
Tuk.
Terlihat Fatih tengah menata piring di meja. Ia atur sesuai tata letak kursi. Ia memasak sarapan untuk orang rumah, termasuk Ibra yang masih ingin menetap di sini dengan berbagai alasan klise nya.
Tak berapa lama Fatih menoleh ketika ponsel Ibra yang diletakan asal di meja tamu begitu saja berdering. Fatih menoleh ke arah toilet, mendengar kalau Ibra masih berjibaku dengan air dan sabun, lelaki itu masih membersihkan diri didalam sana.
Fatih pun mendekat ke pintu kamar mandi.
"Mas, ponsel kamu berbunyi."
Ibra yang tidak jelas dengan ucapan Fatih, kembali mengulang pertanyaan.
"Kenapa, Fat?"
"Itu ponsel kamu bunyi." ulanginya.
"Biarin aja, tapi kalau telepon lagi. Angkat aja, Fat." jawab Ibra lalu kembali menyalahkan air di keran.
Fatih pun melangkahkan kaki nya menuju meja tamu, meraih ponsel itu dan menatapnya.
"Kiran?" Fatih mengeja nama itu di ponsel Ibra yang masih bergetar.
"Assalammualaikum, Mas Ibra. Kiran rindu deh, kemana aja sih? Kemarin Kiran ke kantor kata Mas Tomi lagi nengok saudara ya di Banten?"
Deg.
Jantung Fatih kembali berdetak cepat, ia begitu terenyak dengan perkataan si wanita yang entah siapa dan kini sedang dimana? Apa hubungan dengan mantan suaminya? Teman special nya, kah?
Padahal ketika Fatih memasak sarapan untuk Ibra, wajah wanita itu kembali bersinar. Ia seperti mendapat cahaya yang dipenuhi dengan sekumpulan harapan. Berulang kali Ibra memanggilnya dengan sapaan kata sayang dan cinta. Hati yang sedari tadi sudah mekar kini kembali redup dan tertutup.
Fatih tetap membiarkan wanita di sana mengulang kata hallo berkali-kali. Fatih tetap melamun sambil menurunkan kembali ponsel ditangannya. Ia tidak mematikan ponsel itu, ia membiarkan Kiran yang mematikannya duluan dari sana.
Cemburu? Sudah pasti, Fatih Medina adalah wanita pencemburu. Bahkan tidak tanggung-tanggung dengan nyamuk yang tengah menghisap darah di tubuh Ibra pun, ia masih saja sempat cemburu.
"Siapa, Fat?" suara bariton Ibra, begitu saja membuat ia mengedik kan pangkal bahunya karena kaget. Ia pun menoleh dan menatap dingin Ibrahim.
"Kamu kenapa, Fat?" tanya Ibra hati-hati. Ia masih hapal perangai Fatih jika sedang merajuk.
"Ada Kiran yang telepon kamu, dia bilang kangen dan nanyain apa benar kamu sedang dirumah saudara sekarang?" jawab Fatih dengan nada datar.
Sebisa mungkin Fatih menahan untuk tidak menambah raut kesal diwajahnya. Sejujurnya ia ingin memaki Ibra, namun rasanya itu sudah tidak perlu dilakukan. Ibra bukan miliknya lagi sekarang.
Deg.
Kini giliran Ibra yang tersentak, ia seperti sedang tersengat arus listrik. Ia tahu betul, Fatih pasti masih marah dan cemburu.
"Fat ..." panggil Ibra, ketika Fatih berjalan melewatinya.
"Bicara dulu sama dia, siapa tau penting. Kasian kan kemarin sampai harus ke kantor untuk nyariin kamu!" jawab Fatih yang diselingi tawa pelan. Lebih tepatnya tawa dalam tangis. Hati Fatih seperti tercacah.
__ADS_1
"Bodoh kalau aku masih mengharapkan kamu, Mas!" dalam hatinya.
Ibra lebih memilih membiarkan ponsel itu menyala dan mungkin saja Kiran masih menunggu. Ia memutar langkah untuk mengikuti Fatih ke meja makan.
"Bik, bangunin Fara ya." titah Fatih kepada Bik Mirna yang akan masuk kedalam kamarnya sambil membawa tumpukan baju yang sudah disetrika.
"Iya, Bunda." jawab Bik Mirna.
Fatih menarik kursi dan duduk di sana, tangannya sedang sibuk menuangkan air putih disetiap gelas.
Ibra pun duduk disebelah Fatih.
"Fat, itu.."
Suara Ibra tercekat, ketika Fatih berhasil memotongnya.
"Makan dulu, sebelum kamu pulang, Mas! Atau mau aku bekal kan saja, biar kamu bisa makan di mobil?"
Ibra sudah hafal betul, jika Fatih seperti ini. Ia pasti sedang merajuk.
"Ikut aku ke Jakarta ya, aku mau bawa kamu berobat." pinta Ibra lembut.
Fatih tidak menjawab, ia beranjak bangkit menuju dapur dan kembali datang sambil membawa sekotak tempat bekal ditangannya. Menuangkan nasi dan beberapa lauk untuk dituang kedalamnya.
"Fat, enggak!" Ibra meraih kotak bekal itu dan ia singkirkan untuk menjauh.
"Mau sampai kapan kamu di sini, Mas? Tolong dong jangan buat aku tambah sakit!"
Kini mereka saling bersitatap dalam ego masing-masing.
