
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
"Setelah gue periksa, semua nya masih dalam batas normal kok, Fat. Kayak nya nih suami lo lagi kena sindrom kehamilan simpatik." Ucap Dias kepada Fatih sambil memasukan stetoskopnya ke dalam tas miliknya.
Ibra terlihat tengah berbaring dengan tubuh tertutup selimut dan mata yang sudah terpejam karena efek obat mual yang sudah diberikan oleh Dias.
Dias adalah Kakak sepupu Fatih yang berprofesi sebagai Dokter Umum. Sesibuk apapun ia akan selalu datang jika Mama Tari yang menelponnya.
"Apaan tuh yas? Kok gue baru denger? Kan yang hamil gue?" Ucap Fatih menunjukan dirinya sendiri.
"Gue tunggu diruang tamu ya, nanti gue jelasin depan Om sama Tante---" Ucap Dias ketika tas periksa nya sudah berhasil ia genggam.
"Oke deh nanti gue nyusul!"
Setelah berlalunya Dias, Fatih pun duduk di tepian ranjang.
"Mas?" Fatih mencoba membangunkan. Namun Ibra tetap bergeming.
"Udah pulas banget kayaknya." Menatap suaminya yang sudah pulas.
"Ya udah deh, aku tinggal dulu ya sayang.." Fatih mengelus-elus pipi Ibra dan menciumnya.
Fatih pun bangkit dari ranjang dan melangkah menuju ruang tamu. Terlihat Dias, Papa dan Mama sedang berbincang.
"Masa si Yas? Kok Om baru tau ya penyakit kayak gitu?" Tanya Papa kepada Dias. Ketika keponakan nya menceritakan kondisi Ibra saat ini.
Fatih pun beringsut duduk di sebelah Dias. "Iya Yas, maksudnya gimana? Gue masih nggak faham!"
"Ini sih kecurigaan aku aja ya. Kayaknya Ibra itu lagi kena sindroma kehamilan simpatik atau dengan bahasa lain disebut dengan Couvade Syndrom."
"Dimana kadar prolaktin dan kortisol pria cenderung meningkat di trimester pertama kehamilan istri. Bedanya pada masa ini kadar testoteron dan estradiol istri menurun. Suami akan merasakan mual, muntah layaknya istri yang sedang hamil!"
__ADS_1
"Faktor lainnya bisa disebabkan juga mungkin sedang stress, depresi, atau juga dengan rasa bahagia yang amat berlebihan. Ya semua itu agak beda tipis memang. Tapi tenang aja itu bukan penyakit. Nanti juga hilang sendiri dengan berlalunya waktu."
Berbagai rentetan penjelasan panjang tercuat dari bibir sepupunya. Fatih dan kedua orang tuanya terus melongo karena terkejut.
"Lucu ya, berarti suami bisa juga ikut ngidam kayak gitu, baru tau nih Mama."
Fatih terus berfikir, ia menyetujui penjelasan Dias, karena memang sikap Ibra terlihat aneh semenjak di rumah makan tadi siang.
"Tapi Fat, Ibra lagi nggak ada masalah kan? Gak lagi depresi, stress atau semacamnya kan??"
"...Ya nggak lah Pah! Ibra tuh lagi kelewat bahagia, karena tau sebentar lagi dia akan punya anak. Ya kan sayang?" Mama Tari beralih menatap Fatih.
Fatih hanya bisa memberikan senyuman tipis kepada sang Mama. Tentu saja Ibra masih dalam keadaan sakit mental. Fatih bersyukur karena segera membawa Ibra ke Dokter Spesialis Jiwa tadi siang, ia ingin membuat suaminya sembuh tanpa cacat dan tanpa sepengetahuan orang lain.
****
Dipertengahan malam dengan mata yang samar-samar akan terpejam. Tangan Ibra begitu saja membentang di dada Fatih. Membuat dejapan mata itu terbuka lebar. Fatih tidak jadi tidur. Ia menoleh dan mendapati suaminya tengah terjaga.
"Kok bangun, Mas?" Tanya Fatih.
"Aku tidur dari jam berapa tadi, Fat?" Ibra berbalik tanya, ia menyeret kedua bola matanya untuk melihat jam di dinding. "Udah jam dua pagi..." Desahnya.
"Kamu tidur dari sehabis isya, Mas. Setelah Dias memeriksa kamu---"
"Oh iya aku kan sakit ya? Katanya aku kenapa sayang?" Ibra mendekat dan memeluk istrinya dari samping. Mendekatkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Katanya kamu tuh gak apa-apa Mas, hanya lagi kena sindrom kehamilan simpatik aja."
Benar saja Ibra sependapat dengan reaksi Papa mertuanya. Mereka merasa aneh jika suami bisa mengalami apa yang tengah ibu hamil rasakan.
Dengan mata yang sudah berat, Fatih pun menjelaskan kembali apa yang dijelaskan oleh Dias kepadanya mengenai sindrom tersebut kepada Ibra.
