
"Selama ini kamu sakit, Han? Kenapa nggak kabarin aku?" tanya Mama Tari dengan rasa khawatir kepada Ibu Hanum.
Ibu Hanum tersenyum dan menggenggam tangan sahabatnya. Ada rasa bersalah yang terus saja menyelimuti hatinya. Tega-teganya selama ini tanpa sengaja ia sudah membohongi orang yang sudah menjadi sahabat, besan dan sangat berjasa di dalam hidupnya. Hanya karena kelakuan tidak terpuji yang dilakukan oleh sang cucu, kini ia dan para anaknya harus menanggung beban.
"Aku hanya enggak mau ngerepotin kamu, Tar. " jawab Ibu.
"Kamu nih kayak sama siapa aja, kita itu udah sahabatan lama kan.." balas Mama Tari. Perasaan Mama Tari sekarang jadi mundur maju.
Ia ingin sekali menanyakan langsung perihal Kak Ira dan Niken. Tapi ia bingung harus dari sisi mana untuk memulai. Bisa saja kan Niken adalah orang lain di keluarga ini? Dan Kak Ira mengenalnya karena hanya menjadi seorang teman?
"Teman? Tapi kayaknya nggak mungkin! Wajah mereka terlihat agak mirip." batin Mama Tari, ia terlihat melamun lama.
"Silahkan tante, diminum dulu---" Kak Intan meletakan dua cangkir teh dan sekotak kue di meja tamu. Mama Tari yang tersadarkan dari lamunan langsung spontan berujar.
"Makasih ya, Ntan?" jawab Mama Tari. Kak Intan mengangguk dan mulai bangkit untuk beranjak berlalu.
"Oh iya, Han. Anaknya Ira itu perempuan atau laki-laki ya?"
Jag.
Kalimat yang tidak akan disangka-sangka oleh Kak Intan juga Ibu Hanum, mereka seperti tengah disengat petir sekarang. Wajah Ibu Hanum seketika menegang, membuat Mama Tari semakin curiga.
"Kamu kenapa, Han?" Mama Tari mengguncang bahu besannya.
"Intan kamu kenapa?" Mama Tari menoleh melihat Kak Intan yang hanya berdiri memunggunginya.
Ibu dan Anak itu pun membuka suara bersamaan.
"Laki-laki anaknya." jawab Ibu Hanum dan Kak Intan secara bersamaan, dengan ekspresi aneh dan sedikit dipaksakan. Membuat Mama Tari merasa semakin curiga dengan sikap mereka.
__ADS_1
"Untung aja jawaban ibu sama kaya aku." Kak Intan bernafas lega, sudah dipastikan akan menjadi tragedi peperangan maha dasyat kalau jawaban ia dengan Ibu berlawanan. Ia tadi hanya refleks untuk membantu menjawab, ia takut sang Ibu akan begitu saja jujur.
"Maaf tante, jadi nyelak ibu jawabnya." ucap Kak Intan, ia terlihat salah tingkah.
Kerutan di dahi Mama Tari pun mengendur dan ia tertawa pelan. "Nggak apa-apa sayang."
"Intan permisi tante." Kak Intan menundukkan kepalanya, ia pun berlalu ketika sudah mendapatkan anggukan kepala dari Mama Tari.
"Kamu kenapa tiba-tiba nanyain anaknya Ira, Tar? Kamu kenal dengan cucuku?" tanya Ibu Hanum terbata-bata.
Ia ingin mengorek-ngorek apa yang saat ini tengah mengganjal di hati sahabatnya. Apakah kebohongan yang dilakukan ia, Ibra dan Fatih sudah mulai tercium?
"Kalau anaknya Ira laki-laki, lalu apa hubungan Niken dengan Ira? Temannya, kah?" tanya Mama Tari dalam hatinya. Ia pun memandang lama bola mata sahabatnya yang mulai terlihat bayangan putih di sana.
"Enggak mungkin kan Hanum berbohong?" Mama Tari terus saja bertanya dalam batinnya. Salah terbesarnya adalah tidak pernah menyelidiki keluarga besar Ibu Hanum sampai ke generasi berikutnya, ia hanya tahu tentang anak-anak Ibu Hanum, bahkan disaat pernikahan Ibra dan Fatih pun, Niken tidak datang karena sedang hamil besar dan sudah tinggal diluar negeri bersama Gading, dan sekarang Niken kembali datang karena ia sedang menginap untuk melepas rindu kepada ibunya, Kak Ira.
"Tari ..." Ibu Hanum kembali berujar. Ia semakin tahu bahwa Mama Tari sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oh, enggak, Han. Aku hanya ingin tau aja kok." jawab Mama Tari tersenyum kembali sambil menyesap air teh buatan Kak Intan.
Ibu Hanum pun membalas senyuman itu dengan senyuman tipis, dadanya terasa bergejolak. Jantungnya seperti ingin mencelos keluar dari tempatnya, ketika ia baru saja membohongi sahabatnya sekali lagi. Perasaan was-was terus saja menyerbak didalam sanubarinya. Ia seperti tahu, kalau sebentar lagi, lama-kelamaan Mama Tari akan tahu hal yang sebenarnya.