"Sampai kamu mau ikut aku ke Jakarta! Kamu harus sembuh, Fat! Kamu nggak kasian sama Fara? Dia butuh kasih sayang kamu sampai dewasa, dan begitu juga untuk aku." nada Ibra terdengar begitu pelan di ujung kalimat.
"Iya aku akan berobat, tapi enggak sekarang!"
"Terus kapan?" selak Ibra, lelaki sabar itu semakin mencecar Fatih.
"Duh lagi bertengkar." desah Bik Mirna pelan ketika sedang menggendong Fara yang masih memeluknya sambil memejam kedua mata.
"Yuk Neng kita masuk lagi ke dalam kamar." Bik Mirna memilih membawa lagi Fara untuk masuk kedalam kamar. Ia merasa tidak mempunyai etika kalau tetap datang menerebos pertengkaran Fatih dan Ibra di meja makan.
"Tolong lah, Mas. Urusan kita berdua hanya sebatas Fara. Jangan lagi kamu ikut campur tentang urusanku!" ucap Fatih.
Jika saja Fatih tidak mendengar suara telepon dari Kiran, mungkin Fatih akan menyetujui tawaran dari Ibrahim.
"Pulang lah, Mas! Sudah ada yang menunggu kepulangan mu di Jakarta." pinta Fatih dengan nada biasa, ia sudah menurunkan volume nadanya yang begitu saja meninggi barusan. Fatih kembali meraih kotak bekal yang sempat digeser jauh oleh Ibra.
Lagi dan lagi Ibra mencekal tangan Fatih ketika meraih kotak bekal itu.
"Aku sama Kiran nggak ada hubungan apa-apa, Fat. Percayalah!" entah mengapa mendengar Ibra berkata seperti ini, hati Fatih bukannya tegap, malah semakin terasa sakit.
__ADS_1
"Bukan urusan ku lagi, Mas. Terserah kamu mau dekat sama siapapun!" jawab Fatih tegas.
"Kok kamu ngomongnya gitu, Fat?" ucap Ibra polos. Ada raut sedih yang terpancar di wajahnya. Ia kembali beringsut ingin menggenggam tangan Fatih, namun wanita itu menolaknya.
"Aku masih cinta sama kamu, Fat. Aku mau meminta kamu untuk menjadi istriku lagi." Ibra menatap wajah Fatih, sedangkan Fatih memilih untuk mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sebisa mungkin ia tahan air bening itu agar tidak tumpah.
"Sudah lah, Mas. Ayo buka hati kamu buat yang lain, cari Ibu kedua untuk Fara. Aku nggak akan bisa nikah lagi sama kamu, Mas. Apa kata orang? Apa kata keluargamu? Mereka akan berfikir, aku mau kembali hanya ingin uangmu saja!"
"Ya Allah, Fat. Fikiran mu sudah terlampau jauh! Keluargaku selalu merindukan kamu, selalu memaksaku untuk memintamu kembali, dan kamu tetap menolak ku!" Ibra tetap bersikap lembut dan hangat ketika sedang menjelaskan suatu masalah kepada Fatih. Ibra selalu bisa mengontrol emosi.
"Dari namanya, Kiran sepertinya cantik. Suaranya juga masih terdengar muda, kenapa kamu enggak coba untuk membuka hati sama dia, Mas?"
Fatih masih saja terluka karena cemburu. Sejujurnya wanita itu tidak terima, kalau ada wanita yang mengucap rindu kepada Ibra.
"Dia juga bilang kangen, memang sedekat apa kalian selama ini? Empat tahun, Mas. Kita berpisah dalam jarak dan tempat!"
"Kita aja menikah hanya setahun lalu berpisah. Sejujurnya aku enggak tau, gimana perubahan kamu sekarang?"
"Apa benar rasa cinta itu masih ada? Kamu udah sukses, Mas. Pasti banyak wanita yang berlalu lalang mendekati kamu!"
"Jangan karena rasa kasian kamu ke aku, menutup kebahagiaan kamu bersama wanita lain. Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan menjauhkan kamu dengan Fara!"
Serentetan ucapan Fatih sebelum ia memilih berlalu meninggalkan Ibra di meja makan yang masih tertegun dengan ucapan Fatih.
"Fat ... tunggu, aku akan jelaskan!"
Ibra yang sudah tersadar, langsung melangkah secepat kilat untuk menyusul Fatih ke kamar Fara.
Namun ponselnya kembali bergetar. Langkahnya pun terhenti untuk meraihnya.
"Kak Intan?" Ibra mengeja nama Kakak kedua ya di layar ponsel.
"Assalammualaikum, ya hallo, Kak?"
Seketika kening Ibra mengkerut. Dua bola matanya berputar kesana kemari, ketika mendengar Kakaknya sedang menjelaskan suatu masalah, jauh di seberang sana.
"Ya Allah, kok bisa?"
Fatih menoleh, ketika mendengar nada suara Ibra begitu saja histeris. Ia menatap punggung tegap lelaki yang masih ia cintai sampai detik ini. Ibra pun memutar tubuhnya untuk menatap lurus Fatih yang juga sedang menatapnya balik.
Ibra menatap lurus Fatih dengan kulit tenggorokan yang terlihat sedang naik turun. Ibra masih setia mendengarkan suara Kak Intan yang terdengar parau disertai isak tangis. Ibra pun dengan cepat mengakhiri telepon itu dengan wajah sedih menatap Fatih yang sedang menggendong Fara.
Ia menghampiri Fatih ke dalam kamar.
"Tolong temani aku ke Jakarta sekarang, Fat. Ibuku kritis!"
****
Like dan Komennya ya guyss❤️
__ADS_1