
Fara masih saja bermain-main dengan rambut Bundanya. Sambil mengemut suapan nasi di dalam mulutnya. Fara memang lebih suka makan sambil bermain, tidak jarang Fatih akan memarahinya, kalau anak itu sudah tersedak atau memuntahkan isi makanan dari mulutnya.
"Fara ayo sekali lagi nih." ucap Kak Ira dengan sebuah box nasi di tangannya. Ia duduk ditepian ranjang Fatih. Fatih masih lemas dan belum bisa untuk menyuapi Fara.
"Ayo, Nak, makan dulu. Kasian Tante nungguin kamu lama makannya." ucap Fatih sambil sesekali melepaskan tangan Fara dari rambutnya, dan Fara tetap saja kembali memelintir rambut Bundanya.
"Sini Kak sama Fatih." Fatih mencoba meraih box nasi itu dari tangan Kak Ira. Namun, Kakak iparnya itu hanya menggeleng dan menghalaunya.
"Jangan, Fat. Biar kamu istirahat saja yang cukup, kamu kan masih lemas."
Setelah Fatih mulai mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Ibra mulai memberitahukan keadaan istrinya, mulai kepada Ibu Hanum dan kedua Kakaknya. Mereka amat shock ketika mengetahui kalau Fatih sedang mengidap penyakit selama ini.
"Kamu harus makan yang banyak, minum obat dan terus berfikiran positif, Fat." Kak Ira mulai menasehati adik iparnya.
"Hanya kamu yang bisa menjaga Ibra dan Fara. Kamu harus selalu sehat dan cepat sembuh untuk mereka berdua." sambung Kak Ira.
Fatih masih tergugu dengan berbagai nasihat dari Kak Ira. Ia hanya hening dengan wajah yang sudah menyerah begitu saja. Melihat wajah Fatih seperti ini, Kak Ira membenarkan ucapan Ibra ketika sang Adik menceritakan bagaimana psikis Fatih yang begitu saja menerima kalau dirinya akan pergi untuk selama-lamanya. Ibra meminta Kakaknya untuk terus menyemangati Fatih.
"Jika kamu tidak sembuh, apa kamu rela Fara dan Ibra menjadi milik orang lain? Melepas cinta yang sudah kamu bina mati-matian?" Kak Ira sengaja menghentak Fatih, agar adik iparnya itu bisa berfikir secara matang.
Fatih kembali tergagap. Kedua matanya membola sempurna. Entah mengapa mendengar kalimat seperti itu keluar dari bibir Kak Ira, membuat jiwanya tidak tenang. Hatinya kembali memanas, rasa mengalah karena lelah dengan penyakitnya seperti pupus begitu saja.
"Benarkah, aku akan rela?" bisik Fatih.
Di luar kamar perawatan, ada Ibra dan Kak Intan yang tengah duduk bersebelahan. Ibra terlihat menyandarkan kepalanya di dinding, melipat kedua tangannya di dada sambil memejamkan kedua matanya. Hal yang tidak-tidak tentang keadaan istrinya terus saja menusup hinggap di kepalanya.
"Kamu harus sabar, Dek. Bundanya Fara pasti sembuh." ucap Kak Intan sambil memijit-mijit lengan sang Adik.
"Bagaimana jika Fatih tidak sembuh, Kak? Bagaimana aku dan Fara tanpa dia?" Ibra membuka matanya dan menatap wajah sang Kakak.
"Bagaimana, Kak?" sambung Ibra.
"Pasti, Dek! Fatih pasti sembuh, ada Allah. Kamu harus banyak meminta kepadanya." jawab Kak Intan lugas. Walau dalam hatinya, perasaan khawatir seperti Ibra, tetap muncul tanpa tahu seperti apa kedepannya.
"Kamu jangan lemah, harusnya kamu kuat, Dek! Kalau bukan kamu yang menyemangati istrimu, lalu siapa lagi?"
__ADS_1
"Mungkin Allah ingin mencoba kalian sekali lagi. Ingin mengukur iman dan ketakwaan kalian." ucap Kak Intan dengan segala kelembutannya.
"Yakin lah, Dek. Kalau kamu nya semangat, Fatih juga semangat. Wajar kalau Fatih down dengan kondisinya, karena ia yang merasakan sakit pada tubuhnya. Jelas, kalau ia ingin menyerah."
"Hanya kamu yang bisa, Ibra! Hilangkan rasa sedih kamu jika didepan Fatih. Kamu harus kuat didepan dia!"
Ibra menepis air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Mengganti tatapan sendunya untuk dirubah menjadi tatapan penuh semangat. Ia terlihat seperti bayi yang baru saja lahir tanpa dosa, rasa semangatnya timbul lagi setelah beberapa saat remuk dan redam begitu saja.
"Makasih banyak, Kak." ucap Ibra lalu memeluk sang Kakak. Sudah tegap hatinya dengan semua nasihat yang diberikan oleh Kakaknya.
