
Hari ini langit sangat cerah, terlihat Ibra dengan baju kokoh putih menggendong Irsyad dan menggandeng Fara di tangan kanannya. Fara memakai gamis putih dan kerudung, tidak lupa ia juga menggenggam sebuah bunga yang masih segar dan fresh.
"Fara senang ya kalau kesini?" tanya sang Ayah.
Fara mengangguk lalu tersenyum. "Iya, Ayah. Kan mau jenguk Bunda."
Ibra pun tersenyum dan terus berjalan, menyusuri area blok dimana Fatih saat ini berada. Mereka bertiga pun akhirnya sampai, lalu berjongkok disekitaran gundukan tanah yang sudah tidak meninggi. Sudah sebulan ini rumah Fatih sudah tidak basah lagi karena banyak rerumputan hijau yang membentang tumbuh untuk menutupi tanah yang kering.
Sebuah nisan dari batu marmer dengan tulisan huruf menggunakan tinta emas, membuat nama Fatih Medina, SE, menjadi terlihat sangat mewah dan anggun.
"Assalammualaika, sayang. Kami datang." Ibra memimpin salam kedatangan.
"Assalammualaika, Bunda ..." cicit polos Fara sambil mengusap-usap rerumputan diatas makam. Lama-lama wajah Fara mencebik, bibir nya mengerucut, matanya berkaca-kaca. Ia pun mulai menangis kencang.
"Bunda ... Bunda." meletakan kepalanya di pusaran tanah makam. Ibra yang sudah berjanji untuk tidak mau menangis, akhirnya pun menangis. Ia usap tubuh putrinya yang terlihat bergelepokkan diatas tanah. Tidak perduli gamis putihnya akan kotor. Lalu Ibra beralih untuk mengusap kepala nisan Fatih dan menatapnya dalam leleran air mata.
"Aku merindukanmu, Bunda ... Lihatlah Irsyad, sudah satu bulan sekarang. Aku namakan dia Irsyad, seperti almarhum Kakaknya. Bunda tidak akan keberatan, kan?" tanya Ibra dengan suara penuh getaran.
"Biasanya Bunda selalu datang ke mimpi selama sebulan ini, kenapa tadi malam tidak datang?" ucap Ibra, lalu menyeka air matanya dengan lengan bagian baju bagian dalam. Menarik cairan ingus agar masuk lagi kedalam pangkal hidung.
"Ayah, tolong ajak Bunda pulang. Aku kangen." Fara menarik-narik lengan baju sang Ayah. "Bangunin dong Bundanya, Yah." ucap Fara memaksa. Ia kembali bergeliat dan menangis. Tangisannya makin kencang, sampai ia muntah di samping makam. Ibra meraih botol minum dari dalam tasnya lalu meminumkan kepada Fara dengan satu tangan, sangat susah memang. Tapi mau bagaimana lagi, satu tangannya ia gunakan untuk mendekap Irsyad yang masih tertutup dengan kain gendongan.
"Tapi Bundanya sudah senang di sana, Nak. Udah enggak sakit lagi sekarang." jawab Ibra. Anak dan Ayah itu menangis bersamaan, menatap rumah yang sudah tidak bisa dibongkar lagi, untuk menarik paksa jasad yang sudah kaku dan tidak bernyawa. Ibra dan Fara sudah tidak bisa mendapatkan sentuhan hangat dari Fatih.
"Satu bulan, aku rindu mendengar suaramu sayang. Sentuhan tanganmu yang selalu membelai kami jika malam tiba, dan sekarang sudah ada Irsyad, kami tidur bertiga diranjang yang sama. Rasanya masih kurang, karena kamu sudah tidak tidur lagi bersama kami." air bening terus saja berguguran dari kelopak mata Ibra.
__ADS_1
"Kemarin aku sempat lupa untuk membedong Irsyad, sehingga ia mencakar pipinya sendiri dengan kukunya, lalu Fara, ia masih tidak mau menyentuh adiknya. Ia marah kepada adiknya, karena merasa kehadiran Irsyad membuatmu menjadi pergi darinya. Bahkan kemarin melemparkan bantal ke wajah Irsyad, karena anak lelaki kita ini selalu rewel jika malam."
"Fara akan nyenyak tidur kalau sudah memeluk pigura foto kamu di dadanya, dua hari ini kedua anak kita badannya panas, Bun. Aku sudah ke Dokter anak, namun Dokter hanya bilang kalau Irsyad dan Fara sedang rindu kamu. Ayolah sayang, datang lagi ke mimpi kami, tidak bisa bicara juga tidak apa. Yang penting kami bertemu dengan kamu."
