Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Ada Hubungan Apa Mereka?


__ADS_3

Deru mesin mobil sudah Ibra matikan sedari tadi. Ia masih termenung dikursi kemudi. Belum mau turun untuk memeluk istrinya didalam, merebahkan tubuhnya di sana dengan helaan napas yang panjang. Hatinya belum tegap karena masalah di perusahaan.


"Saya harus sabar menghadapi Fahmi. Apa mungkin ini hanya gertakannya?" Ibra terus saja menerka-nerka, bayangan lelaki yang ingin menghancurkan dirinya terus saja bermunculan.


Tok tok tok


Ketukan di jendela mobilnya membuat Ibra menarik dirinya untuk kembali tegap, ia menoleh dan mendapati istrinya diluar mobil.


Ibra pun bergegas turun sambil membawa tas dan jas kerjanya.


"Kamu udah sampai, tapi belum turun, kenapa, Mas?" tanya Fatih yang sudah cantik dan wangi serta sudah mengenakan piyama tidur bergambar karikatur buah strawberry. Seperti biasa Ibra akan mengecup pipi istrinya yang semakin membulat. Fatih meraih tas dan jas kerja itu untuk ia genggam.


"Rebahan sebentar, Bun. Tadi jalanan macet." Ibra berdalih. Ia pun merangkul istrinya untuk dibawa masuk kedalam rumah.


"Kamu mau mandi sekarang, Yah? Aku sudah memasak air panas buat kamu." Ucap Fatih sambil masuk kedalam kamar, sedangkan Ibra kembali terduduk di sofa ruang tamu. Menyandarkan tubuhnya kembali degan raut wajah pias yang tidak bisa ditutupi. Bagaimana pun Fatih adalah istri, ia pasti tahu perangai suaminya ketika sedang mendapat suatu masalah.


"Ada apa sayang?" tanya Fatih ketika ia sudah keluar lagi dari dalam kamar. Menghempaskan dirinya dengan hati-hati disebelah Ibra. Ibra pun beringsut untuk meletakan kepalanya di pangkuan sang istri. Kepalanya diarahkan untuk menatap perut buncit itu dan menciumnya beberapa kali. Fatih hanya tersenyum sambil membelai-belai rambut suaminya.


"Ayahnya Fara lagi kenapa nih? Kok sendu gitu wajahnya..." tanya Fatih.


Ibra hanya terdiam, ia memejamkan kedua matanya sambil terus melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk perut Fatih.


"Kenapa, Mas? Cerita sama aku! Apa soal saham perusahaan yang anjlok?"


Mendengar ucapan yang keluar dari bibir istrinya membuat Ibra tersentak dan langsung membuka kedua matanya. Ia mendongak menatap Fatih yang juga sedang menatapnya balik.


"Kok kamu tau, Bun?" tanya lelaki itu.


Fatih menghela nafasnya, sambil mengusap perut untuk menenangkan Fara.

__ADS_1


"Beritanya ada di koran, Mas. Secara terang-terangan Fahmi dan Om Bima melepas saham mereka dari Facorp. Kata mereka saham tidak berkembang, penjualan menurun. Apa benar begitu, Mas?"


tanya Fatih masih dalam nada yang lembut, sejatinya ia juga sudah tahu padahal niatnya Ibra ingin dulu menutupinya dari Fatih, Ibra takut istrinya bisa stress apalagi dalam keadaan tengah mengandung besar.


"Iya, Bun. Penjualan tiba-tiba merosot drastis. Kehilangan saham tentu membuat kita harus mengembalikan uang mereka. Padahal saat ini kita butuh modal yang cukup besar untuk memproduksi prodak baru lagi."


"Atau kita ambil saja saham yang ada di PT. Anugerah, Mas? Sebagian aja, biar bisa menutupi inflasi nya, bagaimana menurut kamu?"


Wajah Ibra terlihat berbinar kembali. Ia merasa bahagia mendapatkan pencerahan. "Kamu sangat cerdas, Bun. Ayah nggak kefikiran sampai kesana!" Ibra bangkit lalu mencium pipi istrinya berulang-ulang kali.


Fatih tersenyum tipis, ia senang melihat suaminya kembali ceria. Tapi dilain itu, raut wajahnya masih saja terlihat sendu.


"Ada apa sayang?" tanya Ibra.