Kak Intan mengangguk dan mengusap lembut punggung sang Adik.
"Jangan pernah putus asa, Dek. Selama jantung kamu masih berdetak, lakukanlah yang terbaik untuk istrimu. Hanya kamu dan Fara yang ia punya sekarang."
Ibra mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Iya, Kak. Ibra berjanji..."
*****
Samar-samar Fatih membuka kedua matanya. Sedikit memicing, karena sinar lampu begitu saja tajam menyorot indera penglihatannya. Ia kaget ketika melihat ada Fara yang tengah memeluk Ibra. Anak dan suaminya sudah tertidur di samping tubuhnya.
Fatih menyingkap selimut dari tubuhnya. Lalu ia bentang kan untuk menutup tubuh anak dan suaminya. Mengusap punggung Fara, anak itu tidur memeluk Ibra dengan memunggungi dirinya. Lalu ia beralih menatap suaminya yang juga sudah tertidur pulas.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu, Mas. Membuat tidurmu menjadi tidak nyaman." ucap Fatih lalu mengecup kening Ibra.
Lalu ia memutar tubuhnya untuk bangkit dari ranjang. Sambil membawa tiang infusan, belum saja sampai ke kamar mandi, tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Ibra.
"Hh ..." desah Fatih takut, mungkin ia akan berteriak jika hantu yang sedang menarik tangannya. Fatih Menoleh, dan menatap suaminya yang masih mencoba untuk menetralkan pandangannya.
"Mas, bikin kaget aja!" seru Fatih sembari mengusap dadanya.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Ibra dengan suara begitu serak.
"Mau ke kamar mandi, Mas." jawab Fatih. Ibra pun mengangguk lalu melepas Fara dari dekapannya untuk beringsut turun dari ranjang.
__ADS_1
"Kamu tidur lagi aja ya, Mas. Aku bisa sendirian kok."
Ibra menggeleng kan kepala. "Ayo aku antar ke dalam! Aku takut kamu jatuh pingsan didalam.
Fatih tertawa sambil mencubit pelan pipi suaminya.
"Aku mau pup, nanti kamu kebauan loh, ck!" Fatih terkekeh, lalu ia memilih untuk mengakhiri gelak tawanya. Ia tau keadaannya seperti tidak tepat jika ia mengajak Ibra untuk bercanda.
"Bau nggak masalah, yang penting aku didalam, memastikan kamu tidak kenapa-napa." jawab Ibra sambil mengucek kedua matanya.
Fatih hanya menggelengkan kepala dan kembali tertawa.
"Masa iya sih, mau pup malah diliatin?" Fatih menggandeng tangan suaminya sambil menggerek tiang infusan ke sofa.
"Kok duduk, katanya kamu mau pup?" tanya Ibra sambil mengucek matanya kembali.
"Kamu tuh kenapa sih, Mas? Kok aneh gini sikapnya?" tanya Fatih menatap lugas wajah Ibrahim. Sang suami hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Ia pun meringkuk kembali, menangkup wajahnya di pangkuan Fatih.
Ibra hanya diam, ingin ia menangis tapi ia kembali teringat dengan ucapan Kak Intan, kalau ia harus kuat dan tetap memberikan semangat kepada istrinya. Agar Fatih merasakan hal yang sama.
"Jangan sedih lagi, Mas. Aku akan mengikuti kemauanmu untuk melaksanakan terapi itu."
Ibra pun mendongak dan menatap wajah istrinya dengan senyuman. "Benar ya? Kamu janji, Bun?" sudut bibir Ibra terangkat sempurna. Lelaki itu tersenyum memperlihatkan gigi dan gusi yang bersih didalam mulutnya.
Fatih tersenyum tipis dan mengangguk.
"Tenang ya, aku pastikan kamu tidak akan merasakan sakit sama sekali ketika menjalani terapi itu."
Fatih hanya diam dan tetap tersenyum. Ibra tidak tahu saja jika wanita itu pernah menjalani terapi cuci darah sebanyak tiga kali beberapa bulan yang lalu. Namun tidak lagi ia lakukan, pertama karena terhalang dana, dan kedua, rasa sakit yang ia rasakan ketika menjalaninya.
Muntah-muntah, rasa sakit linu di seluruh badan dan menggigil. Itu semua menjadi efek setelah ia melaksanakan terapi cuci darah, dan hatinya begitu pedih karena Dokter pernah berkata, cuci darah hanya untuk memperingan saja. Tidak bisa membuat Ginjal Fatih kembali bagus seperti dulu.
"Maafkan Bunda, kalau uang Ayah akan sedikit terkuras, karena penyakit ini ..."
*****
__ADS_1
Nah bonus lagi kan, segini dulu ya, Insya Allah besok aku sambung lagi❤️
Like dan Komennya jangan lupa, biar aku semangat hehe, maaciw🤗