
Ibra begitu lirih melihat Dani tengah memeluk anak perempuan yang umurnya sedikit lebih tua dibandingkan Fara. Dani memangis dan sang anak mendekapnya erat. Lelaki itu terlihat masih meratapi jenazah sang istri yang baru saja selesai di kafani.
"Saya sudah pernah kehilangan seorang istri dan dua anak sekaligus. Apakah saya akan kembali merasakan seperti itu?" air mata Ibra terlihat menggenang. Buru-buru ia seka air mata itu dengan tangannya. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu benda di kantung jas nya.
"Sapu tangan?" ketika ia mendapatkan benda itu dari kantung jas kantornya.
Ibra tersenyum tipis, menatap lamat-lamat sapu tangan berwarna merah maroon. "Pasti istriku yang menaruhnya."
Ia gunakan sapu tangan itu untuk menyeka air mata dan keringat yang sudah berkumpul di wajah tampannya.
"Tom, tolong bilang sama Kasih, uang kedukaan untuk Dani biar ditambah dua kali lipat. Gue kasian lihat dia." bisik Ibra kepada Tomi.
"Oke, Bra. Nanti gue bilang sama bini gue." jawab Tomi lalu menatap kearah Kasih yang sedang duduk bersama para karyawan lain yang tengah membacakan Yassin.
Ibra mengangguk. "Gue keluar dulu sebentar ya." Tomi mengangguk. Ibra pun bangkit berdiri dan melangkah keluar rumah. Ia berjalan mendekati mobil dan masuk kedalam.
Mengambil botol minum kemasan dan meminumnya sampai habis. Jantungnya berdetak cepat, Ibra menunduk sambil memegangi dadanya. Rasa kecemasan akan takut kehilangan sepertinya mencerca dirinya lagi.
Ibra menyandarkan dirinya di sandaran kursi sambil memejam kedua mata. Deruan napas beberapa kali ia hembuskan dengan kasar. Dadanya berdebar-debar, rasa trauma akan masa lalu sepertinya muncul kembali.
"Ya Allah .." desah Ibra panjang. "Saya takut Fatih akan meninggalkan saya dan Fara." ucapnya lirih.
Ibra semakin bergeliat. Jiwanya kembali tidak tenang, kedua tangannya mengepal kuat. Ia kembali membuka kedua mata untuk melawan rasa takut, namun semua itu percuma. Ibra kembali beringsut untuk menegap kan duduknya, namun lagi-lagi gagal. Ia menangkup kan wajahnya di stir kemudi, memegangi dadanya yang terus berdegup kencang.
"Ya Allah ... Saya takut!" Ibra pun menangis. Mentalnya terguncang. Ibra baru saja sembuh dari penyakit kejiwaannya dalam beberapa tahun ini. Ia sempat terguncang kembali ketika perceraiannya dengan Fatih, lalu karena dukungan moril dari keluarga membuat ia sembuh sampai sekarang.
Lalu masalah kembali datang, sudah dipastikan Ibra akan kambuh lagi dengan penyakit nya. Rasa takut karena akan kehilangan Fatih untuk selama-lamanya. Menghentikan tangis dan mengusap wajahnya yang basah. Ia meraih ponsel dari kantung celananya dan menelepon Fatih, Ia butuh istrinya.
Tut
Nada sambung telepon pun terdengar, namun Fatih tidak juga mengangkat ponselnya. Rasanya gugupnya bertambah, penderita Post Traumatic Stress Disorder akan semakin panik, jika apa yang ingin ia rengkuh tidak sesuai harapannya. Ibra tidak akan tenang jika belum mendengar suara Fatih.
Ia kembali menatap layar ponsel dan mengirimkan pesan singkat kepada Tomi. Karena ia harus pulang kerumah. Tidak perduli Tomi akan marah dan pulang menggunakan apa. Tanpa menunggu lama Ibra kembali menjalankan kereta besinya untuk melaju menuju rumah.
__ADS_1
****
"Assalammualaikum ..." ucap Ibra ketika baru sampai di ambang pintu.
"Waalaikumsallam, ada yang tertinggal, Tuan?" tanya Ibu Dasih yang sedang menyapu.
Ibra menggelengkan kepala dengan wajah yang kusut. Wanita paru baya itu merasa aneh, mengapa tampilan Ibra berubah sekali, berbeda saat ia akan berangkat bekerja tiga jam yang lalu.
"Tapi kok udah pulang, Tuan? Ini kan baru jam---"
"Bu, istri saya dimana?" tanya Ibra dengan napas yang masih berantakan.
"Ada di kamar, Tuan. Lagi beberes--"
Ibra memotong ucapan Bu Dasih dengan anggukan kepala dari nya. Ia melangkah cepat untuk menaiki anak tangga.