Karena sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium juga. Ibu Hanum percaya dengan istilah itu, ia pun menjadi gusar dan semakin takut.
"Apakah sebaiknya aku jujur? Mungkin dengan jujur, Tari mau memaafkan ku karena sudah menyembunyikan hal ini." desah Ibu Hanum.
****
Tanpa menunggu lama, Fahmi dengan kecepatan kuda mulai beraksi untuk menjalankan misinya, yaitu menghancurkan Ibrahim Attar sampai ke dasar tubuhnya. Dia berpendapat, jika dirinya tidak bisa kembali mendapatkan Fatih. Ia pun tidak akan membiarkan Ibra bisa hidup berbahagia dengan wanita itu.
__ADS_1
"Hanya saya yang bisa hidup selamanya dengan kamu, Fat!" ujar Fahmi sambil memukul stir kemudinya.
Ketika perasaan emosi itu kembali muncul, ia begitu menderita jika mengingat Fatih tengah berbahagia didalam dekapan Ibra, dan walau pun berkali-kali ia ingin melupakan Fatih, tetap saja hatinya tidak bisa. Jiwanya terus saja sakit dan cintanya semakin merekah saja untuk sang mantan istri.
"Sekalipun aku harus menerima kamu menjadi bekasnya Ibra, aku akan terima dengan senang hati sayang. Yang penting kamu kembali lagi sama aku!" ujar Fahmi dengan tatapan tajam yang memandang lurus jalanan di hadapannya. Rasa penyesalan karena sudah membuat Fatih tersakiti karena ulahnya, membuat obsesi cintanya semakin kuat. Ia ingin memiliki Fatih lagi untuk mengobati rasa bersalahnya.
Ia pun beranjak bangkit untuk turun dari dalam mobil. Kini ia mematung kembali di depan sebuah rumah yang pernah mengizinkan ia bisa masuk dengan leluasa ketika masih menjadi suami Fatih. Dan di sini lah Fahmi sedang berada, di kediaman orang tua Fatih.
"Fahmi..?" begitu kagetnya Papa Faris ketika sedang membuka pintu rumahnya, Ia tidak sengaja keluar dari kamar ketika pintu rumahnya ada yang mengetuk. Coba saja ia lebih dulu mengintip sebelum membuka pintu, sudah dipastikan Fahmi akan membeku berjam-jam didepan sana.
Dirinya sama sekali tidak menyangka jika Fahmi bertandang lagi kerumahnya. Bahkan suara tangisan Fatih yang mengadu kesakitan karena habis dipukuli oleh Fahmi dulu, masih saja membekas di memorinya. Ia begitu sakit hati, ketika putri semata wayangnya diperlakukan tidak baik di pernikahan pertamanya bersama lelaki yang ada dihadapannya sekarang.
"Iya, Pah. Bagaimana kabar Papa?" jawab Fahmi sambil sedikit menunduk untuk meraih tangan mantan mertuanya, untuk disalami.
Papa Faris hanya terdiam, dan tangan Fahmi masih menggantung di udara.
"Mau ada perlu apa kamu kesini?" suara bariton Papa Faris begitu saja membuat telinga Fahmi tersulut akan api kekesalan. Memang lelaki itu mudah marah ketika ia merasa tidak dihargai. Fahmi kembali mendongakkan wajahnya untuk menatap Papa mertuanya. Ia menarik kembali tangannya yang tidak bersambut.
"Ada yang ingin saya bicarakan tentang perusahaan, Pah. Bolehkah saya masuk dulu kedalam?"
"Saya sudah tahu, kalau kamu dengan sengaja sudah mencabut saham dari---" seketika ucapan Papa Faris begitu saja terhenti.
Ia meringis sakit, memegangi dada kirinya. Sepertinya masalah kemarin sangat mengguncang batin Papa Faris. Jangan sampai ia terkena sarungan jantung kembali, sudah dipastikan nyawanya akan sulit untuk tertolong. Entah bagaimana keadaan Papa Faris selanjutnya, jika Fahmi tetap mengadukan sikap Ibra yang lebih memilih menjual aset perusahaan, disaat keadaan tengah genting menerpa Facorp.
Fahmi pun beringsut memapah mantan mertuanya itu untuk dibawa masuk kedalam. Menduduki Papa Faris di sofa dengan segala perhatian palsunya. Bagaimanapun Fahmi masih menyimpan dendam kepada Papa Faris, karena sudah memaksa Fatih untuk menceraikan dirinya.
"Kamu jangan pura-pura baik dengan saya, Fahmi!" Papa Faris menepis tangan Fahmi untuk menjauh darinya. Fahmi pun makin tersulut emosi.
"Kurang ajar, memang tidak tahu diri lelaki ini, padahal sudah saya tolong tadi!" Fahmi berdecak kesal dalam hatinya.
__ADS_1
*****