
Haii aku balik lagi guyss.. maafkan aku menghilang kemarin karena aku ada kesibukan🖤🖤
Selamat baca ya guyss
❤️❤️💛
.
.
.
.
.
4 tahun yang lalu.
"Papa mau rapat, Mah. Kenapa anak-anak dibawa kesini?" Kedua matanya terbelalak ketika Jihan datang ke kantor serta membawa kedua putra mereka.
"Ayo Kakak sama adik disini dulu sama Papa ya, Mama mau pergi dulu!" Ucap Jihan berucap kepada anak-anaknya.
"Mah? Memangnya kamu mau kemana?"
"Mama mau arisan Pah, nggak mungkin kan bawa Irsyad dan Iffat! Lagian masih libur sekolah, kasian kalau mereka hanya dirumah!"
Ibra menggeleng pelan, ia menyayangkan mengapa sikap Jihan tidak pernah berubah. Hanya memikirkan kesenangan pribadi dibanding keluarga.
"Tapi Papa mau rapat, Mah. Nanti anak-anak bagaimana? Aku nggak mungkin bawa mereka ke ruangan ku." Desah Ibra.
"Heran deh Pah, Mama hanya ninggalin anak nggak sampai sehari sama Papa, udah uring-uringan kayak gini! Teman-teman Mama pada nggak bawa anak Pah, aku nanti juga nggak konsen kalau bawa mereka---"
"Kak Irsyad jaga adikmu ya sayang. Kalian sama Papa dulu jangan nakal ya!" Jihan mengelus rambut kedua anaknya. "Pah, titip anak-anak ya. Mama jalan dulu!" Jihan mencium pipi suaminya.
"Iya kamu hati-hati, Mah." Ibra dengan sangat berat hati akhirnya mengijinkan untuk istrinya pergi arisan. Ia tidak mau ribut dikantor apalagi didepan kedua anak mereka.
Sudah sebulan asisten rumah tangga resign dari rumah mereka. Karena Jihan selalu menunda-nunda penggajian pembantunya. Ibra dan Jihan selalu beradu mulut tentang Jihan yang tidak bisa mengatur keuangan.
Ibra adalah suami yang amat baik, ia tidak masalah jika harus mencuci seluruh baju atau berbenah rumah. Karena Jihan akan selalu mengeluh letih dan capek, padahal ia hanya ibu rumah tangga yang sehari-harinya hanya lelah karena mengantar anak-anak ke sekolah.
"Ayo Nak, ikut Papa ya." Ibra merangkul kedua putranya untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan kerja.
"Pah, tunggu!" Jihan memutar langkahnya untuk mengejar Ibra. Ibra pun menoleh ketika mendengar suara istrinya memanggil.
"Kenapa Mah?"
"Papa masih punya uang lebih nggak?"
Kening Ibra mengerut. Ia sudah tahu jika Jihan berkata seperti ini, berarti uang bulanan yang ia berikan pasti sudah habis.
__ADS_1
"Kan uang semua kamu yang pegang, bahkan uang mingguan ku saja belum kamu kasih, uang lebih dari mana?"
"Masa sih Pah?" tanya Jihan manja. "Soalnya temanku ada yang jual kosmetik, malu kan kalau aku nggak beli---" cicitnya sendu.
"Loh, aku kan baru 2 minggu gajian. Apakah uangnya sudah habis?"
"Kita banyak keperluan Pah, bayar ini dan itu! Gaji Papa jadi manager juga nggak cukup! Anak dua, belum harus bayar rumah, mobil, kebutuhan sehari-hari---"
"...Tapi Papa rasa gaji Papa itu sudah lebih dari cukup Mah! Harusnya juga masih bisa untuk ditabung. Bahkan bulan kemarin aku sudah meminjam uang Ibu, Kak Intan dan Kak Ira!"
"...Belum lagi aku juga bon ke koperasi kantor untuk memenuhi permintaan kamu untuk pergi ke bali bersama teman-temanmu. Itu semua belum dibayar Mah. Papa ingin Mama melunasinya bulan ini!"