"Bunda ... Sayang." seru Ibra ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu kamar yang sudah terbuka. Terlihat Fatih tengah berjongkok di didepan lemari yang pintu nya terbuka lebar. Ia tengah merapihkan beberapa baju Ibra yang terlihat berantakan.
"Kok kamu udah---"
Blass.
Seketika ucapan Fatih terhenti, ketika Ibra melolongkan kedua tangannya di bawah lengan sang istri. Mendekap tubuh Fatih dengan gerakan mendadak.
Wajah Fatih terlihat melongo, ia kaget mengapa sikap suaminya seperti ini.
"Ayah kenapa balik lagi? Ada yang tertinggal?" tanya Fatih sambil melirik arah jarum jam yang masih menunjukan pukul 10:00 pagi. Tidak mungkin kan, suaminya sudah pulang kerja setelah berangkat tiga jam yang lalu? Pertanyaannya pun sama seperti yang terlontar dari mulut Bu Dasih.
Ibra hanya diam, ia terus memeluk istrinya dengan erat. Jantungnya pun kembali normal, rasa berdebar-debar pada dadanya pun sedikit menghilang. Ia tenang mendapatkan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Lalu sampai kapan ia harus seperti ini? Bisa melawan rasa takut yang sebentar lagi akan mengemudikan akal sehatnya. Jangan sampai Ibra sakit, disaat Fatih butuh penyemangat.
Tak berapa lama, dirasa hatinya sudah tenang. Ibra pun melepas pelukan itu, menatap wajah Fatih dalam-dalam, dan Fatih hanya bisa menatap Ibra, menunggu lelaki itu untuk menjelaskan apa yang sedang ia cemaskan.
__ADS_1
"Ayah sakit?" tanya Fatih lembut, menangkup perpotongan dagu Ibra dengan kedua telapak tangannya.
"Enggak panas kok, cuman keringetan gini sih, lengket. Kamu abis lomba lari dikantor?" Fatih tertawa. Entah mengapa Ibra hanya diam malah raut wajahnya berubah menjadi sedih. Rasa cemas dan ketakutan itu kembali muncul, seperti ada berbagai bisikan-bisikan tidak baik merancau disekitar daun telinga nya.
"Loh kok wajahnya gitu? Kamu kenapa sayang?"
Ibra yang masih membeku, hanya menurut saja ketika tangannya digandeng oleh istrinya menuju ranjang. Fatih menyuruh Ibra untuk berbaring, namun suaminya tidak mau. Ia hanya duduk ditepi kasur lalu memeluk perut istrinya lagi. Membuat Fatih semakin bertanya-tanya ada hal apa dengan suaminya.
"Jangan tinggalin Ayah, Bun!" pintanya.
"Siapa yang mau tinggali kamu, Mas?" jawab Fatih. Ia masih berdiri mematung, menahan sesak karena Ibra memeluk perutnya dengan erat.
"Kamu nih lagi kenapa?" Fatih kembali bertanya, berusaha melepas pelukan itu namun Ibra menolak. Ia tetap mendekap istrinya. Entah mengapa rasa takut kembali melanda, dan jantungnya berdegup lagi.
Dengan sekuat tenaga, Fatih melepas pelukan itu dan meraih dagu Ibra agar menatap dirinya. Begitu kagetnya ia, melihat wajah suaminya sudah basah dengan leleran air mata.
Fatih duduk disebelah Ibra, menyeka air mata suaminya, mengelapnya langsung dengan telapak tangan. Air mata dan keringat sudah bersatu di sana.
"Tenang sayang, tenang. Ayo ceritain, ada masalah apa?" tanya Fatih lembut dan hati-hati. Ia mulai melepaskan dasi, melepaskan jas kantor dan membukai kancing kemeja Ibra yang sudah basah karena keringat.
Ibra hanya diam, ia terus menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu dan sedan. Melihat suaminya hanya diam tidak mau menjawab, Fatih pun memilih untuk diam. Ia tidak mau memaksa jika Ibra belum mau bicara.
Kini Ibra sudah bertelanjang dada, hanya menyisakan boxer untuk menutupi bagian bawahnya.
"Mandi lagi ya, biar kamu nya enakan." tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Fatih pun bangkit dan menggandeng Ibra untuk melangkah menuju kamar mandi. Ibra hanya menurut, mirip seperti Fara yang akan dimandikan oleh sang Bunda.
Bersabarlah Ibra, kuatkan hati mu❤️
****
Ayo komen yang banyak, Like nya juga jangan peyitt----Biar aku bisa UP lagi nanti malem
bbye sayang sayang❤️
__ADS_1