Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Belum bisa di maafkan!


__ADS_3

Ibra masih memandangi dirinya di cermin. Menatap beberapa jejak bulatan merah yang tercetak jelas disekitaran dadanya. Ia tersenyum lalu memejam kelopak matanya. Menepuk-nepuk kedua pipinya secara bergantian. Bercinta kembali dengan Fatih sungguh tidak pernah ia bayangkan sama sekali.


"Seperti mimpi bisa masuk ke rumahnya lagi." desah Ibra bahagia. "Empat tahun, saya hanya bisa membayangi Fatih tanpa bisa menyentuhnya seperti sekarang." ucapnya lagi penuh haru.


"Kamu memang tempat saya bernaung. Saya tenang bersama kamu. Bahkan dulu dengan Jihan, saya belum pernah sebahagia ini jika sudah merasakan pelepasan." air mata lelaki itu menetes lagi. Hati Ibra begitu lembut, tidak henti-hentinya ia berucap syukur kepada Allah SWT.


Karena sejatinya Fatih selalu ikhlas memberikan tubuhnya dan cintanya, selalu ikut andil dalam permainan yang sedang mereka mainkan. Beda hal dengan Jihan, ia akan selalu menolak dengan berbagai alasan. Hanya bersikap pasif seperti batang pisang yang kaku, tidak bisa membuat suami menjadi senang dan bahagia ketika sedang berada diatas ranjang. Jangan lupakan suami hanya butuh cinta dan sex.


"Ayah...?" suara Fatih terdengar dari luar sambil mengetuk pintu kamar mandi. Dengan cepat Ibra menyeka air matanya dan mengusap kembali wajahnya dengan air mengalir di wastafel.


"Iya sebentar, Bun." jawabnya.


Tanpa menunggu Ibra membuka pintunya, Fatih dengan cepat menyelonong masuk kedalam. Dengan langkah blingsatan yang sudah tidak tertahankan, Fatih langsung duduk di closed untuk buang air kecil.


Ini memang kebiasaan Fatih selama menikah, dan Ibra rindu dengan kebiasaan istrinya. Fatih tidak bisa sedikit pun untuk menahan buang air kecil. Maka ia akan selalu mengganggu aktivitas Ibra dikamar mandi.


Ibra hanya menatap istrinya sambil tertawa pelan.


"Ayah fikir sudah berubah, tau nya masih sama sampai sekarang."


"Bunda kebelet, Yah."


Ibra kembali tersenyum sambil menggosok-gosok kan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang menjuntai indah di dadanya.


"Ayah duluan ya."


Fatih mengangguk sambil memijat tombol push diatas closed. Ibra pun melangkah keluar dari kamar mandi. Lagi dan Lagi hatinya kembali bersinar, mana kala ia lihat sebuah stelan baju rumahan lengkap dengan pakaian dalam sudah berada di atas sofa yang berada di samping tempat tidur.


"Fatihku memang telah kembali!" serunya pelan. Ini juga merupakan rutinitas Fatih yang tidak pernah absen ia lakukan, selama menjadi istri Ibrahim empat tahun yang lalu. Ibra tidak pernah dibiarkan untuk memilih atau mengambil pakaian sendiri dari dalam lemari.


"Bunda ... Ayah!!" seruan nyaring terdengar dari luar pintu kamar disertai dengan hentakan telapak tangan. Ibra yang baru saja selesai berpakaian, langsung melangkah cepat menuju pintu. Memutar kunci dan membuka pintu kamarnya.


"Wah, anak ayah udah sampai." Ibra meraih Fara dari gendongan Kak Eko. Menghujani wajah Fara dengan kecupan.


"Ayah kangen banget sama Fara."

__ADS_1


Fara mengalungkan kedua tangannya dileher sang Ayah. Ia pun bergeliat manja dengan Ibra.


"Kak Eko sendirian?" tanya Ibra.


"Iya, nih, Bra. Intan enggak bisa ikut, soalnya ada temannya datang kerumah."


"Eh, Kak, kapan sampai." tanya Fatih yang langkahnya baru sampai diantara mereka.


"Bunda ..." Fara beralih kearah Fatih, ia menjulurkan tangannya untuk masuk kedalam dekapan sang Bunda.


"Bunda kangen sama kamu, Nak." Fatih mengelus-elus tubuh Fara, anak yang ia rindukan selama satu minggu ini. Ia selalu merasa bersalah karena dalam kurun waktu tersebut, ia kurang memperhatikan Fara.


"Kok masih pucat, Fat? Ehm ..." Kak Eko terlihat mencebik, seketika kekhawatirannya menghilang, dari rambut Fatih dan Ibra yang terlihat masih basah dan bau sampo sudah terendus jelas, Kak Eko pun tahu apa yang telah dilakukan adik ipar nya, sampai wajah Fatih memucat.


