
Haii siapa yang senang aku kembali membawa cerita mereka berdua? Bonus ya, malam ini.
.
.
.
.
.
Ibra masih berdiri mematung, membiarkan Kiran untuk meluapkan amarahnya. Lelaki itu hanya diam ketika dada nya terus di hentak oleh telapak tangan Kiran.
Setelah sarapan pagi, Ibra mendapat telepon dari Tomi. Kalau Kiran meminta dirinya untuk menemui Ibra di Rumah Sakit. Kiran merasa terpukul dengan unggahan foto yang ia lihat di sosmed milik Tomi.
Ada beberapa foto pernikahan Ibra dan Fatih yang baru saja diselenggarakan tadi malam. Ibra membiarkan Tomi membawa Kiran ke Rumah Sakit, namun ia tidak ingin Kiran sampai masuk ke kamar perawatan Ibunya. Hal itu pasti akan menimbulkan kesalah fahaman diantara dirinya dengan Fatih. Ia sangat hapal bagaimana kecemburuan Fatih kepadanya.
Dan di sini lah mereka berada, di tengah lorong kamar perawatan yang cukup sepi. Tomi sudah dipersilahkan pergi oleh Ibra, karena ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan Kiran secara baik-baik, hanya berdua dan tanpa campur tangan orang lain. Tentu keberadaannya di sini dengan Kiran, tanpa sepengetahuan istrinya.
"Kenapa kamu tega sama Kiran, Mas!" Kiran tetap saja merancau, meluapkan emosi sesukanya.
"Maafkan saya, Kiran. Bukankah sudah berkali-kali saya katakan, kalau saya hanya mencintai Bundanya Fara."
"Tapi dia kan sudah membuang kamu, Mas!" ucap Kiran dengan nada amat tinggi, isakkan tangisnya terus saja meledak dengan nyaring. Walau tubuhnya kecil, tapi pukulan dari tangannya mampu membuat dada Ibra meringis karena sakit.
"Fatih tidak pernah membuang saya. Saya selalu ada didalam hatinya."
Mendengar ucapan itu membuat Kiran mendelikan matanya dengan tajam. Ia seperti tidak terima.
"Lalu Mas Ibra anggap apa Kiran selama ini? Kiran sudah menolak berbagai lamaran dari lelaki lain hanya karena menunggu Mas Ibra!"
Tidak dipungkiri, Ibra sedikit menyesal karena ucapan itu. Ia merasa bersalah karena sudah menjadi duri di kehidupan Kiran.
"Maafkan saya, Kiran. Kalau tanpa sengaja saya sudah membuat kamu seperti ini!"
"Pokoknya Kiran mau, Mas Ibra harus menikahi Kiran! Kiran sayang banget sama Mas Ibra." desah Kiran sambil ingin memeluk Ibra. Namun lelaki itu memilih mundur untuk sedikit menjauh.
__ADS_1
"Tolong Kiran, hargai saya! Saat ini saya sudah menikah kembali! Ada istri yang harus saya jaga perasaannya." pinta Ibra memohon. Kelembutan Ibra begitu saja terpancar. Itulah yang membuat Kiran tidak bisa memudarkan rasa cintanya kepada Ibrahim. Kiran terlalu mengagumi sosok Ibra.
"Selama dua tahun saya selalu bilang, agar kamu mencoba untuk menghapus rasa cinta itu kepada saya. Karena saya tidak akan bisa untuk membalasnya." jawab Ibra jujur.
Keheningan pun terjadi diantara mereka. Kiran hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya ke bawah, menatap harapan yang tidak akan mungkin bisa ia harapkan kembali. Beberapa kali Kiran ingin menemui Fatih, untuk mengenal sosok Fatih dari jauh.
Ia ingin meniru apapun yang ada didalam diri Fatih. Kiran merasa heran, mengapa sosok Fatih tidak bisa menghilang dari hati Ibra walau mereka sudah lama bercerai. Dan tentu Kiran tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk bertemu dengan Fatih.
Ia hanya bisa berdoa dan menarik perhatian Ibra dengan perlakuan hangat darinya. Namun sayang, hati Ibra sudah terisi penuh oleh sosok Fatih. Ia selalu merasa, bahwa suatu hari nanti Fatih akan kembali kepadanya lagi. Dan nyatanya Semesta mengabulkan permohonannya selama ini.
"Kiran, buatlah dirimu berharga, agar bis diperjuangkan oleh lelaki yang memang betul-betul mencintaimu. Saya selalu mendoakan agar kamu mendapatkan kebahagiaan seperti yang sedang saya rasakan dengan istri saya sekarang."
Kiran kembali mendongak menatap wajah Ibra dengan leleran air mata. Seketika itu pula Ibra terkesiap, lelaki itu tercengang ketika Kiran memeluk dirinya begitu saja tanpa perlawanan.
