Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Jangan Peluk Lama-Lama


__ADS_3

Hari terus bergulir, dan semua usaha Ibra untuk mencari pendonor ginjal untuk Fatih belum membuahkan hasil. Sampai dimana sekarang kandungan Fatih sudah memasuki usia tujuh bulan. Terapi cuci darah yang awalnya hanya dilakukan satu kali dalam seminggu kini berubah menjadi tiga kali dalam seminggu, bisa dibayangkan berapa kali Fatih harus mencuci darahnya dalam sebulan?


Ini semua sudah menjadi keputusan Dokter Spesialis Obgyn dan Dokter Spesialis Urologi. Karena bagi ibu hamil dengan penyakit ginjal kronis atau PGK, keadaannya akan lebih beresiko dua kali lipat. Entah untuk bayi atau ibunya. Bayi bisa saja meninggal di dalam, prematur dan mempunyai penyakit lain, serta untuk sang ibu, fungsi ginjalnya akan semakin menurun, belum lagi jika ada penyakit penyulit penyerta yang timbul didalam tubuhnya.


Tubuh Fatih terlihat sangat kurus, perutnya buncit namun tidak dengan perawakannya. Padahal ia sudah makan banyak, Ibra pun selalu mengawasi asupan gizi istrinya selama mengandung, tidak tanggung-tanggung ia memperkerjakan art khusus untuk mengurus Fatih bukan untuk mengutus Fara.


Terlihat Ibra masih berada di kursi kerjanya di kantor. Kedua matanya fokus memperhatikan layar komputer. Ia sedang memantau segala aktivitas Fatih dan Fara dirumah. Ibra memasang cctv di area yang selalu di jamahi oleh istrinya jika sedang dirumah, tidak tanggung-tanggung ia memasang cctv di kamar mandi pribadi mereka. Semua ini dilakukan, lagi-lagi tanpa sepengetahuan Fatih Medina.


"Udah nguap terus dari tadi, kenapa enggak tidur juga." ucapnya sendiri, ketika melihat Fatih tengah menguap sambil menonton acara televisi di kamar. Fara pun terlihat sedang tidur siang, tepat berada disebelah Fatih.


Ibra pun meraih ponsel, menempelkannya di daun telinga dan mendengar suara Fatih setelahnya. Ia kembali menatap layar komputer dan melihat istrinya tengah mengangkat telepon darinya.


"Bunda lagi apa sayang? Sudah makan?"tanya Ibra pura-pura tidak tahu.


"Lagi nonton televisi, Ayah. Bunda udah makan kok. Ayah lagi apa? Sudah makan siang dan shalat Dzuhur?"


Sejatinya Ibra tahu kalau hari ini istrinya tidak tidak mau makan nasi. Wanita itu hanya ingin makan biskuit dengan segelas susu saja siang ini. Bagi Ibra tidak apa, yang penting Fatih masih mau makan.


"Udah dong, tadi habis rapat. Ayah makan dengan Tomi dan juga Kasih. Ayah juga sudah shalat Dzhur. Bunda enggak tidur siang? Itu mata kamu udah kriyep----"


Seketika Ibra terdiam. Ia keceplosan, Fatih terlihat mengerutkan keningnya. Mengapa sang suami bisa tahu apa yang sedang terjadi padanya?


"Ayah, kok tau kalau Bunda---"


Ibra kembali memotong. "Ayah nerka aja, kan Bunda suka gitu kalau lagi nonton tv pasti suka kebablasan tidur."


Fatih seketika mengangguk, ia setuju dengan ucapan suaminya. Betul memang, itu adalah suatu kebiasaan yang tidak pernah lepas darinya.


"Ya udah sekarang Bunda tidur ya, Ayah mau ada rapat lagi. Nanti sore mau dibawakan apa?" tanya Ibra. Kebiasaan Ibra selama Fatih mengandung, setiap sore lelaki itu akan membawakan jajanan untuk sang istri.


"Rujak lagi?" usul Ibra.

__ADS_1


"Jangan, Yah. Bunda bosan, masa rujak terus." Ibra tersenyum ketika memperbesar gambar wajah Fatih di komputer. Wajah istrinya yang tengah manyun.


"Terus mau apa?"


