Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kamu terlalu lancang, Mas!


__ADS_3

Pakk.


Permukaan pipi Fatih masih terasa panas karena tamparan dari sang Mama yang begitu saja mengguncang wajahnya. Wanita itu tergelak, marah dan merasa hancur karena sudah ditipu mentah-mentah oleh anak kandungnya.


"Kamu mama lahirkan untuk menjadi anak yang berbakti kepada Mama, kenapa kamu malah dengan sengaja membohongi Mama seperti ini, Fatih!" Mama Tari memaki sang anak.


Mereka berdua masih terjaga didepan koridor kamar perawatan Papa Faris. Beberapa jam yang lalu Dokter mengatakan serangan jantung Papa Faris masih bisa diatasi, namun pembuluh darah dikepalanya begitu saja pecah dan terlambat untuk ditangani, ia diagnosis dengan penyakit stroke, melumpuhkan sebagian tubuhnya.


Semua ini disinyalir karena tubuhnya terguncang hebat. Lelaki paru baya itu shock, ia tidak terima dengan kejadian yang baru saja terjadi. Papa Faris masih memejam kedua matanya di ranjang yang saat ini sedang ia tiduri. Fahmi pun dengan cepat angkat kaki dari sana, ketika sudah mendapatkan tamparan panas pula dari mantan Ibu mertuanya itu.


"Jangan marah, Mah. Fatih seperti ini karena terpaksa." Fatih lirih sambil berjongkok untuk memohon di kedua kaki Mamanya. Dengan perut yang membesar dan sulit untuk mengimbangi tubuhnya, ia berusaha untuk terus berada diposisi itu. Agar sang Mama mau memaafkan dirinya dan keluarga Ibrahim.


"Jadi selama ini Ibra sudah tahu tentang aib rumah tangga Mama dan Papa?"


Fatih pun mengangguk pasrah, ia tetap menangis, tetap memegangi kedua kaki Mamanya. Walau wanita itu sesekali menepis tangan sang anak dari kakinya. Mama Tari memejam matanya dengan gelengan kepala bahwa ia betul-betul murka kepada sang anak.


"Keterlaluan kamu Fatih! Berani-beraninya kamu menghianati, Mama!"


Fatih mendongak, menatap wajah Mama Tari dengan leleran air mata. Kedua matanya sudah bengkak dan wajahnya memerah. Ia menggelengkan kepalanya cepat.


"Tolong Mah, maafkan Fatih. Fatih seperti ini hanya karena ingin melindungi rumah tangga Fatih dengan Mas Ibra!" ucap Fatih dengan isakkan tangis yang belum reda, dadanya terasa sesak, karena sedari tadi Fara terus saja menendang-nendang perutnya dari dalam.


"Fatih sangat mencintai Mas Ibra, Mah." lirihnya.


"Jadi kamu merasa Mama hanya menjadi ancaman buat rumah tangga kamu??" Mama Tari kembali menyentak Fatih dengan kegarangannya.


"Kamu tau kan, gimana Mama berjuang untuk keluar dari rumah rehabilitasi mental, hanya karena ingin melupakan bayangan perselingkuhan yang menjijikan antara Papa kamu dengan Niken?"


Fatih menganggukan kepalanya. "Iya, Mah. Fatih sangat mengerti, saat tahu hal itu pun Fatih marah dan kecewa. Tapi bagaimana lagi, Mah. Mas Ibra sudah menjadi suami Fatih, ayahnya Fara. Dengan sangat menyesal, Fatih hanya bisa menutupi semua ini dari Mama." Fatih memegang perutnya, sebagai pengingat kepada Mama Tari, bahwa sang cucu menginginkan sosok Ibra didalam Keluarga mereka.


"Fatih hanya enggak mau, Mama kembali mengingat tentang Niken." sambung Fatih.


"Kamu tau Fatih, dengan kamu lemah seperti ini. Niken tertawa puas, karena kita sudah kalah darinya! Sampai sekarang aja Mama masih sakit hati kalau ingat wanita sialann itu!" Mama Tari menepis tangan Fatih dari kakinya lalu mulai melangkah untuk meninggalkan sang anak. Fatih kembali merengkuh kaki itu dan memeluknya. Tubuhnya tetap menggelosor dilantai, ia menangis tersedu-sedu, meminta belas kasih dari sang Mama.


"Mah tolong maaf kan Fatih."


Mama Tari menghentikan langkahnya dan menurunkan tatapannya untuk menatap wajah sang anak. "Ceraikan Ibra, Fatih!"


Fatih tercengang, bagai gulungan ombak yang sebentar lagi akan menenggelamkannya, menghabisi dan memisahkan dirinya dengan sang suami. Fatih dengan cepat mengelak. "Mama tolong jangan! Jangan pisahkan kami, Mah!" Fatih kembali menangis, ia terus merintih untuk membela suaminya.


