
Pagi pun tiba. Matahari kembali menyorotkan cahayanya walau belum terasa panas. Fatih dan Ibra kembali ke rutinitas masing-masing, pergi bekerja mencari nafkah untuk keluarga mereka. Semenjak penjelasan tentang Kasih beberapa hari lalu, membuat Fatih gelisah dan khawatir.
Fikiran nya tidak tenang karena Kasih pasti masih berkeliaran disekitar mereka. Padahal dalam empat bulan belakangan ini, Fahmi sudah tidak mengganggu mereka lagi, lalu mengapa harus ada sosok Kasih yang masih misterius? Atau mungkin Fahmi istirahat sebentar belum menjalankan aksinya kembali. Sejujurnya lelaki itu masih mendamba Fatih untuk kembali menjadi istrinya.
"Pagi ini Bunda ada rapat dengan para pemegang saham di PT. Anugerah, mungkin Fahmi juga akan ada disana." ucap Fatih sambil memasangkan dasi dileher suaminya.
"Iya, Bun. Enggak apa-apa, yang penting kamu bisa jaga sikap." jawab Ibra.
"Iya sayang pasti dong. Oh iya, dari kantor Ayah, siapa yang akan mewakili? Aku berharap Ayah yang ikut."
Perusahaan Fatih, Fahmi dan Ibra sama-sama pemegang saham tertinggi di PT. Anugerah.
Ibra tertawa. "Ya nggak mungkin, Bun. Acara penting ini kan, hanya diperuntukan kepada jejeran Direktur."
"Makanya, Yah. Berhenti dari Suam, kamu kan bisa untuk kerja di perusahaan ku?" jawabnya sambil melepaskan tangan dari dasi Ibra lalu beranjak naik untuk memeluk leher suaminya.
"Ayah pantas untuk menggantikan aku sebagai Direktur di sana. Apalagi sebentar lagi aku akan cuti melahirkan."
Ibra terus memandangi wajah istrinya. Kemudian ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Fatih.
"Nanti akan akan Ayah fikirkan, Bun."
"Gitu dong..." Fatih tersenyum senang lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Ibra.
Drrt drrt drrt.
Ponsel Ibra bergetar di meja, membuat Fatih melepaskan rangkulannya dileher Ibra.
"Bunda tunggu Ayah di meja makan ya." ucapnya sambil memutar langkah untuk meninggalkan kamar.
"Iya, Bun." jawab Ibra sambil menatap layar ponselnya.
"Damar? Ada apa pagi-pagi begini telepon?" ucapnya sebelum ia mengusap icon hijau di ponselnya.
"Hallo, Bra.." suara Damar terdengar panik diseberang sana.
"Lo kenapa, Dam?" kening Ibra terlihat berkerut-kerut.
"Bra, Direktur enggak bisa hadir di rapat pemegang saham kali ini, dan gue juga berhalangan hadir karena Ayu sakit, sekarang di rawat. Lo bisa kan gantiin kita?"
"Ya Allah, sekarang Ayu gimana keadaanya, Dam?"
"Alhamdulillah udah mendingan, tinggal recovery aja. Mungkin untuk beberapa haru gue enggak masuk kantor dulu, Bra."
"Iya enggak apa-apa santai aja, yang penting lo jagain istri lo. Jangan mikirin kerjaan dulu, keluarga lebih penting, ada gue, lo enggak usah cemas. Mungkin nanti sore gue akan jenguk Ayu sama Fatih ya."
__ADS_1
"Makasih ya, Bra. Lo emang temen terbaik gue."
"Iya, Dam. Sama-sama."
Setelah sambungan telepon terputus dengan senyuman indah Ibra melangkah keluar kamar untuk menghampiri istrinya di meja makan.
Ia memeluk wanita itu dari belakang. Mengelus-elus perut Fatih dan mencium leher istrinya. Fatih sedikit membidik pangkal bahunya karena geli.
"Jangan bilang kalau Ayah mau minta lagi ya!"
Ibra tertawa sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah istrinya.
"Emang kalau iya kenapa, Bun? Enggak boleh, ya? Lihat tubuh kamu yang jadi semok gini, buat aku selalu kangen, Bun." bisik Ibra dengan nakal ditelinga istrinya.
Fatih mendengus lelah dan delikan matanya berhasil membuat Ibra melepaskan pelukannya. Ia pun menarik kursi untuk duduk di meja makan.
"Bercanda kok sayang..." ucap Ibra.
"Ya kan enggak sekarang, Yah. Nanti malam kan masih bisa----" Fatih menuangkan nasi di piring Ibra serta beberapa lauk sebagai pelengkapnya.
Ibra tertawa kembali. "Iya sayang. Oh iya, ada kabar baik. Sepertinya doa kamu di ijabah oleh Allah..."
"Maksudnya, Yah?" tanya Fatih yang akhirnya duduk disebelah suaminya untuk ikut sarapan.
Fatih memegang lengan Ibra agar lelaki itu kembali menoleh menatapnya. "Beneran, Mas?"
Ibra mengangguk sambil mengunyah.
