Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Diketahui Banyak Orang


__ADS_3

Dengan air muka yang sudah banyak menggenang di wajah Ibra. Lelaki itu masih bisa memberikan senyuman ramahnya kepada petugas parkir. Walau napasnya saat ini sudah berantakan tidak terbentuk.


"Iya, Mas?" tanya Ibra ketika menemukan wajah tukang parkir sesaat jendela mobil perlahan-lahan di turunkan.


"Bapak enggak apa-apa? Saya lihat dari jauh mobil nya sedikit bergoyang." jawab petugas parkir, sembari melongokan wajahnya ke arah dalam untuk menemukan sosok lain selain Ibra di sana. Tentu dengan keadaan mobil yang gelap, ia tidak mudah mencari keberadaan Fatih yang masih berbaring.


"Enggak ada apa-apa kok, Mas. Aman." ucap Ibra dengan senyuman getir.


"Tapi jangan sampai ketiduran terlalu lama di dalam mobil ya, Pak! Bisa bahaya." Pemuda itu memberikan nasihat kepada Ibra.


"Baik, Mas, terimakasih." jawab Ibra sambil menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat dan sopan. Petugas parkir pun berlalu meninggalkan Ibra dengan sejuta kecurigaan.


Ibra kembali menutup jendela mobilnya dan kembali ingin mendekap Fatih yang masih melongo karena takut diketahui. Suasana bisa ramai dan jadi perbincangan di sekitar Rumah Sakit kalau ketahuan ada sepasang suami istri yang sedang melepas cinta di dalam mobil ketika sedang menunggui orang yang sedang sakit.


"Nanti aja deh, Mas. Aku udah nggak mood." Fatih mencoba bangkit untuk duduk, ia ingin meraih celana dalamnya yang sudah terjatuh.


"Bentaran aja, Fat. Aku udah diujung nih." pinta Ibra tidak tahan. Ia ingin kembali merebahkan tubuh istrinya.


Walau Ibra adalah lelaki sabar, jangan lupakan, lelaki itu juga mempunyai hasrat yang besar.


Fatih menajamkan kedua matanya, melotot sempurna.


"Aduh ... duh!" seketika Ibra meringis, Fatih mencubit kulit perutnya.


"Enggak sabaran banget sih, Om." Fatih berdecis geli.


"Geli tau nggak sih, di mobil kayak gini.." sambungnya.


Melihat Fatih tertawa, lelaki itu pun tertawa. Ia sampai tidak sadar, jika sampai harus melakukan ini didalam mobil.


"Biar jadi momen yang nggak akan terlupakan, sayang." Ibra mencolek dagu Fatih dan mulai membenamkan kembali bibirnya di sana. Dan lagi-lagi Fatih hanya memalingkan tatapannya dan tetap beringsut untuk mencari-cari celana dalamnya.


"Duh, Mas. Mana sih, kok nggak ada?" tangannya dilolong kan kebawah kursi, takut-takut jatuh kesana.

__ADS_1


"Ih enggak ada!" serunya. Ibra yang melihat istrinya panik, juga mulai mencari-cari barang itu sekitaran dalam mobil. Dan anehnya, kain tipis berenda tersebut tidak ditemukan di sana.


Drrt drrt drrt


Ponsel Ibra yang ada di dashboard terlihat bergetar.


"Assalammualaikum, ya hallo, Kak?" tanya Ibra.


"Siapa?" tanya Fatih, Ibra menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Kak Intan."


Kening Fatih seketika berkerut penuh pertanyaan. Ada hal apa Kak Intan menelpon Ibra malam-malam seperti ini.


Ibra kembali mendekatkan ponsel itu ke daun telinganya. Ia mulai mendengarkan Kak Intan berbicara di sambungan telepon.


Dan.


Tak berapa lama.


Karena Kak Intan tidak menemukan Ibra dan Fatih di kamar perawatan Ibu Hanum, maka ia memutuskan untuk menelpon Ibrahim. Dan malam ini Ibra membiarkan Fatih kembali ke kamar perawatan Ibunya tanpa memakai kain dalaman untuk menutup pusat tubuhnya.


"Bunda ..." seru anak gendut itu ketika melihat sang Bunda baru saja muncul dari ambang pintu.


"Sayang, Nak." ucap Fatih sambil meraih Fara dari gendongan Kakak Iparnya.


