Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
FatihKu Pasti Sembuh


__ADS_3

Pagi kembali tiba, dan Ibra sudah harus berangkat ke kantor. Banyak sekali pekerjaan yang sudah ia tinggalkan begitu saja, selama mengurus Fatih di Rumah Sakit. Ia hanya bisa mengandalkan Tomi untuk menangani dan menggantikan posisinya selama ini di perusahaan.


Ibra tersenyum menatap wajah Fatih yang sedang berdiri sejajar dengannya. Fatih masih berjinjit untuk memasangkan dasi di kerah kemeja Ibra. Setelah semalaman wanita itu hanya diam dan menangis, kini Fatih sudah mulai membaik. Ia tahu tugas istri harus tetap berjalan. Semalam suntuk Ibra menenangkan istrinya, membujuk, menasehati dengan sekumpulan kata-kata bijaknya. Dan akhirnya Fatih mau menerima dan mengerti.


"Jangan difikirin lagi ya, kalau gitu Fara enggak usah kerumah Nenek nya dulu." Ibra membuka suara sambil menyampir kan helaian rambut Fatih yang menutupi pipi ke belakang daun telinga, Ibra pun beringsut untuk mencium pipi mulus istrinya.


"Hemm, wangi banget nih Bundanya Fara. Jadi pengin gigit." goda Ibra nakal, ia sengaja ingin membuat Fatih tersenyum.


"Ayah ..." ucap Fatih bergeliat. Aroma napas Ibra membuat ia sedikit membidikkan bahu karena geli.


"Maafin Bunda, ya, Yah. Bunda masih belum bisa untuk menerima Niken. Tapi kalau Fara mau ke rumah neneknya, Bunda enggak larang sama sekali." jawab Fatih, lalu membantu Ibra mengenakan jas kantor berwarna hitam.


Ibra menganggukkan kepala tanda setuju.


"Bunda duluan aja ke bawah, Ayah mau pamitan sama Fara." Ibra menoleh ke arah putrinya yang sedang terlelap dengan selimut masih membekap tubuhnya.


"Jangan sampai kebangun ya, Yah." titah Fatih lalu berlalu meninggalkan kamar.


Ibra berjalan menuju ranjang untuk mendekati anaknya.


"Ayah kayak mimpi, Nak. Sekarang bisa lihat Fara kalau mau berangkat dan pulang kerja." ucap Ibra sambil mengelus lembut pipi sang anak, kemudian mengecup kening Fara. Anak itu sedikit bergeliat, walau suara Ibra tidak sampai membuatnya terbangun.


"Sstt ..." Ibra mengusap-usap tubuh Fara agar kembali pulas.


"Ayah berangkat dulu ya, Nak. Baik-baik sama Bunda dirumah ya." Ibra kembali mencium Fara lalu turun dari ranjang untuk berlalu menuju meja makan. Ia ingin sarapan bersama istrinya.


Terlihat di meja makan, sang istri tercinta tengah menyiapkan sarapan untuk Ibra. Ibu Dasih pun turut ada di sana untuk membantu menyiapkan apa saja yang kurang. Mereka terlihat sedang mengobrol.


"Pasti Bundanya Fara lagi mengintrogasi tentang saya, ya, Bu?" suara Ibra membuat mereka berdua mendongak, Ibra yang sedang menuruni anak tangga menatap ke arah mereka.


Ibu Dasih terlihat tertawa seperti ingin membenarkan terkaan Ibra, dan Fatih pun ikut tertawa karena hampir tertangkap basah.


"Kali aja kan selama aku enggak ada dirumah, ada banyak wanita yang bertamu ke rumah ini?" jawab Fatih sambil memundurkan salah satu kursi meja makan, untuk di duduki oleh suaminya.


"Tapi emang beneran Nyonya, belum pernah ada wanita yang kesini, kecuali Kak Intan, Kak Ira dan Ni--"


"Bu, lagi ngerebus apa? Itu tutup pancinya sudah mau terbuka ke atas." selak Ibra memotong ucapan Ibu Dasih. Membawa arah mata Ibu Dasih ke panci yang sedang berada diatas kompor menyala. Sejatinya Ibra sangat tahu jika nama Niken yang akan disebut oleh wanita paru bayah itu. Fatih pun mengerti dan hanya diam.


"Oh iya .." Ibu Dasih berbalik menuju kompor.


Fatih menuangkan mie goreng di piring suaminya, tidak lupa segelas susu dan air putih yang juga sudah siap

__ADS_1


"Makan, Yah." titah Fatih setelah meletakan piring itu di depan Ibra.


"Bunda juga sarapan, lalu minum obat."


Fatih mengangguk dan mulai menyendok makanan itu kedalam piringnya.


"Ayo, Bu, sarapan." ucap Ibra mengajak art nya untuk ikut sarapan.


"Iya, Tuan, saya nanti aja belakangan." ucapnya Bu Dasih lalu pergi ke tempat pencucian baju.


Fatih pun duduk di sebelah Ibra dan mulai melahap sarapannya. Sesekali Fatih melirik ke arah suaminya yang sedang makan dengan wajah begitu senang. Aura bahagia terpancar dari raut Ibra.


"Ayah kenapa, kok senyum-senyum sendiri?"


