
Ibra dengan langkah panjang beranjak turun dari ranjang. Ia ingin meraih tubuh istrinya untuk menjauh ketika tangan Fatih sudah di julur kan ke atas lemari. Bisa mati dirinya, dan Fatih akan bertambah marah kalau ia tahu sang suami sengaja memasang cctv untuk mengawasi gerak-gerik dirinya selama dirumah. Walau Ibra melakukan semua itu hanya untuk menjaga Fatih dari jarak jauh.
Blass
Ibra mendekap Fatih dari belakang, membuat ia menghentak kan kakinya lagi ke lantai setelah berjinjit agak lama.
"Lepasin, Mas!" sergah Fatih, lalu melepas dekapan tangan Ibra yang masih mengunci dadanya dari belakang. Tenaga Fatih kalah kuat dengan Ibra, walau istrinya tengah hamil 7 bulan, tapi Ibra masih mampu untuk menggendongnya.
Fatih di dudukan ditepian ranjang. Bola matanya tajam menatap Ibra. Ibra membungkuk kan badan menatap ke atas lantai, menghela napas panjang lalu kembali mendongak menatap Fatih. Ia takut Fatih meninggalkan dirinya dari dunia ini.
"Sejak kapan kamu masih mengkonsumsi obat-obatan depresi ini, Mas? Kenapa sih kamu masih meminumnya? Ada masalah apa? Kenapa kamu enggak pernah cerita kalau sedang terguncang lagi?" suara lugas Fatih membuat Ibra dan juga Fara bergeming. Fara terlihat bersembunyi dibalik selimut. Memang itu yang selalu ia lakukan, jika sedang dimarahi atau melihat orang lain dimarahi oleh Bundanya.
"Kenapa diam? Kamu dengar aku kan? Kamu udah jadi Ayah dan bentar lagi anak kamu akan ada dua, mau sampai kapan lepas dari obat ini??" Fatih menggoyang-goyangkan kaplet obat yang ada ditangannya. Ia mendelik tajam ke arah Ibra yang terus menatapnya balik dengan tatapan penuh memelas maaf.
Ingin Ibra katakan, jika ia terpaksa meminum obat itu, karena tidak bisa menahan gejolak kecemasan yang terus saja mengguncang batinnya karena permasalah penyakit Fatih.
"Jangan teriak-teriak sayang, itu Fara nya takut."
Fatih menoleh dan mendapati Fara tengah meringkuk dibawah selimut. "Bunda enggak marah sama Fara kok, Nak." ucap Fatih kepada Fara.
"Tapi kamu kan lagi marahin Ayahnya, Bun." Ibra menyelak ucapan Fatih, sontak membuat Fatih menoleh dan memutar bola matanya jenga. Ia pun bangkit dari ranjang dan membuang kaplet obat itu ke lantai, melangkah pergi serta meninggalkan debrakan pintu untuk Ibra dan Fara yang masih ada didalam kamar. Tensi darah Fatih seketika naik.
Melihat Bundanya sudah pergi, Fara pun menyeka selimutnya dan memeluk sang Ayah. Ibra menggendong Fara untuk masuk kedalam dadanya. Mengalungkan kedua tangan dileher ayahnya, Fara masih terdiam, ia sepertinya masih takut dengan perangai sang Bunda.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang, Bunda tadi ngomelin Ayah, karena Ayahnya nakal."
"Ayah nakal kenapa?" tanya Fara lugu, anak itu seperti ingin menangis.
"Bunda suruh Ayah tidur, tapi Ayahnya enggak tidur-tidur. Makanya sekarang Fara tidur ya, nemenin Ayah."
Ibra tidak mungkin membahas masalah ini yang akan memancing keributan diantara dirinya dengan Fatih didepan sang anak. Fara pernah mengalami masa-masa sebagai anak broken home selama empat tahun, otomatis perasaannya lebih sensitif. Mentalnya akan terganggu jika melihat orang tua nya kembali bertengkar. Ia akan berfikir, kalau Bunda dan Ayahnya akan berpisah kembali, dan Ibra tidak mau psikis Fara terganggu.
Terlihat Ibra masih sabar membimbing Fara untuk tidur, mengusap-usap punggung Fara sampai anak itu benar-benar nyenyak untuk terbang ke alam mimpi.
