Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Malam Cinta untuk Ibra dan Fatih


__ADS_3

Haii selamat malam


Aku kembali guyss


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Hati Fatih begitu lega ketika Ibu mertuanya mau menuruti segala keinginannya saat ini. Tentang Mamanya akan ia bereskan masalah ini secara pelan-pelan.


Bukan ia egois dan hanya ingin menyenangkan diri sendiri. Hanya saja ia tidak mau merusak suasana kebahagiaan bersama Ibra serta calon bayi mereka.


Mengingat luka yang dioleskan Fahmi masih begitu perih di sayatan kulitnya. Dan hanyalah sosok Ibrahim Attar yang bisa menjait luka itu untuk tertutup rapat.


Fatih mempersilahkan Ibu Hanum dan Intan untuk makan malam dulu sebelum mereka pamit untuk pulang.


Kedua wanita ini tergugah dengan penataan meja makan yang mensajikan beberapa makanan lezat dan bergizi.


"Pantas aja ya Bu, Ibra agak berisi sekarang. Soalnya dimasakin yang enak-enak terus sih sama istrinya---" Goda Intan kepada Ibra sambil menatap Ibunya.


Fatih ikut tersenyum sambil menuangkan air di gelas mereka masing-masing.


"Tepat sekali..." Jawab Ibra menimpali ucapan Kakaknya. "Makasi ya sayang..." Ibra meraih tangan Fatih untuk diciumnya.


"Mas, malu ih!" Fatih sedikit menunduk karena malu.


Ibra tertawa lepas, bukannya melepas genggaman tangan itu ia malah beringsut untuk mencium pipi Fatih.


"Mas...ih!" Fatih berdecak. Ia begitu malu dihadapan Ibu dan Kakaknya.


Ibu Hanum terus senyum riang bahagia. Terasa sejuk dan damai hatinya ketika ia melihat Ibra yang sebegini cintanya kepada Fatih.


"Adeuhhh Bu, liat deh si Ibra. Udah tua juga, kelakukannya masih kaya anak SMA lagi puber." Ucap Intan sambil memasukan suapan nasi pertama kedalam mulutnya.


Fatih dan Ibra pun tertawa bersamaan.


"...Gak apa-apa Nak, Ibu malah senang banget lihat Ibra kayak gini."


"Ini semua karena jasa Ibu, makasi Ibu tetap mau menjodohkan kami berdua seperti sekarang." Tutur Ibra.


"Iya Bu, makasi banyak. Ibu sudah memberikan Mas Ibra untuk Fatih."

__ADS_1


"Bersyukurlah kepada Allah, Nak! Yang sudah sangat baik untuk membuat kalian menjadi pasangan suami istri."


Fatih dan Ibra saling melemparkan senyum bahagia kepada Ibu Hanum.


"Ayo Bu kita makan, ibu harus makan yang banyak. Biar tetap sehat, kan sebentar lagi Ibu akan menimang cucu."


"Iya Nak, demi Ibra dan hanya buat Ibra. Ibu akan tetap sehat!" Ujarnya sendu.


"...Berarti besok gak ada lagi ya bu acara mogok makan, sama nangis berjam-jam di taman belakang?"


"Sstt! Intan, jangan bikin Ibu malu ah---" Pekik Ibu Hanum.


"Bu...jangan khawatirin Mas Ibra lagi ya. Ada Fatih sekarang."


Intan kembali menuangkan semur daging ke piringnya. "Tuh Bu dengerin menantunya. Makanya Ibu tuh sekarang sehat-sehat ya, kalau sakit kan gak bisa makan enak kayak gini?" Intan berdecis geli. Ia paling suka jika meledek Ibunya.


"Ayo Bu, makan yang ini...." Fatih meletakan capcay seafood dipiring mertuanya.


"Ibu kapan mau chek up lagi? Biar Fatih dan Mas Ibra yang antar, terus untuk kebutuhan Ibu dan Bapak seperti susu, bahan makanan dll. Akan Fatih kirim juga kerumah!"


"Pokoknya kalau Ibu dan Bapak lagi mau sesuatu, entah mau makan apapun atau mau jalan-jalan. Kabarin Fatih sama Mas Ibra ya---"


Bagai bunga-bunga yang sedang bermekaran, hati Ibra, Ibu dan Intan seketika merekah bahagia. Mana kala mendengar Fatih begitu perhatian kepada Ibu mereka.


"Terimaka kasih banyak Nak..."


Fatih mengangguk senyum dan melanjutkan kunyahan nya kembali.


Ibra tak jemu-jemu untuk memandangi wajah istrinya dengan rasa bahagia.


Ibu dan Intan sudah berlalu pulang dari dua jam yang lalu. Kini Fatih dan Ibra sudah berbaring di ranjang dengan posisi saling berhadapan. Fatih masih menyusuri setiap lekuk wajah Ibra dengan jari jemarinya. Ibra hanya memejamkan mata sambil tersenyum karena senang di diperhatikan.