Ibra terus mengiba-iba, menatap sendu makam yang hanya bisa membeku. Ingin berteriak menumpahkan asa, tentu mustahil untuk dilakukan. Entah mengapa ia merasa sangat mengantuk dan ingin memejam kedua matanya.
Lalu
"Bra ... Bra, siang bolong kayak gini tidur sih!" Kak Intan menghentak-hentak bahu sang adik yang sedang tertidur pulas di dinding kamar operasi.
Ibra mengerjap cepat dan melamun sebentar, mengingat-ingat mimpi apa yang baru saja ia alami dikepalanya.
"Astagfirullohaladzim Ya Allah ..." desah Ibra panjang sambil mengusap wajahnya. Lelaki itu mengusap dadanya beberapa kali. Ia kembali berisitighfar. Wajah Ibra pun basah, ia menangis dalam mimpi.
"Ayo cepat, itu istrimu sudah siuman!"
"Alhamdulillah Ya Allah, berarti tadi hanya mimpiku saja." helaan napas yang masih berantakan terus saja ia keluarkan. Berjalan mendekat menuju ranjang dimana istrinya masih berbaring.
"Bunda, ini Ayah." ucap Ibra, lalu mengecup hangat kening istrinya. Ia pun mendekap Fatih cukup lama.
"A----yyah." Fatih merespon dengan suara terbata-bata. Ia kembali merapatkan kedua matanya, karena pengaruh anestesi masih berjalan.
"Operasi transplantasi ginjalnya sudah berhasil dilaksanakan ya, Pak. Tinggal menunggu pemulihannya saja." ucap Dokter yang baru saja tiba. Ibra pun melepas dekapan itu dan menyeka air matanya dulu sebelum bertatap dengan Dokter.
"Terimakasih banyak, Dok. Sudah melakukan yang terbaik untuk istri saya." jawab Ibra tersenyum.
__ADS_1
Jadi, setelah Fatih melahirkan anak lelakinya dua hari yang lalu. Kondisinya kembali drop dan harus masuk ke ruang ICU lagi. Dokter mengatakan satu-satunya jalan harus melakukan operasi transplantasi ginjal hari ini juga, karena racun-racun sudah mulai menyebar di tubuh Fatih. Dokter mengkhawatirkan jika mereka akan terlambat untuk menolong Fatih.
Dokter pun berlalu setelah mengucap pamit kepada Ibra.
"Sus, sus." Perawat yang juga ingin beranjak pergi, seketika tertahan langkahnya, ia menoleh dan menatap Ibrahim.
"Dimana si pendonor ginjal istri saya, Sus?"
"Oh, ada diruang sebelah, Pak." jawab Perawat.
"Ayah pergi sebentar ya, Bun. Ingin melihat siapa yang sudah berbaik hati mendonorkan ginjalnya untuk kamu." Ibra melepas kecupan hangat kembali di kening Fatih.
Setelah itu ia bergegas untuk mempercepat langkahnya ke ruangan sebelah, dimana ada seseorang yang berhati mulia mau mendonorkan ginjal untuk istrinya. Menyelamatkan nyawa Fatih untuk bisa kembali hidup dan lolos dari maut. Sungguh ia akan tersiksa dan mungkin menjadi gila, jika sang istri benar-benar meninggalkannya. Ibra berjanji akan memberikan apapun kepadanya, sebagai tanda balas jasa. Tidak perduli berapapun nominalnya, Ibra pun akan memberikan perusahaan, jika si pendonor mau meminta itu darinya.
Lalu
Ia terdiam sebentar kita baru sampai disebuah ruang pemulihan yang lain, Ibra mengatur ritme napasnya agar kembali normal, mengusap wajahnya yang masih basah karena bekas leleran air mata. Setelah semua sudah dirasa pantas untuk bertemu dengan orang itu, ia kembali melajukan kakinya untuk mendekat.
Menggeser tirai yang menutupi ranjang si pendonor.
"Astagfirullohaladzim ..." desah Ibra tidak percaya. Kedua kornea gelap miliknya, seperti ingin terlepas dari kelopak matanya. Mulutnya menganga, ia tertohok begitu dasyat. Membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ibra terus menggelengkan-gelengkan kepalanya, rasanya tidak percaya. Ia pun langsung beringsut memeluk orang itu.
"IBU ..."
*****
__ADS_1
Segini dulu ya guys, part ini berhasil buat aku nangis bombayđź’”
Yang ikutan nangis, jangan lupa like dan komen ya