Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Fatih istriku, milikku!


__ADS_3

Haii selamat siang


Aku kembali guyss


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Pagi kembali datang membawa secercah kebahagian di wajah pasangan suami istri ini. Mereka kembali bekerja dengan pakaian kantor senada.


Selama perjalanan Fatih terus menyandarkan tubuhnya di lengan Ibra. Mengusap-ngusap rambut Ibra dan sesekali menciumi pipi sang suami. Fatih sedang dimabuk asmara.


Cit.


Pedal rem mobil sudah diinjak oleh Ibra. Membuat ban mobil dengan aspal depan lobby saling bergesek. Mobil tepat berhenti dengan mulus.


Ibra tidak lagi membolehkan Fatih membawa mobil sendiri ke kantor. Ia sudah memberikan keputusan untuk selalu mengantar dan menjemput Fatih bekerja.


"Nanti siang jadi ya Mas?" Fatih bangkit untuk menegap kan tubuhnya di kursi penumpang. Merapihkan kembali rambut dan kemejanya.


"Mau makan siang dimana?" Ibra berbalik tanya. Membuat Fatih sedikit memiringkan sudut bibirnya.


"Kita pasti akan makan siang, tapi sebelum itu aku mau, kita kontrol dulu ke Dr. Sp Jiwa dan ke Dr. Sp. Kandungan. Baru aja tadi sebelum berangkat aku buat rencana ini..."


"Oh iya sayang...aku lupa."


Fatih menggelengkan kepalanya. "Emang ya, kalau usia itu nggak bisa membohongi--" Fatih tertawa meledek.


Ibra mencebik. "Maksud kamu aku udah pikun gitu? Ayolah sayang aku masih 36!"


"...Kalau dibalik jadi 63 kan?" Fatih kembali tertawa, membuat Ibra juga tertawa.


"Ya nggak apa-apalah, mau dibilang udah tua juga. Buktinya masih bisa menghasilkan anak kan diperut kamu??" Ibra berdecis geli.


"Dan, masih bisa buat kamu luluh lantah lemas tidak berdaya seperti di bath up tadi malam---"


Ibra semakin membuat wajah Fatih memerah seperti tomat. Semburat malu nya begitu saja terpancar.


"Mas...ih!" Fatih membekap bibir Ibra karena ia merasa malu dan risih.


"Malam mau lagi?" Tangan Ibra merapihkan anak rambut Fatih yang masih terlihat tidak rapih.


Fatih tidak bisa menahan gelak tawanya. Ia pun mengangguk, membuat Ibra pun tertawa.


"Nakal ya kamu, jadi ketagihan nih ceritanya?" Lalu mencium pipi istrinya.


"Kamu loh, yang ajarin aku---" Fatih memajukan bibir bawahnya.


"Sebisa aku nggak akan buat kamu sakit kaya mantan suami kamu!" Bibir Ibra beringsut naik ke dahi Fatih. Wanita ini tergugu dan diam. Ia memejamkan kedua mata manakala merasakan kelembutan yang begitu saja diberikan oleh Ibra.


"Ya udah turun gih, aku mau jalan lagi ke kantor. Kamu hati-hati ya, jangan terlalu banyak bergerak. Kandungan kamu masih muda."


"Iya Mas..." Fatih meraih punggung tangan Ibra untuk menciumnya sebagai tanda pamit.

__ADS_1


"Sayang..."


"Iya Mas?" Fatih berbalik sebelum ia benar-benar turun dari dalam mobil.


"Aku cinta kamu..."


Sungguh kata-kata itu membuat jantung Fatih bergemuruh. Ia terasa sangat bahagia, sebegini manisnya Ibra memperlakukannya sebagai seorang istri.


"Aku juga Mas...sangat cinta sama kamu."


"Hati-hati ya...Kalau udah sampai kantor kabarin aku!"


Ibra mengangguk, garis senyum bibirnya masih berangin-angin. Ia terlihat begitu mempesona. Beruntung sekali mereka saling mendapatkan sesosok yang benar-benar cocok untuk melengkapi hidup mereka sekarang.


Fatih pun turun. Lalu melambaikan tangannya ke arah mobil Ibra. Mobil pun melaju kembali dan menghilang dari pandangannya.


"Bersyukur aku mengenal kamu, Mas. Berkat cinta kamu, kamu buat aku jadi wanita terbahagia didunia----Ah senangnya.."


Wajah Fatih merah merona, ia terus bergumam sendirian layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Bukan layaknya! Tapi memang sedang jatuh cinta berat.


Dap.


Putaran langkahnya begitu saja terhenti ketika beberapa karyawan sudah berbaris dibelakangnya. Mereka semua sepertinya mendengar kalau bos nya sedang berbahagia.


"Kalian semua ngapain disini?"


"Kita semua lagi nungguin dijemput sopir bu, mau ke perusahaan rekanan."


"...Lagi senang ya bu?" Tanya salah satu dari mereka.


Fatih kembali tersenyum, benar-benar apa yang dilakukan oleh Ibra sejak semalam sampai barusan, tidak usai membuatnya terpana.


"Bisa nih bu makan siang gratis buat kita semua..."


"Oh baiklah. Karena saya sedang senang, maka kalian juga harus senang. Bukan hanya makan siang gratis..."


"Bonus karyawan akan saya tambahkan 40%, bagaimana??"


"Yess..."


"...Alhamduliah.."


"Wah, asik."


Begitulah sorai gembira yang saling beriringan keluar dari mulut mereka. Hanya Ibra yang bisa mengubah Fatih Medina seperti ini. Sungguh malaikat cinta tengah bertebaran di hati dan kepala mereka.


*****


"Dam, Al..."