"Jangan terlalu di porsir, Bra. Istrimu masih lelah!" bisik Kak Eko, membuat pasangan suami istri itu terkekeh.


"Wajar, Kak. Empat tahun saya nunggu Fatih." jawab Ibra membuat wajah Fatih memerah seperti tomat karena menahan malu.


Kak Eko pun tertawa akan hal itu.


"Ya udah, Kakak pulang dulu ya, diluar udah mendung banget, takutnya hujan deras." Kak Eko menyerahkan tas Fara, yang berisikan beberapa baju, perlengkapan susu dan mainan Fara ketika menginap dirumah Neneknya.


"Sebelum kesini aku udah makan, jadi masih kenyang."


"Ya baiklah ayo, Kak. Kami antar kedepan." ucap Ibra. Mereka pun berlalu menuju pintu utama untuk mengantar Kak Eko kembali masuk kedalam mobil.


Fara terus melambaikan tangannya sampai bayangan mobil Kak Eko tidak terlihat lagi. Ibra membawa anak dan istrinya kembali masuk kedalam dan mengunci pintu dengan rapat. Bertepatan dengan kedatangan Bu Dasih dari dapur yang berniat untuk pamit pulang.


"Mau pulang sekarang, Bu?" tanya Fatih.


"Iya, Nyonya. Sebelum hujan deras, enggak apa-apa kan, Tuan, kalau saya pulang satu jam lebih cepat?"


"Enggak apa-apa, Bu. Apa mau diantar pulangnya?"


"Iya, Bu. Di antar aja ya sama Mas Ibra." sambung Fatih.

__ADS_1


"Enggak usah Tuan, terimakasih banyak. Tapi kayaknya anak saya sudah menunggu didepan." Bu Dasih meilirik sekilas keluar dari dalam jendela.


"Oh dijemput, ya udah kalau gitu. Hati-hati dijalan ya, Bu." ucap Fatih. Ibra pun kembali memutar kunci pintu rumahnya dan mempersilahkan Bu Dasih untuk pulang.


"Hati-hati ya, Bu." titah Ibra.


Bu Dasih mengangguk dan melangkah cepat menuju gerbang. Padahal saat ini, hari masih sore, tapi karena mendung membuat langit lebih cepat berubah menjadi gelap. Angin pun berhembus kencang disekitar pekarangan rumah mereka.


"Bunda ... Susu." cicitnya.


Dengan cepat Ibra kembali mengunci pintu rumahnya dan mengikuti langkah Fatih yang sedang menggendong Fara menuju meja makan.


"Iya, Nak." jawab Fatih, lalu menduduki Fara di kursi meja makan. Membuka tas Fara dan meraih sekaleng susu bubuk dengan beberapa botolnya dari sana.


"Wah jadi cantik gini anak Ayah, siapa yang nguncirin?" tanya Ibra sesampainya di meja makan. Menyentuh lembut hasil kepangan yang ada di rambut sang Anak.


"Kakak Niken, Ayah ..." jawab Fara polos.


Deg.


Seketika Fatih yang baru saja ingin menuangkan bubuk susu formula kedalam botol, begitu saja terdiam. Ia sedikit menundukkan kepalanya kebawah, menghentikan permainan jari tangannya di meja dapur.


Kebisuan itu pun dirasakan oleh suaminya. Ibra menatap Fatih yang masih memunggungi mereka di meja makan. Ibra tahu, Fatih masih sulit untuk berdamai dengan keponakannya.


Fatih kembali meringis, memegangi perutnya. Entah mengapa mendengar nama Niken disebut, membuat tubuhnya kembali sakit. Ibra pun beranjak dari kursi untuk merengkuh Fatih.


"Sakit lagi perutnya?" tanya Ibra sambil memegang perut Fatih. Wanita itu hanya diam dan menggelengkan kepala. Ibra menggandeng tangan istrinya untuk duduk di meja makan.


"Tunggu sebentar ya, aku buatkan susu dulu untuk Fara." tukasnya. Lalu kembali melangkah meja dapur untuk membuatkan Fara susu.


"Bunda kenapa?" tanya Fara kepada Bundanya yang mendadak diam. Ibra pun menoleh sekilas, melihat Fatih yang masih membisu disana.


"Bunda ..." tanya Fara lagi, dan Fatih memilih untuk diam. Entah mengapa bayangan almarhumah Mamanya kembali muncul. Hal itu membuat hatinya kembali sedih. Mengingat rasa bersalah, karena sudah membohongi sang Mama.


"Apa masih belum ada kata maaf untuk Niken, dihati kamu, Bun?" tanya Ibra dalam hatinya.

__ADS_1


****


Like dan Komennya yah❤️


__ADS_2