Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Aku bersumpah akan balas kamu!


__ADS_3

Haii selamat sore semuanya


Aku balik lagi guys, adakah yang rindu? hehe


Okedeh, selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Fatih dan Ibra terlihat sedang berjalan menyusuri rumah sakit menuju Poli Jiwa. Fatih sudah mendaftarkan via online untuk mereka berdua sebagai pasien disana. Dengan jas kantor yang masih melekat ditubuh mereka. Ibra dan Fatih terlihat sebagai pasangan eksekutif muda yang tajir melintir.


Fatih tidak merasakan yang aneh pada Ibra. Karena sejatinya lelaki ini selalu bisa menutupi apa yang ia rasakan. Ia akan selalu bersikap tenang dan damai walau masalah tengah mencekik lehernya.


Mereka akhirnya sampai didepan Poli Jiwa dan menunggu nama mereka dipanggil kedalam. Pasien banyak yang sudah antri dengan diagnosa penyakit jiwa yang berbeda.


Tentu masalah jiwa tidak hanya terjadi pada kalangan dewasa namun pada di kalangan anak-anak pun sudah banyak terjadi.


"Kasian ya Mas..." Fatih membawa arah mata Ibra untuk melihati seorang anak SD yang sedang jalan mondar-mandir didepan mereka. Sang Mama terus mengikuti kemana anak ini melangkah. Tatapannya anak itu begitu kosong.


"Hm..iya."


"Aku nggak nyangka deh, kita bisa berobat bareng Mas. Dengan ini kan bisa jadi motivasi buat kita ya?"


"Hm..iya." Begitulah terus. Hanya dua tiga huruf itu yang keluar dari mulut Ibra.


Fatih mengedik, rasanya ia mulai tahu kalau suaminya sedang aneh. Ibra terlihat melihat kesana kemari pasien-pasien yang masih menunggu seperti dirinya sekarang.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa?" Ibra menoleh ketika sang istri memanggil dirinya.


"Kenapa, gimana sayang?" Jawab Ibra. Hati Fatih terasa lega, karena Ibra kembali bersuara hangat.


Entah mengapa ucapan lahknat yang diberikan oleh Fahmi terus saja membuat hatinya menjadi risau. Ia teringat kembali dengan lelaki itu. Ia merasa dirinya tidak pantas dengan sang istri. Maka itulah yang membuat ia tidak konsen sedari tadi.


Ibra tetap berusaha dewasa. Ia menampik apa alasannya kurang bersemangat hari ini.


"Kayaknya selama di perjalanan sampai sekarang, kamu banyak diam, kamu sakit Mas?"


Fatih menangkup kan kedua tangannya di perpotongan dagu Ibra. "Agak hangat Mas, mau ke Dokter Umum dulu aja?"


"Tadi sebelum jemput kamu, aku sempat muntah beberapa kali. Aku masuk angin kayaknya---"


"Loh kenapa? Kok bisa?"


"Sekarang juga bawannya masih mual aja, Fat..."


"Iya udah kita ke Poli Umum aja yuk?" Fatih mulai bangkit dan menggandeng tangan Ibra. Sontak dengan cepat Ibra menghalaunya. "Nanti aja sayang, habis dari sini.." Ibra menunjuk daun pintu Poli Jiwa.


Fatih mengangguk tanda setuju dan faham.


"Sebentar..." Fatih membuka tasnya. Lalu mencari-cari benda yang ingin ia raih. "Nah ketemu!" Tangannya menggenggam sebuah botol minyak kayu putih. Menuangkan isi minyak tersebut ke atas telapak tangannya.


Ibra menurut dan membukanya. Telapak tangan Fatih mulai meraba masuk kedalam untuk mengoleskannya. Tangan Fatih pun pindah untuk mengolesi ke tengkuk leher dan memijitnya. Ibra pun langsung bersendawa.


"Tuh kan Mas masuk angin.."


Fatih terus memijiti tengkuk leher Ibra. "Ayo lepasin aja, biar keluar anginnya!" Ibra kembali bersendawa. Ia terus menundukan sedikit kepalanya kebawah.


"Iya sayang, makasi ya..." Ibra tersenyum penuh haru. Ia kembali mendongakkan wajahnya dan menyandarkan dirinya yang begitu saja terasa lemah di sandaran kursi.


Fatih mencoba mengancingkan kembali kemeja suaminya. Walau banyak mata yang melihat, ia tidak risih atau malu. Baginya Ibra tetap nomor satu.


Sebegitu cinta dan perhatian Fatih kepadanya. Melihat Fatih yang seperti ini membuat hati Ibra merasa tegap lagi. Segala bayang-bayang tentang ucapan Fahmi begitu saja berangsur menghilang. Ibra kembali percaya diri.


"Tuan Ibra..."


Perawat dari dalam poli memanggil namanya untuk masuk kedalam.

__ADS_1


"Ayo Mas.."


Fatih menggandeng tangan suaminya untuk bangkit mengikuti seruan dari Perawat yang masih berdiri diambang pintu.


Lalu


Blass.


Langkah mereka begitu saja terhenti, ketika ia tahu siapakah pasien yang sejak tadi berada di dalam poli sebelum mereka. Keluarlah lelaki yang sedari tadi menggerayangi fikiran Ibra.


Sungguh kebetulan yang sangat tidak disengaja.


"Fahmi?" Cicit Fatih pelan. Mereka bertiga saling terperangah.


Apakah Fahmi mulai mengobati dirinya?


Fatih bergumam dalam hati. Ia begitu kasian melihat keadaan mantan suaminya. Walau lelaki itu sudah mengoleskan luka, penderitaan, kebohongan dan seluruh caci maki kepadanya. Fatih tetap saja tidak sampai hati dengan keadaan Fahmi yang semakin lusuh tidak bergairah saat ini.


Tapi sepertinya Fahmi belum sembuh. Ia tetap menghina Ibra.


"Ternyata kamu sama sepertiku, tidak waras! Lalu apa bedanya aku dengan dia, Fat?" Fahmi mulai mengalihkan pandangannya dan menoleh ke arah Fatih. "Kenapa kamu masih pilih dia? Jelas-jelas aku lebih darinya." Ucap Fahmi bangga.


"Kamu yang sakit! Mas Ibra normal, dia kesini hanya ingin mengantarku berobat!"


"...Jangan bohong! Aku dengar ketika Perawat sedang memanggil nama lelaki ini!" Matanya melirik sebal.


Ibra tetap terlihat stay cool jika saja ini sedang tidak di Rumah Sakit, mungkin ia akan menghajar lelaki ini. Mantan suami Fatih yang selalu bersikap kurang ajar.


"Kamu!" Fatih tidak tahan untuk melayangkan telapak tangannya namun dengan cepat ayuhan tangan itu dicekal oleh Ibra.


"Jangan sayang.." Ucap Ibra lembut. Ibra meraih tubuh Fatih untuk dirangkulnya.


"Ayo Pak silahkan masuk, Dokter sudah menunggu didalam---" Ucap Perawat untuk menengahi mereka.


"Lihat kan? Betapa baiknya hati suamiku! Bahkan ia tidak mau jika aku mengotori tanganku sendiri!" Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Fatih ketika dirinya sedang melangkah masuk kedalam poli.


Fatih terus saja membela Ibra. Awalnya ia simpati namun karena melihat perangai lelaki itu terus menghina suaminya. Ia menjadi emosi.


"Aku bersumpah! Akan balas kamu!"

__ADS_1


Fahmi terlihat geram. Ia pun berlalu dari sana. Membawa sejuta dendam, amarah dan kebencian.


****


__ADS_2