"Boleh enggak, Yah. Sekali ini aja Bunda, makan baso aci? Lagi kepengin banget, Yah." ada suara air liur tertelan dari Fatih, sambil mengusap-usap perut buncitnya.


Ketika hamil tiga bulan, Fatih merengek ingin memakan makanan itu namun Ibra menolak. Fatih tidak boleh sembarangan makan makanan yang seperti itu. Hanya boleh sayur, buah dan susu. Makanan pun tidak boleh pakai penyedap rasa, pedas atau asam, dan Fatih memakluminya, karena kondisinya harus seperti ini.


Ibra terdiam cukup lama, masih melihat wajah istrinya yang juga sedang menunggu jawaban dari nya.


"Ayah ..." suara Fatih kembali merengek.


"Iya udah sayang, nanti Ayah belikan."


Terdengar suara penuh bahagia diseberang sana. Tanpa Fatih tahu, Ibra sangat jelas menatap dirinya yang tengah dirundung rasa bahagia.


"Ya udah Bunda tidur siang dulu sana. Ayah mau lanjut kerja."


"I love you too, Bunda."


****


Jika saja sampai siang tadi, Ibra masih menatap sendu Fatih di monitor, karena ia belum menemukan pendonor ginjal untuk istrinya, lain ceritanya sekarang. Raut Ibra terlihat begitu bersinar. Setelah mendapat info dari Tomi.


"Gimana, Tom, orang itu mau?" tanya Ibra dengan wajah penuh harap dan bahagia.


Tomi mengangguk. "Iya, Bra. Dia hubungin gue, katanya mau donorin ginjal buat Fatih."


"Tapi tolong, Tom. Tentang penyebaran info mengenai donor ginjal ini jangan sampai media tau, takutnya Fatih---"


"Lo tenang aja, gue hanya menyebarkan info ini kepada situs-situs tertentu dan terpercaya kerahasiaannya."

__ADS_1


"Info terakhir gue terima, dia malah udah selesai ngecek kondisi ginjalnya dan ngecocokin sama data ginjal Fatih yang sebelumnya gue kirim ke dia." jawab Tomi lalu menenggak air minum kedalam mulutnya.


"Terus gimana hasilnya? Cocok enggak?" Ibra terlihat tidak bisa bersabar.


Tomi mengangguk. "Alhamdulillah, Bra. Cocok katanya."


"Gue mau ketemu sama dia dong, Tom. Gue akan kasih berapapun uang buat dia."


Tomi menggelengkan kepala. "Dia enggak mau ditemuin sekarang, Bra. Katanya nanti aja sekalian disaat operasi transplantasi nya."


Dahi Ibra menyerengit. "Beneran, Tom? Itu orang lagi enggak coba tipu kita kan?"


"Enggak kok, lo percaya deh. Sekarang enggak usah mikirin macem-macem lagi. Kasian tuh psikis lo, jadi terganggu." ucap Tomi sambil mengelus bahu sahabatnya.


Ibra mengangguk senang. Lebih apapun ia bahagia sekali, tidak tanggung-tanggung ia langsung bersujud dan mengucap syukur kepada Allah SWT. Sesaat kemudian ia memeluk Tomi untuk mengungkapkan rasa terimakasih nya.


"Makasih ya, Tom. Gue bersyukur banget punya lo di hidup gue."


Tomi pun mengangguk dan tersenyum.


"Hanya ini, Bra. Yang bisa gue lakukan buat lo, gue akan bantu lo sebisa gue." ucap Tomi dalam hatinya. Terus memeluk Ibra yang tidak sengaja, menangis karena rasa haru.


"Istri gue akan selamat, Tom. Fatih akan kembali seperti dulu." seru Ibra, terus meronta-ronta kegirangan.


"Udah ... udah jangan peluk gue lama-lama. Nanti kalau bini gue masuk, bahaya, Bra! Kita bisa dituduh pecinta lelaki."


Ibra langsung melepas pelukan itu dan sedikit mendorong Tomi untuk menjauh dari hadapannya.


"Amit-amit deh!" jawab Ibra sambil membidikkan pangkal bahunya, ia terlihat merinding.


Dan tak berapa lama gelak tawa mereka pun terdengar nyaring di dalam ruangan rapat kosong. Tomi ikut bahagia melihat Ibra bisa tertawa lepas seperti ini lagi.

__ADS_1


__ADS_2