"Tapi pah, uangnya udah habis--"
Ibra terlihat emosi dan frustasi. Ia selalu bekerja dari pagi smpai malam hanya untuk mensejahterakan keluarganya. Tetapi Jihan selalu berfoya-foya untuk kesenangan dirinya, ia sering melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan sebagai ibu.
"Soal ganti uang Ibu dan Kakak-kakak mu kan gampang Pah, tinggal bilang kita lagi ada keperluan banyak! Jadi gimana nih kamu masih ada uang lebih nggak?"
Begitu lah Ibra walaupun hatinya sering tersakiti tetapi rasa cinta untuk keluarga selalu utuh. Ia pun mengeluarkan beberapa uangnya yang ada di dompet.
"Nah gitu dong Pah, kamu tuh jangan pelit sama istri!
"Tapi Mah, uang ini untuk beli oli mobil. Papa belum service. Itu juga uang sisa mingguan ku--"
"Berarti kan uang mingguan Papa selama ini masih ada sisa ya? Ya udah bulan depan nanti Mama kurangin uang mingguannya. Lumayan buat nambahin uang les nya Irsyad!"
"Tapi, Mah??"
Ibra hanya mendengus kan nafasnya pelan. Ia hanya melihati kedua putranya yang kini hanya melamun melihati kedua orang tuanya yang beradu mulut soal uang.
Bagaimana untuk mengajak anaknya makan siang hari ini, jika ia sudah tidak punya uang lagi di dompet.
"Aku pinjam saja sama Damar kalau begitu..." gumamnya dalam hati. Ia pun membawa kedua putranya masuk ke dalam.
***
Terlihat Ibra mengajak kedua anaknya untuk makan siang di rumah makan. Bersyukurlah dirinya karena hari ini Damar mau meminjamkan lagi uang untuknya. Damar selalu menasehati Ibra untuk lebih tegas kepada Jihan, namun Ibra amat mencintai wanita itu. Dia akan melakukan apa saja agar istrinya terlihat bahagia.
"Papa nggak makan?" tanya Irsyad.
"Nggak, Nak. Kakak aja sama Adik yang makan. Papa masih kenyang--"
Kenyang? Tentu tidak. Bahkan pagi ini, Jihan lupa membuatkan sarapan untuk Ibra. Ibra pergi ke kantor dengan perut kosong. Tak jarang pula ia yang bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk istri dan anak-anaknya.
"Papa kan belum sarapan?" cicit Iffat.
Ibra hanya tersenyum dan mencium putra bungsunya. "Adik yang kenyang makannya yah, nanti kalau masih lapar biar tambah lagi--"
Ia mengalah untuk kedua anaknya, ia hanya diberi sedikit pinjaman dari Damar. Rasanya uang itu tidak cukup jika dipakai makan untuk bertiga.
__ADS_1
Kring
Dering ponsel Ibra berbunyi.
"Ya hallo?"
"Hallo Pak, saya Mirna. Wali kelas Irsyad."
"Oh iya bu, ada apa ya bu?"
"Maaf Pak menganggu, saya terpaksa menelpon Bapak. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa Irsyad belum bayaran SPP bulanan, rapot tidak akan bisa diberikan jika SPP belum dibayar. Tolong dilunasi ya Pak. Saya tunggu sampai besok."
Dahi Ibra terlihat berkerut-kerut, ia terdiam seraya memijit-mijit celah dahinya.
"Bagaimana Pak?" tanya walik kelas Irsyad, ketika ia merasa Ibra hanya diam saja belum memberi respon apapun.
"M---aaf bu, iya baik. Akan segera saya lunas kan. Maaf atas keterlambatannya ya bu."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Tut...sambungan telepon terputus.
Terlihat wajah Ibra sangat geram dan emosi. Ia tidak habis fikir Jihan akan membuat anak dan dirinya malu seperti ini. Sungguh keterlaluan seorang istri tega membuang-buang uang hanya biar dianggap sosialita dikalangan para sahabatnya. Memaksakan kehendak agar bisa berperilaku layaknya istri bos.
Ia selalu menuntut agar Ibra mempunyai pekerjaan sampingan untuk bisa membawa keluarga mereka ke taraf hidup yang lebih tinggi.
Sungguh kasihan dirimu, Ibra!
****
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
3.Gifali dan Maura
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
__ADS_1
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️