"Damar tadi telepon aku, dia bilang kalau Direktur sedang berhalangan hadir dan Damar tidak bisa menggantikannya karena Ayu sedang di rawat. Nanti sore kita jenguk Ayu ke Rumah Sakit ya. Aku kasian sama dia."
Raut semang diwajah Fatih seketika berubah ketika mendengar Ibra begitu lirih dan iba dengan keadaan Ayu. Padahal sebenarnya hal itu wajar saja, mencemaskan keadaan seseorang yang menjadi sahabat kita. Ibra melakukan ini hanya karena Damar dan merasa berhutang budi, karena kebaikan dari pasangan suami istri itu didalam hidupnya.
Ibra melirik istrinya yang tiba-tiba terdiam tidak menjawab ucapannya.
"Bun, kenapa? Kok melamun?"
"Kok Ayah perhatian banget sama Mba Ayu?"
"Hemm..cemburu lagi nih." decak Ibra. Ia pun menghentikan kunyahan nya sementara.
"Menjenguk orang sakit itu kan pahala sayang, apalagi Ayu itu istrinya Damar. Otomatis istrinya temanku juga, kan? Lagi pula Damar dan Ayu sudah banyak membantuku selama ini. Jadi Bunda jangan cemburu---" Ibra melingkarkan tangannya di pinggang Fatih.
"Cemburu boleh, tapi jangan berlebihan. Aku sudah menikah sama kamu, cinta aku hanya untuk kamu, Bun! Jangan buat rasa cemburu itu menguasai kamu sehingga tidak bisa berfikir rasional."
Betul memang, karena rasa cinta Fatih yang semakin membuih kepada suaminya. Membuat ia menjadi takut, jika Ibra direbut orang lain atau menunjukan perhatian kepada wanita lain selain dirinya. Apalagi masalah Kasih masih belum sempurna lepas dari kerisauan hatinya.
__ADS_1
Fatih pun mengangguk pasrah. "Iya, Mas." jawabnya singkat.
"Ya udah ayo makan lagi!" titah Ibra menyuruh Fatih untuk kembali menikmati sarapannya. Ibra kembali menikmati makanannya.
Melihat suaminya teduh seperti ini, tentu ia tidak ingin merengek mempermasalahkan masalah Ayu lagi. Ia juga masih bisa mengontrol dirinya untuk tidak membuat Ibra marah.
Ia pun kembali memasukan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.
Lalu
Ide di kepalanya pun hadir.
"Ayah, ganti kemeja nya ya."
Kerutan di kening Ibra kembali muncul, ia terlihat menenggak air minum dengan cepat untuk mendorong nasi yang belum sepenuhnya ia kunyah. Ia merasa aneh dengan ucapan Fatih.
"Maksudnya?" tanya Ibra ketika sekumpulan nasi telah lolos masuk kedalam kerongkongannya sambil menarik kain kemeja di bagian dadanya. "Ganti kemeja yang sedang aku pakai?"
"Iya sayang. Aku ingin kamu terlihat berbeda, lebih gagah di bandingkan jejeran Direktur yang akan hadir nanti. Oh iya, aku lupa. Kemeja yang aku belikan minggu lalu belum kamu pakai kan, Mas?" Fatih bangkit dari kursi dan kembali melangkah menuju kamar. Ibra masih saja melongo menafsirkan maksud dari istrinya.
Karena Fahmi akan ada juga di sana, maka Fatih tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk menunjukan bagaimana ketampanan Ibra kepadanya. Ia ingin memberitahu Fahmi, bahwa ia bisa mengurus suaminya dengan baik.
****
Terlihat Fahmi masih duduk dengan menyilakan kakinya sambil menatap lurus layar komputer. Ia masih membandingkan grafik tertinggi pemegang saham di PT. Anugerah.
"Fatih masih menjadi pemegang saham tertinggi di sana." ucapnya.
"Apalagi kalau Ibrahim masuk kedalam perusahaan untuk membantunya, sudah dipastikan perusahaan merema akan semakin melebar dengan pesat!" geretukan gigi terdengar dari Fahmi. Kedua rahangnya terlihat mengeras dan menegang.
"Jika kamu tidak bisa ku raih lagi, jangan harap kalian bisa bersenang-senang dan sukses bersama!" kepalan tangan Fahmi menghentak meja kerjanya. Membuat getaran singkat di sana.
Lalu
"Permisi, Pak." ucap Asisten pribadi Fahmi yang baru. Wanita itu melangkah masuk ketika sudah mendapat anggukan dari Fahmi.
"Semua berkas sudah siap?" tanya Fahmi lalu bangkit berdiri dan merapihkan jas kantornya.
"Sudah semua, Pak. Kita tinggal berangkat ke PT. Anugerah." jawabnya sambil sedikit menundukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat!" ucap Fahmi. Ia pun melangkah untuk meninggalkan ruang kerjanya, pun sama dengan asisten pribadinya itu mengekor Fahmi dari belakang.
"Akhirnya sayang, kita bisa bertemu lagi.." batin Fahmi menyeruak, ketika ia membayangkan pertemuannya dengan Fatih beberapa saat lagi.
Lihat saja nanti siapakah yang akan tersentak? Fatih kah atau Fahmi?
__ADS_1