"Tolong jangan dilepas, Mas. Kiran hanya ingin merasakan pelukan terakhir kalinya dari Mas Ibra!" Pinta Kiran, dan dengan amat menyesal Ibra mengiyakannya. Sejatinya Ibra tahu bagaimana perasaan ketika sedang mencintai namun dipaksa untuk melupakan. Hal itu yang dulu ia rasakan, ketika Fatih memaksanya untuk bercerai.
Kiran menangis di bahu lelaki yang ia cintai selama kurang lebih dua tahun ini. Ia selalu memberikan perhatian kepada Ibra, walau Ibra hanya menerimanya dengan tatapan persahabatan. Tidak ada yang special dimata Ibrahim.
Sejatinya Kiran adalah anak yang baik, ia terus mengejar Ibra karena ia tahu, lelaki itu sudah bercerai. Jadi sah saja jika ia ingin meraih cinta Ibrahim untuk terlepas dari Fatih. Namun karena saat ini Ibra sudah menikah, dan memilih kembali hidup bersama Fatih. Kiran sudah tidak bisa melakukan hal apapun lagi selain hanya bisa menerimanya saja. Kalau saat ini ia sudah kalah.
Ibra hanya bisa menghembuskan napas dengan pasrah dan mengangguk kepalanya pelan.
Lalu
Ketika Kiran membuka kedua matanya.
Deg.
Jantung Kiran seakan ingin mencelos jatuh, terlempar begitu saja ke udara. Kedua matanya terbelalak ketika menangkap sosok yang sedang melihat mereka tengah berpelukan.
Dengan cepat Kiran melepaskan pelukan itu dan kembali menatap Ibra dalam mode hening dan juga rasa takut. Ia menatap tanpa mengedip. Ingin sekali ia cepat menghilang dari tempat ini sekarang juga.
"Kamu kenapa, Kiran?" tanya Ibrahim. Kiran hanya menggeleng. Ia hanya mengelus pipi Ibra sebagai tanpa pamit tanpa ucapan. Kemudian Kiran memutar langkah dengan cepat untuk meninggalkan lelaki itu sendiri yang masih terbengong-bengong menatap kepergian Kiran.
"Seperti habis melihat hantu." ucap Ibra sambil menatap kepergian Kiran tanpa memanggil wanita itu kembali, untuk dimintai penjelasan kenapa Kiran pergi begitu saja.
Dan.
__ADS_1
Trap.
Ibra begitu saja terkesiap ketika ia baru memutar tubuhnya untuk melanjutkan langkah menuju kamar perawatan sang Ibu. Kini sikapnya sama seperti Kiran sebelumnya, sama-sama mendadak histeris.
Ibra tersentak karena kaget, ada wanita yang baru saja ia nikahi belum genap dalam waktu dua puluh empat jam, sedang menatap lurus ke arahnya yang masih berdiri membeku dipijakan kakinya.
"Bunda ..." desah Ibra gugup.
Jantung Ibra kembali bergemuruh, ia sangat takut kalau Fatih akan salah faham lagi dengan perlakuan Kiran kepadanya.
Padahal sejatinya Fatih sudah tahu, apa saja yang dibicarakan oleh mereka berdua sebelum Kiran memutuskan untuk memeluk Ibra dan menangis didekapan nya.
Dan wanita itu tidak marah sama sekali, malah ia ingin memeluk Ibra. Karena sudah memilih dirinya dalam keadaannya yang seperti ini. Jika bukan karena cinta, lalu apa namanya? Karena Ibra rela melepaskan Kiran, wanita muda yang masih perawan dan sukses dalam karirnya.
"Sayang ..." Ibra melesat dengan cepat untuk mendekati Fatih yang masih terdiam ditempatnya.
Lelaki itu ingin menjelaskan duduk perkaranya bersama Kiran. Ia ingin mengatakan kalau Fatih jangan langsung menyimpulkan apapun sebelum ia berhasil untuk menjelaskan semuanya.
"Bunda maaf, ini enggak seperti yang kamu bayangkan. Kamu tenang ya, aku bisa jelaskan." Ibra mengawali pembicaraan mereka.
Menatap manik gelap Fatih yang masih setia menatapnya, dan Ibra merasa aneh mengapa Fatih menatapnya dalam tatapan teduh.
Lalu
"Ya Allah ..." Fatih tiba-tiba meringis memegangi perutnya. Wanita itu mengeram sakit tidak tertahan. Tanpa menunggu lama, Ibra yang sudah panik melihat istrinya kesakitan, langsung menggendong Fatih untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Sakit lagi, Bun?"
Fatih hanya mengangguk dan terus memegangi perutnya yang merasa seperti ditusuk-tusuk.
"Kamu tenang ya, sabar." ucap Ibra. Dan Fatih hanya terus meringis karena tidak tahan dengan rasa sakit yang sekarang sedang menjalar di perutnya.
"Tolong aku, Mas!" desah Fatih dengan air mata yang mulai menetes.
*****
Kalau kalian suka, Like dan Komennya ya guys, jangan lupa---Maaciw. Semog kalian sehat selalu ya, aamiin❤️😘
__ADS_1