
Ibra terus saja menggandeng tangan istrinya setibanya mereka di loby PT. Anugerah. Beberapa karyawan PT tersebut menerima kedatangan mereka dengan rasa hormat. Lani, asisten pribadi Fatih, terlihat ikut melangkah dibelakang mereka berdua sambil membawa tas berisi berkas-berkas perusahaan Fatih.
Para jejeran Direktur dari pemegang saham pun sudah berdatangan bersama para asisten mereka. Memasuki ruang rapat yang cukup besar dan megah dikantor ini. Khusus untuk Fatih karena ia menjadi pemegang saham tertinggi dari 20 perusahaan yang lain.
Maka ia dipersilahkan untuk duduk di jejeran direksi PT Anugerah. Ibra duduk di jejeran Direktur yang berlawanan dengan istrinya. Ia terus menatap Fatih dengan tatapan penuh bangga. Istrinya yang begitu cantik, berwibawa dan sangat terlihat cerdas. Walaupun sedikit berisi, namun dengan kehamilan yang sudah memasuki usia 7 bulan, tetap saja membuat ia sangat menawan dan enak untuk dipandang.
Dengan dress hamil yang panjangnya sampai dibawah lutut lalu dibalut dengan jas kantor berwarna senada, serta rambut hitam yang digerai begitu saja sampai sebahu membuat Fatih tidak urung untuk ditatap banyak Direktur yang hadir.
Ibra pun tau sorot mata mereka kepada istrinya, walaupun Ibra adalah lelaki tenang dan penyabar, tetap saja ia tidak menyukai hal itu.
"MC, Apakah sudah dihubungi Bapak Fahmi, dari PT. Surya cipta?" tanya perwakilan dari jajaran direksi. Melihat kursi tamu hampir penuh, namun sosok yang ditanya belum juga muncul. Wajar jika mereka menanyakan, karena Fahmi merupakan pemegang saham tertinggi kedua di PT Anugerah
"Info dari bawah, beliau baru saja sampai, Pak. Mungkin sebentar lagi tiba."
Mendengar nama mantan suaminya disebut membuat jantung Fatih berdegup. Sudah empat bulan tidak bertemu dan ia pun tidak memberi kabar atau mengucapkan tanda terimakasih setelah mendapatkan hadiah berupa baju hamil beberapa waktu lalu. Ia tidak ingin memberi akses kepada lelaki itu untuk mendekatinya lagi.
Lalu langkah kaki yang ditunggu-tunggu banyak orang agar acara ini segera dimulai pun muncul.
Fahmi datang bersama wanita yang menjadi asisten pribadinya dikantor. Fahmi dengan tubuh tegap berjalan lantang dari ambang pintu. Mc pun menghampiri dan memandu dirinya untuk duduk di jejeran direksi. Ia tersenyum ketika melihat Fatih sudah duduk di sana dengan anggun dan berkarisma.
Ibra pun menoleh, lelaki itu kaget bukan main atas apa yang ia lihat saat ini. Dengan refleks ia bangkit berdiri ditengah-tengah manusia yang sedang duduk. Tatapannya membuat wanita yang sedang berjalan bersama Fahmi pun menghentikan langkahnya. Mereka menatap dalam jarak yang lumayan jauh. Keduanya pun tersentak, mengapa bisa dipertemukan ditempat ini.
"Ada apa, Kasih?" tanya Fahmi pelan kepada wanita itu.
Kasih hanya menggelengkan kepala dan merubah tatapannya dari Ibrahim. Fahmi dan Fatih pun menangkap basah tatapan mereka.
"Kasih? Kok bisa dia bekerja dengan Fahmi?" tanya Ibra dalam hatinya.
"...Siapa wanita itu? Apakah Ayah mengenalnya?" ucap Fatih dalam batinnya. Wajah Fatih berubah menjadi tidak hangat, ia terus menatap wajah suaminya yang masih menatap wanita yang bersama dengan Fahmi.
"Mengapa wajah Ayah kaget seperti itu?" Fatih kembali menerka-nerka.
__ADS_1
"Mas Ibra, apa betul itu kamu, Mas? Kamu tampan sekali, Mas." desah Kasih menatap Ibra sendu namun menyembulkan senyum.
Kerutan dikening Fahmi pun muncul, ia menyusuri tatapan Kasih dan terhenti di tubuh tegap yang sedang berdiri ditempatnya.
"Ibrahim? Mengapa bisa dia ikut kesini? Padahal di momen ini aku ingin kembali berbincang dengan Fatih! Lalu ada apa dengan mereka berdua? Kenapa begitu kaget?" Fahmi mengalihkan pandangan secara bergantian dari Ibra lalu kepada Kasih.
"Silahkan, Pak." seruan MC membuyarkan lamunannya. Ia pun di pandu untuk melangkah menuju meja direksi yang ada dihadapan para hadirin.
