
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Dari malam berganti pagi, dari pagi berganti siang dan siang pun berubah menjadi sore lalu sore merambat naik ke malam. Begitulah perputaran hari di bumi yang bulat ini.
Kini kandungan Fatih sudah memasuki usia tiga bulan. Perutnya sudah mulai terlihat dan membuncit kecil jika ia sedang duduk. Selama hamil, Fatih sering kegerahan, cepat haus dan lebih lemas. Ia sengaja memotong rambutnya menjadi pendek agar terbebas dari rasa gerah.
Terkadang ia juga masih suka pingsan karena susah untuk makan. Tentu keadaan seperti ini menjadi buah fikir Ibra, lelaki itu seperti tidak tenang jika istrinya tengah bekerja atau hanya diam dirumah tanpa ia disisi nya.
"Assalammualaikum Pak, udah lama nunggu disini?" Tanya Hana yang baru saja ke luar dari toilet lalu menghampiri Ibra yang masih terduduk didepan ruangan Fatih.
"Nggak Han, saya baru aja sampai." Jawabnya ramah. Di tangan Ibra ia terlihat membawakan istrinya makan siang. Bukan hanya makanan, tapi ada juga susu, buah dan beberapa kue. Ibra memang tidak melakukan ini setiap hari, ia akan mampir ke kantor Fatih jika memang sedang tidak ada rapat atau memang sedang ada urusan keluar kantor.
"Saya beritahu Ibu dulu ya Pak."
"Jangan Han, nggak usah. Biar saya menunggu aja disini."
"Baik lah Pak, kalau begitu. Saya pamit dulu, ingin menemani Ibu rapat lagi..."
__ADS_1
"Baik Han.."
Ibra kembali menunggu istrinya dengan setia. Karena ia sudah mendapatkan ijin keluar dari kantor, maka ia pergunakan sebaik-baiknya untuk mengunjungi Fatih.
Tentu saja kesibukan Fatih setiap hari sangat padat. Ia harus menghadiri berbagai rapat, mulai dari rapat internal dan rapat eksternal. Kadang membuat mood nya suka berubah-ubah semenjak hamil.
Satu jam berlalu. Akhirnya rapat itu pun selesai, terlihat beberapa orang penting keluar dari ruangan rapat yang tidak jauh dari posisi Ibra saat ini.
Ia pun segera bangkit dari duduknya ketika melihat sosok istrinya sudah melangkah keluar dari ambang pintu. Namun senyum yang sedang merekah dari Ibra begitu saja terhancurkan ketika ia melihat langkah baru dibelakang tubuh istrinya.
Seketika itu wajah Ibra redup, senyum nya kini menghilang. Degupan jantungnya mulai membara.
"Fahmi?"
Desahnya tidak percaya ketika melihat sosok itu tengah berbincang dan sedikit tertawa dengan istrinya. Seketika itu pula Fatih menemukan sosok Ibra yang hanya berjarak beberapa meter dari nya.
Ibra seketika menunduk, ia merasa nyali nya menciut begitu saja. Ketika Fatih diapit oleh berbagai orang-orang penting. Fahmi hanya tersenyum sarkas menatap Ibra.
"Mas, sejak kapan kamu sampai?" Tanya Fatih ketika langkahnya sudah tepat berada di hadapan suaminya.
Ia adalah lelaki yang perlu di acungi jempol dalam sisi kesabaran. Ia tidak mudah merajuk dan marah walau hatinya tengah cemburu.
Rapat dengan Fahmi, kok bisa? Kok Fatih gak kabarin aku? Kenapa sikap mereka jadi begitu dekat? Ada apa?
"Aku duluan ya Fat, yuk Bra!" Salam pamit dari Fahmi kepada mereka berdua.
Ibra hanya mengangguk tanpa menjawab. Entah mengapa dadanya begitu sesak melihat Fatih berjalan beriringan dengan istrinya.
Bukannya itu lelaki yang kamu benci? Kenapa malah sekarang menjadi hangat?
