
Haiii kesayangan, aku kembali
Selamat baca ya
🖤🖤🖤
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam minggu kali ini terlihat Ibra dan Fatih sedang berbaur dengan tetangga sekitar kompleks. Para tetangga tersebut mengadakan acara bakar-bakar ayam, ikan dan makan bersama ditengah jalan dengan memakai alas karpet.
Biasanya acara seperti ini diadakan satu bulan sekali oleh salah satu tetangga mereka. Ibra selalu menyempatkan diri untuk bergabung dengan mereka, memeriahkan acara malam minggu. Semua tetangga tahu musibah yang sempat menimpa Ibrahim empat tahun silam, mereka juga senang ketika mengetahu Ibra sudah menikah lagi dan akan mempunyai seorang anak.
Untuk makan-makan malam ini Ibra dan Fatih yang mensponsori, sebagai ucap syukur atas pernikahan mereka dan kehamilan Fatih.
"Udah berapa bulan, Mba?" Tanya Bu Rita, rumahnya hanya berbeda tiga rumah dari Ibra. "Sudah lima bulan, Bu." Jawab Fatih malu-malu sambil menuangkan kecap ke dalam mangkuk.
"Wah gak terasa ya Mba, berarti empat bulan lagi lahiran ya?" Selak Bu Lina yang juga ada diantara mereka.
Fatih mengangguk dan tersenyum. "Iya Bu."
"Perempuan atau laki-laki, Mba?" Tanya Bu Rita lagi.
__ADS_1
"Insya Allah perempuan, Bu.."
"Alhamdulillah, lengkap deh Mas Ibra, dulu kan anak-anaknya laki-laki ya, tapi sayang udah gak a---"
Ibu Lina memotong. "Sst! Udah ah jeung, jangan dibahas. Ikut sedih kalau ingat Mas Ibra dulu."
Fatih hanya menghela nafasnya, entah mengapa ia keberatan jika semua orang terus mengungkit masa lalu suaminya. Ia takut Ibra kembali memikirkan keluarga nya yang dulu dan bayang-bayang trauma itu akan kembali datang.
"Oh iya Mba, bisa kenal Mas Ibra dimana?" Bu Lina mengubah arah percakapan mereka.
"Di jodohkan oleh kedua ibu kami, Bu.." Jawab Fatih apa adanya. Ia sepertinya semakin malas berada diantara mereka. Namanya juga ibu-ibu komplek perumahan, mereka suka bergosip dan bertanya-tanya masalah pribadi.
"Saya juga kaget waktu Mas Ibra nikah sama Mba, saya fikir Mas Ibra akan nikah sama Mba Kasih---"
Mendengar nama perempuan lain membuat Fatih membulatkan kedua mata nya. "KASIH?" Tanyanya menyelidik.
"Iya Mba, dulu Mba Kasih itu suka kesini antar makanan, kue dan juga suka mencucikan baju Mas Ibra. Setelah Mba Jihan meninggal dunia, tapi entah mengapa sudah lama tidak terlihat lagi Mba Kasih."
Dada Fatih terasa begitu linu, ia fikir hanya dirinya dan Jihan saja yang pernah ada dalam hidupnya. Namun ia menepisnya, ia merasa tidak mungkin Ibra berani membawa wanita tanpa ada ikatan pernikahan ke rumah.
"Saudara dari mana Mba, orang suka menginap kok kalau sabtu minggu. Kadang juga Mba Kasih suka diajak ikut ngumpul sama kita. Sempat Mba Kasih bilang, kalau Mas Ibra mau menikahinya, ya kan jeung?" Bu Rita menyentuh sikut Bu Lina.
"Iya Mba Fatih, betul itu."
Blass.
Dada Fatih kembali linu dan mengkerut. Wajahnya menegang dan memerah. Kepalan emosi tengah bersarang didadanya.
"Gak mungkin kan Mas Ibra berzinah? Apalagi dirumah hanya ada satu kamar dan kamar lain dijadikan gudang, otomatis mereka pasti tidur bersama, iya kan?" Fatih terus merancau dalam batinnya. Ia terus menatap Ibra yang sedang tertawa bersama kumpulan bapak-bapak.
Sontak ucapan Ibu Rita membuat Fatih tidak bisa menahan air matanya yang ingin turun. Apalagi wanita itu amat sensitif dan pencemburu. Dimana, ia selalu mengenal sosok Ibra menjadi lelaki yang bijaksana dan terhormat.
Karena ia terus melamun akhirnya mangkuk kecap yang tengah ia genggam begitu saja jatuh ke bawah.
Trang.
__ADS_1
Membuat semua orang menoleh ke arahnya tanpa terkecuali Ibra yang melihat Fatih dengan tatapan aneh. "Mba gak apa-apa?" Tanya dua ibu itu bersamaan.
Fatih hanya menggeleng dengan wajah datar. "Maaf ya Bu..saya permisi." Fatih langsung berlalu untuk angkat kaki dari acara malam itu. Membuat Ibra bangkit dan memanggilnya, namun Fatih enggan untuk menoleh. Ia terus melangkah masuk kedalam rumah.
"Sayang..kamu kenapa?" Seru Ibra yang langkah kakinya sudah berhasil mengejar istrinya sampai di ambang pintu.
"Fat?" Ibra meraih lengan sang istri, betapa kagetnya dia melihat wajah Fatih sudah basah karena air mata.
"Kamu kenapa? Kok nangis kayak gini?"
Fatih melepaskan tangan Ibra dari lengannya, ia melangkah lagi menuju kamar tidur mereka, membanting pintu dan menguncinya. Fatih menangis tersedu-sedu di tepi tempat tidur.
"Sayang kenapa?" Tanya Ibra sambil menghentak-hentakan handle pintu dari luar. "Jangan dikunci sayang, ayo buka!" Ibra terus berujar. Ia sama sekali tidak tahu jika Fatih akan marah dan menangis seperti ini.
"Apa salahku, Fat?" Tanyanya terus menerus.
Ibra semakin takut mendengar suara Fatih tidak berhenti dari tangis.
"Sayang, ayo buka dulu. Cerita sama aku ada masalah apa?"
Ibra tidak akan menyangka jika tetangganya akan membicarakan mengenai Kasih kepada Fatih. Tentu saja Fatih melahap semua cerita itu dan menjadikannya suatu pembenaran, tanpa memberi celah agar Ibra bisa menjelaskan dengan tepat bahwa hubungannya dengan Kasih hanyalah sebuah kesalah fahaman.
Fatih terus saja menangis, ia beringsut untuk membaringkan tubuhnya di pertengahan kasur sambil memeluk guling. Ia membiarkan Ibra yang terus memanggil, menggedor dan menggoyang-goyangkan handle pintu.
Fatih kesal karena Ibra masih saja menyembunyikan sesuatu tentang masa lalu nya. Ia merasa malu, karena suaminya sudah lama menjadi konsumsi publik di wilayah para tetangga. Dan mengapa ia harus mendengar semua itu dari orang lain.
"Apa hubungan kamu dengan dia, Mas. Siapa Kasih???"
Fatih terus menangis dan sesekali mengusap perutnya ketika dirasa ada tendangan Fara dari dalam perutnya. Sepertinya calon bayi itu tahu jika sang Mama sedang gundah gulana.
Ibra tidak kehilangan akal, ia mencari ide untuk melihat keadaan Fatih dari celah ventilasi jendela kamar mereka. Ia menaiki kursi lalu berdiri dan melihat Fatih yang masih menangis diatas kasur.
"Ya Allah sayang, kamu kenapa?"
****
__ADS_1