"Kamu tetap membela dia? Setelah apa yang dia lakukan terhadap Papamu? Membuat Papamu stroke dan lumpuh! Menjadi orang cacat karena perbuatan suami kamu!" hardik Mama Tari. Air mata wanita paru baya itu kembali menetes. "Dosa apa sih yang sudah Mama perbuat, bisa menikahkan kamu dengan lelaki brengsekk seperti mereka semua!"


"Mah, Mas Ibra baik. Dia tidak seperti itu!" Fatih tetap membela. Mama Tari kembali menatap Fatih dengan garang.


"Pilih orang tua atau suamimu?"

__ADS_1


"Mah, jangan buat Fatih untuk memilih. Kalian semua bukan pilihan!"


"Ya udah mulai sekarang, kamu pergi dari hidup kami. Kamu bukan anakku lagi! Seorang anak yang berbakti tidak akan pernah menghianati orang tuanya. Bahkan air susuku saja, belum kamu balas!"


"Lepaskan Mama, pergi kamu dari sini! Bawalah harta itu bersama suamimu, Mama masih bisa mengurus Papa sekuat tenaga Mama." Mama Tari menghempas tangan Fatih, wanita hamil itu sedikit tergelak dari posisinya. Ia pun kembali meraih kedua kakinya itu dan memeluknya.


"Mama, Fatih mohon. Fatih yakin Mas Ibra enggak salah, Mah. Ini hanya salah faham."


"CERAIKAN IBRA!" Mama Tari menatap tajam sudut mata Fatih yang masih saja meneteskan air bening. Dan lagi-lagi Fatih hanya bisa menggelengkan kepala dan kembali memohon untuk dimaafkan. Mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, tidak akan pernah tanak lagi. Mama Tari sudah pernah merasakan di hianati oleh suaminya, kini ia kembali di hianati oleh Anak dan Menantunya.


"Mah, tolong maafkan Fatih..."


Lalu


Tak berapa lama


Ada derap sepatu yang tengah mengayuh kencang mendekati Mama dan Anak yang tengah bergelut dalam api amarah. Napas Ibra terlihat memburu ketika langkah panjangnya sudah terhenti tepat diantara mereka.


"Ada apa ini, Mah?" tanya Ibra dengan wajah polos tanpa tahu masalah yang sedang terjadi.


"Tolong ceraikan anak saya sekarang juga!" jawab Mama Tari dengan tatapan melebihi raut iblis. Sudah tidak ada lagi rasa simpatik yang mencuar darinya kepada sang menantu. Menantu yang selama ini ia bangga-banggakan kepada para teman, kerabat, dan para kolega.


Wajah Ibra seketika melongo, ia tersentak karena kaget. Hampir saja jantungnya berhenti ketika ultimatum lahnat itu menghujam dirinya.


"Sayang.." Ibra menoleh menatap istrinya yang masih menangis namun menundukkan wajahnya ke bawah. Wanita itu masih memegangi kedua kaki Mamanya, merintih dan memohon belas kasih untuk kata maaf.


"Harusnya saya tidak mengenal Hanum, keluarga kamu dan juga Niken!"


Jag.


Awan gelap begitu saja datang kembali menerpa Ibrahim Attar. Luka yang sudah mati-matian mereka tutupi akhirnya terbongkar karena kejujuran dari Ibunya sendiri. Haruskah ia menderita lagi sekarang? Melepas wanita yang sudah terpatri didalam jiwanya? Melepas buah hati yang saat ini saja belum diijinkan untuk lahir ke dunia? Apakah sesulit ini untuk bahagia?


"Mah.." desah Ibra.


Seketika raut wajahnya berubah menjadi sendu dan nanar. Ia pun berjongkok, merendahkan dirinya di hadapan Mama mertuanya. Memohon permintaan maaf atas kesalahan Niken, serta ia sudah berani membuat Fatih menjadi anak yang tidak jujur kepada orang tua, disamping itu Ibra telah salah dalam melangkah untuk memberikan aset perusahaan dengan cuma-cuma kepada Fahmi, lawannya selama ini.


Fatih hanya menangis, ia tidak tega melihat suaminya seperti itu. Ikut merendahkan dirinya untuk meraih hati sang Mama.


"Bangun, Mas. Jangan begini. Biar aku saja yang memohon kepada Mama." rintih Fatih meminta suaminya untuk kembali berdiri.


Mama Tari semakin menajamkan matanya ketika mendengar Fatih masih membela suaminya.


"Bahkan mata kamu masih saja buta, Fatih! Ingat lelaki ini yang sudah membuat Papamu menjadi orang cacat sekarang!" Mama Tari menunjuk-nunjuk wajah Ibra dengan jarinya sambil menatap Fatih. Mama Tari pun melepaskan tangan Fatih dari kakinya dan berlalu cepat dari sana untuk masuk kembali ke dalam kamar perawatan Papa Faris.


"Mama!" seru Fatih sambil terhuyung kembali ke lantai. Wanita yang sedang hamil tua itu sedikit meringis, tiba-tiba ada rasa sakit diarea perutnya.

__ADS_1


"Sayang.." ucap Ibra sambil memapah tubuh istrinya untuk kembali bangkit berdiri. Membawanya pergi untuk meninggalkan tempat itu sementara. Jujur Ibra masih ingin mendapatkan penjelasan atas apa yang Mama Tari ucapkan barusan.