"Mas..."


"Emm?" Gumam Ibra.


"Mas..."


"I--ya, kamu mau ngomong apa?" Ibra membuka kedua matanya. Ia seperti merasa Fatih ragu-ragu dalam bertanya. "Kenapa, Fat?"


"Kalau lagi hamil gini, boleh berhubungan gak Mas?" Lalu ia merubah wajahnya dengan tatapan malu. "Nanya aja Mas..."


Ibra tersenyum lalu tertawa. "Kamu kangen?"


Wajah Fatih kembali memerah. Ibra beringsut makin dekat ke tubuh istrinya. "Kangen?" tanya Fatih mengulang ucapan Ibra.


Tanpa berlama-lama lagi, Ibra sudah mendaratkan bibirnya diatas bibir Fatih. Mengecup, menghisap dan mengigit agar Fatih membuka bibirnya. Ibra makin mendominasi untuk menginvasi rongga mulut istrinya.


Disela-sela mereka sedang berciuman, tangan Ibra tak lupa untuk masuk kedalam piyama Fatih dan mengelus-elus perut istrinya yang masih datar. Dan semakin panas ketika tangannya dialihkan untuk menjajah tubuh Fatih yang lain.


"Mas..." Lirihnya ketika Ibra berhasil menjamah titik sensitifnya.


Namun dengan cepat Fatih mendorong tubuh suaminya dan bangkit dari kasur dengan membawa sekumpulan cairan yang mengaduk-ngaduk perutnya untuk segera ia muntahkan.

__ADS_1


Howe..howe


Fatih kembali mengeluarkan isi makanan beserta cairan bening itu. Bedanya dulu Fahmi selalu menghardik Fatih karena merasa jijik jikalau melihat Fatih terus mual dan muntah pada saat hamil dulu.


Dan sungguh kebahagian di kehamilan sekarang, karena ada Ibra yang selalu berlari mengikutinya ketika ia muntah di toilet. Memijit-mijit tengkuk lehernya dan tetap mengusap sisa muntahan dari bibir Fatih.


"Kamu gak geli, Mas?"


"Apanya?" Ibra masih mengelap kebasahan yang ada disekitar bibur Fatih dengan tissu.


"Ini...?" Fatih menunjuk tissue yang sudah Ibra remas setelah digunakan untuk mengelap sisa muntahan Fatih.


Ibra tertawa. "Ya gak lah, sayang. Kamu kan istriku----Masa iya aku jijik?"


Kedua mata Fatih mengerjap sempurna. Hatinya begitu tentram dan temaran. Kurang bahagia bagaimana lagi dirinya ketika mendapatkan suami yang pengertian, baik, sangat cinta dan bonusnya ia lebih gagah dari Fahmi. Hanya saja perbedaan umur yang begitu jauh, sepertu keponakan dengan paman.


Fatih merasa hormonnya berubah, ia merasa menginginkan tubuh Ibra dan berbagai kecupan mesra untuknya.


"Mas, dedek bayi minta dijenguk..."


"Disini?" Tanya Ibra berdecis geli. "Aku belum pernah Mas, kalau di bathup..." Cicitnya malu.


"Aku juga belum pernah, tapi marilah kita coba---"


Ibra dan Fatih pun tertawa bersamaan, tak lama dari itu. Terdengar rintihan dari keduanya dari dalam bath up. Ibra tetap mendominasi dan terus berkreasi agar Fatih bisa klimaks dengan sempurna.


Tubuh Fatih menggeliat, membuncang dan mengeluh.


"Enak...sayang?"


"Hemm....euh!" Rintih Fatih sambil memejam kedua matanya, tak kala Ibra masih menghentakkan inti tubuhnya.


Ibra tersenyum puas, ia kembali menyusuri tengkuk leher istrinya sampai ke tulang selangka.


"Yah merah nih..." Ledeknya.


"Gak apa-apa Mas, asal jangan lebam sama biru ya----" pintanya.


Seketika wajah Ibra berbeda, takkala Fatih menyebut keanehan disini. "Biru? Lebam? Ya Allah sayang...sebegitunya si keparatt itu menyiksa kamu!"


"...Mas!" Fatih terus mencakar pundak Ibra manakala ia merasa akan ada yang ingin menjerus keluar.


"Ayo sayang...lepaskanlah!"


"Euhh..." Fatih semakin tidak sadar, suaranya begitu mengeluh ketika ia akan terbang ke awang-awang.


Ibra tersenyum bahagia. "Aku akan selalu buat kamu puas...."


Nikmatilah malam cinta ini dan berbahagialah semoga tidak ada topan yang menerjang untuk mempora-porandakan rumah tangga kalian.


****


Aduh aku jadi bucin nih liat Fatih sama Ibra.

__ADS_1


Like dan Komen ya guyss


__ADS_2