Ibra menoleh sambil terus mengunyah mie didalam mulutnya, lalu menenggak air putih dan kemudian menjawab.


"Senang karena bisa sarapan lagi sama Bunda, sebelum berangkat kerja." jawab Ibra sambil tersenyum, lalu menjawil dagu milik Fatih.


"Ayah senang?" tanya Fatih dengan wajah yang ikut berbinar.


"Udah enggak bisa diungkapin lagi dengan kata-kata, Bun. Ayah senang banget pokoknya!"


Ibra mengangguk dan mencium pipi Fatih sekilas, ia pun kembali melanjutkan sarapannya sampai habis.


Setelah sarapan selesai, Fatih mengantarkan Ibra sampai ke depan mobil, membawakan tas kerja milik suaminya.


"Apa Bunda boleh pulang dulu ke Banten, Yah? Kasian Bik Mirna dan perkebunan."


"Boleh, tapi nanti sama Ayah. Mungkin weekend, bagaimana?"


Fatih tersenyum dan mengangguk, ia mulai meraih tangan Ibra untuk di cium.


"Hati-hati dirumah ya, kalau perutnya sakit lagi. Tolong telepon Ayah." titah Ibra sambil mengecup hangat kening Fatih.


"Ayah berangkat ya." ucapnya lalu berlalu meninggalkan Fatih menuju mobil.


"Hati-hati ya, Yah. Jangan ngebut bawa mobilnya."


Fatih tersenyum dan melambaikan tangan ke arah suaminya yang sudah berada didalam mobil. Ibra pun berangkat bekerja dengan hati yang berbunga-bunga. Tidak lupa mendendangkan lagu-lagu cinta disepanjang perjalanan menuju kantor. Hatinya kembali tegap, bersinar dan melayang-layang.


"Aku sangat mencintaimu sayang." lelaki itu pun kembali bernyanyi dan semakin mengeraskan lagu yang sedang diputar di radio mobilnya.

__ADS_1


Kembali hidup dengan orang yang kita cintai, memang sangat membahagiakan, dan Ibra adalah salah satu dari orang yang tengah beruntung sekarang. Setidaknya ia masih bisa menemani di hari-hari dimana Fatih harus bisa berjuang untuk melawan atau mungkin menyerah dengan penyakitnya.


****


Setelah menembus perjalanan sekitar satu jam, kini Ibra telah sampai di IFF Corp. Perusahaan property miliknya, masih dengan raut wajah bahagia, Ibra melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kantor.


"Bra.." suara Tomi terdengar memanggil, Ibra pun menoleh dan memberikan senyum selamat pagi kepada sahabat sekaligus asisten kepercayaannya.


"Lo kenapa, Tom? Muka lo kusut gitu, enggak dikasih sarapan sama Kasih?"


"Mentang-mentang udah punya bini lagi, sekarang udah bisa lagi ngeledekin orang." Tomi mendengus malas.


Tak berapa lama terlihat langkah Kasih yang tengah terburu-buru menghampiri mereka. Jangan lupakan, Kasih pun bekerja di kantor Ibra untuk memegang, mengatur dan mengawasi jalannya keuangan kantor. Selama empat tahun ini, Tomi dan Kasih membuktikan bahwa mereka adalah orang yang tepat untuk bisa dipercaya.


"Kamu kenapa, Mah?"


"Iya, Sih, kamu kenapa?"


Tanya Tomi dan Ibra bersamaan kepada Kasih.


"Barusan dapet info dari Dani, katanya istrinya meninggal, Pah, Mas. Meninggalnya baru setengah jam yang lalu. Kita langsung kerumahnya aja yuk, untuk melayat."


Tomi dan Ibra pun tercengang, ia tidak menyangka Dani, karyawan yang mereka banggakan akan mendapatkan musibah seperti ini.


"Meninggalnya karena apa? Kecelakaan?" tanya Ibra kepada Kasih.


"Bukan kecelakaan, Mas. Tapi istrinya Dani meninggal karena sedang sakit beberapa bulan ini."


Deg.


Jantung Ibra seketika berdegup. Kulit tenggorokannya naik turun, entah mengapa wajah Fatih terbayang begitu saja dibenaknya. Rasa takut mulai membelenggu dirinya. Ia takut, akan mengalami hal yang sama seperti Dani.


"Bra, lo nggak apa-apa?" Tomi menghentak bahu sahabatnya yang tiba-tiba saja membisu.


Ibra menggelengkan kepala. "Ayo kita berangkt kerumah Dani." ucapnya singkat. Kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu meninggalkan Kasih dan Tomi yang akhirnya saling bertatap-tatapan. Mereka terlihat bingung dengan sikap Ibra yang mulai aneh.


"Mas Ibra, kenapa, Pah?" tanya Kasih.


Tomi hanya bisa mengangkat pangkal bahunya dan menggeleng. Lalu menggandeng tangan istrinya untuk menyusul langkah Ibra yang sudah beberapa meter meninggalkan mereka.


"FatihKu pasti akan sembuh!" desah Ibra dalam hatinya. Begitu takutnya Ibra, untuk membayangkannya saja ia tidak sanggup, apalagi harus merasakan kehilangan Fatih seumur hidup.

__ADS_1


__ADS_2