Mengapa Papa Faris bisa menjadi cacat karena nya?


****


"Kenapa kamu tampar aku, Fat?" tanya Ibra kaget. Tubuhnya gemetar ketika Fatih memberikan tamparan keras dipipi nya. Ibra fikir ia akan mendapatkan hujaman pelukan dari sang istri karena akan berbangga kepada dirinya yang sudah berhasil menaruh saham di perusahaan bonavit. Baru saja, dengan bangganya Ibra menjelaskan bahwa dia sudah menaruh setengah saham di perusahaan England.


"Kamu terlalu lancang, Mas! Kamu bohongi aku, bohongi Mama dan Papa!" jawab Fatih dengan deru napas yang sudah kacau balau.


"Oh mungkin karena aku yang belum sempat cerita ke kamu ya sayang. Tenang, Fat. England adalah perusahaan bonavit, setelah tiga bulan menaruh saham di sana, modal akan kembali seutuhnya dengan tambahan bunga. Otomatis perusahaan kita akan kembali berdiri kokoh seperti dulu---Kamu nggak usah fikirin masalah Fahmi yang lebih dulu menarik sahamnya dari perusahaan kita, aku bisa kok bawa perusahaan kamu seperti dulu." Ibra terus saja sabar, untuk menjelaskan semua yang terjadi dengan apa adanya. Namun berbeda hal dengan Fatih, wanita itu malah semakin tersulut emosi. Mengapa Ibra bisa sebodoh dan teledor seperti ini?


Fatih yang tidak tahan, ingin kembali mengayuhkan telapak tangannya di udara untuk menghentak permukaan pipi suaminya lagi, namun seketika ia urungkan, ia alihkan kekesalan itu dengan menampar pipi nya sendiri. Memukul-mukul kepala dengan kedua kepalan tangannya.


"Sayang ... jangan!" Ibra dengan sekuat tenaga memegangi kedua tangan Fatih yang mulai menyakiti dirinya sendiri.


"Apa aku salah, Fat?" tanya Ibra, lelaki itu pun menangis. Ia tidak tahan melihat istrinya terpukul seperti ini.


"Aku memang lancang, aku minta maaf sayang..kalau mau tampar aku boleh, ayo tampar! Tapi tolong jangan sakiti diri kamu!" ucap Ibra dengan air mata yang sudah membelenggu kedua netra gelap miliknya.


"Kamu tau, Mas. Siapa England sebenarnya?" Fatih mengakhiri tangisannya, menghujam dua bola mata Ibra dengan ketajaman indera penglihatannya. Ibra meringis sedikit takut, jujur ia belum tahu latar belakang England dengan pasti.


"Siapa---sa--yang?" tanya nya terbata-bata.


"England adalah salah satu anak perusahaan milik Fahmi. Dan kamu dengan gampangnya menyerahkan saham kita kepadanya!"


Jag.


Ibra seperti ingin mati saja sekarang.


****


Maaf guys aku gak lemah dengan hujatan kalian, sekalipun kalian bilang aku oon hahaha. Yang udah baca cerita aku dari karya pertama sampai karya ini, pasti tau gimana gaya aku bercerita. Aku nggak suka cerita dengan alur mulus kaya bokong bayi. Hidup itu keras guys, masalah dimana-mana. Jadikanlah semuanya jadi pelajaran, kaya sikap polos Ibra jangan ditiru untuk begitu aja gampang percaya sama orang, nah itu salah satu pelajarannya.


Cerita disemua novel ku adalah rangkuman dari berbagai kisah nyata. Lalu aku gabung dan dijadikan bahan untuk cerita. Aku juga nulis cerita ini untuk kalian gratis. Gak perlu ribet pake koin, cukup komenin ceritanya, kasih ide yang lebih bermakna. Yang ngerasa lebih pintar, aku persilahkan untuk buat cerita sendiri.


Dari awal aku ingin jalan ceritanya seperti ini. Dua kali menikah sudah ada outlinenya, jadi aku akan tetap bercerita sesuai versiku. Aku gak maksa kalian untuk baca, kalau males, takut, dan sebel yaudah tinggalin aja. Kalian yang selalu setia sama karya aku, pasti tau gimana ciri aku ketika nulis, iya kan?😂


Q : Semangat thor, jangan gampang terhasut sama omongan mereka


A : Iya dong harus tetap semangat buat kalian aja yang setia sama Ibra dan Fatih, memang mereka siapa? emangnya ngasih aku cemilan pas lagi ngetik bab ini sampai berjam-jam, enggak kan? hahahaha😂😂😂


Padahal aku tuh lagi pusing, tapi demi ngenyangin mata kalian buat baca, aku dengan siap kembali. Maapin aku banyak curcol, yang mau bilang oon lagi, boleh kok hahaha. Tapi nanti aku blok😀😀😂


Like dan Komen ya, bagi yang mau aja.❤️

__ADS_1


__ADS_2