Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Jiwaku Terasa Teduh


__ADS_3

Ayo, siapa yang belum tidur? Bonus nih guys buat kalian❤️


.


.


.


.


.


Sudah hampir tengah malam, angin dingin yang berhembus terlihat mengoyak permukaan kulit lelaki tampan itu. Ibra masih sekuat tenaga terjaga di halaman rumah mantan istrinya. Ibra tetap tidak mau pulang malam ini, esok atau lusa. Entah sampai kapan ia akan menetap di sini. Penyakit Fatih adalah bagian yang paling mendominasi di pusaran otak kecilnya. Walau ia sudah di usir sejak 6 jam yang lalu, tapi tetap saja, ia ingin tidak jauh-jauh dari rumah teduh tersebut.


Setiap satu jam sekali Fatih terbangun, dan melihat Ibra masih setia berdiri didepan knop mobilnya. Kadang sambil memejam kedua mata, kadang meringis karena dingin atau menepuk-nepuk nyamuk yang mulai menghisap darahnya. Suatu pengorbanan yang harus ia lakukan, untuk menggetarkan hati Fatih.


"Ya Allah, kenapa semakin tua, kamu malah semakin bodoh sih, Mas!" Fatih berdecak sambil terus menatap lelaki itu dari balik tirai rumah.


"Berjam-jam berdiri di sana, untuk apa coba! Hanya buat penyakit!" Fatih kembali mengumpat. Ia pun memilih menarik bangku untuk duduk di depan tirai. Menatap lelaki yang amat ia rindukan.


Melihat mereka seperti ini, bagai drama anak Abg yang tengah merajuk. Si lelaki merayu untuk mematung lama-lama dihalaman depan hanya untuk merayu agar si wanitanya keluar dan mau memaafkan segala kesalahannya.


"Kayak lagi di sinetron aja, sikapnya kayak gitu! Udah tua kamu mah, Mas! Nggak pantes, hahaha." setidaknya Fatih bisa tertawa sebentar. Dan seorang Ibra tidak akan resah dengan bercandaan seperti itu.


"Fat, ayo dong keluar. Aku udah kedinginan nih!" desah Ibra pura-pura menutup mata, padahal ia ingin tertawa karena melihat bayangan Fatih sedang duduk menatapnya dari dalam rumah.


"Mana gatal, tapi nggak bisa garuk, aduuh!" Ibra ingin sekali menghentak nyamuk gendut yang sedang menghisap darah di kakinya tanpa izin.


"Hihihi, emang enak di gigitin." Fatih terus saja tertawa ketika Ibra tidak bisa menahan untuk menghentak kaki kanan dengan kaki kirinya, mengusir para nyamuk durjanah yang sama sekali tidak mendukung dramanya saat ini.


Lalu


Lima menit kemudian


Brug.


Tubuh Ibra seketika tergeletak di tanah. Lelaki itu pingsan, walau ia hanya berakting.


"Duh Ya Allah, sakit banget, harusnya pingsan ke bagian kiri, nggak tau kalau disitu ada batu! Benjol nih kepala!" desah Ibra masih memejam kedua matanya.


Ia tidak ada cara lain lagi untuk menarik simpati Fatih. Ia tahu wanita itu pasti akan keluar untuk membawanya masuk.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim Ya Allah!" seru Fatih histeris, matanya melotot tajam ke arah Ibra.


Benar saja dengan gerakan secepat kilat, ia keluar dari rumah dan berlari untuk menerjang tubuh Ibra yang sudah terjungkal di tanah. Dan tentunya Ibra senang akan hal itu, bisa tidak ia dikategorikan menjadi artis lelaki yang mempunyai tingkatan halu melebih rata-rata?


"Mas Ibra ..." Fatih terus menghentak-hentak bahu lelaki itu. Mencoba untuk membangunkan, agar Ibra tersadar.


"Mas, bangun!" ada isak yang sedikit terdengar ketika Fatih terus saja mencoba membangunkan Ibra, namun lelaki itu tetap berlama-lama untuk berakting.


Sejujurnya ia merasa bersalah, harus seperti ini dulu untuk mendapatkan perhatian Fatih. Disentuh seperti itu, walau telapak tangan Fatih sedikit memberi rasa sakit wajahnya. Ibra tetap bahagia, itulah sentuhan yang ia rindukan.


"Uhuk--Uhuk!" Ibra memilih untuk akting batuk dulu sebelum membuka kedua matanya.


"Mas Ibra, kamu nggak apa-apa?" tanya Fatih sambil mencoba membantu Ibra agar duduk berselonjor. Ibra masih berpura-pura memegang kepala yang terasa pening, padahal ia sedang menahan sakit di bagian kepalanya yang tidak sengaja terbentur dengan batu.


"Aku kenapa, Fat?" tanyanya dengan suara serak yang dibuat-buat.


Jahatnya Ibra ingin tertawa ketika melihat Fatih panik seperti itu. Ia jadi teringat kejadian empat tahun lalu, dimana Fatih panik melihat Ibra pingsan karena hampir jadi sasaran masa, berkat kebodohannya waktu itu.


