menceritakan kisah cintanya bersama Jihan. Membuat Fatih merasa mual dan ingin muntah, sepertinya anak didalam perutnya pun merasakan hal yang sama.
"Namun semua itu ternyata membawa masalah di keluarga Jihan dan membuat hubunganku dengan Tommi menjadi renggang!"
Ibra kembali menghela nafasnya, menatap sudut kamar nya yang berwarna biru muda. Ada ingatan menyedihkan di masa lampau.
"Kasih, kakak tiri dari Jihan. Ternyata ia juga tertarik denganku. Jika ia tahu aku akan datang, sudah pasti ia akan membatalkan rencana kepergiannya dengan Tommi. Ia hanya ingin leluasa memandang dan menatapku!"
"....Jihan pun tau akan hal itu, namun ia hanya bisa pasrah, karena Kasih adalah Kakaknya. Walau hanya Kakak tiri, namun karena Ibu Kasih sangat sayang dan mau menerima sosok Jihan dirumahnya serta memaafkan kesalahan Ibu Jihan yang sudah merusak rumah tangganya. Membuat Jihan merasa berhutang budi. Waktu itu pun ia sempat ingin merelakan aku demi Kasih."
Fatih hanya diam dan mendengarkan. Jari-jemarinya terus berputar-putar di dada bidang Ibrahim.
"Tapi aku menolak hal itu. Aku berikan pengertian kepada Kasih. Kalau saat itu aku hanya mencintai Jihan. Aku juga tidak mau membuat Tommi membenci aku! Walau disaat itu, Ibu dan Bapak belum merestui aku menikah dengan Jihan."
"Entah mengapa mereka merasa Jihan juga mempunyai sifat yang tidak baik. Ibu tetap bersikeras ingin menjodohkanku dengan anak dari teman dekatnya, yaitu kamu, Fat. Tapi aku selalu mengelak karena umurmu masih kecil sedangkan aku sudah dewasa dan sudah saatnya untuk menikah!"
"Tapi ternyata itulah hidup, aku tetap menikah dengan kamu sekarang..." Ibra tertawa lalu menoleh untuk mencium istrinya lagi. Fatih mengangguk dan semakin merapatkan pelukannya.
"Sejak aku menolak halus perasaan Kasih dan tetap bersikeras untuk menikahi Jihan. Ia pun mundur walau dengan kecewa yang berat. Sejak saat itu pula Tommi memutuskan hubungannya dengan Kasih. Tommi menghilang dariku dan pergi entah kemana..."
"Lalu nasib Kasih setelah itu bagaimana, Mas---ups!" Fatih dengan cepat menutup rapat kedua bibirnya, karena merasa keceplosan untuk bertanya. Ia melanggar kesepakatan awal.
"Kasih ....."
Ada jeda suara dari bibir Ibrahim. Ia kembali membawa arah matanya untuk menatap langit kamarnya. Menggerakkan bola matanya kesana kemari. Seperti ingin berucap kepada istrinya bahwa ia tidak ingin meneruskan pembicaraan ini. Namun sepertinya mustahil, Fatih akan terus menunggu penjelasan Ibra walau harus menaiki gunung sekalipun.
__ADS_1
"Ayah, gimana? Mengapa diam?"
****