Awalnya Fatih hening lama. Melemparkan pandangannya kesana kemari. Tapi ia tidak bisa menahan sendirian, ia perlu Ibra.


"Ya Allah terus gimana? Sudah dibawa ke Dokter?"


"Sudah, Mas. Aku tadinya mau kesana, tapi Papa melarang. Katanya sudah enakan."


"Aku memang tidak pantas ada diposisi ini, Bun. Aku malu sama orang tuamu."


"Ssst! Jangan ngomong kayak gitu. Ini bukan salah kamu, Mas. Memang sudah saatnya Fahmi dan Om Bima lebih baik pergi dari perusahaan kita. Aku juga sudah malas berhubungan dengan mereka lagi. Papa hanya shock aja, selebihnya dia mengerti."


Ibra pun memeluk tubuh Fatih dengan erat. "Makasih ya sayang, sudah menyemangati aku. Aku fikir kamu akan kecewa, Bun."


"Aku percaya kamu kok!" Fatih melepas pelukan itu dan mengecup bibir suaminya. "Ayo mandi dulu yuk, habis itu kita siap-siap shalat jamaah magrib."


Fatih menggandeng tangan suaminya untuk masuk kedalam kamar. Terpujilah sikap Fatih yang terus membesarkan hati suaminya yang sedang gundah gulana. Padahal disatu sisi, perasaan was-wasnya masih saja merasuk di jiwanya.

__ADS_1


****


"Masih sakit, Pah?" tanya Mama Tari ketika ia membantu suaminya untuk duduk di kursi tunggu pasien. Mereka membohongi Fatih, kalau Papa Faris baik-baik saja. Padahal saat ini, lelaki itu masih mengerang sakit dan baru saja keluar dai UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Mama kasih tau aja keadaan Papa sekarang kepada Fatih dan Ibra ya, Pah." Mama Tari memutuskan untuk meraih ponsel dari tasnya.


"Jangan, Mah. Kasian Fatih, nanti dia kefikiran. Mana lagi hamil besar, sudah jangan!" Papa Faris memasukan ponsel milik istrinya kedalam tas kembali.


"Papa juga udah mendingan kok, Mah. Udah nggak begitu sakit kayak tadi."


Mama Tari mengangguk dan menatap sedih ke wajah suaminya yang begitu pucat. "Papa jangan mikirin perusahaan sampai segitunya, enggak baik, Pah."


"Padahal dulu ketika mereka menaruh saham di perusahaan kita, Fahmi dan Bima juga mendapatkan keuntungan yang besar, Mah. Perusahaan mereka bisa berkembang, karena berkat kita juga. Tapi sekarang mereka seperti kacang yang lupa dengan kulit!" pekik Papa Faris dengan kepalan tangan membentur kursi kosong disebelahnya. Lelaki paru baya itu kembali terlihat meringis sambil meletakan telapak tangannya lagi didada.


"Tuh, kan! Sakit lagi, udah Pah. Fatih bilang masih ada beberapa saham diluar sebagai penggantinya, jadi Papa jangan takut dulu."


"Wajar kan, Mah. Papa takut? Papa besarin perusahaan itu dari sewaktu muda. Papa hanya ingin memberikannya kepada Fatih serta turunannya."


Mama Tari mengelus-elus lembut punggung suaminya. "Sabar, Pah. Keluarga kita mungkin sedang di coba, tapi Papa tenang. Ibra dan Fatih bisa menyelesaikan semua ini. Papa yang penting sehat, sebentar lagi kan mau lihat Fara lahir."


Papa Faris pun mengulas senyum. "Iya, Mah. Fara sebentar lagi akan lahir, cucuku."


Mama Tari menatap suaminya dengan wajah bahagia, lalu tanpa sengaja ia menoleh ke arah berlawanan. Betapa tercengang nya wanita paru baya itu, ada pandangan yang tidak mengenakan di kedua matanya. Mulutnya begitu saja menganga, tatapannya memandang lurus dengan delikan tajam. Seketika wajahnya memerah. Bagai melihat bola api yang akan menyembur ke arahnya, Mama Tari tertohok hebat.


"Ada hubungan apa mereka?" desahnya.


*****


Dua episode nih di hari ini, kalau kalian sayang aku. Like dan Komennya jangan lupa ya❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2