Satu jam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul 21:00, tapi sang istri belum juga muncul untuk kembali ke kamar.
Setelah mendengar dengkuran halus yang meremang di sekitar kulit lehernya, Ibra menurunkan lagi Fara dan meletakannya di pertengahan ranjang. Menyelimuti anak itu dan melepas kecupan hangat dikening sebelum akhirnya berlalu.
Tap.
Langkah kakinya sudah sampai di akhir anak tangga, menatap sofa yang di tiduri Fatih sejauh lima meter dari jaraknya sekarang. Ibra terlihat gugup dan salah tingkah, ia tahu ketika langkah kakinya sudah mendekat. Amukan, cacian dan makian dari Fatih pasti akan langsung menyembur ke wajahnya.
Melangkah pelan sambil menggaruk-garuk kan kepala yang tidak gatal sama sekali. Dia harus pasrah dengan rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Mau tidak mau, Ibra harus jujur. Ia tidak bisa mengelak lagi.
"Bunda ..." Ibra menghentak halus bahu istrinya. Menatap dengan senyum.
"Kalau lagi tidur manis banget, tapi kalau lagi marah melebih hantu, seramnya minta ampun." seketika Ibra menutup mulutnya karena terlalu puas untuk tertawa. Ia takut Fatih kebangun dan memarahinya.
__ADS_1
"Bunda ..." Ibra kembali memanggil. Namun sedari tadi Fatih tetap bergeming dalam posisi terlentang dengan kedua tangan diatas dada.
Entah mengapa, aliran darah Ibra seperti tengah memanas. Ia tambah terkejut ketika merasakan telapak tangan Fatih yang sangat dingin.
"Sayang, bangun!" seru Ibra berkali-kali.
Ibra menggoyang-goyangkan tubuh itu. Namun Fatih tetap tidak memberikan respon. Ibra meletakan jarinya untuk merasakan denyut nadi yang ada dibagian leher Fatih, begitu terlonjak nya Ibra, ketika denyut nadi Fatih sangat pelan.
Ibra panik!
Ia langsung duduk di tepian sofa, meraih tubuh istrinya untuk ia dudukan. Fatih tetap memejamkan kedua matanya. Tubuhnya terasa lemas dan lunglai. Ibra terus menghentak-hentak kedua lengan istrinya, namun Fatih tetap tidak merespon. Ibra turunkan kepalanya untuk memeriksa bayi mereka diperut Fatih.
"Kok enggak ada geraknya?" celos Ibra. Keringat terus menetes membasahi wajah dan leher Ibra. Ia kembali menatap dan metepuk-tepuk pipi istrinya.
"Bangun, Fat. Jangan begini!" Ibra mengubah suaranya menjadi tegas. Lelaki itu sangat khawatir, ia takut Fatih akan kehilangan nyawanya. Deru napas Ibra sudah tidak beraturan, ia takut.
Tanpa fikir panjang, ia menggendong Fatih untuk di bawa ke dalam mobil. Meletakan Fatih di pintu penumpang belakang, dengan langkah terpogoh-pogoh ia kembali naik ke atas kamar. Menggendong Fara yang sedang tertidur pulas. Anak itu sedikit menjengit karena kaget, namun kembali tertidur di dekapan Ayahnya.
"Ya Allah kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, Fat?" desah Ibra frustasi.
Ia langsung melangkah keluar menuju mobil kembali. Meninggalkan rumah mewahnya begitu saja dan lupa untuk dikunci, semua art sudah pulang kerumahnya masing-masing sejak sore hari dan akan kembali datang besok pagi, mungkin juga esok mereka akan panik karena tidak menemukan satu majikan pun didalam rumah ini.
Ibra membuka pintu penumpang disamping kemudi untuk meletakan Fara yang masih terlelap. Menoleh ke belakang melihat Fatih yang tidak kunjung sadar.
__ADS_1
Seketika bulu-bulu halus dibelakang tengkuk Ibra meremang. Hatinya berdesir, kacau balau. Air bening terlihat menggenang di kelopak matanya yang tebal. Terus mengucap Asma Allah, dengan tangan bergetar ia paksakan menyalakan deru mesin mobil untuk membawa istrinya ke Rumah Sakit.