"Ayo Mas kita masuk ke dalam, kamu bawa apa sayang?" Tanya Fatih menggandeng tangan Ibra untuk masuk kedalam ruangannya. Walau hatinya terasa sesak, tapi Ibra tetap bersikap biasa. Tentu saja tidak seperti biasa, ia terlihat banyak diam.
Fatih pun mengerti dengan sikap aneh Ibra. Ia tahu suaminya tengah cemburu. Tapi entah mengapa ia suka jika Ibra seperti ini. Fatih selalu suka jika suaminya itu terus memperhatikan dirinya. Ia akan berpura-pura diam dan tidak mau menjelaskan perihal tentang Fahmi.
Aku mau tau, segimana cemburunya sih kamu sama aku??
__ADS_1
"Kan aku udah bilang Mas, kamu jangan repot-repot untuk datang kesini. Aku kasian sama kamu sayang...." Fatih membawa Ibra untuk duduk si sofa. Membelai rambutnya dan mencium bibir suaminya. Ibra hanya diam namun tidak merajuk. Ia tetap menahan sabar.
Aku tau kamu cemburu
Fatih sangat tahu hal itu, karena ketika mereka sedang berdekatan, jantung Ibra terus berdetak cepat. Sudah dipastikan ia sedang menahan sesak.
Ayo dong tanya soal Fahmi, aku tau kok dada kamu tuh udah cenat-cenut
Fatih berdecih geli dalam hatinya. Ia terus bergeliat manja ditubuh Ibra. Mencium, membelai dan mengusap. Tentu saja Ibra tetap dalam pendiriannya, ia masih bisa tersenyum sarkas.
"Ayo sayang dimakan dulu makanannya. Semalam kan kamu ingin gulai kambing kan? Makanlah selagi hangat---" Ibra mulai beranjak menegapkan tubuhnya untuk menyiapkan makanan itu di meja untuk sang istri tercinta.
"Nah, sip deh. Selamat makan untuk istri tercinta ku...." Ibra mengembang senyum, walau terasa dipaksakan.
Ih kok aneh sih sikapnya? Kok masih biasa aja? Gak ada cemburu-cemburu nya? Gak nanya juga kenapa Fahmi bisa ada disini?
"Aku makan ya sayang, kamu mau nggak Mas, sini biar aku suapi ya.."
"Buat kamu aja sayang. Soalnya aku masih kenyang..."
"Kenyang?? Memang nya kamu sudah makan, Mas? Makan sama siapa? Dimana?"
Sungguh Fatih, niat untuk membuat cemburu suaminya. Malah dirinya yang terjerat dalam kecemburuan yang ia buat sendiri.
"Tadi ada rapat sebentar dengan bapak Presdir, lalu Desi membawa aneka ragam pastry. Aku terlalu makan banyak, jadi agak kenyang, Fat." Jawabnya santai lalu menatap lagi layar ponselnya.
"Sayang, aku kembali dulu ke kantor ya, Desi chat aku kalau mau ada rapat lagi. Makannya dihabiskan ya sayang, nanti pulangnya aku jemput lagi."
Ibra pun bangkit lalu mencium kening Fatih yang terlihat berkerut-kerut aneh. Tanpa mendengarkan dulu apa jawaban dari istrinya, dengan langkah seribu Ibra pun berlalu dari ruangan istrinya.
"DESI?? Siapa dia?? Kok sedekat itu sama kamu??" Fatih berdecak sebal. Ia terus menerka-nerka siapakah Desi dan apa hubungannya dengan Ibra. Jelas saja Fatih bersikap seperti ini, karena Ibra tidak pernah menceritakan urusan kantor kepadanya.
"Ngapain sih pakai chat pribadi segala!" Fatih semakin kesal. Kecemburuan tengah menghujam deru nafas dan jantungnya. Seketika itu pula ia menangis karena sedih. Mengusap-usap perutnya. Katakanlah ibu hamil suka tiba-tiba bad mood dan cranky.
*****
__ADS_1