Ibra pun turut hadir setelah lima menit Fatih sampai di sana. Ditangannya terlihat sedang mengepal kain tipis berenda. Ia kaget karena di sini sudah ada Kak Intan dan Kak Eko. Ibra berhasil mendapatkan kain tipis berwarna merah setelah ia fokus mencarinya.


Semua mata terenyak menatap kain yang sedikit menjuntai dikepalan tangan Ibra. Fatih seketika melototkan kedua matanya kepada Ibra.


Entah bodoh atau polos, lelaki itu malah bertanya.


"Kamu kenapa, Fat? Ini pakai dulu sana!" titah Ibra membawa arah matanya menuju toilet. Membuat Fatih semakin mendelikan matanya dan sedikit meringis karena malu.

__ADS_1


"Hemm ..." Kak Intan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sejatinya ia dapat menyimpulkan apa yang baru saja dilakukan oleh para adiknya diluar Rumah Sakit.


"Memangnya tadi kalian habis dari mana?" tanya Kak Eko, dengan senyuman menyeringai. Ia hanya ingin menggoda pasangan suami istri yang baru saja kembali rujuk.


"Dari mobil, Kak." jawab Ibra tanpa rasa bersalah. Memang cinta bisa membuat orang kehilangan akal. Contohnya Ibra, alam sadarnya sepertinya sudah tertutup karena hasratnya yang masih begitu membara.


Mendengar ucapan polos suaminya, membuat Fatih kembali melototkan bola matanya, membuat Ibra sedikit meringis karena takut melihat perangai istrinya sekarang.


"Oh tau deh sekarang, Kalian lagi mau mantap-mantap tuh tadi, iya kan?" Kak Intan berdecak malas. Ia menoleh kearah Ibu Hanum yang sedang tersenyum melihat kelakuan pengantin baru itu.


"Biarin Intan, wajar. Namanya sudah ke pisah lama." ucap Ibu Hanum.


Sontak ucapan itu membuat Fatih bertambah malu. Bisa tidak ia menjebloskan dirinya ke rawa-rawa yang penuh lumpur, membiarkan dirinya tenggelam dan ambyar di sana. Rasanya malu sekali diketahui banyak orang, apalagi dengan Ibu Mertuanya sendiri.


"Fara nya rewel, Fat, Bra. Maaf loh aku balikin kesini lagi, dia manggilin nama kamu terus, Fat." ucap Kak Intan sambil mengelus lembut punggung Fara. Anak kecil itu masih merebahkan kepalanya di ceruk leher Fatih. Isak tangis masih terdengar dari Fara walau sudah tidak terlalu kencang.


"Iya, Kak. Aku lupa kalau Fara nggak bisa tidur tanpa aku kalau malam." jawab Fatih sambil terus menenangkan Fara dengan usapan lembut dari telapak tangannya yang halus.


"Fara mau sama Ayah?" tanya Ibra. Dan Fara hanya menggeleng, ia semakin kuat memeluk Fatih. Bagaimanapun selama empat tahun ini, hanyalah sosok Fatih yang menemani Fara ketika tertidur di malam hari.


Ibra lagi-lagi hanya menatap ikhlas, bahwa malam ini ia tidak bisa merengkuh Fatih untuk menyelami fatamorgana nya. Namun raut wajahnya yang mulai redup seketika berbinar kembali.


"Besok aja deh dirumah, lebih enakan di kasur kayaknya dari pada di kursi mobil." decak Ibra dalam hatinya. Tanpa sadar ia tertawa sendiri.


"Kamu kenapa, Mas?"


"...Iya nih kamu kenapa, Bra? Kok senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Intan dengan tatapan curiga.


Ibra hanya menggelengkan kepala, namun senyumnya masih saja mengembang. Menatap Fatih dengan tatapan penuh damba yang membakar hasrat. Sungguh Fatih Medina adalah wanita yang bisa mengacaukan kesadaran Ibrahim Attar tanpa ampun.


Apakah dengan Fara yang sudah lengket seperti ini dengan sang Bunda, bisa membuat Ibra mendapatkan haknya dengan mudah?


Lihat saja nanti, hahašŸ˜‚

__ADS_1


****


Segini dulu ya, nanti aku sambung lagiā¤ļø


__ADS_2