"Serius Fat? Kok bisa ya? Perasaan dulu pada saat Jihan hamil, aku gak pernah kaya begini?"
"Ya mungkin ada efek dengan depresi kamu, Mas. Kamu mungkin ada perasaan takut dan was-was tentang kehamilan aku, iya kan? Ngaku deh!" Ucap Fatih sambil menguap.
Ibra terdiam, ia terus mengusap-usap perut Fatih yang masih datar. Dalam hatinya ia sedikit membenarkan ucapan Fatih.
"Kenapa diam? Ayo ceritain aja yang masih mengganjal dihati kamu, Mas. Kan kata Dokter Fera, kita harus saling berbagi----Kamu mau sembuh kan??"
Ibra mengangguk dan mengalungkan salah satu tangannya untuk memeluk Fatih. "Iya sayang, kamu benar.."
"Aku memang lagi gak pede aja sama umur aku yang udah mau kepala empat. Aku takut keburu tua, Fat. Aku takut kamu berpaling!" Ibra semakin memeluk erat dan memejamkan kedua matanya.
Fatih yang mengantuk tiba-tiba menjadi segar bugar. Ia pun tertawa dengan kejujuran suaminya. "Cinta tuh nggak mandang umur, Mas! Aku cinta sama kamu tuh tulus..."
"TULUS...si penyanyi?" Ibra berdecis geli.
"Adeuhhh, capek deh--" Fatih memutar bola matanya jenga.
__ADS_1
"Iya deh aku percaya." Ibra mengecup leher Fatih.
"Nah gitu dong. Pokoknya kalau kamu ngerasa ada sesuatu, mending dibicarain dari pada cuman tertahan di hati!"
"Iya sayang..." Ibra kembali mengecup leher istrinya, namun kali ini lebih nakal. Ada iringan gigitan kecil darinya. Tangan Ibra pun turun untuk masuk kedalam piyama. Menjelajah untuk menyerang pertahanan dua bukit kembar. Sontak saja membuat Fatih melenguh.
Ibra pun beringsut untuk mengubah posisinya menjadi diatas lekuk tubuh sang istri. "Kita ulang yang kemarin malam ya sayang, tapi disini aja, jangan di bath up. Nanti masuk angin---"
Fatih dan Ibra tertawa. Namun sebelum mereka memulai, entah kenapa perut mereka terasa dipermainkan dengan rasa muntah yang tiba-tiba melanda tubuh mereka. Fatih mendorong tubuh suaminya dan Ibra pun turun untuk bangkit ke toilet. Fatih dan Ibra bersamaan mengeluarkan muntahan mereka di wastafel.
Sungguh momen yang tidak akan terlupakan untuk Ibra dan Fatih. Dimana masa-masa seperti ini akan membuat mereka semakin kuat untuk saling berbagi dan memahami. Mereka bisa saling mengerti posisi dan perasaan masing-masing.
Tentu kehamilan Fatih sekarang, adalah masa-masa terindah untuk Ibra yang tidak akan terlupakan. Ibra bisa merasakan apa yang Fatih rasakan selama menjalani kehamilan di trimester pertama.
Penyiksaan setiap pagi ataupun malam yang membuat tubuh seketika lemas dan tidak berdaya karena rasa mual dan muntah yang terus beriringan.
Setelah selesai mengeluarkan cairan bening dari perut masing-masing mereka pun bergegas kembali merangkak ke atas kasur untuk melanjutkan tidur. Karena Ibra dan Fatih sudah kehilangan selera untuk bercinta malam ini. Tubuh mereka merasa lemah dan lemas.
"Sayang..."
"Iya Mas?" Jawab Fatih sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Aku lagi mau sesuatu..." Fatih menatap bola mata suaminya dalam-dalam.
"Mau apa, Mas?"
"Lagi mau makan bubur ayam."
"Ya udah besok pagi ya---" Fatih mengusap-usap lengan suaminya. "Ayo tidur yuk, udah pagi nih Mas. Aku ngantuk."
"Mau nya sekarang, Fat!" Demi apapun Ibra kembali mengidam. Ia menjadi manja dan merasa sedih jika keinginannya tidak dituruti.
"Tapi ini udah dini hari sayang..." Ucap Fatih lembut. "Mana ada tukang bubur jam segini?"
"Ada kok sayang kalau dicari..." Ibra tetap memaksa. "Yuk kita keluar, mau gak?"
"Iya udah ayo! Tapi dimakan ya? Aku gak mau loh tiba-tiba kamu berubah fikiran lagi kayak di rumah makan tadi siang!"
"Iya sayang janji, eh tapi sebentar, Fat. Aku mau nya Papa sama Mama ikutan juga makan bubur sama kita malam ini."
"HAH????"
Entah apa yang akan dikatakan oleh Mama dan Papa Fatih jika mereka dibangunkan pagi-pagi hanya untuk menemani mereka makan bubur ayam untuk memenuhi rasa ngidam menantunya.
Hahahaha, tidak bisa dibayangkan
🤭🤭
****
__ADS_1
Like dan Komen ya guyss.