"Apa?" Jawab mereka berbarengan tanpa menoleh. Terlihat Damar dan Aldi masih menunduk ke arah beberapa file dokumen yang sedari tadi mereka bolak-balik diatas meja rapat.


Sudah dua jam rapat berlalu, namun ketiga sekawan ini lebih sering menghabiskan waktu sampai makan siang diruangan ini. Untuk kembali mencerna atau mendiskusikan hasil rapat bersama Direktur mereka.


Damar adalah teman sejak dari SMA, sedangkan Aldi adalah teman sejak dari bangku kuliah. Mereka bertiga dipertemukan kembali ketika melamar bekerja di PT. Suam.


Namun kehidupan rumah tangga mereka lebih baik satu tingkat diatas Ibra. Mereka tahu pasti bagaimana kisah rumah tangga Ibra, walau lelaki itu tidak pernah menggambarkan dengan gamblang tentang hubungan bersama Jihan dulu.


Damar dan Aldi tetap selalu ada di sisinya.


"Gue udah tua ya?" Ucapnya sambil menatap layar ponsel yang sudah gelap.


Ia terus melihati bayangan wajahnya disana. Jika Desi ada bersama mereka, mungkin ia akan meminjam kaca muka milik bawahannya itu.


Sepertinya pertanyaan Fatih membuat ia sedikit sensitiv, bukan karena marah. Tapi karena ia ingin selalu merasa muda untuk menandingi keenerjikan sang istri.

__ADS_1


Damar dan Aldi mendongakkan wajahnya bersamaan, menatap aneh lalu melongo dan akhirnya tertawa bersamaan.


"Itu lo udah tau jawabannya, ngapain pake segala nanya?" Damar berdecis.


"Dia takut tua Dam, kan bininya masih daun muda---" Sahut Aldi terkekeh.


"Gue..serius!" Memang Damar dan Aldi tidak bisa diajak serius dalam hal ini. Mereka hanya bisa membuat Ibra menatap sebal.


"Iya...tua.."


"I-yya udah tua lo!"


Damar dan Aldi kembali berdecak senang. Mereka terus saja memanas-manasi Ibra agar hatinya mendidih.


"Serius lo.." Tanya nya lagi. "Tapi nggak ah gue masih oke, kok! Lihat nih wajah gue aja masih kencang sama badan gue aja masih kekar, bugar dan gagah--"


Ibra tetap membangkitkan rasa percaya dirinya sendiri.


Tiba-tiba.


Entah apa yang merasuk kedalam tubuhnya, seketika mual melanda. Ada cairan yang sedang berkumpul di ujung tenggorokan untuk ia keluarkan secara cepat. Ibra berlari ke dalam toilet sambil memegangi perutnya. Membuat kedua mata temannya mengerjap dan berseru.


"Kenapa lo Bra?" Tanya Damar.


"Gimana nggak muntah, tubuhnya aja nolak pas dia bilang masih kekar, ganteng dan bugar!"


"Hahahahahhaa---" Gelak tawa kembali terdengar dari kumpulan lelaki itu.


Ibra terus mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya.


"Kenapa tiba-tiba mau muntah?" Lalu terdengar lagi suara muntah dari nya. Membasuh wajahnya dengan air yang ada di tangkupan telapak tangannya.


"Masuk angin apa ya? Apa karena kelamaan di kamar mandi semalam?"


Ibra mengingat bagaimana ia menghabiskan beberapa jam di bath up kamar mandi bersama istrinya semalam.


"Nggak apa-apa lah sakit, yang penting istri suka." Gumamnya, ia masih terbawa suasana bahagia walau saat ini perutnya tidak enak.


"Lo kenapa? Sakit? Biar dikerokin nih sama Aldi---" Tanya Damar ketika Ibra sudah kembali duduk dan mengelap sudut bibirnya dengan ujung dasi.


"Bukan gak mau bantu, Bra! Tapi gue jijik ah kerokan sama lelaki."


Damar kembali tertawa terbahak-bahak. "Siapa juga yang mau dikerok sama lo." Ibra menggelengkan kepalanya.


Ibra menatap arloji yang ada ditangannya. "Bro, gue cabut dulu ya. Mau makan siang ama bini gue---" Ucapnya begitu bangga.


"Bawain kita cemilan ya, yang murah aja tapi enak."


"...Wah Bra pelanggaran nih, lo dihina ama si Damar. Jelas-jelas bini lo sekarang udah---


"Oh iya bro lupa gue hahahhaa. Iya lah mana tajir ******, cantik, muda, jadi Direktur lagi, ya nggak Al?"


"Bener tuh, lo kudu merawat diri Bra. Perhatiin lagi stamina lo, bentuk tubuh lo, wajah lo dan segala sesuatu agar Fatih gak berpaling nyari lelaki sepantaran dia---"


"Hemm, iya juga tuh." Sahut Damar.


Tiba-tiba raut wajah Ibra redup. Seketika ia teringat dengan perkataan Fahmi.


"Fatih hanya mencintai saya! Anda terlalu tua untuknya, apa yang anda bisa kasih untuk Fatih? Jika anda di tendang dari SUAM, maka anda bukanlah apa-apa!!"


Ibra terus terbayang-bayang dengan ucapan Fahmi pada saat mereka sedang berada di Bali tempo lalu. Terkadang hal itu membuat kepercayaan dirinya menghilang, namun karena cintanya yang sedang berkembang, tentu sebagai lelaki Ibra tidak akan mau melepaskan Fatih begitu saja.


"...Fatih istriku, milikku!


Teruslah berjuang Ibra, pertahankan milikmu.

__ADS_1


*****


Like dan komen ya guys, hatur nuhun❤️


__ADS_2