"Kamu tadi jatuh, Mas. Tergeletak begitu saja, ada yang sakit, Mas?" tanya Fatih, samar-samar ia ingin menyentuh kepala Ibra namun kembali ia urungkan. Seketika Fatih kaget ketika Ibra menarik tangannya agar diarahkan ke pusat yang sakit.


"Di sini, Fat. Sakit banget!" keluh Ibra seperti Fara yang tengah merengek.


"Kamu ngapain sih, Mas. Masih di sini? Harusnya kamu itu pulang ke Jakarta!"


"Ya Allah, Fat, aku lagi sakit gini loh." Ibra memohon seperti minta di kasihani.


"Iya, tapi kan karena sikap kamu juga yang keras kepala kayak gini!" Fatih memutar bola matanya jenga.


"Mungkin aku udah ketularan sifat keras kepala dari kamu, Fat!" jawab Ibra masih menatap dalam Fatih.


"Udah nggak usah dibahas! Ayo kamu pulang sekarang, ke rumahmu tuh!" Fatih menunjuk sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahnya.


Ibra menggeleng. "Kalau di sana aku pingsan lagi gimana? Terus pas pagi-pagi ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, nanti kasian Fara, Fat. Dia akan sedih ... dan mungkin kamu juga." cicit Ibra dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


Fatih mendengus pelan. Ia menatap dalam wajah Ibra, seraya berfikir jalan terbaik apa yang harus ia ambil sekarang. Di satu sisi ia khawatir dan juga dirinya masih rindu dengan lelaki ini. Tapi di satu sisi lain, itu semua mustahil, membawa masuk Ibra sama saja akan membuat masalah.


"Terus gimana, Mas? Kamu harus tidur, ini sudah malam!" Fatih mencoba bangkit untuk berdiri. Dan Ibra tetap diam ditempatnya. Mencoba menggapai ujung jari Fatih dan merengek seperti anak bayi.


"Aku gak mungkin kan bawa kamu menginap didalam, apa kata orang Mas! Kita berduaan tanpa ikatan pernikahan."


"Kan bertiga sama Fara." jawab Ibra polos. Memang setiap malam, Fatih hanya berdua dengan Fara dirumah. Karena Bik Mirna selalu pulang kerumah setiap habis magrib.

__ADS_1


"Lagian orang taunya, kita itu suami istri, Fat. Hanya Bik Mirna yang tau status kita yang asli. Malam ini aja aku menginap didalam, tidur di sofa juga gak apa-apa!"


"Aneh ah kamu, mending pulang kerumah sana! Ada kasur lagi kan enak, bisa tidur nyenyak dari pada di sofa!" Fatih tetap dalam pendiriannya, tidak mengizinkan Ibra untuk menginap.


"Sekali ini aja, Fat. Aku mau jaga kalian." pinta Ibra dengan tatapan sendu.


"Pokoknya pulang!" Fatih melangkah untuk meninggalkan Ibra. Langkahnya diperlambat seperti seraya tengah berfikir. Ibra yang melihat Fatih pergi berlalu, hanya bisa mendesah napas kekecewaan. Pengorbanan berdiri berjam-jam sampai terbentur batu, nyatanya tidak membuahkan hasil.


Ia pun beranjak bangkit untuk berdiri dan melangkah menuju mobil sambil memegang kepala bagian belakangnya yang masih sakit.


Lalu.


Tap.


Langkah kaki Fatih terhenti sebelum sampai ke ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, melihat punggung tegap yang dulu selalu ia peluk jika malam tiba. Ia lirih menatap Ibra yang sedang memegangi kepalanya.


"Kayaknya beneran sakit ya?" terka nya. Fatih pun memutuskan untuk berkhianat dengan bibirnya. Bibir yang berucap untuk menolak Ibra, namun hati kecil berbisik untuk menerima lelaki itu.


"Mas ..." Ibra menoleh ketika baru saja membuka pintu mobil. Raut yang sedari tadi menahan kesedihan kini tergantikan dengan pancaran sinar kebahagiaan.


"Alhamdulillah, Bidadari surgaku memanggil." kata hatinya. Ia menatap Fatih tengah berjalan menghampirinya.


"Ayo menginap lah, tapi ingat habis subuh kamu harus cepat pulang, aku nggak mau Bik Mirna shock lihat kamu ada didalam!" ucap Fatih dengan tegas. Ia pun berbalik lagi untuk mendahului Ibra.


"Fat ..."


"Hem ...?" Fatih menoleh.


"Gandeng dong, aku lemes nih abis jatuh." pinta Ibra manja.


Fatih mendelikan matanya sambil menghela napas malas. Ia pun kembali menghampiri lelaki itu dan menggandengnya untuk masuk ke dalam rumah.


Sungguh bahagia Ibra dengan genggaman tangan yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Rasanya masih sama, jiwaku terasa teduh. Dan hatiku mekar lagi, Fat. Terimakasih, sayang." hanya suara hati Ibra yang bisa mendengarnya.


****


Tiga episode DKM di hari ini, enggak tau kenapa aku lagi sayang sama Ibra dan Fatih.


Berikan kasih sayang kalian buat aku ya, tau kan harus ngapain, hehehe❤️

__ADS_1


__ADS_2