Ibra pun kembali duduk, tanpa sengaja ia menoleh ke arah istrinya. Betapa kagetnya ia ketika melihat wajah Fatih sudah memerah karena menahan kesal. Ibra hanya memberikan gelengan kepala dan memberikan senyuman termanisnya. Sebagai isyarat agar istrinya kembali tersenyum.
"Siapa wanita itu, Mas? Kamu pasti mengenalnya!" decak Fatih masih dalam hatinya.
"Ayo, duduklah!" Fahmi meminta Kasih untuk mencari tempat duduk, dan wanita itu pun mengangguk.
"Baik, Pak." jawabnya lalu mencari tempat duduk yang kosong, dan ternyata kursi yang kosong ada disebelah Ibra. Mau tidak mau Kasih harus duduk di sana. Tentu hal itu membuat Fatih semakin tidak suka. Apalagi ketika Kasih terlebih dulu memberikan jabatan tangan kepada suaminya.
"Apa kabar, Fat?" sapa Fahmi yang mendudukkan dirinya di sebelah Fatih sambil merapihkan jas kantornya.
Fatih menarik tatapan untuk menoleh ke sumber suara yang tadi memanggilnya.
"Apakah kamu suka dengan hadiah yang aku berikan?" tanya Fahmi, lelaki itu sengaja terus mengajak Fatih berbicara agar membuat Ibra menjadi cemburu didepan sana.
"Oh iya aku lupa mengabarimu untuk mengucapkan terimakasih. Maaf ya, Mas."
Betul memang, tatapan Ibra tidak luput menatap Fahmi dan Fatih. Begitupun dengan Kasih yang menatap Ibra dengan tatapan tidak suka kepada bosnya.
"Apakah ada yang salah dengan Ditektur ku, Mas?" pertanyaan Kasih membuat Ibra menoleh.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Apa sekarang kamu sudah menjadi Direktur?"
Ibra menggeleng. "Hanya menjadi perwakilan dari kantor saja, Sih."
__ADS_1
Kasih mengangguk-anggukan kepalanya. "Sejak kapan kamu bisa bekerja dengan dia?" Ibra membawa arah mata Kasih untuk menatap Fahmi yang masih saja mengajak bicara istrinya.
"Baru saja lima bulan, Mas. Sebelumnya aku di cabang namun aku dipindah ke pusat."
"Apakah Mas mengenalnya? Mengapa tatapanmu penuh tidak suka kepadanya?"
Ibra hanya menggelengkan kepala. Ia tidak menggubris pertanyaan itu. Sejatinya ia tahu bahwa Kasih belum sama sekali tahu jika wanita yang ada di sebelah Fahmi sekarang adalah istrinya. Seorang wanita yang tengah mengandung anaknya.
"Bagaimana kabarmu, Sih?" tanya Ibra untuk mengalihkan pertanyaan dari Kasih sebelumnya.
"Baik, Mas. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu sudah menikah?" tanya Kasih dengan nada biasa. Sejujurnya Kasih masih mencintai dan menaruh harap kepada lelaki ini. Namun ia sadar, bahwa mereka tidak akan pernah bersatu.
"Alhamdulillah aku sudah menikah, dan istriku tengah mengandung."
Mendengar jawaban jujur dari Ibra membuat dada Kasih terasa terhimpit. Ini kah jawaban dari segala doanya? Bahwa mereka memang tidak akan pernah bersama?
"Selamat ya, Mas..." jawabnya pelan.
"Kamu sendiri bagaimana, Sih, apakah sudah menikah?"
Haruskah Kasih memangis ditempat ini? Tujuan ia pindah dan menerima tawaran dari perusahaan pusat hanya untuk membuka lembaran baru dan melupakan Ibrahim. Mengapa mereka dipertemukan kembali?
Kasih menggeleng lemah, namun ia tetap drama untuk memberikan senyum semangat. Membuat Ibra ikut tersenyum. "Kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang tepat untuk kamu, Sih."
"Aamin, Mas. Terimakasih banyak. Semoga Mas Ibra beserta istri selalu diberikan kebahagiaan sampai akhir hayat."
Ibra tersenyum. "Aamiin, makasih ya, Sih."
Fahmi menangkap raut kekesalan di wajah Fatih, ketika mantan istrinya itu menatap Ibrahim. Fahmi mengikuti arah mata Fatih yang masih sibuk mengawasi Ibra yang sedang berbicara dengan Kasih.
"Ternyata Ibra sama saja dengan lelaki buaya lainnya ya, melihat yang cantik sedikit saja tidak bisa menahan. Padahal ada istrinya di sini!" bisikan Fahmi begitu menggelitik telinga Fatih, membuat wanita itu menoleh dan mendelik tajam kearah Fahmi.
__ADS_1
"Suamiku lebih terhormat, tidak seperti kamu!" Walaupun Fatih tengah cemburu dan perkataan Fahmi juga mempunyai nilai kebenaran, tetap saja Fatih membela suaminya. Ia tidak suka Fahmi memberikan argumen tidak baik untuk menilai Ibrahim.
*****